
05:00 AM
Pencahayaan kamar redup, hanya ada pencahayaan yang berasal dari lampu tidur diatas nakas. Kaca balkon sengaja terbuka lebar, menampakkan langit fajar dan suara deru ombak yang terdengar bersahutan dari luar. Kebiasaan wanita yang tidur diatas ranjang, selama tinggal di rumah Ratna.
Namun tidur yang semula nyenyak runtuh sekejap. Perasaan asing terlintas, memaksa manik biru itu terbuka lebar. Membalikkan tubuhnya menghadap kearah pintu kamar, bertepatan tubuh kekar muncul dibalik pintu.
"Ck, udah subuh seharusnya setan gak muncul lagi."
Sebenarnya Tasya ingin memeluk tubuh kekar itu tapi rasa kesal lebih mendominasi.
Memilih meraba-raba dinding disamping nakas, hingga kamar terang menampakkan manusia yang paling ia tunggu dengan senyuman manisnya.
Wajahnya pucat, penampilannya berantakan, bau alkohol menguar. Bisa dipastikan, suaminya lembur belakangan ini.
Sejenak tatapan mereka beradu tapi manik biru itu lebih dulu menghindar, bangkit dari tempatnya melangkah turun dari ranjang dan memakai sandal jepit nya.
"Masih ingat pulang?"
Hening tidak ada sahutan. Raiden memilih diam mematung ditempat, mengikuti setiap gerak gerik istrinya. Hingga lengannya ditarik masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku gak suka yang bau, mandi sana!"
Terdengar helaan napas panjang, sekilas Raiden melirik wajah cantik itu memastikan ekpresi istrinya. Tapi masih sama, datar tanpa ekspresi sedikitpun.
Tidak ada kata lain yang terucap, entah pelukan hangat. Istrinya benar-benar mode merajuk.
"Sayang,"
"Mandi!"
"Jadi ngapain masih di situ? mau ikut?"
"Buruan!"
"Yaudah, ayo!"
"Ck, mandi gak?"
"Iya-iya, maaf."
Bibir pink itu mengerucut kedepan, membalikkan tubuhnya menghadap kearah pintu dengan melipat kedua tangan. Suaminya tidak boleh ditinggal sendiri dalam keadaan seperti ini, takutnya malah ketiduran di kamar mandi.
Mertuanya sempat berpesan, putra semata wayangnya berbeda dari yang lain. Apalagi setelah kejadian beberapa tahun yang lalu terjadi. Kondisi tubuh Raiden cepat berubah-ubah apalagi dalam keadaan lelah seperti saat ini. Jadi Tasya harus siap siaga sebagai istri.
Didalam kamar mandi hanya tetesan air yang terdengar, secepat kilat Raiden membasuh tubuhnya. Menghilangkan aroma alkohol yang menguar.
"Ayo!"
"Udah gosok gigi?"
"Hm,"
Tasya membalikkan tubuhnya, tepat tubuh kekar itu berjarak beberapa centi didepan tubuhnya. Dengan handuk yang melilit pinggangnya dan senyuman manis yang tidak pernah luntur dari bibirnya.
Rasanya ingin memukul atau memeluk tubuh kekar itu, melepaskan rasa yang mengganjal dilubuk hatinya beberapa hari ini tapi gengsi.
"Dasar om-om."
"Yah?"
"Lebih baik gak usah pulang sekalian. Oma udah cari pengganti yang baik, lebih muda lagi," omel Tasya.
Melangkah keluar dari kamar mandi dengan mulut yang tiada henti komat-kamit. Membuka lemari dan melempar baju Raiden tepat pada sasaran.
Siempunya hanya pasrah, memungut pakaian gantinya dari atas lantai hendak memakainya. Sebelum tubuhnya ditarik kearah ranjang.
"Duduk!"
__ADS_1
Lagi-lagi Raiden menurut. Duduk pasrah di tepi ranjang, membiarkan jemari lentik itu bekerja mengeringkan rambut dan punggungnya.
"Lembur berapa hari?" tanya Tasya ketus.
"Satu Minggu,"
"Satu Minggu-satu Minggu," cibir Tasya mengulangi ucapan suaminya.
Memukul kecil punggung kekar itu dan mengoleskan minyak kayu putih di seluruh permukaan punggung suaminya.
"Besok-besok gak usah tidur sekalian. Minum alkohol tiap hari, gak usah makan, gak usah istirahat, gak usah pulang sekalian."
"Iya-iya,"
"Udah tahu cepat sakit, masih bisa-bisanya kerja kayak kuda."
"Iya, maaf."
"Orang khawatir tiap hari, pikir udah mati ditelan bumi. Tahunya malah lembur tiap hari."
Raiden hanya menghela napas panjang, bangkit dari tempatnya hendak melepas handuk yang melilit pinggangnya.
"Yah? hadap sana!"
"Kenapa?" tanya Raiden dengan tampang sok polos. Melepas handuk yang melilit pinggangnya, menampakkan tubuhnya tanpa ditutupi sehelai benang apapun.
"Mesum."
"Katanya mesum tapi masih aja dilihatin."
"Jorok banget sih,"
"Jorok darimana nya?"
"Ck, buruan!"
"Aku gak usah pakai baju kali yah?" monolog Raiden tanpa mengubris ucapan istrinya.
"Gak usah deh, kayaknya enak tidur gak pakai baju."
"Oh, minta dipotong, itu nya?"
Sontak Raiden tertawa kecil, memakai pakaiannya secepat mungkin dan berhambur keatas ranjang menimpa tubuh ramping itu.
"Suami pulang itu disayang, bukan diomelin."
"Lagian siapa suruh gak pulang-pulang, udah seminggu tahu."
"Jadi pesan sama telepon kenapa gak diangkat?"
"Hp aku rusak, dikasih minum jus sama Keano."
"Alasan."
Raiden menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, memeluk tubuh ramping itu sepuas-puasnya. Tanpa memperdulikan posisi mereka yang tidak menguntungkan untuk istrinya.
"Berat banget om, jauh-jauh sana! Tasya masih ngambek tahu. Masa aku ditinggal gak pakai baju, mana dikasih uang lagi. Udah kayak wanita ranjang."
Untuk masalah itu Raiden memang sengaja, dia ingin istri kecilnya mode merajuk selama ia di kota tapi sayangnya, malah ia sendiri yang tersiksa.
"Om, udah makan?"
"Makan malam udah semalam."
"Iya, yah. Sekarang udah pagi. Ke sini sama siapa? gak mungkin bawa mobil lima jam, mana minum alkohol lagi."
"Supir."
__ADS_1
Tasya hanya mengangguk. Merapikan selimut menutupi tubuh kekar itu, seraya mengelus lembut rambut suaminya.
Dalam keadaan seperti saat ini, Tasya lupa dengan statusnya yang masih anak sekolah. Apalagi tubuhnya tinggi dan berwajah layaknya wanita dewasa, mendukung penuh statusnya sebagai istri pria dewasa.
"Sayang,"
"Iya, kenapa om?"
"Kita pulang besok aja yah? aku masih capek,"
"Iya, gak papa kok. Lama juga boleh,"
"Masalahnya Senin, kalian udah sekolah."
"Cepat banget. Kenapa gak tahun depan?"
"Kamu hamil aja, biar gak sekolah sekalian"
"Enak aja. Ingat, om yang hamil. Biar impas,"
"Impas apanya?"
"Aku yang kasih asi, om yang hamil."
"Dimana-mana cewek yang hamil, mana ada cowok."
"Ada, om sendiri."
Raiden memilih diam, yang ada permasalahan yang tidak penting ini berlanjut sampai sore. Apalagi tenaganya terkuras habis, tubuhnya butuh istirahat.
Tepat maniknya tertutup rapat, bisikan lembut itu menunda kegiatan tidurnya.
"Om, Tasya kangen."
"Ulangi!"
"Tasya kangen, om suami."
Sekali hentakan, posisi mereka berganti. Pekik terkejut keluar dari bibir pink itu, menatapnya syok yang kini sudah berada di bawah kuasa tubuh ramping itu.
Kedua lengannya melingkar di pinggang istrinya, bibirnya mengembang membentuk sebuah senyuman manis.
"Coba ulangi!"
Manik biru itu mengerjap, detik berikutnya menyembunyikan wajahnya yang memerah diceruk lehernya.
"Apaan sih om, malu tahu."
"Katanya kangen. Kangen siapa?"
"Gak ada,"
"Bukannya kangen om suami?"
"Mana ada,"
"Coba cium!"
"Apaan sih om?"
"Sini cium dulu, katanya kangen."
Raiden menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya, menatap lekat manik biru itu dan mengecup sekilas bibir istrinya gemas melihat tingkahnya.
"Katanya udah punya penggantin yang lebih muda, emang yakin bisa lepas dari aku? bisa aja bibit tanaman kita udah tumbuh."
"Mesum."
__ADS_1
_________________
TERIMAKASIH;)