
Tanpa merasa berdosa Raiden malah memejamkan mata, tanpa berniat bangkit dari tempatnya. Untung ia gesit mengubah posisi, walau tetap saja Tasya yang berada dibawah tubuhnya.
"Om, berat woi!"
Tasya berusaha mendorong tubuh kekar itu, walau tetap saja hasilnya sama. Malah kaki jenjang itu mengunci pergerakannya, kedua lengannya di tahan di kedua sisi tubuhnya.
"Astaga om, dosa om berapa kilo? berat banget, sesak lama-lama."
"Siapa suruh kamu bandel,"
"Ini KDRT om namanya, kalo Tasya mati gimana?"
Spontan Raiden mengangkat wajahnya, menatap wajah cantik itu lekat menerbitkan seulas senyuman manis dibibir pink itu.
"Om makin ganteng dilihat dari dekat,"
"Kamu gak takut sama saya?" tanya Reiden heran.
"Biasa aja."
"Kamu gak takut saya b*ntungin?"
"B aja, lagian om suami Tasya."
Terdengar decakan kecil, wajah tampan itu menjauh bersamaan tubuh kekarnya duduk di tepi ranjang. Entah Raiden yang aneh atau Tasya. Masa anak yang satu ini tidak takut dengannya, padahal mereka berdua belum kenal satu sama lain.
Entah hidupnya yang terlalu monoton atau belum terbiasa, entahlah Raiden bingung. Hingga terasa pelukan dilehernya, kedua kaki ramping itu kembali melilit dipinggangnya.
"Ayo, om!"
"Kemana?"
"Kamar sebelah,"
Raiden hanya bisa menghela napas panjang, bangkit dari tempatnya melangkah keluar dari kamar. Sesekali terdengar tawa kecil menyapa telinganya, napas hangat menerpa lehernya.
Andai Raiden pria j*hanam, detik ini juga tubuh ramping ini akan kembali ke bawah kuasa tubuh kekarnya. Apalagi napas hangat itu tepat dibagian sisi lemahnya, membuat tubuhnya gerah dan panas di waktu yang bersamaan.
"Om," bisik Tasya tepat ditelinganya.
Astaga, aku mana tahan kalo begini ceritanya, batin Raiden.
Tepat didalam kamar, Raiden langsung menurunkan tubuh ramping itu keatas ranjang dan hendak berlalu masuk kedalam kamar mandi.
"Om, sini Tasya bantuin."
Spontan Raiden membalikkan tubuhnya, menatap Tasya dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibir pink itu. Detik berikutnya terdengar pintu kamar mandi tertutup cukup kencang, bersahutan tawa Tasya memenuhi ruangan.
"BOCIL!"
Tasya hanya bisa tertawa terbahak-bahak, membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size itu, menghirup dalam-dalam aroma khas suaminya yang melekat di selimut tebal itu. Aroma lavender.
Beberapa saat maniknya tertutup, tanpa menyadari pintu kamar mandi terbuka menampakkan Raiden dengan handuk melilit dipinggangnya dan berlalu masuk kedalam walk closet.
"OM RAIDEN, TASYA LAPAR."
"Jangan teriak-teriak!"
"LAPAR,"
"Tasya!"
"LAPAR,"
__ADS_1
"Astaga, emang anak SMA kelakuannya begini?" tanya Raiden, berdiri tepat di samping ranjang. Menatap wajah cantik itu dengan tatapan tajam.
"Lama banget sih om, Tasya udah lapar."
"Jadi ngapain masih tidur di situ?"
Spontan Tasya membuka matanya kembali, beralih kearah Reiden yang terlihat tampan mengunakan kaos oblong dan celana jeans sebatas lutut.
"Mager om,"
"Terserah,"
"Om, gendong Tasya ke dapur dong. Lapar,"
"Jalan sendiri."
"OM, TASYA LAPAR. BUTUH MAKAN, KASIH SAYANG, CINTA, BUKAN HARAPAN."
Ya Tuhan, makhluk yang satu ini berasal darimana? batin Raiden.
Dengan kesabaran yang menipis Raiden duduk di tepi ranjang, lebih baik mengalah daripada mendengar teriakkan tidak jelas itu.
Takutnya juga maag anak yang satu ini kambuh, mertuanya sempat memberitahunya beberapa tentang anak setan nya. Terutama kelakuan Tasya dibawah sifat waras manusia normal.
"Om Raiden perhatian banget sih, bukan hanya suami jadi babu juga bisa," ucap Tasya tanpa merasa berdosa, sembari naik keatas punggung kekar itu kembali.
"Om Raiden harus kuat, jadi babu gak boleh lemah."
"Sekali lagi kamu ngomong, saya lempar kamu dari rumah ini."
"Gak keatas ranjang om?"
"Diam!"
"Iya, orangtua."
"Besok-besok kamu gak usah pulang ke rumah, pura-pura lupa alamat di pinggir jalan aja. Siapa tau ada yang mau mengadopsi," ucap Raiden ketus.
"Gak usah deh, soalnya pelayanan om masih diatas rata-rata."
"Ck, pusing saya lama-lama."
Tasya hanya tertawa kecil, duduk di kursi meja makan. Menatap punggung kekar itu sibuk dengan alat masaknya.
Lengan kekar itu terlihat lihai, spontan Tasya bangkit dari tempatnya berdiri tepat dibelakang punggung kekar itu.
"Om biasa masak sendiri?"
"Hm,"
"Mpok Atiek yang tadi pagi mana?"
"Pulang,"
"Om gak niat cari istri selama ini? padahal om udah tua, gak pengen dilayani istri gitu?"
"Udah punya istri, tapi gak tau diri."
Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, sembari memeluk tubuh kekar itu dari belakang.
Manik cokelat itu langsung melotot sempurna, menundukkan kepalanya menatap kedua lengan yang melilit pinggangnya. Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis, sembari mengelus lembut jemari lentik itu.
"Salah Om sendiri, Tasya kan nolak waktu itu. Om aja yang ngotot nikahin Tasya," tapi yah syukur, Tasya gak capek-capek nginap di rumah om lagi. ucap Tasya yang sampai ditenggorokan.
__ADS_1
"Rencananya mau dijadiin pembantu, tapi malah saya yang jadi pembantu."
"Rencana jahat memang gak pernah berhasil,"
"Sok tau kamu,"
"Lah buktinya rencana om gagal,"
"Jauh-jauh sana, mandi sekalian. Mana ada suami yang melayani istri,"
"Nyindir diri sendiri,"
"Udah tau, masih aja gak peka."
"Yaudah sini, biar Tasya yang masak,"
Tasya mendorong tubuh kekar itu dari depan kompor, mengambil alih pekerjaan yang sempat suaminya lakukan.
"Katanya gak bisa masak," sindir Raiden.
"Kadang, kalo mager."
"Ck, bisa-bisanya ada makhluk hidup modelan seperti ini."
"Tasya juga gak pengen jadi manusia om, lebih enak jadi batu."
"Ngawur kamu,"
Jemari besar itu memukul kecil jidat istrinya, mengambil alih pekerjaan yang lain.
Dalam kondisi seperti saat ini, Tasya terlihat normal. Wajah cantik itu terlihat fokus dengan masakannya, jemari lentiknya lihai melakukan semua kegiatannya.
Kalo begini ceritanya, Tasya menarik dimata Raiden. Tapi sayangnya, jiwa normal itu hanya bertahan beberapa saat tidak untuk beberapa jam kemudian.
"Tasya cantik kan om?" tanya Tasya, menyadari perhatian suaminya sedari tadi kearahnya.
"Kepedean,"
"Bohong,"
Raiden hanya mengangkat bahunya acuh, berlalu menjauh dari tubuh ramping itu, berdiri di depan kulkas sembari sibuk mengunyah buah yang baru saja ia kupas.
Pandangannya tetap kearah yang sama, hingga siempunya menoleh kearahnya.
"Ck, apaan? jangan kepedean," ucap Reiden ketus.
"Dih, malah ngengas. Ambil mangkok, makin tua makin ngawur kalo ngomong,"
Wajah tampan itu langsung berubah drastis, dengan gegalapan mengambil mangkok sesuai ucapan gadisnya.
"Jangan melamun, di sini banyak setan," ucap Tasya mengcopy paste ucapan suaminya tadi pagi.
"Lah kamu sendiri anak setan nya,"
"Om bapak setan nya,"
"TASYA!"
Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, meletakkan masakannya di atas meja makan dan duduk diikuti Raiden disampingnya.
Dengan wajah sumringah bercampur lapar, Tasya menyendokkan makanan kedalam mulutnya. Detik berikutnya manik keduanya melotot sempurna.
_______________
__ADS_1
TERIMAKASIH