
Lepas kejadian tadi Tasya sempat mendiaminya, untungnya hanya sepiring nasi goreng buatannya saja gadisnya gagal merajuk. Sekarang malah menempel layaknya kuntilanak kurang belaian.
Tidur berbantalkan paha kekarnya, dengan manik fokus menatap layar komputer.
"Om,"
"Hm,"
"Kata Zara, di gedung apartemen lama ditengah kota," ungkap Tasya.
"Rudi udah ke sana," sahut Raiden, seakan tau maksud ucapannya.
Manik cokelat itu hanya fokus menatap layar komputer, jemarinya sibuk menari-nari diatas keyboard tanpa memperdulikan tingkah gadisnya. Kerjaannya menumpuk, apalagi hampir satu hari mereka habiskan bermalas-malasan. Padahal ada perusahaan yang harus di urus, jika tidak bangkrut.
"Om, jangan ke sana yah."
"Kenapa?"
"Nanti om diapa-apain lagi,"
"Iya,"
"Jangan cuman iya,"
"Diam yah sayang, aku gagal fokus."
"Ck, om bandel."
Wajah cantik itu ditekuk, membalikkan tubuhnya menghadap kearah perut suaminya. Dengan santainya menyelusupkan kepalanya kedalam kaos hitam itu, mengecup lembut perut kotak-kotak itu.
"Jangan aneh-aneh!"
"Disini ada dede bayi gak om?" tunjuk Tasya kearah perut kotak-kotak itu, mengelus lembut dengan manik berbinar.
"Ngomong apaan sih?"
"Tasya pengen punya adek tapi om yang lahiri,"
"Kamu pikir aku apaan?"
"Manusia,"
"Tau manusia, masih aja ngomong yang aneh-aneh."
"Om gak mau?"
"Bukannya gak mau, kenyataannya wanita yang mengandung bukan pria," jelas Raiden lembut.
"Yah, padahal Tasya pengen punya adek yang lucu-lucu."
"Ajak aku aja, cuman satu jam sembilan bulan jadi."
"Itu namanya anak om kalo udah jadi, bukan adek."
"Terserah,"
Terasa napas hangat menerpa perutnya, gadisnya masih setia dengan posisinya. Sesekali mengelus lembut perut kotak-kotak nya.
Raiden tidak mempermasalahkan itu, asal gadisnya diam tidak merengek tidak jelas menganggu konsentrasinya bekerja.
"Om,"
"Apa?"
__ADS_1
"Ngantuk,"
"Ketempat tidur sana!"
"Gak punya teman. Om masih lama?"
"Hm,"
Kebetulan mereka berdua disofa, dengan kertas putih berserakan dimana-mana kebiasaan Raiden bekerja. Biasanya kertas putih itu akan menumpuk karena tidak ada yang merapikan.
Mpok Atiek juga tidak diizinkan masuk kedalam kamar, sekedar bersih-bersih tapi sekarang sudah ada manusia yang memperhatikan semua kebutuhan Raiden. Mulai dari kebersihan, bahkan makan tepat pada waktunya.
Walau kelakuan gadisnya terlihat seperti setan, tapi dia tetap berperan sebagai istri. Walau terkadang malas.
"Om,"
"Tidur aja, nanti aku pindahin ke kasur."
Tasya mengalah, memilih memeluk pinggang suaminya perlahan memejamkan mata. Daripada Tasya tidur sendiri di kasur, lebih baik tidur disofa. Plus pemandangan indah tepat di depan matanya.
Detik, menit, jam berputar. Tak terasa hampir tengah malam. Gadisnya sudah tidur lelap, tidak terganggu sedikitpun.
Raiden tidak tega sebenarnya tapi kerjaannya menumpuk. Untung gadisnya membawa selimut ke sofa, jadi Raiden tidak repot-repot bangkit dari tempatnya takut mengangu tidur gadisnya.
Dengan pergerakan sepelan mungkin, Raiden mengintip dari atas melihat wajah gadisnya dibalik kaosnya. Terlihat wajah cantik itu tenang, bibir pink nya mengerucut kedepan.
"Bocil,"
Seulas senyuman manis terukir indah dibibirnya, sembari mengelus lembut rambut istrinya gemas melihat tingkahnya.
_______________
06:00 AM
Dengan pergerakan sepelan mungkin jemari lentik itu mendorong wajah tampan itu menjauh, takut tidur siempunya terganggu.
"Napas om bau,"
Tasya nyengir kuda, mengecup sekilas bibir tebal perlahan melepaskan pelukannya.
Sebenarnya Tasya malas, tapi jadi istri durhaka juga tidak baik. Takutnya uang bulanan terpotong, sial.
Kamar yang semula berantakan kini terlihat rapi, benda yang bersangkutan dengan suaminya sudah tersusun rapi pada tempatnya. Bahkan Tasya sudah mandi dan perlengkapan kantor suaminya sudah tersusun rapi diatas sofa.
Bertepatan Tasya keluar dari kamar mandi, tepat tubuh kekar itu turun dari ranjang.
"Dasar kebo," ejek Tasya.
Kapan lagi Tasya bisa mengejek pria yang satu ini, dia terlalu sempurna hingga kekurangannya sulit ditemukan yang ada dia yang jadi bahan ejekan.
"Jangan kemana-mana!"
Tubuh kekar itu melongos masuk begitu saja kedalam kamar mandi. Hanya mengucapkan kalimat itu, tanpa membalas ucapannya.
"Ck, gak seru."
Tasya membuka sandal jepit nya, dilempar asal kearah pintu kamar mandi yang tertutup bertepatan pintu itu terbuka kembali. Menampakkan Raiden dengan wajah syok.
"TASYA!"
"Mampus."
Tubuh siempunya menegang, melempar handuk yang baru saja ia gunakan ke sembarang arah. Berlari terbirit-birit mendekat kearah tubuh kekar itu.
__ADS_1
"Maaf om,"
Hening tidak ada sahutan, Raiden hanya diam sembari mengelus hidung mancung nya bekas sandal jepit gadisnya.
"Tasya obati yah,"
Tanpa menunggu persetujuan siempunya, Tasya langsung menarik tubuh kekar itu kearah ranjang. Mendudukkannya di tepi ranjang.
"Astaga Tuhan, ini sakit banget."
Tasya semakin gegalapan, mencari letak kotak p3k dan duduk disamping suaminya dengan jantung yang berdetak kencang.
Mampus gue, ini anak orang untung gak mati. batin Tasya.
Beralih menangkup wajah tampan itu, meneliti hidung mancung itu dari jarak dekat. Untung manik cokelat itu tidak kena, tapi bibir tebal itu sedikit lecet.
Dengan telaten Tasya mengobati luka di wajah tampan itu, luka karena ulahnya sendiri.
"Maaf om," lirih Tasya disela-sela kegiatannya.
Wajah cantik itu terlihat khawatir, sesekali meniup hidung mancung itu yang terlihat memerah.
"Sakit,"
"Maaf om,"
Raiden menahan tawa setengah mati, tetap stay cool demi melancarkan aksinya.
Hingga bibir pink itu menyatu dengan bibirnya, mengecup lembut tepat di bagian yang terluka.
______________
Selama perjalanan hening, tidak ada yang berniat membuka suara. Tasya setia menundukkan kepala, dengan menautkan kedua tangannya.
Wajah tampan suaminya lecet karena ulahnya, hidung mancung itu diplaster bekas sandal jepit nya.
"Turun!" ucap Raiden dingin.
Bahkan bulu kuduk merinding mendengar suara itu, walau terkesan seksi ditelinga Tasya.
"Om, maaf."
"Buruan!"
"Jangan marah dong om," bujuk Tasya entah keberapa kalinya tapi sayangnya suaminya seakan tuli dengan suaranya.
"Om,"
"Turun!"
"Maaf."
Tubuh ramping itu berlalu keluar dari mobil, tepat pintu tertutup bibir ranum itu terangkat membentuk sebuah senyuman manis. Gemas melihat tingkah istrinya.
Sebenarnya Raiden tidak marah tapi mengerjai gadisnya suatu hal yang menyenangkan. Kapan lagi seorang Tasya menurut, jadi Raiden menggunakan kesempatan sebaik mungkin.
"Dasar bocil,"
Mobil hitam itu berlalu menjauh, bahu Tasya langsung merosot. Entah cara apa lagi yang harus dia lakukan membujuk pria yang satu itu, bahkan bibirnya hampir bengkak demi membujuk suaminya.
"Om-om kalo ngambek melebihi bocil," gumam Tasya.
________________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)