
Sepanjang lorong sekolah, tatapan bingung tidak pernah lepas mengarah kearah Tasya. Tumben-tumbenan si pembuat onar kalem, pucat, terlihat tidak bersemangat.
Namun yang lebih menarik perhatian, topi hodiie yang menutupi kepala perempuan itu. Terutama boneka ulat bulu yang melilit dilehernya. Ada-ada saja memang tingkah anak yang satu itu, sehari saja tidak pernah absen melakukan hal konyol.
"Vanka!"
Sontak Tasya berdecak, hapal betul dengan pemilik suara dan panggilan menjijikan itu.
"Lo, sakit?" tanya Bima. Seraya mengelengkan kepala.
"Kepala gue pusing, jadi gue harap Lo diam! Urus bini Lo, jangan ganggu gue!" ujar Tasya. Seakan mengusir Bima.
Siempunya yang peka dengan ucapannya hanya mengangguk, menepuk pelan kepala Tasya tiga kali. Dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.
"Lo imut banget kalo kalem," ucap Bima jujur. Baru berlalu menjauh.
Tasya tidak mengatakan apa-apa, kepalanya setia menunduk dengan langkah pendek.
Orang-orang juga memberi jalan, tidak ada yang berani menghalangi. Jika tidak mau berurusan dengan anak manusia yang satu itu.
"Sya!" Panggil seseorang, yang Tasya yakini salah satu teman tongkrongannya dulu. Lumayan ganteng tapi otak mesum, melebihi kapasitas otak suaminya.
"Kenapa, Lo?"
"Putus asa, gak punya uang," jawab Tasya asal.
"Pura-pura miskin aja terus,"
"Gue serius bang....b*ngke."
Sontak pria itu tertawa kecil, menghentikan langkahnya seraya bersandar di dinding. Dengan melipat kedua tangan.
"Lo makin cantik kalo kalem. Gue makin bergairah dapatin Lo. Lumayan, buat partner ranjang."
"Mati aja Lo b*ngsat, gak guna," umpat Tasya.
Pria itu semakin tertawa terbahak-bahak dan berlalu masuk kedalam ruangannya.
Nasib Tasya akan seperti ini jika tidak dikawal sang sahabat, akan ada bisik-bisikkan setan yang menghampiri.
Untung dia baik, jadi nyawa mereka selamat untuk hari ini saja. Karena kuping dan tangannya tidak tahan dengan bisik-bisikkan itu, ingin rasanya melenyapkan mereka satu persatu. Minimal wajah babak belur.
Baru juga bisikan setan yang kedua berlalu, seseorang langsung menarik ranselnya kebelakang. Otomatis tubuhnya tertarik kebelakang.
__ADS_1
"Kenapa Lo?"
"Ck, kepala gue pusing. Jauh-jauh sana! Gue gak punya waktu, ngurusin hidup orang yang gak berguna."
"Gue berguna banget, tanya aja sama sibotak," jawab Axel dengan santainya.
Mengelus lembut boneka ulat bulu yang melilit dileher Tasya, seraya tertawa kecil. Axel akui Tasya terlihat lucu saat ini. Pantasan saja Raiden mati-matian melindungi anak yang satu ini.
"Ngapain lagi Lo ke sini?" tanya Tasya ketus.
Kembali melanjutkan langkahnya, langkah pendek yang terlihat tidak bertenaga. Tubuhnya memang masih terasa remuk, untuk pertama kalinya setelah melakukan hubungan suami-istri.
Raiden terlalu liar semalam, selama ini saja dia selalu mengeluh karena tidak mampu menyeimbangi kemampuan pria itu diatas ranjang. Apalagi semalam. Terlihat menyeramkan.
"Gue kangen sama Lo," jawab Axel terlampaui jujur.
"Gue istri orang, kalo Lo lupa."
"Emang kenapa kalo istri orang? gue cuman kangen doang, gak lebih. Gue mana berani," ungkap Axel.
Kenyataannya memang seperti itu. Axel mengaku kalah dan mundur, menaklukkan hati Tasya.
Kebaikan Raiden tidak ada balasannya, pria itu terlalu baik untuk dihancurkan.
Kebetulan satu bulan setelah penangkapan Andro, Raiden mengirim dokumen ke kantor nya, atas nama keluarga Dirgantara yang menangani kasus pembunuhan itu sepenuhnya. Namun detektif yang tertulis di dokumen itu, namanya.
Namun pria itu malah membayar lebih, yang pastinya dia tidak jadi berhenti menjadi detektif. Malah semakin terkenal, dengan bantuan Raiden.
"Yah, bagus kalo sadar. Gue gak perlu repot-repot balas dendam," ucap Tasya.
"Ck, gue makin bergairah bunuh Lo."
"Boleh, boleh banget. Asal jangan lupa melapor sama suami gue dulu,
"Gue bunuh Lo berdua, gampang kan?"
"Gampang, gampang banget. Gue makin gak minat." Tasya berbelok memasuki ruangan, diikuti Axel dari belakang tanpa beban sedikitpun.
Baru juga Tasya duduk ditempatnya, Alex dan Zara malah menariknya keluar dari ruangan. Diikuti Axel dari belakang, seakan tahu apa yang akan mereka lakukan.
"Lo lama banget, kita di suruh ngumpul ke aula," terang Zara.
"Ck, gue ngantuk banget," adu Tasya.
__ADS_1
"Ikut aja, entar Lo nyesal lagi."
"Ampun deh Za, gue ngantuk banget sumpah. Gue gak bakalan nyesal deh."
"Lo bakalan termakan omongan sendiri!" imbuh Zara.
Tasya hanya menghela napas panjang, melangkah malas sepanjang lorong. Di seret ke sana kemari, hingga mereka berempat duduk di aula di kursi paling belakang.
Aula lebih dulu padat, apalagi kaum hawa langsung heboh setelah tahu pengumuman itu. Kapan lagi mereka kedatangan tamu spesial. Walau beberapa bulan sebelumnya, pria itu sering datang ke sekolah.
Walau tak banyak yang melihat, karena selalu datang tepat jam pelajaran.
"Emang kita ngapain sih?" tanya Tasya ketus. Meletakkan kepalanya di pangkuan Zara, seraya memejamkan mata.
"Pengumuman ujian, sekalian perkenalan kepala sekolah yang baru," ungkap Zara. Mengelus lembut rambut sang sahabat, dengan tatapan lurus kedepan.
"Kita pulang aja yuk, malas banget sumpah," gerutu Tasya.
"Lo tahu gak, kepala sekolah sama ketua OSIS kita yang dulu diancam seseorang. Makanya posisi mereka ganti," bisik Zara serius.
"Gue gak peduli Za,"
"Donatur juga datang, biasanya dia ikut acara pemberangkatan ujian."
"Gue gak peduli,"
"Diam deh, kita penasaran tahu."
"Tumben Lo kepo,"
"Gue juga manusia kali," sergah Zara.
Tasya hanya tertawa kecil, mencari posisi yang nyaman dipangkuan Zara dan memejamkan mata.
Tepat maniknya tertutup, suara mikrofon dari depan terdengar. Bersahutan suara heboh seluruh murid yang ada di aula.
"Ternyata benar ucapan om Rudi," gumam Zara. Dibalas anggukan kepala oleh Alex.
Acara-acara demi acara berlangsung, Zara dan Alex hanya bungkam seribu bahasa, kagum dengan sosok manusia yang berdiri diatas podium. Tepat disamping kepala sekolah.
Pria berwajah datar tanpa ekspresi, namun tetap terlihat tampan. Suami sang sahabat, sebagai donatur terbanyak berturut-turut setiap tahun.
"Suami Lo keren banget Sya," ucap Zara untuk pertama kalinya. Menepuk-nepuk wajah sang sahabat, berharap manik biru itu terbuka. Tapi sayangnya, Tasya benar-benar tertidur.
__ADS_1
______________
TERIMAKASIH:)