MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
TUJUH EMPAT


__ADS_3

Perdana setelah dua kali mereka melakukan hubungan suami-istri, hari ini beda dari biasanya. Wanitanya hanya diam dan pasrah tidak mengatakan apa-apa. Manik tertutup rapat, sesekali mend*sah dengan memanggil namanya.


Selama Raiden bergerak di atas tubuh ramping itu maniknya hanya fokus ke satu titik. Wajah cantik istrinya. Apa yang Tasya lakukan tidak hilang dari pandangan matanya.


Setiap ekpresi yang ditujukan wajah cantik itu terekam jelas di otaknya, gairah, malu bercampur aduk. Namun tetap saja terlihat cantik.


"Sayang," bisik Raiden lembut.


Sontak manik biru itu terbuka lebar, gegalapan menarik lehernya. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya, dengan wajah yang kian memerah.


"Kenapa, hm?" Raiden terkekeh geli, dengan napas yang memburu dan tersengal-sengal.


"Gimana masih kuat sampai pagi?" goda Raiden.


"Ngomong apaan sih?"


"Kalo aku masih kuat ini,"


"Gak, boleh."


"Kenapa katanya pengen?"


"Siapa bilang?"


Sontak Raiden menghentikan pergerakannya, dengan posisi yang sama diatas tubuh ramping itu. Membiarkan istrinya tersiksa sendiri.


Walau kenyataannya dia sendiri yang tersiksa, istrinya hanya diam menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Buruan! aku udah capek banget, sumpah," ungkap Tasya.


Menjambak kecil rambut suaminya, melepaskan kekesalannya. Entah mulai dari jam berapa mereka melakukan itu, yang pastinya langit senja sudah digantikan gelap gulita.


Kaca balkon terbuka lebar, kamar gelap tanpa pencahayaan sedikitpun.


Sekuat-kuatnya Tasya tapi masalah ranjang dia mengaku kalah. Tubuh kekar ini bukan tandingannya.


"Om,"


"Hm,"


"Ayo!"


"Kemana?" tanya Raiden jahil. Mengecup lembut leher putih itu, sesekali menggigit kecil menciptakan tanda kepemilikan di sana.


"Gak dikasih ngambek, dikasih malah gak tau diri. Buruan, aku udah ngantuk."

__ADS_1


Sontak Raiden tertawa kecil, kembali mengerakkan tubuhnya menuntaskan gairah yang masih memuncak.


Keringat, gairah bercampur aduk. D*sahan dan erangan bersahutan mengisi kamar yang gelap. Cengkraman jemari lentik itu menguat, seiring dengan tempo gerakan tubuhnya.


Hingga menit berikutnya, tubuh kekar itu ambruk begitu saja di atas tubuh istrinya.


"Jangan pernah ninggalin aku," bisik Raiden.


Turun dari atas tubuh ramping itu dan menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. Mendekap erat tubuh istrinya, yang terlihat kehabisan tenaga.


"Kenapa ngomong gitu?" tanya Tasya ketus. Telinganya sedikit risih mendengar ucapan suaminya barusan.


"Pokoknya jangan pernah ninggalin aku. Tetap jadi Tasya Jovanka yang nakal, usil, banyak tingkah, pemalas."


"Yah, itu mah nyindir namanya."


"Memang benar 'kan?"


"Tapi gak usah dijelasin kali, ngeselin banget sih jadi suami."


"Iya-iya, maaf."


Tasya mencibik, seraya membalas pelukan hangat itu tak kalah erat.


"Minggu depan ujian tryout, bulan depannya UN. Kurangi malas, kurangi bersih-bersih rumah biar Mpok Atiek yang turun tangan. Belajar yang benar dulu, baru belajar jadi istri yang baik. Gak usah dipaksa, tetap jadi diri sendiri," ucap Raiden. Menghela napas sejenak dan mengecup pucuk rambut istrinya.


Bibir pink itu terangkat dengan sendirinya, mengangguk-angguk kepala mendengar ucapan suaminya.


"Jihan hanya masa lalu, maaf masa lalu aku memang pahit. Sekarang malah kamu yang nangung akibatnya," ucap Raiden akhirnya. Kata-kata yang mengganjal dilubuk hatinya selama ini, akhirnya terucap.


Sontak Tasya mendongak ke atas, tepat manik hitam itu menatapnya intens.


"Jangan pernah ninggalin aku yah, bagaimanapun keadaannya. Aku memang beda dari yang lain, dari segi fisik maupun mental. Aku usahain perbaiki semuanya," pinta Raiden.


Tasya hanya tersenyum lebar, menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya.


"Jangan dipaksa, aku terima om apa adanya. Masa lalu yah masa lalu, gak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sekarang. Masalah mental, kita perbaiki bersama. Om jangan pernah merasa sendiri, ada aku," imbuh Tasya.


Andai kejadian salah kamar waktu itu tidak terjadi, mungkin Raiden tidak akan pernah merasakan ini semua. Mungkin dunianya tetap sama, kelam dan hanya berputar di satu titik.


Namun semua runtuh sekejap, setelah satu sosok manusia masuk kedalam kehidupannya. Dengan segala tingkah dan kekonyolannya, mengubah sedikit demi sedikit pemikiran dan juga kehidupannya.


Senyum, tawa dan bahagia kembali muncul. Setelah bertahun-tahun lamanya, Raiden lupa yang namanya ekpresi wajah.


"Kalo ada apa-apa cerita sama aku. Gak boleh ikut campur urusan orang lain, cukup fokus sama kehidupan kita berdua. Paham?"

__ADS_1


Raiden menarik tubuh ramping itu sedikit keatas, mensejajarkan wajah cantik itu dengan wajahnya dan menyingkap sedikit rambut panjang yang menutupi leher istrinya.


"Apalagi urusan setan, iblis atau apalah itu. Kamu gak boleh ikut campur, bahaya!" peringat Raiden.


Jemarinya mengelus lembut leher istrinya, bekas cakaran beberapa waktu lalu yang masih membekas di sana. Padahal Raiden tidak pernah absen mengobati luka itu.


"Iya,"


"Jangan cuman iya, kamu bandel banget kalo dibilangin."


"Iya, om suami. Tolong nyalain lampunya, sekalian tutup jendela. Kalo boleh ambilin baju ganti dari lemari, dingin," pinta Tasya.


"Ambil sendiri,"


"Capek, pengen tidur."


"Bercanda." Raiden terkekeh geli. Beralih menangkup wajah cantik itu dan mencium setiap inci wajah istrinya.


"Imut banget sih, jadi pengen makan."


"Gak, gak, gak boleh. Capek tahu," rengek Tasya.


"Emang pengen makan apa?"


"Om, ngeselin lama-lama. Jauh-jauh sana!"


"Cium dulu,"


"Astaga om, bibir aku hampir bengkak ini. Mau cium gimana lagi?"


"Tinggal cium." Raiden menyatukan bibirnya dengan bibir pink itu. Mengecup lembut bagaikan kapas.


"Kamu tidur aja,"


"Ambil baju dulu dari lemari, dingin."


"Iya, nanti aku pasangin. Kamu tidur aja."


Tasya hanya mengangguk patuh, mencari posisi yang nyaman di atas ranjang dan memejamkan mata menikmati sentuhan lembut jemari besar itu di punggungnya.


Bibir Raiden tidak henti-hentinya mengecup pelipis istrinya, sesekali terasa cubitan kecil dipinggangnya.


"Tangan!" peringat Tasya.


Siempunya hanya tertawa kecil, walau tetap saja jemarinya meraba-raba ke sana kemari.

__ADS_1


___________________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2