
Raiden benar-benar menuruti ucapan istrinya, membawa Tasya ketempat tukang bakso yang sering nyonya Dirgantara kunjungi sebelum mereka menikah. Katanya, karena Raiden tidak percaya.
Selama perjalanan tadi, Raiden hanya mengikuti instruksi dari wanita yang duduk disampingnya dan kini mereka sampai pada tempat tujuan sesuai dengan instruksi. Yaitu RUMAH SAKIT. Bukan cafe, restoran atau pun penjual pinggir jalan.
Jadi kata yang berbunyi wanita pintar melihat Mpas benar adanya. Mereka benar-benar salah tujuan.
"Sayang, makan baksonya aja belum. Jadi sejak kapan kita diare atau keracunan?" tanya Raiden lembut. Gemas melihat tingkah istrinya.
"Benar kok om, arahnya sesuai kok sama Maps," ucap Tasya kekeh dengan pendiriannya.
Padahal sudah berulangkali Raiden ingatkan, jika jalur yang mereka lewati kearah rumah sakit. Namun Tasya tetaplah Tasya. Manusia keras kepala.
"Sini coba aku lihat!" Raiden menjulurkan tangannya kearah Tasya.
Ragu-ragu siempunya meletakkan ponselnya ditelapak tangan kekar itu. Takut Raiden memarahinya.
Sebelum jemari lentik itu menarik lengannya kembali, Raiden lebih dulu menahan pergerakan istrinya. Mengengam jemari lentik itu seraya menatap layar ponsel.
"Salah, harusnya kearah kanan."
Raiden menghela napas panjang, meletakkan ponsel istrinya ke dashboard mobil dan kembali fokus menatap wajah cantik itu. Hingga semburat merah jambu muncul di kedua pipi istrinya.
"Kita gak usah makan bakso yah, aku makan kamu aja," ucap Raiden.
"Yah, gak bisa gitu dong. Aku hamil tahu, jadi om gak bisa macam-macam. Ingat itu!" Elak Tasya.
"Hamil berapa bulan, hm?"
"Satu tahun."
Sontak Raiden tertawa kecil, melilitkan kedua lengannya kepinggang ramping istrinya seraya mengikis jarak diantara mereka berdua.
"Kiss me!" pinta Raiden.
Manik biru itu mengerjap, detik berikutnya mengecup lembut bibirnya.
"Lagi!"
"Modus," cibir Tasya. Walau tetap saja menuruti ucapan suaminya. Mengecup lembut setiap sudut bibir tebal itu, dengan kekehan geli.
Sebelum Tasya menjauhkan wajahnya, Raiden lebih dulu menahan tengkuknya. Memperdalam ciuman lembut dari bibir yang selalu menarik perhatiannya.
Untung kaca mobil mode gelap, jadi Raiden bebas melancarkan aksinya.
Mengangkat tubuh ramping itu keatas pangkuannya, tanpa melepaskan ciumannya.
Tasya sempat menolak, namun lama-lama terbuai. Bahkan mengalungkan kedua lengannya kebelakang leher Raiden, tanpa menyadari apa yang mereka lakukan.
Jemari besar itu sudah meraba ke sana kemari, menyadarkan siempunya dari alam bawah sadarnya.
"Om." Tasya berhasil mendorong dada bidang itu, sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Gak, boleh yah! Di rumah aja, ini parkiran rumah sakit!" peringat Tasya. Dengan menormalkan detakan jantung dan pasokan napasnya.
"Emang kita ngapain?"
"Nakal!"
Tasya tertawa kecil, seraya memukul kecil dada bidang suaminya yang terlihat linglung baru menyadari perbuatannya.
"Astaga untung belum khilaf," ucap Raiden sembari terkekeh geli.
Merapikan rambut dan penampilan istrinya yang terlihat berantakan karena ulahnya sendiri.
"Lain kali, lihat tempat om. Untung aku sadar, kalo gak gimana?"
__ADS_1
"Yah, gak papa. Udah halal juga,"
"Tetap aja, kayak orang mesum."
Tasya hendak turun dari paha kekar itu, yang entah sejak kapan dia lakukan. Namun Raiden lebih dulu menahan. Melilitkan kedua lengannya kepinggangg ramping itu dengan tatapan sayu dan berat.
"Bentar, jangan kemana-mana!"
"Nanti khilaf, gak boleh!"
"Bentar, gak lama, gak macam-macam juga."
Akhirnya Tasya mengangguk, membiarkan Raiden melakukan semaunya.
"Muka kamu pucat, sakit?" tanya Raiden lembut. Menatap saksama wajah cantik itu dari jarak dekat, yang terlihat pucat tidak seperti biasanya.
"Cuman pusing tapi dikit. Aku gak papa kok," ucap Tasya menyakinkan.
"Jangan bohong!"
"Iya, sayang. Aku gak papa, serius."
"Tapi pucat."
"Jangan dilihatin terus, nanti khilaf!" peringat Tasya lagi. Mendorong pelan wajah tampan itu sedikit menjauh.
"Khilaf dikit gak papa kali yah?"
"Gak, boleh! ingat tempat."
Raiden hanya pasrah, menurunkan tubuh ramping itu dari pangkuannya dan menatap keluar dari kaca mobil.
Kebetulan sekali, rumah sakit ini tempat ayahnya dirawat. Mumpung ada waktu, walau kenyataannya dia sudah lelah bekerja seharian. Lebih baik mereka berdua masuk kedalam, sekedar melihat kondisi ayahnya.
"Kemana?" tanya Tasya bingung.
Mengikuti tubuh kekar masuk kedalam rumah sakit, hingga berhenti didepan salah satu pintu ruang inap.
"Ruangan siapa?"
"Ayah," terang Raiden tanpa beban sedikitpun.
"Ayah siapa?"
"Ayah mertua kamu,"
"Kok aku baru tahu?"
Raiden hanya nyengir kuda, mengaruk tengkuk sembari menghindari tatapan tajam yang mengarah ke arahnya.
Dia tidak menyangka reaksi istrinya akan seperti ini, jauh dari kata Tasya yang biasanya. Istrinya benar-benar marah, tidak ada gurat bercanda diwajahnya.
"Aku tanya sekali lagi, didalam siapa?" tanya Tasya serius. Menunjuk kearah pintu bercat putih itu, dengan tatapan tajam.
"Ayah."
"Suami bodoh." Tasya memukul lengan kekar itu, kesal melihat tingkah suaminya.
"Untung suami sendiri, sumpah."
Dengan kesal Tasya menarik tubuh kekar itu keluar dari pekarangan rumah sakit, berjalan kesebrang tepatnya ke toko buah-buahan.
Kebetulan toko ini buka hingga malam, karena dibelakang keranjang buah-buahan itu. Tersaji makanan siap saji.
Banyak orang yang keluar masuk, sekedar makan atau membeli.
__ADS_1
"Ayah suka buah apa?" tanya Tasya ketus. Ekspresi wajahnya berubah drastis, berbeda jauh saat mereka berdua didalam mobil beberapa menit yang lalu.
Kini Raiden simpulkan, wanita ini dewasa sebelum waktunya. Tingkah konyol selama ini hanya sekedar mencari perhatian atau mencari kesenangan semata.
Dibaliknya ada sifat yang sebenarnya, sifat dewasa yang hanya ditunjukkan dalam keadaan serius atau suasana hatinya benar-benar berantakan, seperti saat ini.
Raiden dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya dengan pesona wanita yang satu ini, yang untungnya berstatus sebagai istrinya.
Tidak ada perjuangan mendapatkan wanita ini seperti menaklukkan hati Jihan, walau kenyataannya perjuangan menyedihkan itu tidak membuahkan hasil. Namun dibalik itu semua, ada seseorang yang masuk kedalam kehidupannya.
Manusia yang benar-benar sayang dan mencintainya setulus hati. Real manusia yang ia cari selama ini.
"Apa aja, sekalian beli persediaan di rumah," jawab Raiden lembut.
"Kamu suka buah apa?" tanya Tasya lagi. Fokusnya hanya kearah keranjang buah, walau ekpresi wajahnya tetap sama.
"Jeruk tapi aku lebih suka kamu!" bisik Raiden tepat di telinga Tasya. Berdiri menjulang tinggi tepat dibelakang tubuh ramping itu, mengikuti setiap gerak gerik istrinya.
"Gak mampan, jauh-jauh sana!"
Raiden hanya tersenyum tipis, meraih kantong plastik dari genggaman jemari lentik itu seraya membayar belanjaan mereka.
"Aku benar-benar sayang sama kamu, percaya gak?" bisik Raiden. Melilitkan sebelah lengannya kepinggang ramping itu, setelah membayar belanjaan mereka.
"Gak percaya," elak Tasya. Walau kenyataannya wajah dan bibirnya tidak berbohong.
"Buktinya, kita tidur berdua dibawah selimut tebal berwarna hitam. Tanpa sehelai benang pun," goda Raiden.
"Mesum."
"Keringat dan d*sahan nyonya Dirgantara buktinya. Mau coba di mobil? area ini sepi, kita coba nanti pulang dari sini."
"Om, ih mesum banget sih."
"Tenang aja di sini aman, diujung tempat yang paling aman."
Kebetulan area rumah sakit jauh dari kota, hanya dikelilingi pepohonan terasa sejuk dan menenangkan. Aman melakukan hal seperti itu sesuai yang dikatakan Raiden.
"Aku ngambek nih," ancam Tasya. Menghentikan langkahnya dengan melipat kedua tangan. Bibir mengerucut kedepan, yang sialnya terlihat cantik.
"Iya-iya, maaf. Ngambeknya ditunda dulu, nanti aja mau tidur ngambek."
"Dasar, om-om."
"Bocil,"
"Tukang maksa,"
"Anak setan,"
"Mesum."
"Si cantik,"
Tasya langsung bungkam, menoleh kearah tubuh kekar itu yang terlihat tersenyum tipis kearahnya.
Diluar rumah memang Raiden jarang tersenyum, berbanding terbalik disatu ruangan dengan Tasya.
Dia mana tega melakukan hal itu, Raiden selalu berusaha menjadi sosok hangat dan sempurna khusus didepan Tasya Jovanka saja.
"Aku mencintaimu!" bisik Raiden tepat di telinga Tasya.
________________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1