MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
KORBAN 1


__ADS_3

Axel nama murid baru dikelas IPS 1, wajah tampan tapi aneh. Jangankan ngomong, menunjukkan seulas senyuman tipis pun tidak. Tapi tatapannya menarik, tajam tapi tidak menakutkan. Jiwa nya misteri, auranya aneh.


Sedikit mencurigakan, tapi berkat wajahnya yang diatas rata-rata sekejap Axel populer di SMA GALAXY. Tapi untuk Tasya, om suami tetap pria tertampan di dunia. Tidak ada tandingannya, walupun spesies mereka sama.


"Gak di rumah, gak di sekolah banyak banget es batu bertebaran. Lama-lama dunia jadi dingin," decak Tasya.


Zara tidak mengubris ucapannya sama sekali, memilih fokus mencatat materi. Sekalian menghindari makhluk halus yang duduk di belakangnya. Alias Alex.


Pria terbodoh sepanjang sejarah, hanya mengatakan Aku mencintaimu apa susah nya? lama-lama Zara muak dengan tingkah pria yang satu ini.


Hampir seluruh warga sekolah tahu cinta bertepuk sebelah tangannya, tapi bodoh nya Alex tidak pernah menyatakan langsung tepat didepan matanya.


Jadi Zara tidak salah di sini, yang salah pria bodoh itu.


"Za, pulang sekolah kita mampir ke toko buku yah." bisik Alex dari arah belakang, takut ketahuan guru yang sedang mengajar.


"Gue gak bisa," Gue ngantuk, ada yang ngikutin gue mulai dari tadi. Setan gak tau diri. Ucap Zara yang sampai ditenggorokan.


Biasanya jika ada seseorang yang akan meninggal, arwahnya bisa Zara rasakan. Yang sayangnya berdampak besar untuk tubuhnya, terutama matanya. Rasanya ngantuk, tapi tepat langit gelap maniknya tidak bisa tertutup.


Ini setan siapa sih? jangan ganggu gue, batin Zara. Seakan bernegosiasi dengan setan yang mengikutinya.


Tubuhnya kian memberat, tenaga terkuras habis. Zara belum tau mengendalikan yang satu ini, rasanya sesak bahkan hampir mati saking sakitnya.


"Lo gak papa kan? muka Lo pucat," ucap Tasya khawatir.


Siempunya hanya mengelengkan kepala, memutar tubuhnya mengahadap kearah Alex yang langsung disambut dengan senyuman manis ditunjukkan kearahnya. Kebiasaan, tapi Zara suka.


"Minum,"


Dengan gerakan kilat Alex meraih botol minum dari bawah meja, dan di sondorkan kearah Zara. Sekali tarikan napas, habis tak tersisa.


Hanya demi gadis yang satu ini, Alex rela membawa botol minum dari rumah. Mereka bertiga bersahabat dari kecil, jadi Alex tau semua kebiasaan Zara ataupun Tasya.


"Makasih,"


"Sama-sama."


Alex tersenyum lebar, menerima botol minum kosong itu seraya mengelus lembut jemari sahabatnya. Alex tau Zara pasti tersiksa, mungkin dalam seminggu ini ada seseorang yang akan meninggal dunia.


Itu sudah biasa, wajah dan gerak gerik Zara tidak bisa berbohong. Mungkin sedari tadi dia terlihat fokus belajar, tapi sayangnya Tasya dan Alex bisa merasakan kegelisahan Zara.


"Gak usah dipikirin, setan takut sama gue," ucap Tasya. Seakan mengalihkan perhatian sahabatnya.


"Pulang sekolah Lo ikut sama gue, Lo nginap di rumah gak ada bantahan," lanjutnya lagi.


"Gak usah deh, ada suami Lo. Gue segan,"


"Ck, gak usah di pikirin. Om Raiden baik kok, cuman mesum aja."

__ADS_1


Spontan Zara tertawa kecil, memperbaiki posisi duduknya sebelum nama mereka bertiga mengelar seisi ruangan. Karena hanya mereka bertiga yang berani berbicara saat jam pelajaran berlangsung, seperti saat ini.


"Ck, gak usah di pikirin. Di rumah baru ada dua kamar, kita tidur sekamar biar om Raiden tidur sendiri. Biar tau rasa,"


"Jahat banget sih Lo,"


"Balas dendam."


Tasya mengepalkan kedua tangan, dengan napas yang memburu. Manusia tampan itu harus di beri pelajaran, bisa-bisanya menyentuhnya dalam keadaan sedih. Dasar om-om.


_______________


Sesuai perkataan Tasya, Zara benar-benar di paksa masuk kedalam rumah klasik dihadapannya. Alex hanya berdiri di depan gerbang, sembari mengeleng-gelengkan kepala.


Sebenarnya bisa saja Alex menjaga Zara 24 jam. Tapi takutnya jiwa sisi j*hanamnya bangkit di waktu yang tidak tepat.


Mereka bertiga biasa tidur satu ranjang, apalagi saat masa genting seperti saat ini demi menjaga Zara. Tapi kali tersisa mereka berdua, Tasya sudah memiliki suami tidak memungkinkan tidur berdua diatas ranjang yang sama.


"Pak, saya pamit." ucap Alex sopan kearah satpam yang berjaga.


"Iya dek, hati-hati."


Alex hanya mengangguk kan kepala, berlalu masuk kedalam mobil. Perlahan melaju menjauh.


"Sya, gue pulang aja deh." bujuk Zara entah keberapa kalinya.


"Gak boleh, Lo tidur sama gue malam ini. Emang Lo mau tidur berdua sama Alex? kalo udah siap hamil, yah gak papa."


"Kita maraton nonton malam ini, ada dua film baru. Satu psikopat, satu lagi action full adengan dewasa."


"Ingat dosa Sya, gue belum punya suami."


"Bercanda, satu lagi thiler kok seperti biasa. Sinopsis nya seru semoga aja sesuai sama isi. Ini lebih sadis dari biasanya," jelas Tasya serius.


Zara hanya mengangguk kan kepala, tidak tertarik dengan pembicaraan mereka kali ini. Mood nya berantakan, ia hanya menginginkan ketenangan.


"Lo gak papa kan? ganti baju dulu sana,"


"Malas,"


"Terserah."


_______________


Sepanjang hari ini suasana hati Raiden membaik, bahkan sesekali tersenyum manis tanpa tau alasannya. Karyawan yang masuk kedalam ruangan nya bahkan salah paham, mereka pikir Raiden mencari calon istri makanya tersenyum sepanjang hari.


Tapi sayangnya, isi kepala siempunya hanya di isi satu nama manusia TASYA JOVANKA istri muda nya.


Nanti malam, harus dapat semua. Batin Raiden jahat.

__ADS_1


Hanya karena kejahilannya semalam, sisi liar nya mengebu-gebu satu harian penuh. Semua hanya karena Tasya, Tasya, Tasya. Gadis bar bar itu semakin hari semakin mengalihkan dunianya.


"Sepertinya tidur anda semakin nyenyak setiap malam, lingkaran di bawah mata nyaris hilang total." ucap Rudi, entah sejak kapan duduk dihadapannya.


"Lantas?"


"Kabar baik,"


"Ck, gak nyambung."


"Itu kabar baik sir, tidur nyenyak berarti anda semakin sembuh."


Iya, juga sih. batin Raiden.


"Semakin Anda tidur nyenyak, anda tidak membutuhkan obat penenang untuk beberapa bulan kedepan. Saya harap TIDUR anda nyenyak setiap malam," ujar Rudi, dengan menekan kata tidur.


Karena ia tau, pria yang satu ini pasti sudah mendapatkan sebagian apa yang ia mau. Bukan hanya sekedar tidur dengan istri mudanya.


Raiden hanya mengangguk kan kepala, melempar tumpukan kertas putih kearah Rudi seraya bersandar di kursi kebesarannya.


"Perbaiki ada yang janggal. Bunuh aja sekalian, di kasih hati malah minta jantung."


"Tenang aja,"


"Hm, gue mau pulang. Urus yang lain,"


"Saya yakin, bulan depan anda akan lebih banyak menghabiskan waktu melamun dan tersenyum. Terutama mengurung nona muda di dalam kamar,"


"Sok tau,"


Sontak Rudi tertawa terbahak-bahak, menatap punggung sahabatnya berlalu keluar dari ruangan. Akhirnya Raiden yang dulu mulai kembali, mudah-mudahan semakin membaik.


Dengan langkah tergesa-gesa kaki jenjang itu keluar dari kantor, mengangguk kan kepala kearah satpam yang menyapa dan berlalu menjauh dengan mobil hitamnya.


Entah mengapa perasaan Raiden ada yang aneh, wajah linglung dan sembab gadisnya kembali terbayang dalam benaknya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan istrinya.


Hanya membutuhkan waktu yang singkat mobil hitam nya sudah terparkir didepan rumah, berlari terbirit-birit masuk kedalam lebih tepatnya kamar Tasya sebelumnya.


"TASYA!"


Hening, sayu-sayu terdengar jeritan dan isak tangis.


Jantung Raiden berdetak kencang, napas tercekat. Dengan tangan gemetar memutar knop pintu menampakkan dua manusia di atas ranjang, dengan isak tangis bersahutan.


"Ini semua salah gue, dari awal gue udah tau ini bakalan terjadi tapi gue malah diam. Dia mati gara-gara gue,"


______________


TERIMAKASIH:)

__ADS_1


GANTUNG LAGI #tertawa jahat;)


__ADS_2