
Hening, tidak terdengar suara sedikitpun. Yang terdengar hanya napas yang memburu, saling bertubrukan satu sama lain.
Raiden tertarik menatap manik itu, hal yang selama ini ia cari dapat di temukan dari tatapan mata itu. Teduh, tenang dan menghangatkan. Dari mana saja ia selama ini? gadis yang satu ini memiliki segalanya yang selalu ia cari selama ini.
"Om,"
Tasya memiringkan wajahnya, menghindari sentuhan bibir ranum itu yang bahkan tersisa beberapa centi dari bibirnya.
"Kamu pakai softlens?" tanya Raiden tiba-tiba, tanpa berniat melepaskan tatapannya dari manik biru itu.
"Gak,"
"Masa?"
Siempunya hanya mengangguk kan kepala, jemarinya terangkat keatas mengelus lembut rahang tegas itu. Dengan kepala yang masih setia di miringkan.
"Cantik,"
Spontan seulas senyuman manis terukir indah dibibir pink itu, sejarah pertama pria yang satu ini memuji salah satu anggota tubuhnya. Walau sebenarnya tanpa Tasya tahu, Raiden selalu memuji kecantikannya walau tidak terucap.
Beberapa detik kemudian hening kembali menyelimuti, hembusan napas hangat terasa saling menerpa satu sama lain. Raiden masih setia menatap lekat manik biru itu, seakan terhipnotis untuk memandangnya. Tatapannya tenang, namun sulit diartikan.
"Ck, kenapa sih? Masih pagi udah kesurupan,"
Merasa di cuekin sedari tadi, dengan kesal Tasya mendorong tubuh kekar itu dan berlalu keluar dari kamar mandi.
"Om, aneh."
Siempunya hanya menghela napas panjang, mengikuti tubuh ramping itu berlalu keluar dari kamar mandi. Duduk berdampingan di atas sofa, seraya melanjutkan sarapan mereka yang sempat tertunda.
"Kamar ini ada WiFi nya om?"
"Hm,"
"Hp om mana?"
"Di atas nakas," jawab Raiden seadanya.
Sontak Tasya bangkit dari tempatnya, meraih ponsel suaminya dari atas nakas, di sodorkan kearah siempunya.
"Buka!"
Raiden menurut, membuka password hp nya, detik berikutnya di tarik kembali.
"Om, suka film genre apa? Romantis? gak mungkin, om gak ada romantis-romantisnya. Horor? Kayaknya, om suka melamun mungkin mikirin setan yang mirip Tasya. Komedi? Kayaknya enggak deh, orang om kaku kayak patung gak ada lucu-lucunya, tapi sexy."
Raiden hanya mengelengkan kepala, memilih fokus dengan makanannya tanpa memperdulikan ucapan istrinya. Lagian yang ditanya siapa, yang jawab siapa. Jadi di biarkan saja, asal anak yang satu ini senang.
Sesekali Raiden melirik kearah gadisnya, yang terlihat fokus mengotak ngatik ponselnya. Entah apa yang Tasya lakukan dengan ponselnya tanpa seizin nya.
Hingga bibir pink itu tersenyum lebar, meletakkan ponselnya diatas meja beralih menatap layar televisi.
"Ada film baru om," ujar nya antusias.
__ADS_1
Raiden hanya mengangguk kan kepala, tanpa berniat bertanya film apa yang akan mereka tonton.
Manik mereka berdua fokus menatap layar televisi, sesekali menyendokkan makanan kedalam mulutnya. Dalam keadaan seperti saat ini mereka berdua terlihat akur, apalagi film yang Tasya sukai sama dengan suaminya. Thriller.
(Film thriller adalah genre film yang menyajikan aksi menegangkan. Genre film ini biasanya banyak diisi dengan adegan menegangkan dan mendebarkan. Biasanya tema cerita yang diangkat berasal dari kehidupan nyata seperti pembunuhan, gangguan kejiwaan, misteri, mata-mata, hingga teori konspirasi) #Sekedar informasi
Detik, menit, jam berlalu. Mereka berdua masih setia duduk didepan tv. Gorden dan kaca balkon tidak dibuka sama sekali. Seakan mereka berdua sengaja tanpa mereka sadari.
Bahkan mereka pindah posisi,
memilih duduk lesehan di atas lantai seraya bersandar di sofa. Camilan berceceran dimana-mana, bahkan botol alkohol yang entah sejak kapan Raiden ambil dari tempatnya. Tasya tidak mempermasalahkan hal itu, asal tidak berlebihan.
"Menurut om, pembunuh nya siapa?" tunjuk Tasya kearah televisi.
"Baju hitam,"
"Bisa jadi, tapi menurut Tasya pendiam itu pembunuh nya. Biasanya pendiam itu banyak misterinya, kadang diam nya bisa jadi iblis."
Raiden hanya mengangguk kan kepala, sesekali meneguk alkoholnya langsung dari botolnya.
Hingga layar penuh dengan adengan yang berbeda, adengan dewasa tanpa di sensor sedikit pun.
Wajah mereka berdua tetap tenang, terlihat biasa melihat pemandangan itu.
Apalagi Tasya biasa menonton film thriller berlatar belakang barat. Adegan seperti ini biasa di selipkan.
"Om, udah pernah begituan?"
"Gak,"
"Masa sih?"
"Gak minat,"
"Bohong,"
"Hidup gak semua tentang s*x, gak semua orang gila melakukan itu. Nonton yang beginian biasa, saya akui itu. Tapi melakukan, gak minat."
Terdengar tawa kecil, di luar dugaan Tasya bangkit dari tempatnya. Membuka piyama tidurnya, menyisahkan tank top hitam dan celana pendek sebatas paha.
"Panas," keluh nya, seraya kembali duduk ke tempat semula.
Raiden memilih diam, maniknya hanya fokus menatap layar televisi tanpa memperdulikan tingkah gadisnya.
Hingga bahu nya terasa berat, jemari lentik itu melilit dipinggangnya.
"Jangan berlebihan om minum alkohol nya, gak baik buat kesehatan," peringat Tasya.
Raiden menurut, menjauhkan botol alkoholnya jauh dari jangkauannya. Entah mengapa ia tidak bisa menolak ucapan gadis yang satu ini, tubuh dan pikirannya selalu menurut.
"Om, pernah jatuh cinta?" tanya Tasya penasaran.
Raiden memutar matanya jengah, detik berikutnya menganggukan kepala.
__ADS_1
"Kapan?"
"Masa SMA,"
"Dia cantik gak om? lebih cantik kan dia atau Tasya?"
"Dia."
Terlalu jujur, batin Tasya.
"Dia cantik lebih cantik bidadari malah. Tapi sayang, gak bisa di miliki."
Spontan Tasya mendongakkan kepalanya keatas, menatap wajah tampan itu yang terlihat memerah menahan emosi. Entah apa yang terjadi, padahal Tasya hanya bertanya.
Lagian dia menjawab seadanya sejak tadi, tanpa protes sedikitpun.
"Ada seseorang yang terobsesi ingin memiliki dia, padahal yang dia cintai itu saya. Demi kebaikan, saya mengalah."
"Kenapa? om bodoh banget sih," protes Tasya.
Sontak Raiden tertawa kecil, melirik kearahnya sebentar dan kembali mengarahkan tatapannya kearah yang lain.
"Mengalah bukan berarti kalah. Di belakang saya tetap mengejar dia. Apalagi bidadari itu berpihak sepenuhnya sama saya, bukan b*jingan itu."
"Sampe segitunya om?"
"Kenapa tidak? lagian kita berdua saling mencintai, dia hanya benalu penghancur hubungan orang lain."
"Jadi om apa? sama aja menurut Tasya. Udah tau dia udah punya pacar, masih aja ngotot. Cinta gak harus memiliki om,"
"Cuman orang munafik yang ngomong gitu."
Sontak Tasya tertawa kecil, melepaskan pelukannya seraya kembali ke posisi semula.
"Tasya juga pernah diposisi om, tapi bukan berarti bermain licik kayak om. Bisa aja Tasya jebak dia biar Tasya hamil. Tapi ngeliat dia bahagia aja, udah cukup om. Karena cinta gak harus memiliki."
"Bocil mana paham,"
"Diam, gak ada bantahan!"
"Ter–"
"Tasya bilang diam!"
Raiden mendengus kesal, melempar camilannya ke arah Tasya. Entah mengapa mulutnya susah diajak kompromi, apa salahnya coba melawan. Dasar mulut m*rahan emang.
"Jodoh gak kemana om, bukti nya anak tentangga bisa jadi jodoh Tasya."
"Br*ngsek."
_________________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1