MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
PERKARA NASI GORENG


__ADS_3

Raiden kesetanan, melempar sandal nya kearah mobil Alex mendarat dengan mulusnya hingga terdengar kaca terpecah.


"TUTUP GERBANG!" teriak Raiden terdengar mengema, bahkan burung berkicau keluar dari sangkarnya.


Namun sayangnya satpam berada dipihak Alex, membiarkan mobil bercat merah itu keluar dari pekarangan rumah, takut korban mati ditangan Raiden.


Tasya yang awalnya menangis tersedu-sedu, malah tertawa terbahak-bahak. Merasa terhibur melihat tingkah suaminya.


"BR*NGSEK, GUE BUNUH LO!"


Napas Raiden memburu, meraih sandalnya kembali dan dilempar asal kearah satpam. Untung satpam yang berjaga bukan satpam yang biasa, Raiden sengaja menganti yang lebih muda sekaligus mengganti posisi satpam yang lama menjadi supir pribadi.


Sekalian berjaga-jaga, takut mangsanya datang ke rumah mengacaukan kehidupannya kembali.


"GUE PECAT JUGA LO A*JING!"


"Astaga om udah ayo, malu dilihat tetangga!"


Spontan tubuh kekar itu berbalik, dengan wajah yang memerah dan tatapan tajam. Bukannya takut, gadisnya malah semakin tertawa. Melangkah mendekat kearahnya, sembari bercakak pinggang.


"Apa mau marahin aku, iya?"


"Siapa bilang, kepedean."


Tubuh kekar itu melongos masuk begitu saja kedalam rumah, dengan kedua tangan terkepal.


Satpam yang sedari tadi was-was takut nona muda nya sasaran amukan Raiden, tercengang melihat pemandangan itu.


"Tumben," gumam nya, seraya menghela napas lega.


Biasanya emosi Raiden tidak bisa di kontrol, apa yang membuatnya kesal kepalan tangannya harus melayang sekali, minimal diwajah seseorang atau di dinding. Namun diluar dugaan, reaksi Raiden tidak seperti yang dibayangkan.


Singa jantan itu jinak didepan pawangnya.


Tepat tubuh kekar itu masuk kedalam rumah, tubuhnya terasa ditarik kebelakang. Lehernya dipeluk erat, dengan kedua kaki melilit dipinggangnya.


"Ck, turun!"


"No, no, no. Ke dapur yah om, Tasya lapar."


"Jalan sendiri!"


"Om, mau maag Tasya kambuh?"


"Alasan."


Walau tetap saja tubuh kekar menurut, melangkah kearah dapur dengan gadisnya bergelanyut manja dipunggung nya seraya tertawa kecil.


"Ke kulkas!" tunjuk Tasya, lagi-lagi tubuh kekar itu menurut. Berdiri tepat di depan kulkas, menatap bahan makanan segar satu persatu.


"Om mau makan apa?"


"Nasi goreng."


"Oke,"


Tubuh ramping itu turun dari punggungnya, tanpa merasa berdosa nya mendorong tubuhnya menjauh dari depan kulkas.


Raiden hanya menghela napas pasrah, memilih duduk di meja makan menatap punggung gadisnya sibuk kesana kemari. Tumben-tumbenan anak yang satu ini rajin, biasanya suami yang melayani istri.


"Mpok Atiek mana om?"

__ADS_1


"Di taman belakang,"


"Udah sore juga."


"Yah, terserah Mpok Atiek, kenapa kamu yang sewot?"


"Lah, orang om yang sewot. Tasya ngomong sesuai fakta, ini udah sore menjelang malam. Seharusnya Mpok Atiek pulang, bukan kerja lagi."


"Ck, Mpok Atiek yang pengen."


Kebetulan hujan turun deras, padahal selama ini Mpok Atiek sering menata taman belakang walau sebenarnya Raiden jarang ke sana.


Mpok Atiek selalu berharap ada wanita yang datang ke rumah, sebagai calon maupun istri sah Raiden. Namun karena masa lalu nya yang pahit, Raiden trauma berhubungan dengan siapapun. Kecuali orang terdekat.


"Om jangan melamun, gak baik!" peringat Tasya, menunjuk kearahnya mengunakan spatula.


Biasanya pikiran suaminya bisa dikendalikan alam sadar jika kelamaan melamun dan tidak diajak bicara. Makanya Tasya hiperaktif dan Rudi sering masuk kedalam ruangan suaminya, sekedar mengajaknya bicara. Walau hasilnya sama, malah dicuekin.


"Iya,"


Raiden memilih bersandar sembari melipat kedua tangan, sesekali tubuh ramping itu berbalik dengan menyipitkan mata.


"Om, tau gak?"


"Gak,"


"Jelas, orang Tasya belum ngomong."


"Jadi?"


"Aku–"


Tasya sengaja mengantung ucapannya, sekedar melihat reaksi suaminya. Dahi pria itu langsung mengerut, manik cokelat nya hanya fokus kearah bibir nya.


"Zara itu sering melamun ujung-ujungnya sering diganggu setan. Setan nya bermacam-macam, ada yang baik, genit, sok kecantikan, jahat, baru kayak om dingin kayak es batu."


"Oh, maksud kamu aku setan gitu?"


"Bisa jadi."


"TASYA!"


"Iya om suami tersayang,"


"Ck, ditiduri baru tau rasa kamu."


"Tidurin aja, siapa takut!"


"Oh, nantangin."


Sontak Raiden bangkit dari tempatnya, hendak melangkah mendekat kearah tubuh ramping itu sebelum siempunya berbalik. Membawa sepiring nasi goreng, dengan aroma yang menggiurkan.


"Om tidur aja sana, Tasya mau makan."


Senyuman jahat terbit dibibir tebal itu, dengan gerakan kilat meraih piring dari genggaman gadisnya dan menyendokkan nasi goreng yang masih panas kedalam mulutnya.


"Astaga om,"


Raiden seakan acuh, duduk dengan tenangnya sesekali menyendokkan makanan kedalam mulutnya.


"Om, itu kan punya Tasya."

__ADS_1


"Bagi,"


"Yah, tapi jangan banyak-banyak."


Ujung kaosnya ditarik-tarik, terpaksa Raiden mengalah sesekali menyendokkan makanan kedalam mulut gadisnya.


"Om,"


"Hm,"


"Itu kan punya Tasya," rengek Tasya berulang kali, sesekali berusaha meraih piring putih itu walau tetap saja hasilnya sama.


Dia memang sengaja memasak satu porsi nasi goreng, rencananya menjahili suaminya. Nyatanya malah dia sendiri yang dijahili.


"Ck, biasanya kalo orang pelit setan genit yang datang,"


Sontak Raiden berhenti, menoleh kearah gadisnya yang terlihat menekuk wajahnya dengan bibir mengerucut kedepan.


"Contohnya?"


Tubuh ramping itu bangkit dari tempatnya, melepas ikat rambutnya hingga rambut panjangnya tergerai bebas.


Merasa tertarik melihat pertunjukan gadisnya, Raiden membalikkan tubuh sepenuhnya menghadap kearah tubuh ramping itu.


"Gini,"


Rambut panjang itu menutupi hampir seluruh wajah gadisnya, selangkah demi selangkah mendekat kearahnya. Berhenti tepat didepan wajahnya dengan jarak beberapa centi. Sedikit demi sedikit rambut panjang yang menutupi wajah gadisnya terbuka, menampakkan wajah cantik itu dengan manik berkedip-kedip, wajah datar tanpa ekspresi.


Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, mengema seisi rumah.


Bukan sampai di situ, tingkah Tasya selanjutnya membuat Raiden semakin tertawa terbahak-bahak. Jemari lentiknya bergerak menyelesuri lehernya, layaknya setan penggoda.


"Om suami, ingat uang bulanan Tasya," bisik Tasya tepat di telinga suaminya.


"Kode ini mah, bukan setan genit."


Tawa Raiden semakin pecah, sesekali berusaha mendorong tubuh ramping itu merasa geli dengan sentuhan lembut gadisnya.


Mpok Atiek yang awalnya sibuk membersihkan area belakangan rumah tertarik dengan tawa itu, mengintip sedikit dari balik pintu melihat tingkah nona muda nya yang terlihat lucu.


Namun yang membuatnya lebih senang, melihat wajah tampan itu yang terlihat tertawa lepas tanpa beban sedikitpun. Pemandangan langka, setelah bertahun-tahun wajah murung itu akhirnya hilang dari wajah tampan tuan muda nya.


"Udah-udah, aku capek lama-lama."


Tasya tetaplah Tasya. Bukannya mengindahkan ucapannya suaminya, kelakuannya malah semakin menjadi-jadi.


Mengimbaskan rambut panjangnya kearah suaminya, hingga terdengar piring pecah.


"ASTAGA OM, NASI GORENG TASYA."


Manik cokelat itu melotot, menatap nanar kearah lantai dengan napas yang terputus-putus.


"Padahal Tasya udah capek, bela-belain masak malah lantai yang makan."


Tubuh ramping itu terduduk di lantai, dengan dramatis meraih pecahan piring dan nasi goreng yang berserakan di atas lantai.


"Tasya pengen makan nasi goreng dari piring, bukan dari lantai."


Jemari lentik itu mengumpulkan nasi gorengnya, hendak dimasukkan kedalam mulutnya.


"TASYA!"

__ADS_1


________________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2