MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
GARA-GARA DIET


__ADS_3

Kerumunan bertambah, bahkan tidak segan-segan bersorak mendukung perkelahian itu. Tubuh, kaki, lengan bergerak gesit dalam sekali kedipan mata. Seakan perempuan itu biasa melakukan hal seperti itu.


Raiden kagum dengan kemampuan bela diri wanita ini, tapi tubuh ramping itu terlihat familier atau Raiden yang salah lihat?


Tidak, Raiden tidak salah lihat. Itu benar-benar gadisnya. Tasya terlihat kesetanan memukul pria itu, padahal sudah terkapar tak berdaya di bawah kuasa tubuhnya.


Dengan gerakan kilat Raiden meraih tubuh ramping itu, menariknya menjauh dari kerumunan. Bisa-bisanya orang-orang menjadikan itu bahan tontonan, bukannya di tolongin malah di dukung.


"Gadis nakal,"


"ASTAGA OM, ITU BELUM KELAR."


"Diam!"


Tanpa memperdulikan perhatian yang tertuju kearah mereka Raiden melebarkan langkahnya, mengangkat tubuh istrinya layak karung beras menjauhi kerumunan.


Tujuannya hanya satu, parkiran mobil.


"Om,"


"Diam!"


Dengan gerakan kilat Raiden memasang sealtbet istrinya, menutup pintu dan mengelilingi mobil masuk dari pintu mobil sebelah kemudi.


Wajahnya semakin datar, tatapannya tajam seakan siap menerkam mangsanya. Raiden tidak habis pikir dengan kelakuan anak yang satu ini, semua tindakannya selalu di luar pikirannya.


"Om,"


"Apa? mau mukul dia lagi? Jangan macam-macam!"


"Astaga, dia hampir mukul om loh tadi, gimana sih? kalo om kena pukul gimana coba?"


Hening tidak ada sahutan. Raiden memilih fokus melajukan mobilnya, meninggalkan pasar malam dengan perasaan dongkol.


"Tasya cuman nolongin om, kenapa ma–"


"Kalo kamu terluka gimana? senang kamu?"


Tasya bungkam, menatap wajah tampan itu yang terlihat memerah menahan emosi. Jemarinya mencengkeram setir, rahangnya mengeras sempurna.


Tanpa sadar seulas senyuman tipis terbit dibibir pink itu, sembari mengalihkan tatapannya kearah yang lain dengan wajah tersipu. Baru kali ini ada manusia yang menunjukkan perhatian kearahnya, apalagi wajah tampan itu terlihat khawatir.


"Maaf," lirih Tasya.


"Jangan di ulangi, saya gak suka."


Tasya hanya mengangguk kan kepala, dengan mengulum senyum mendengar perhatian kecil itu. Astaga apa Tasya boleh serakah? kenapa tidak setiap hari pria yang satu ini menunjukkan perhatian, Tasya hanya butuh itu.


"Om, Tasya lapar."


"Di rumah, gak ada penolakan."


"Iya-iya, gak usah marah-marah."


Terdengar decakan kecil, wajah tampan itu tenang walau tetap saja terlihat menahan emosi.


Rasa takut itu kembali menyapa, Raiden takut entah apa yang ia takuti. Kenapa hidupnya semakin hari semakin rumit? rasanya pusing, apalagi beban nya semakin bertambah bukan berkurang.


Entah bagaimana caranya lari dari kenyataan. Hanya sehari saja, tidak lebih. Raiden hanya membutuhkan ketenangan tidak yang lain.

__ADS_1


Hingga tak terasa mobil berhenti di depan rumah, Tasya setia mengikutinya dari belakang sesekali memungut jas hitam dan dasi yang ia lempar asal ke atas lantai.


"Mau makan apa?"


"Apa aja om, asal bukan tanah sama batu."


"Kayu mau?"


"Boleh om, asal di rendang."


"Ngawur,"


"Orang om yang duluan juga."


Raiden hanya mengangkat bahunya acuh, jemarinya sibuk dengan bahan-bahan makanan dan alat masak tanpa memperdulikan Tasya yang masih setia mengikutinya dari belakang, kemana pun ia melangkah.


"Om biasa masak?"


"Gak, masih nanya."


"Dih, mulai dari tadi ngengas mulu kalo ngomong. Udah tua juga,"


"Terserah saya,"


"Iya, terserah om. Butiran debu kayak Tasya bisa apa?"


"Gak lucu, sumpah."


"Lah, yang stand up komedi siapa emangnya? om makin hari makin ganteng,"


"Aneh,"


"Makasih om, Tasya makin cinta sama om."


Lama-lama bukan hanya ucapannya yang melantur, otaknya juga ikutan gesrek berdekatan dengan gadis yang satu ini.


"Jangan melamun om, takutnya malaikat pencabut nyawa tiba-tiba muncul dari atas. Tasya belum siap jadi janda, apalagi duda beranak satu di ujung kompleks udah punya pawang."


"Ulangi!"


"Bercanda, jangan terlalu serius om."


Spontan Raiden memukul kecil jidat istrinya, siempunya tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesalnya.


Itu bukan hanya candaaan, karena di ujung kompleks memang ada duda beranak satu. Mapan, kaya raya, tapi gila s*x. Raiden sempat berteman dengan pria yang satu itu, tapi lama-lama sisi buruk pria itu semakin terlihat dan rasanya merugikan berteman dengan pria yang satu itu.


"Om cemburu?"


"Kepedean,"


"Siapa tau, Tasya gak tau isi hati orang. Kecuali dibalik kemeja putih om,"


"Maksudnya?"


"Gak,"


Tasya tertawa kecil, memilih duduk di kursi meja makan tanpa mengalihkan tatapannya dari punggung kekar itu.


Suaminya bukan hanya terlihat sempurna dari luar, tapi semua yang ada pada suaminya sempurna tanpa celah. Entah apa kekurangan pria yang satu ini. Lama-lama Tasya insecure sendiri.

__ADS_1


"Katanya lapar, malah melamun."


Raiden duduk di samping tubuh ramping itu, menyendokkan nasi ke atas piring lengkap dengan lauk nya. Diletakkan tepat di hadapan gadisnya.


"Makan!"


"Ck, udah kayak kucing tau om. Romantis dikit kek, suapin gitu. Ini malah cuman bilang, makan udah kayak ngomong sama dinding," cibir Tasya.


"Yang benar mana? kucing atau dinding?"


"Kulkas,"


Sontak Raiden tertawa kecil, mengacak-ngacak pucuk rambut gadisnya mengalihkan perhatian siempunya.


"Kucing harus banyak makan, biar gak bolos sekolah mulu."


"Nyindir,"


"Nah tau,"


Tasya mendengus kesal, menyendokkan makanan ke dalam mulutnya tanpa memperdulikan tingkah aneh suaminya. Awalnya Tasya terkesiap mendengar tawa itu, tapi setelah mendengar ucapan selanjutnya dari bibir mengoda itu Tasya kembali kesal.


"Masakan om enak, kalo boleh tiap hari om yang masak."


"Emang kamu pikir saya pembantu?"


"Iya, cocok soalnya."


"Bocil."


"Om-om,"


"Ulangi!"


"Tasya bisa gagal diet kalo begini ceritanya," kilah Tasya, menghindari amukan dari singa jantan di sampingnya. Apalagi wajah tampan itu terlihat kesal.


"Diet apaan maksud kamu? rata kayak dinding begitu sok sok an diet,"


"Yah, rata darimana nya?" sergah Tasya bangkit dari tempatnya, berdiri tepat di samping suaminya.


Spontan Raiden menoleh kearahnya, menaikkan alisnya melihat tingkah aneh gadisnya selanjutnya. Bisa dipastikan pertunjukan selanjutnya membuat Raiden pusing tujuh keliling, karena tingkah gadisnya selalu diluar dugaannya.


Dan benar, jemari lentik itu malah menarik dress selutut nya kebelakang, mencetak jelas lekukan tubuhnya.


Sial, apa-apaan itu. Manik cokelat itu melotot sempurna, seraya menelan salivanya kasar.


Dia sadar gak sih? batin Raiden.


"Lihat nih om. Mana rata tau," gerutu Tasya. Seraya menarik dress nya ke belakang, mencetak jelas setiap lekukan tubuhnya.


Sontak Raiden bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan gadisnya dengan napas yang memburu.


Apa waktunya menyerang gadis yang satu ini? Raiden kurang yakin tahan hingga menunggu waktu yang tepat. Apa lagi tindakan gadisnya, tanpa sadar membangkitkan sisi liar nya.


Siempunya yang menyadari hal itu mendongakan kepalanya keatas, menatap wajah suaminya tepat manik mereka bertemu.


"Kenapa, om?"


"Makan!"

__ADS_1


_____________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2