MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
PELINDUNG


__ADS_3

Flashback


Hari ini mereka kedatangan tamu, wanita tua seumuran Ratna sekaligus teman dekat Oma nya selama ini. Namun jujur Tasya tidak terlalu suka dengan wanita yang satu ini. Tatapannya menyebalkan, seakan merendahkannya.


"Tasya Jovanka?" tanya wanita tua itu kearahnya. Tepat Tasya meletakkan teh manis diatas meja, bertepatan juga Ratna bangkit dari tempatnya melangkah masuk kedalam rumah.


Kebetulan saat ini mereka ditaman belakang, menghadap langsung ke arah pantai.


"Iya, nek," jawab Tasya sopan. Berdiri tegak, dengan memegang nampan.


"Istri Raiden Dirgantara?"


"Iya,"


"Serius kamu istri Raiden Dirgantara?" tanya nenek tua itu, terdengar menyebalkan ditelinga Tasya.


"Kenapa emangnya nek?" tanya Tasya tenang, tetap menjaga kesopanan. Walau dilubuk hati yang paling dalam ingin melayangkan pukulan.


"Jujur saya kasihan."


Tasya mengerutkan dahi, bingung arah pembicaraan mereka saat ini.


"Raiden Dirgantara itu sempurna, kenapa kamu yang jadi istrinya? banyak wanita lain diluar sana, yang lebih pantas bersanding dengannya."


"Seharusnya kamu menikah dengan pria lain, yang lebih cocok dengan kamu. Pria seperti Raiden Dirgantara, seharusnya menikah dengan wanita berkarir."


"Dari segi wajah pun kamu kalah, apalagi otak. Sadar diri juga penting, ingat itu Tasya Jovanka!"


______________


Tasya ingat betul kata-kata itu dan dia sadar diri saat ini. Dia memang tidak pantas bersanding dengan Raiden Dirgantara, pria sempurna seperti suaminya seharusnya bersanding dengan wanita berkarir tidak dengan anak SMA sepertinya.


Hanya karena kata-kata itu, semalaman Tasya tidak bisa tidur. Bahkan waktu yang masih menunjukkan pukul 06:50, Tasya sudah berada di sekolah. Sengaja menghindari suaminya.


Entah mengapa hidupnya menyedihkan, selalu saja menyebalkan.


"Sya!"


Siempunya hanya diam, tetap setia dengan posisinya. Menelungkup 'kan, kepala keatas meja. Berbantalkan kedua lengannya.


Alex diam sejenak, duduk disamping Tasya sembari mengatur napas.


Raiden menelponnya, tepat dia terbangun dari tidurnya dan menanyakan keberadaan istrinya yang entah kemana perginya.


Entah apa yang terjadi dengan mereka berdua tapi Alex yakin, ada yang tidak beres dengan wanita yang satu ini. Karena dari semalam, Tasya berbeda.


"Sya," panggil Alex lembut. Menepuk pundak sahabatnya yang saat ini terlihat menyedihkan.


Bayangkan sekolah masih sepi dan Tasya sudah berada di sekolah. Duduk dikursi paling pojok, dengan menelungkup' kan kepala keatas meja.


Demi sahabatnya Alex rela memakai seragam sekolah acak-acakan, bahkan mandi pun tidak. Hanya gosok gigi dan cuci muka.


"Hei! Lo kenapa? sini peluk," bujuk Alex.

__ADS_1


Ucapannya berhasil, Tasya mengangkat wajahnya dan berhambur memeluk tubuh sahabatnya. Air mata yang ia tahan sedari tadi, menetes begitu saja.


"Jangan nangis! Princess Tasya tidak pernah nangis."


"GUE JUGA MANUSIA A*JING! MATI AJA LO," umpat Tasya, tidak tahu diri.


Alex hanya tertawa kecil, menepuk punggung sahabatnya seperti yang biasa dulu ia lakukan.


"Lo kenapa? cerita sama gue,"


"Gue gak pantas,"


"Siapa bilang?" tanya Alex. Seakan tahu arah pembicaraan mereka saat ini.


Ternyata sahabatnya masih memikirkan pembicaraan mereka semalam. Padahal Tasya tidak perlu memikirkan hal itu. Apapun keinginannya pasti bisa Raiden wujudkan dalam sekejap mata tanpa dia sadari.


"Gue sakit hati, gue gak pantas," ucap Tasya disela-sela tangisnya.


"Siapa yang bilang?"


"Nenek tua," jawab Tasya jujur.


Raiden yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka mengepalkan kedua tangan, rahangnya mengeras dengan tatapannya tajam seakan siap melenyapkan musuhnya.


Bahkan Alex yang melihat itu merinding sendiri, menyatukan kedua tangan seakan meminta maaf karena lancang memeluk istri orang.


Mereka berdua memang bekerja sama, karena Raiden yakin istrinya akan lebih jujur dengan sahabatnya. Tapi masalahnya, dalam list rencana mereka tidak ada kata memperbolehkan Alex menyentuh istrinya tapi berani-beraninya pria yang satu itu.


Raiden hanya berdecak kecil, walau sebenarnya ingin melenyapkan Alex detik ini juga tapi untuk hari ini Raiden maafkan. Berkat anak yang satu itu juga Raiden tahu alasan istrinya berubah mulai dari semalam.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Raiden melangkah menjauh dari pintu ruangan. Detik itu juga Alex langsung melepaskan pelukannya.


Ini salah, haram hukumnya. Tasya istri orang, mereka tidak pantas melakukan hal ini.


"Cengeng Lo a*jing," umpat Alex.


Mengeluarkan tissue dari ranselnya yang sengaja Raiden titipkan, seakan tahu istrinya akan menangis.


"Lo tega banget sih sama gue? jadi calon suami gak ada romantis-romantisnya,"


"Romantis kayak gimana mau Lo?"


"Bujuk gue kek, hapus air mata gue gitu."


"Lah si b*ngsat, Lo punya tangan."


"Gak seru Lo,"


"Terserah,"


"Gue kasih tau Lo sama suami gue!" ancam Tasya.


Tanpa menyadari manusia yang ia bicarakan mendengar ucapannya dan tersenyum manis dibalik tembok. Kebetulan Raiden belum pergi, hanya duduk di kursi panjang didepan kelas. Menunggu istrinya tenang dan tidak menangis lagi.

__ADS_1


"GUE KASIH TAU LO SAMA SUAMI GUE!" ancam Tasya lagi.


"Kasih tahu, dasar bocil."


"PELAKOR!"


"LAH? SEJAK KAPAN GUE NIKAHIN EMAK LO? SUKA AJA GAK."


"LO BARUSAN MELUK-MELUK GUE, LO PASTI CARI KESEMPATAN 'KAN?"


"DIH, N*JIS."


"GUE KASIH TAHU LO SAMA SUAMI GUE!" ucap Tasya berulangkali.


Raiden yang mendengar itu menahan tawa setengah mati, dia melihat sendiri bagaimana ekpresi istrinya mengatakan kalimat itu dari balik kaca. Seakan bangga memiliki suami sepertinya.


Tapi dibalik itu juga Raiden iri dengan bocah ingusan yang satu itu. Alex bisa membuat istrinya tertawa. Bahkan jujur mengungkapkan perasaannya. Entah kapan mereka bisa terbuka satu sama lain seperti itu.


Raiden hanya mengusap wajah gusar, berlalu menjauh kearah parkiran. Istrinya sudah kembali seperti semula, jadi Raiden bisa pulang ke rumah sebelum ada yang melihat keberadaannya.


"Sya," panggil Alex lembut.


"Apaan?"


"Saran gue, kalo ada masalah sekecil apapun itu. Lo wajib cerita sama suami Lo. Bagaimanapun juga, dia lebih berhak tahu daripada gue."


"Iya, gue tahu."


"Tapi kenapa Lo lari dari kenyataan, bodoh."


"Bukannya apa-apa Lex. Suami gue lagi sakit, gak enak banget nambahin beban. Gue sayang banget sama dia, gue takut kehilangan dia. Om Raiden segala-galanya buat gue," ucap Tasya serius.


"Lo ngarang 'kan?"


"Gak minat. Lo kira gue wanita apaan?


lagian kalo gue gak sayang sama om Raiden, gak mungkin gue terima masa lalu dia. Kadang juga gue tahu. Dihati dia masih ada wanita lain."


Alex hanya tersenyum, menepuk pundak sahabatnya seakan menyemangati wanita itu.


"Dia juga sayang sama Lo. Gue harap mulai sekarang Lo belajar jadi istri yang baik," nasehat Alex.


Dia sudah menyaksikan sendiri bagaimana ekpresi Raiden beberapa menit yang lalu. Bahkan maniknya berkaca-kaca, saking takutnya kehilangan istrinya.


Mungkin selama ini Tasya mengeluh ingin memiliki seseorang yang benar-benar sayang dan menginginkan kehadirannya. Tanpa sadar, manusia yang hidup berdampingan dengannya. Manusia yang dia cari selama ini.


Om Raiden benar-benar sayang sama Lo Sya. Dia beda dari gue, mantan-mantan Lo selama ini. Apalagi kedua orangtua Lo. batin Alex.


_________________


TERIMAKASIH:)


HAPPY SUNDAY

__ADS_1


__ADS_2