MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
ENAM DELAPAN


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 14:59 tapi Tasya belum juga menunjukkan batang hidungnya. Raiden sudah uring-uringan sedari tadi, takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


Rasa cemas, takut kehilangan. Masih sering menghantui pikirannya. Entah mengapa dunia terkadang tidak berpihak.


Dimasa lalu dia kehilangan, sekarang mentalnya hancur berkeping-keping. Bukannya Raiden tidak bersyukur diberi kesempatan tapi dampak dari itu semua terlalu menyakitkan.


Setiap kali ia berpisah dengan orang yang ia cintai, rasa cemas takut kehilangan selalu menghantui. Bahkan kepalanya sudah pusing dengan jantung berdetak kencang. Seperti saat ini.


"Ck, biasanya SMA GALAXY udah bubar jam segini." Raiden bangkit dari tempatnya, hendak melangkah kearah pintu. Sebelum knop pintu diputar dari luar, menampakkan manusia yang ia tunggu berdiri dengan menundukkan kepala.


Raiden hanya menaikkan alisnya, menatap bingung kearah istrinya.


"Sya?"


Hening tidak sahutan. Tubuh ramping itu melangkah masuk kedalam dan menutup pintu.


Kakinya sudah dialasi sandal jepit, sepuluh jemarinya mengengam kertas putih. Yang Raiden yakini, hasil ujian Minggu lalu.


Oh, dibawah rata-rata. Pantasan, batin Raiden.


Memilih duduk ketempat semula, dengan menahan tawa setengah mati.


Deru langkah terdengar mendekat, tubuh ramping itu berdiri tepat disampingnya dengan menundukkan kepala.


"Om,"


"Hm," sahut Raiden tenang.


Pura-pura sibuk dengan kertas putih yang bertumpuk diatas meja, tanpa melirik sedikit pun kearah istrinya.


"Maaf,"


"Kenapa minta maaf?"


"Besok–"


"Ganti baju dulu sana! cuci muka sekalian," sela Raiden memotong ucapan istrinya.


"Iya."


Tasya meletakkan kertas putih itu diatas meja dan berlalu masuk kedalam walk in closet.


Kebetulan Raiden sudah membeli semua perlengkapan istrinya yang baru dan digabungkan di walk in closet miliknya. Bagaimanapun juga mereka berdua suami istri, sudah sepantasnya begitu.


Hanya membutuhkan waktu yang singkat, Tasya kembali berdiri ketempat semula tepat disamping suaminya.


"Om,"


Sontak Raiden menoleh kearah suara, detik berikutnya maniknya melotot sempurna. Namun cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya.


Sial, Raiden belum sempat memeriksa isi lemari istrinya. Kebetulan Mpok Atiek yang turun tangan menyusun semua baju-baju itu kedalam lemari, setelah pesanannya diantar ke rumah.


Raiden hanya memesannya ke desainer langganannya, bermodalkan foto, berat badan dan tinggi istrinya. Tanpa tahu model baju apa yang sampai ke rumah.


"Ekhm, mau kemana?" tanya Raiden ragu.


"Gak kemana-mana,"


"Jadi?"


"Apanya?" tanya Tasya bingung. Menatap kearah suaminya, dengan menautkan kedua alisnya.


"Kenapa pakai baju begituan?"


"Emang salah?" tanya Tasya balik.


Menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilannya, dia hanya mengunakan crop top dan rok hitam sebatas paha. Model pakaian kesukaannya.


Kebetulan juga model pakaian barunya di lemari sama semua. Bahkan ada lingerie, yang membuat Tasya merinding sendiri.


"Gak salah asal jangan dipakai keluar rumah!" peringat Raiden.


"Iya."

__ADS_1


Lagian Tasya tidak sebodoh itu, awal pertama menikah saja dia tidak pernah memakai pakaian terbuka. Kecuali tank top.


"Jadi besok kemana?" tanya Raiden. Kembali to the point.


"Om, datang ke sekolah." Tasya kembali menundukkan kepala, dengan menautkan kedua tangannya.


"Kenapa?"


"Itu,"


"Itu apa?" tanya Raiden pura-pura.


Melipat kedua tangannya, seraya bersandar pada sandaran sofa.


"Nilai Tasya,"


"Mana?"


"Di meja."


"Gak, ada."


Terpaksa Tasya mengangkat wajahnya, meraih lembaran kertas putih dari atas meja dan disondorkan kearah suaminya.


Raiden hanya menghela napas, menatap lembaran kertas putih itu satu persatu.


"Ambil buku kamu sana!"


"Buku apa?"


"Semua."


Tasya hanya mengangguk, mengambil semua buku yang tersusun rapi dibawah televisi. Dipindahkan keatas meja.


"Om, kerja?" tanya Tasya. Baru menyadari laptop dan lembaran kertas putih bertumpuk diatas meja.


"Bosan."


"Ck, susah banget dibilangin. Nurut apa salahnya coba?"


"Masalahnya om masih sakit. Kalo makin parah gimana?"


"Makanya jangan didoain."


"Aku bukannya doain tapi om lama-lama ngeselin," omel Tasya.


Duduk disamping suaminya, dengan tatapan tajam dan napas memburu.


"Iya-iya, maaf."


"Sekarang minta maaf. Besok berulah lagi."


Raiden hanya berdecak kecil, meraih pensil dari atas meja dan memukul kecil dahi istrinya.


"Buka buku matematika! Masa soal yang gampang aja nilai 5," sergah Raiden tak habis pikir.


"Emang kenapa kalo 5?"


"Ck, susah banget ngomong sama bocil."


Raiden mengambil lembar soal matematika dari atas meja dan menuliskan rumus salah satu soal.


"Ulang! itu rumusnya,"


"Malas banget sih sebenarnya."


"Astaga Tuhan, ini anak terbuat dari apaan?"


Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, mengerjakan soal sesuai perintah suaminya.


Wajahnya tenang, jemarinya sibuk menari-nari diatas kertas putih itu. Detik berikutnya mengeser jawabannya kearah suaminya.


"Nah, ini tahu. Jadi kenapa jawaban disini BEDA?" tanya Raiden tak habis pikir.

__ADS_1


"Malas,"


"ULANGI!"


"Aku lupa rumusnya."


Raiden hanya menghela napas panjang, menunjuk satu soal lagi melihat sampai dimana kemampuan istrinya.


Tasya hanya menurut, mengerutkan dahi sembari mengerjakan soal.


"Itu matematika bukan fisika. Mana ada soal matematika dikerjain pakai rumus fisika," ucap Raiden.


"Tapi bentar, kok kamu hapal rumus fisika?" sambung Raiden lagi. Merebut kertas putih itu dan menelitinya saksama.


Sontak Tasya bangkit dari tempatnya, hendak merebutnya kembali tapi Raiden lebih dulu menghindar.


"Ini rumus fisika kamu hapal, soal yang pertama juga benar. Jadi kenapa nilai kamu dibawah rata-rata semua?" tanya Raiden serius.


Bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan istrinya.


"Jawab!" tekan Raiden.


Tasya menghela napas sejenak, mengaruk tengkuknya sembari tersenyum kikuk.


"Lupa."


"Jawab yang jujur sayang! Kenapa rumus fisika kamu hapal tapi nilai dibawah rata-rata?"


"Kadang ingat tapi lupa."


"Yang benar."


"Serius om, aku lupa rumusnya tapi tahu cara ngerjainnya."


"Makannya belajar!"


"Malas."


"TASYA!"


Siempunya hanya nyengir kuda, tanpa memperdulikan tatapan tajam suaminya.


"Ulang semua soalnya! Buruan!"


"Ngantuk." Tasya pura-pura menguap tapi sayangnya Raiden paham gerak geriknya.


"Pilih ranjang atau kamar mandi? Kayaknya dikamar mandi juga seru, mau coba?" ancam Raiden.


Tubuh Tasya sekejap merinding, dengan gerakan kilat duduk lesehan di atas lantai. Mengerjakan ulang soal-soal ujian satu persatu.


Lebih baik belajar daripada digempur habis-habisan. Tasya takut.


"Katanya ngantuk? tidur sana!"


"Gak jadi,"


Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, duduk lesehan diatas lantai tepat disamping istrinya.


"Ingat nanti malam!" bisik Raiden tepat ditelinga Tasya.


"Apaan?"


"Lingerie warna hitam yah sayang. Aku tunggu."


"Yah, gak bisa gitu dong. Gak boleh gitu, om belum sembuh," elak Tasya. Mengeser sedikit demi sedikit tubuhnya tapi sayangnya Raiden lebih dulu menahannya.


Melilitkan lengannya kepinggang istrinya, dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya tapi itu semua hanya bertahan sebentar. Ucapan Tasya selanjutnya, membuat Raiden naik pitam sekejap.


"Ck, lebih baik LDR ternyata."


"YAH?"


"Suami Tasya terlalu mesum."

__ADS_1


_________________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2