MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
ANCAMAN UNTUK SICANTIK


__ADS_3

Tertawa, itu saja yang Raiden lakukan selain tidur. Istrinya melarang keras turun dari ranjang, terutama menyentuh keyboard dan juga komputer.


Raiden pasrah-pasrah saja. Menuruti kemauan istrinya asal dia berhenti mengomel. Karena setelah kejadian itu Tasya berubah menjadi wanita cerewet mengalahkan bundanya. Melarangnya melakukan ini, itu demi kebaikannya.


Tapi hari ini wajah cantik itu terlihat murung, kesana kemari mencari keperluan sekolahnya. Dengan mengerucutkan bibir sesekali melirik tajam kearahnya.


"Buruan! nanti terlambat!" peringat Raiden. Duduk ditengah-tengah ranjang, sembari mengikuti gerak gerik istrinya yang terlihat ogah-ogahan berangkat kesekolah.


"Ck, ngantuk banget Om," gerutu Tasya. Meraih sisir, bedak bayi dan liptint dari meja rias. Melangkah mendekat kearah suaminya.


"Makanya kalo disuruh tidur, yah tidur!"


"Om juga mesum banget, udah tahu tengah malam masih aja cari kesempatan."


"Lah, kamu sendiri mau-mau aja," elak Raiden tak mau kalah.


Menerima sisir dari genggaman istrinya dan menarik tubuh ramping itu duduk diatas paha kekarnya.


"Oma bilang, istri wajib melayani suami."


"Oh, jadi ceritanya semalam melayani suami karena ajaran Oma?"


"Gak juga,"


"Jadi?"


"Karena aku gak bakalan bisa nolak, om terlalu mesum. Tukang maksa! tukang ngambek! udah tua juga," sergah Tasya. Mengeluarkan semua unek-uneknya, yang mengganjal dilubuk hatinya.


Raiden hanya terkekeh geli, jemarinya sibuk merapikan rambut panjang istrinya. Digabungkan menjadi satu dan diikat kucir kuda.


Kebetulan semalam mereka begadang, hanya karena ulah jahilnya. Sebenarnya hanya yang diatas tapi tetap saja mengangu tidur siempunya.


Bahkan bibir pink itu bengkak, sesekali istrinya meringgis nyeri dibagian dada nya.


Sebenarnya Raiden kasian tapi saat melakukan itu, mereka berdua sama-sama terhanyut melupakan dunia sementara waktu. Ujung-ujungnya berakhir seperti itu.


"Iya, maaf."


"Untung cuman yang diatas, kalo gak mati aku."


"Kenapa mati?" Raiden memutar tubuh ramping itu menghadap kearahnya. Tanpa ada penolakan sedikitpun.


Mengambil alih bedak bayi dari genggaman istrinya dan ditaburkan sedikit demi sedikit diwajah cantik itu.


"Yah gak bisa jalan. Om kalo udah dikasih jatah, gak ingat waktu. Gak ingat tenaga, gak ingat aku yang udah kecapean."


"Kenapa bisa kecapean?"


"Sok polos."


"Yah, 'kan aku nanya."

__ADS_1


"Mana ada pertanyaan begitu, om sendiri pelakunya masa gak tahu."


"Pasti, orang kamu yang jadi korban."


"Ck, terserah. Aku gak peduli." Tasya melipat kedua tangannya. Membiarkan suami mesumnya menata wajahnya, hingga liptint dipoleskan dipermukaan bibirnya.


"Udah, sana!"


"Kok ngusir,"


"Buruan, nanti terlambat."


"Gak, mau."


"Cepatan gak?"


"Ngantuk om," rengek Tasya.


Mengubah mimik wajahnya, bibir melengkung kebawah, manik berkaca-kaca.


"Buruan!"


"Nanti om kabur!"


"Gak, aku cuman tidur selama kamu di sekolah."


"Bohong,"


"Benar yah, om jangan kemana-mana. Tunggu sembuh dulu."


Raiden hanya mengangguk, mendorong pelan tubuh ramping itu turun dari ranjang.


Kondisinya memang belum pulih total tapi sebatas duduk dibalik layar, sebenarnya mampu. Namun istrinya melarang keras, jadi Raiden mengalah.


Walau tetap saja, semua kerjaanya sudah Rudi kirim lewat email. Tunggu istrinya berangkat kesekolah, baru Raiden bekerja.


"Jangan lupa minum obat, minum yang banyak. Jangan kemana-mana!"


ucap Tasya, sembari memakai sepatunya.


"Iya, bawel."


Tasya hanya berdecak kecil, meraih ranselnya dari sofa dan kembali mendekat kearah suaminya.


"Apa lagi? udah siang, nanti terlambat."


"Pamit, om gimana sih."


"Oh, mau pamit? sama siapa?"


"Yah, sama om. Sama siapa lagi coba?"

__ADS_1


"Om?" beo Raiden. Menaikkan alisnya menatap wajah cantik itu.


Sial, Tasya lupa lagi. Mulutnya belum terbiasa menganti panggilan itu. Apalagi sebelum menikah juga, Tasya sudah sering memanggil suaminya dengan panggilan om.


Karena perbandingan usia mereka yang jauh berbeda.


Menghela napas sejenak, baru Tasya duduk di tepi ranjang. Menangkup wajah tampan dengan kedua tangannya, lalu mencium setiap inci wajah tampan itu.


"Belum terbiasa." Tasya meringgis melihat perubahan wajah tampan itu. Tatapan matanya menajam, rahangnya mengeras.


"Kamu pikir saya om kamu apa?" sergah Raiden.


Menangkup wajah cantik itu, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan istrinya. Walau tetap saja, kecupan dibibir pink itu durasinya sedikit lama.


"Jangan bolos! Hari ini pembagian nilai ujian harian minggu lalu, bawa semua hasilnya ke rumah tanpa terkecuali. Paham!"


Mampus, neraka kedua menunggunya.


"Dengar gak aku ngomong apa?" ulang Raiden lagi.


"Oke."


Tasya langsung bangkit dari tempatnya, berlari terbirit-birit hendak membuka pintu kamar. Sebelum suara bariton terdengar, mengehentikan langkahnya.


"Satu nilai dibawah rata-rata, satu hari pelayanan diatas ranjang. Dua nilai dibawah rata-rata, satu Minggu pelayanan. Tiga nilai dibawah rata-rata, satu bulan pelayanan. Kalo semua dibawah rata-rata, tiap malam kamu harus siap-siap layani saya diatas ranjang!" ancam Raiden.


"LENGKAP PAKAI DINAS MALAM YAH SAYANG. WARNA HITAM, WARNA KESUKAAN AKU," tekan Raiden dengan seringai licik diwajahnya.


Tasya hanya diam mematung ditempat, menelan salivanya kasar dengan jantung berdetak kencang.


Sial, sial, sial, pria yang satu ini pintar sekali mencari kelemahannya. Bisa dipastikan, semua nilainya dibawah rata-rata. Karena waktu itu Axel yang jadi teman semejanya.


Biasanya setiap siswa yang nilainya dibawah rata-rata, baik nilai ujian harian, bulanan maupun tahunan selalu mendapat surat panggilan untuk orangtua. Bisa dipastikan, Tasya salah satunya.


"Ngapain bengong? berangkat sana! nanti keburu bel."


Sontak Tasya tersadar dari lamunannya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun berlari terbirit-birit keluar dari rumah.


Tepat pintu tertutup Raiden langsung tertawa terbahak-bahak. Bangkit dari tempatnya, berdiri dibalik kaca balkon. Melihat istrinya dari atas.


"Harus diancam dulu," gumam Raiden. Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman manis, tepat manik biru itu bertubrukan dengan maniknya.


Dengan jahilnya Raiden mengedipkan sebelah matanya, seakan mengoda istrinya.


Bibir pink itu semakin mengerucut kedepan, menjulurkan lidahnya hingga mobil berlalu keluar dari pekarangan rumah. Kebetulan Raiden memaksa istrinya diantar jemput supir, kalo tidak ranjang menunggunya.


"Dia unik, aneh, lucu. Sicantik."


____________


TERIMAKASIH:)

__ADS_1


__ADS_2