MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
LIMA DELAPAN


__ADS_3

Flashback


Berita Raiden Dirgantara tersebar luas di media sosial, setelah satu bulan hilang tanpa jejak. Akhirnya pria itu ditemukan dengan keadaan memprihatinkan.


Wajah pucat, tubuh kurus tak terawat, luka s*yatan dimana-mana, bahkan hampir kehabisan darah.


Rudi hanya tertawa miris, menertawakan diri yang tidak pantas dikatakan teman. Boro-boro mencari keberadaan Raiden selama ini, menemui pria itu saja sekarang Rudi tidak sanggup. Keadaan memaksanya tetap ditempat, malu menampakkan diri.


"Ruby,"


Spontan siempunya tersadar dari lamunannya, menoleh kearah suara. Tepatnya diambang pintu kamar wanita yang ia cintai tersenyum manis di kursi rodanya.


"Kenapa ma?"


"Kenapa belum tidur?"


"Belum ngantuk ma,"


"Kakak bohong sama mama?"


Sontak Rudi bangkit dari tempatnya, melangkah mendekat kearah pintu. Duduk bersimpuh didepan kursi roda dan mengengam jemari wanita paruh baya itu.


"Mama tau gak? ada parfum keluaran baru," ungkap Rudi, seakan mengalihkan pembicaraan.


Manik wanita paruh baya itu berbinar, bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman manis.


"Jadi kakak mikirin itu?"


Rudi mengangguk antusias, memeluk tubuh ramping itu menyembunyikan maniknya yang memerah menahan tangis.


Bertepatan Raiden hilang tanpa jejak, tepat hari itu juga saudara kembarnya kecelakaan maut dan kehilangan nyawa. Tepat hari itu juga mama nya stress. Tidak terima dengan keadaan, hingga stroke ringan.


Rudi sebagai anak melakukan apapun demi sang ibu, bahkan rela mengubah penampilan persis seperti Ruby saudari kembarnya. Tidak peduli apa kata orang, asal mama nya tersenyum. Tidak peduli mentalnya hancur, asal mama nya tersenyum.


Semua Rudi lakukan demi mama tercinta, tidak peduli apapun itu asal wanita yang ia cintai selalu tersenyum.


______________


Mama nya tersenyum sahabatnya berubah menjadi es. Dingin tak tersentuh terkejut melihat perubahannya. Mulai dari suara, tubuh kekar, hingga penampilan berubah seratus persen.


Raiden yang awalnya stress, malah semakin hancur. Hanya tertawa pedih menikmati penderitaan.


Rudi masih ingat betul raut kekecewaan itu, memang Raiden tertawa tapi maniknya tidak bisa berbohong. Dia benar-benar terluka, rapuh dan merasa kesepian.


Mulai hari itu Rudi bertekad menjaganya, entah dari dekat bahkan dari kejauhan sekalipun seperti saat ini.


Dia pikir Raiden pergi kemana, ternyata pria itu ke pengadilan. Menyaksikan kedua mertuanya melakukan persidangan perceraian yang sudah berjalan beberapa menit yang lalu. Wajahnya datar tanpa ekspresi, namun maniknya mengisyaratkan kekecewaan yang terdalam. Layaknya merasakan apa yang istrinya rasakan.


Dia yang bukan siapa-siapa saja terluka, apalagi istrinya. Ini alasan terbesar Raiden tidak membawa istrinya pulang ke rumah, pemandangan ini yang ingin Raiden hindari. Istrinya tidak boleh tahu, istrinya hanya boleh bahagia.


"Bubarin!" perintah Raiden dingin.

__ADS_1


Bangkit dari tempatnya, menatap tajam kearah Rudi yang tak jauh dari tempatnya.


"Sial, ketahuan lagi." Rudi tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan tatapan tajam yang mengarah ke arahnya.


Raiden benar-benar muak, dari dulu sampai sekarang tempat ini neraka kedua menurutnya. Teman-teman masa sekolahnya dulu sering menangis, menceritakan perceraian kedua orangtuanya.


Dia memang diam bahkan tidak melirik sedikit pun tapi hatinya tidak berbohong, sebagai anak Raiden juga ikut merasakan apa yang mereka rasakan.


"Menjadi orangtua memang sulit tapi perceraian, bukan jalan pintasnya. Ingat Tasya Jovanka. Sekali lagi istri saya menangisi karena hal yang tidak berguna ini, saya sendiri yang turun tangan melenyapkan kalian berdua."


Suasana mencekam, tubuh kekar itu berlalu menjauh. Tanpa melirik sedikit pun kearah kedua mertuanya.


Masalah kedua mertuanya memang rumit, memang siapa yang mau memaafkan pria br*ngsek seperti ayah Tasya?


Namun disatu sisi, ego yang membentang. Wanita paruh baya itu masih mencintai suaminya, begitu juga sebaliknya tapi ego, ego mereka menutupi semuanya. Tak peduli apapun itu, asal apa yang mereka inginkan terwujud.


"Anjing kantor makin gak tahu diri. Jam kerja, masih aja keluyuran."


Rudi hanya tertawa terbahak-bahak, menanggapi ucapan Raiden. Merangkul pundak sahabatnya dan menepuk-nepuk beberapa kali.


"Nona muda pasti bangga dengan anda sir. Lama-lama anda makin humoris,"


"Garing,"


"Ck, gak enak diajak bercanda."


Raiden hanya diam, melangkah masuk kedalam mobil. Diikuti Rudi disisi kemudi. Mobi yang dia bawa ke sini, diambil alih bodyguard.


"Ke rumah sakit."


"Skip."


"Terserah anda, pertemuan selanjutnya dengan perusahaan Megantara. Pemimpin dibawah naungan Gavin Megantara, anak pemilik perusahaan. Masih muda, Istri juga masih muda tapi waras, tegas, cantik–"


"Ulangi!"


"Nona muda segala-galanya, lebih waras, lebih tegas, lebih cantik, lebih-lebih dan lebih good looking."


"Good,"


"Padahal kenyataannya, Kenzie Megantara lebih segala-galanya," gumam Rudi pelan tapi sayangnya Raiden jelas mendengar ucapannya.


"Gue bunuh Lo!'


_________________


Hari ini Tasya menghabiskan banyak waktu di dapur. Mempelajari banyak resep masakan, yang tentunya diajari Ratna.


Biasanya wanita tua itu lebih banyak menghabiskan waktu di Gereja tapi karena ada Tasya di rumah, Raiden juga pulang ke kota. Jadi Ratna memutuskan di rumah saja, yang tentunya ada Keano yang selalu menempel dengan Tasya.


"Tamat sekolah, melanjut ke universitas mana?" tanya Ratna.

__ADS_1


Duduk di meja party, menghadap kearah Tasya dan Keano yang terlihat sibuk menyeruput jus buah naga yang baru saja Tasya buat.


"Gak tau Oma, Tasya belum kepikiran."


"Kamu hamil?"


Tasya tersedak air ludah sendiri, manik membola menatap Ratna yang tersenyum manis kearahnya.


"Ngomong apaan sih Oma,"


Wajah Tasya memerah sempurna, sekilas wajah tampan itu terbesit dalam benaknya. Ia ingat betul ekpresi wajah tampan saat berada di atas tubuhnya, memuji kecantikannya untuk pertama kalinya.


"Siapa tahu, Oma gak marah. Malah Oma senang. Itu hak suami kamu, sebagai istri kamu memang wajib melayani suami."


"Iya,"


"Jadi kamu benaran hamil?"


"Gak tahu," kita juga baru proses beberapa hari yang lalu, gak mungkin langsung jadi. Ucap Tasya yang sampai ditenggorokan.


"Apa yang gak mungkin? Kita gak ada yang tahu kuasa yang diatas," sanggah Ratna, seakan tahu isi kepalanya.


Kebetulan setelah ia pulang dari Gereja beberapa hari yang lalu, bertepatan Tasya Turun dari atas. Melangkah tertatih kedapur tanpa menyadari keberadaannya.


Sesekali terdengar ringisan dan ocehan tidak jelas dari mulut Tasya. Dari situ Ratna simpulkan, cucunya baru menjalankan tugasnya sebagai istri.


"Kalo kamu hamil waktu dekat ini, lebih baik kuliahnya diundur dulu. Dengar kata suami, jangan bandel!"


"Iya-iya, padahal aku gak bandel juga. Gak Oma, om-om yang itu juga bilang Tasya bandel."


"Om-om siapa?"


"Gak, ada."


"Mulai sekarang jangan panggil suami kamu dengan panggilan om, biasakan mengubah panggilan kamu itu."


"Iya, Oma."


Tasya menghela napas panjang, lama-lama pusing mendengar ceramah Oma nya. Setiap mereka bertemu, ceramah Oma nya tidak lepas dari telinganya.


"Kakak Sya, minum jus."


"Mau lagi?"


Atensi Tasya beralih ke arah Keano, hendak mengisi gelasnya dengan jus. Namun detik berikutnya, pandangannya berembun. Sekali berkedip air mata pasti lolos dari pelupuk matanya.


"Astaga, Tuhan. Yang minum jus itu manusia, bukan hp Keano."


__________________


TERIMAKASIH:)

__ADS_1


__ADS_2