MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
GAGAL BOLOS


__ADS_3

Tepat di puncak gairah yang mereka padu bersama, gadisnya malah berhenti dengan sendirinya. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, dengan wajah polos yang sayangnya semakin membangkitkan gairahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Raiden dengan suara serak, napas panjang terdengar memburu.


Tubuhnya gerah, kepala pening dengan bagian bawah yang mengeras sempurna.


"Bentar-"


Gadisnya bangkit dari tempatnya, turun dari ranjang berdiri tak jauh dari tempatnya sembari bercakak pinggang.


"Why?" tanya Raiden frustasi.


"Gak kenapa-napa, kaki Tasya pegal."


"Jadi?"


"Pengen berdiri di sini."


"Kunci."


Sekejap semua pintu terkunci, lampu kamar tergantikan dengan lampu minim pencahayaan yang berasal dari kepala ranjang dan bawah televisi.


Tau begitu, kenapa selama ini mereka tidur gelap-gelapan? Tasya tidak habis pikir.


Gadisnya diam mematung di tempat, tetap stay dengan posisinya seakan menantangnya. Dengan pergerakan sepelan mungkin Raiden bangkit dari tempatnya, melangkah mendekat kearah tubuh ramping itu.


Sebelum lengannya meraih tubuh ramping itu, siempunya lebih dulu mengelak. Tersenyum jahil kearahnya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Bocil yang om maksud, udah bisa bikin bocil," ucap Tasya dengan santainya. Melipat kedua tangan di depan dada, dengan senyuman yang semakin terlihat menyebalkan.


"Jadi?"


"Aku pengen punya anak,"


"Kapan?" tanya Raiden tenang, melangkah mendekat kearah tubuh ramping itu berdiri tepat dihadapannya.


"Lima tahun kedepan,"


"Oh, masih lama yah."


"Lumayan,"


Tatapan mereka beradu, napas memburu saling bertubrukan. Tepat lengan kekar itu melayang hendak menangkapnya, Tasya kembali menghindar. Tertawa kecil, sesekali menjulurkan lidahnya kearah suaminya.


Tubuh kekar itu tetap tenang, bahkan bibir nya terangkat membentuk sebuah senyuman manis.


"Aku juga pengen punya anak," ucap Raiden tenang.


Melepas kaosnya dan melemparnya asal keatas lantai.


"Kapan?" tanya Tasya, dengan tatapan tidak lepas dari tubuh kekar itu.


"Kapan yah? Aku juga kurang yakin, baru kepikiran soalnya."


Kaki jenjang itu terus melangkah, menyudutkan tubuh ramping itu tanpa memberi celah sedikitpun.


Seulas senyuman manis terukir indah dibibir pink itu, mengalungkan kedua lengannya di belakang leher suaminya. Tanpa melepaskan tatapannya.


"Jadi mau om apa?"


"Anak,"


"Anak setan mau?"


"Asal kamu yang jadi ibunya,"


"Jadi maksud om siapa? Jihan?"


"Yah kenapa bawa-bawa Jihan."


Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, sekali hentakan tubuh kekar itu terdorong menjauh.


"Jangan dekat-dekat!"


"Ck, bandel banget jadi anak. Tangung jawab,"


"Lah, orang om yang nyuruh Tasya."


"Kenapa mau?"


"Cuman ngerjain om aja,"

__ADS_1


Kesabaran Raiden habis, menatap tajam kearah istrinya dan melangkah lebar hendak meraihnya. Tapi hasilnya tetap sama, malah gadisnya berlari menjauh sembari menjulurkan lidahnya.


"Tasya!"


"Rasain, siapa suruh mesum."


"Benar-benar, berhenti gak!"


"No, no, no."


"Tuyul."


Kamar yang semula sepi kini terdengar ramai, di isi teriakan Raiden dan tawa Tasya yang terdengar mengema seisi kamar.


Bantal sofa terlempar kemana-mana, bahkan ranjang hancur berantakan.


"Udah om, Tasya capek."


Senyuman jahat terbit dibibir Raiden, sekali tarik tubuh ramping itu sudah berada dalam dekapannya.


"Gagal malam pertama lagi," decak Raiden.


"Malam pertama sendiri aja sana."


"Gak ada pasangannya,"


"Sama setan,"


"Kamu juga setan,"


"Tobat om."


"Ck, Iden junior udan bangun."


"Tidurin lagi."


"Mau?"


"Mesum."


_______________


Didepan gerbang terlihat Alex dan Zara berdiri stay menunggunya. Biasanya Tasya senang, tapi hari ini tidak. Apalagi tubuhnya semakin sakit, bahkan Raiden turun tangan sendiri memijat punggungnya yang terasa remuk.


"Jangan bolos!" peringat Raiden, sembari melepas sealtbet istrinya.


"Sana, malah melamun."


Terdengar decakan kecil, dengan kesal Tasya bangkit dari tempatnya berlalu keluar dari mobil langsung di sambut kedua sahabatnya.


"Lo gak papa kan?" tanya Zara yang terdengar khawatir.


"Gue baik-baik aja,"


Senyuman manis terukir indah dibibir Tasya, merangkul pundak kedua sahabatnya memasuki pekarangan sekolah. Genap dua langkah Tasya malah berhenti, menatap tajam punggung seseorang yang terlihat familier.


"AXEL!" teriak Tasya, menarik perhatian beberapa siswa terlebih kedua sahabatnya.


"Centil," sindir seseorang.


Siempunya acuh, tidak memiliki minat menghajar pembencinya. Fokusnya hanya kearah Axel, melepas rangkulan nya dari pundak kedua sahabatnya. Berlari terbirit-birit mendekat kearah Axel.


"Kita dikacangin," decak Alex tak habis pikir.


Axel yang merasa terpanggil hanya diam, terus melangkah hingga ranselnya di tarik kebelakang.


"Sombong banget sih Lo,"


"Malu-maluin," balas Axel pedas.


"Biasa aja tuh. Btw makasih buat semalam,"


"Hm,"


"Suami gue marah, mungkin sebentar lagi sekolah ini bakalan hancur."


"Bagus,"


"Gak seru Lo."


Pria itu hanya mengakat bahunya acuh, tanpa memperdulikan tingkah gadis cantik yang berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Bolos yuk!"


"Hm,"


Sontak Tasya sumringah, menarik ransel Axel dari belakang tanpa memperdulikan pria itu terseret dibelakang.


"Lo makan apaan bisa sekuat itu?"


"Jengkol,"


Axel hanya mengelengkan kepala, tidak habis pikir dengan semua apa yang di miliki gadis yang satu ini.


"Jadi Lo harus hati-hati, gue bisa bunuh siapapun."


"Biasa aja,"


Sontak Tasya tertawa kecil, sembari menarik ransel pria itu. Berteman dengan Axel itu menyenangkan, ternyata hanya wajahnya saja yang terlihat es mulutnya seperti rel kereta api. Cerewet.


Flashback


"Raiden Dirgantara."


Sontak Tasya melototkan matanya, menoleh kearah Axel dengan tatapan mengintimidasi.


"Darimana Lo tau?"


"Emang siapa yang gak kenal Raiden Dirgantara?"


"Iya juga sih, tapi dari mana Lo tau dia suami gue?"


"Bapak gue, mantan kepala sekolah SMA GALAXY. Orang yang pernah viral di media sosial, gara-gara salah satu siswa SMA GALAXY."


Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan suasana yang sedang ujian.


Ternyata Axel anak si botak, pantasan wajahnya mirip. Kebetulan Axel di kirim ke luar negeri selama ini, saking nakalnya. Mereka juga sempat berteman waktu kecil, bahkan partner mencuri uang si botak. Bapak Axel sendiri.


Tapi karena lama tidak bertemu, Tasya jadi lupa dengan wajah datar ini.


"Lo tau siapa pelakunya?" tanya Axel, pura-pura tidak tau.


"Gue, human."


"Br*ngsek."


Rambut panjang Tasya ditarik kebelakang, mulutnya di bungkam dengan roti bakar.


"Lo bakalan mati di tangan gue," bisik Axel.


Mulai detik itu mereka teman, teman saling membunuh satu sama lain.


______________


"Lo tau, bapak Lo si botak sering banget mukul gue," adu Tasya.


Melepas cekalan tangannya dari ransel Axel, bercakak pinggang menatap tembok di hadapannya setinggi 5 meter.


"Dendam pribadi."


"Kayaknya,"


"Makanya Lo cepat mati, biar bapak gue hidup tenang."


"Gue belum punya anak, lagian sampai kapan Lo pura-pura jadi anak SMA? cari bini kek, bisnis atau gimana gitu. Lo pikir kerjaan Lo yang sekarang candaaan? bahaya setan,"


"Cuman cari mati aja,"


"Gak guna, sumpah."


Terdengar helaan napas panjang, bersamaan bel berbunyi. Tasya masih bingung mereka keluar dari mana, rasanya malas memanjat tembok setinggi 5 meter saat ini.


"Ck, buruan!" desak Axel.


"Jongkok!"


Axel menurut, sebelum mereka ketahuan ketua OSIS. Apalagi jam seperti saat ini rawan, ketua OSIS berkeliling mencari mangsa.


Tapi sebelum kaki ramping itu menyentuh pundak Axel, namanya lebih dulu mengelar.


"Si kuman keburu datang," ujar Tasya, sembari menarik ransel Axel bangkit dari tempatnya.


______________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


__ADS_2