MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
TUJUH TIGA


__ADS_3

Tidak tahu diri, itulah kata yang pantas untuk kedua manusia yang tidur diatas sofa. Jam sudah menunjukkan pukul 18:00 dan hampir seharian ini, Alex dan Rudi menghabiskan waktu bermalas-malasan dirumah orang.


Padahal pemilik rumah sibuk dengan urusan masing-masing, Raiden sibuk dengan laptop dan ponselnya. Tasya sibuk dengan kertas putih yang bertumpuk diatas meja.


Entah darimana suaminya tahu dia akan menghadapi ujian waktu dekat ini. Semua soal-soal tersusun rapi setiap mata pelajaran. Lengkap dengan pembahasannya.


Terpaksa Tasya belajar, demi menghindari ancaman yang pastinya tidak menguntungkan baginya.


"Om," panggil Tasya lembut.


Mengeser tubuhnya mendekat kearah suaminya, dengan mengengam kertas putih berisi soal matematika.


"Om," panggil Tasya lagi. Walau tetap saja hasilnya sama, Raiden seakan tuli dengan suaranya.


Jemarinya sibuk menari-nari diatas keyboard, maniknya fokus menatap layar komputer. Tanpa mengubris ucapannya.


"Sayang," panggil Tasya ketus.


Raiden langsung menoleh, dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Dasar," cibir Tasya. Memukul kecil lengan kekar itu, kesal dengan tingkah suaminya.


"Kenapa, hm?"


"Om, bikin kesal mulu. Dipanggil-panggil juga," omel Tasya. Bibirnya mengerucut kedepan, sesekali mencubit lengan kekar suaminya.


"Gak ada, emang kamu ngomong?"


"Efek umur kali yah? kasian banget sih suami aku, udah tua banget ternyata. Sampai gak dengar orang manggil-manggil."


"Yah?"


"Dasar orangtua." Tasya bangkit dari tempatnya. Menaiki tangga satu persatu, diikuti Raiden dari belakang dengan membawa laptopnya. Namun sebelum kaki nya menaiki tangga, Mpok Atiek muncul dari dapur.


"Mpok, kalo mereka bangun bilangin kita di kamar. Kalo mereka gak mau pulang, suruh tidur dikamar belakang aja. Baju ganti ada di lemari," terang Raiden.


Kebetulan kamar diatas hanya dua, itu juga kamar bekas istrinya yang masih diisi dengan barang-barang Tasya.


Dibawah satu kamar, rencananya kamar Mpok Atiek. Namun wanita itu menolak karena terlalu mewah menurutnya.


Raiden juga tidak pernah kepikiran membangun rumah yang mewah, apalagi pulang ke rumah. Waktunya lebih banyak dihabiskan bekerja.


"Iya Den, ada lagi?"


"Obat teman istri saya, jangan lupa."

__ADS_1


Mpok Atiek hanya mengangguk, menatap punggung kekar itu berlalu menjauh.


Perubahan Raiden semakin terlihat, mulai dari wajah, perilaku hingga penampilan. Yang semula terlihat kaku, kini perlahan berwarna.


Jangankan berbicara dengan orang lain, perhatian kecil seperti itu saja tidak pernah ditujukan saking kakunya.


"Non Tasya memang hebat," gumam Mpok Atiek.


Karena memang Tasya alasan semuanya, setelah bertahun-tahun lamanya Raiden yang dulu perlahan kembali.


***


Tepat pintu kamar terbuka, Raiden langsung disambut pemandangan yang paling menyebalkan. Dimana manusia pemalas bergairah untuk bersih-bersih.


Istrinya memang begitu, sekali mood seluruh dunia bisa dibersihkan dalam sekejap mata. Namun jika mode malasnya on. Jangankan bersih-bersih, mandi saja malas. Katanya "Orang cantik gak perlu mandi, yang ada makin cantik."


Nyatanya, dia hanya malas.


"Ngapain?" tanya Raiden ketus. Melangkah masuk kedalam, duduk di tepi ranjang mengikuti setiap gerak gerik istrinya yang terlihat sibuk membersihkan kamar.


"Tadi tuli, sekarang buta. Lama-lama kehabisan napas," ucap Tasya kesal. Tak habis pikir dengan tingkah suaminya sedari tadi.


"Ngomong apaan?" Raiden bangkit dari tempatnya. Merebut paksa sapu dari genggaman istrinya dan dilempar begitu saja keatas lantai.


"Om yang apaan?" tanya Tasya tak mau kalah.


"Gak ada, dih kepedean."


Raiden mencibik, meraih tubuh ramping itu dan mengangkatnya kearah ranjang. Membanting kecil, diikuti tubuhnya m*nindih tubuh ramping itu.


"Eh, mau ngapain?" Wajah Tasya langsung syok. Berusaha bangkit dari tempatnya, walau tetap saja hasilnya sama. Tubuh kekar itu lebih dulu mengunci pergerakannya.


"Om, mau ngapain? masih sore,"


"Emang kenapa kalo sore?"


"Yah, gak bisa."


"Emang aku mau ngapain, hm?" Raiden tertawa kecil melihat perubahan wajah cantik itu.


Bahkan Tasya yang semula memberontak diam mematung, kesal dengan tingkah suaminya.


"Pengen yah?"


"Siapa bilang, dasar mesum." Tasya mengalihkan tatapannya kearah yang lain, menghindari kontak mata dengan suaminya.

__ADS_1


"Emang kamu pengen apa, hm? kenapa ngomong mesum?"


Sial, ingin rasanya Tasya berteriak saking malunya. Apalagi wajah tampan itu berjarak beberapa centi dari wajahnya, bahkan Tasya bisa rasakan bibir tebal itu bersentuhan dengan kulitnya.


"Yang mesum itu aku atau kamu?" bisik Raiden sayu. Terdengar serak dan berat.


"Yah om lah, masa aku?"


"Pasti, mau aku buktiin?"


"Gak usah, sumpah."


"Kenapa?" Raiden bangkit dari tempatnya, sekali tarikan kaos yang melekat ditubuhnya terlepas. Kembali mendekatkan tubuhnya dengan tubuh ramping itu, mengelus lembut pipi istrinya. Hingga rona merah muncul di sana.


"Om,"


"Hm,"


"Om Rudi sama Alex dibawah loh," elak Tasya.


"Hukuman sayang, kamu pikir bisa lari hari ini, hm?"


Tubuh Tasya menegang, manik membola merasakan sentuhan lembut jemari besar itu. Bahkan bibir tebal itu ikut ambil alih bagiannya, membuatnya kian merinding.


"Om,"


"Bentar doang,"


"Bohong, tiap kali ngomong gitu tapi gak pernah ditepati. Capek tahu," rengek Tasya. Menatap wajah tampan itu, dengan mengerucutkan bibirnya.


"Janji deh,"


Tasya hanya mengangguk, mengalungkan kedua lengannya di belakang leher suaminya.


"Tapi sampai pagi," sambung Raiden lagi.


"YAH? AKU BISA PINGSAN."


Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak. Mengecup setiap inci wajah istrinya, hingga kekehan geli keluar dari bibir siempunya.


"Aku mencintaimu!" bisik Raiden lembut.


Menyatukan bibirnya dengan bibir pink itu, kedua jemarinya ke sana kemari melepas semua pakaian yang melekat di tubuh ramping itu.


____________

__ADS_1


TERIMAKASIH


__ADS_2