
Selama perjalanan pulang, Tasya tidak henti-hentinya mengerutu kesal. Sesekali memukul kecil lengan kekar itu, tanpa memperdulikan mobil yang sedang melaju.
Bibirnya nyaris bengkak, bahkan penampilannya sudah urakan tak terbentuk hanya karena ulah suami nya. Bisa-bisanya pria yang satu itu melakukan hal yang tidak-tidak didalam mobil, yang lebih memalukan mobil terparkir di tempat umum.
Untung kaca mobil mode gelap, kalo tidak kelakuan gila suaminya bisa diketahui semua orang.
"Mending om ngambek aja, Tasya gak suka om-om mesum," gerutu Tasya kesal.
Kebetulan karena kesalahpahaman itu, aksi ngambek Raiden tertunda tapi mendapat balasan setimpal atas perbuatan gadisnya.
Hidung mancung nya memang masih sakit, tapi menjahili gadis yang satu ini lebih menyenangkan.
"Kenapa sayang? mau lagi? di rumah aja yah,"
"Apaan sih? lama-lama om makin mesum, mana gak tau tempat banget lagi."
"Oh, berarti di rumah boleh dong? lebih yah, jangan cuman yang diatas."
"MESUM!"
Tanpa merasa berdosa nya Raiden malah tertawa terbahak-bahak, menghentikan mobil tepat lampu merah menyala.
Jalan lumayan padat, apalagi SMA GALAXY sengaja diliburkan untuk beberapa hari kedepan tunggu suasana kembali tenang. Apalagi korban sudah tiga orang, meninggal dengan cara yang keji tanpa ada yang tahu siapa pelakunya.
Biasanya hari libur seperti ini, anak SMA GALAXY mengunakan kesempatan untuk refreshing. Karena sekali belajar, tugas selalu menumpuk layaknya pakaian kotor yang belum dicuci selama sebulan.
Hanya Tasya manusia yang paling biasa masalah tugas, karena selalu mendapat contekan dengan sogokan uang lima puluh ribu sebelum menulis. Setelah selesai menulis, uang kembali ke tangan pemilik. #bunuh Tasya
Lagian tidak ada yang berani protes, takutnya kepalan tangan jemari lentik itu melayang diwajah atau dipunggung.
"Sayang," goda Raiden.
Meletakkan lengannya dipangkuan gadisnya, mengelus lembut paha putih mulus itu.
"Ih, apa-apaan sih. Kok om jadi gini? belum makan siang?"
"Iya,"
"Pantasan."
Tasya memilih fokus mengotak ngatik ponselnya, kebetulan Alex mengirim pesan. Katanya jaringan lumayan susah di daerah itu, harus naik bukit dulu baru ada jaringan.
"Om, ke desa balik bukit yuk!"
"Malas,"
"Yah, padahal Tasya pengen ketemu Zara."
"Bilang aja ketemu Alex," ucap Raiden ketus.
Mengalihkan tatapannya lurus kedepan, bertepatan lampu lalu lintas berganti menjadi hijau.
Mood nya hancur seketika, wajahnya datar tanpa ekspresi. Jemari yang semula membelai lembut paha gadisnya, berubah menjadi cengkraman kesal.
"Astaga, sakit WOI!"
__ADS_1
Tubuh ramping itu memberontak, berusaha melepas cengkraman lengan kekar itu yang semakin lama semakin menguat. Benar-benar pria yang satu ini, kenyataannya Tasya hanya ingin bertemu Zara bukan Alex.
Tasya penasaran dengan kondisi sang sahabat, pesan yang baru saja ia kirim belum ada balasannya.
"Om, sakit."
Siempunya seakan tuli, tetap fokus mengemudi hingga mobil memasuki pekarangan rumah. Dengan cepat Tasya membuka pintu tapi sayangnya terkunci.
"Om kenapa sih?"
Raiden hanya diam, melepas sealtbetnya dan memojokkan tubuh ramping itu kebalik pintu mobil.
"Kamu masih suka sama Alex?" tanya Raiden dingin.
Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, menangkup wajah tampan itu dengan tawa semakin pecah.
"Om tahu darimana? astaga, om-om yang satu ini ternyata maha tahu."
Terdengar decakan kecil, tubuh kekar itu menarik tubuhnya kembali menjauh dengan wajah semakin kusut layaknya pakaian belum di setrika.
Tawa gadisnya semakin pecah, membuat Raiden kesal setengah mati. Membuka kunci pintu mobil, hendak berlalu keluar sebelum tubuh ramping itu merayap layaknya cicak kepungung kekarnya.
"Om suami tersayang, tahu darimana soal itu?" bisik Tasya tepat di telinga Raiden. Memeluk leher suaminya, dengan kaki melilit dipinggangnya.
"Kepo."
Tubuh kekar itu turun dari mobil, dengan istri kecilnya bergelanyut manja dipunggung kekarnya.
"Om, bentar. Dia siapa?"
"Pria yang itu siapa?" tunjuk Tasya kearah pos satpam. Pria berwajah pucat yang Tasya lihat waktu itu, sedang duduk di pos satpam depan rumah dengan satpam yang berjaga.
"Satpam kompleks,"
"Mukanya kok gitu, kayak orang frustasi."
"Dia juga manusia,"
"Bukan itu maksud Tasya,"
"Ck, anak yatim-piatu, kerja sambil kuliah. Pasti capek," terang Raiden.
Tasya hanya mengangguk, menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya tepat tubuh kekar itu berlalu masuk kedalam rumah.
"Ponakan pak Raiden?" tanya Rama, pria berwajah pucat.
"Istri," balas putra seadanya. Lagian tidak ada lagi yang perlu disembunyikan, dimedia sosial saja rame memperbincangkan hubungan Raiden dengan gadis SMA yang sering datang ke kantor nya.
"Masih anak SMA,"
"Iya tapi bandel."
Rama hanya tertawa kecil, tidak habis pikir dengan jawaban pria dihadapannya.
"Pak Raiden aslinya kejam tapi didepan pawangnya, jinak kayak kucing. Lo jangan kasih tau siapa-siapa, bisa dipecat gue."
__ADS_1
"Aman."
Putra menyondorkan segelas kopi hangat tepat didepan Rama, pemuda hampir seumur dengannya cuman beda sepuluh tahun.
Putra tidak mau dianggap tua, walau kenyataannya umurnya sudah kepala tiga tapi jiwa mudanya masih berkobar, apalagi kerjaanya selama ini cukup menantang. Alias bodyguard Raiden Dirgantara, pria kejam sekali mengamuk tidak segan-segan melayangkan pukulan.
Untung bayarannya lumayan, lumayan untuk berobat.
Dengan pelan tubuh ramping itu turun dari punggung suaminya, duduk di tepi ranjang dengan sigap Raiden duduk bersimpuh tepat dihadapannya.
"Maaf."
Jemarinya mengelus lembut paha mulus putih itu, yang terlihat memerah bekas cengkraman nya tadi.
"Sakit tau om, dasar om-om."
Siempunya hanya tertawa kecil, memajukan wajahnya hingga bibir tebal itu mendarat tepat dikulit putih gadisnya.
Sekujur tubuh Tasya langsung menegang, desiran aneh mengalir dalam aliran darahnya seirama dengan kecupan lembut bibir tebal itu. Rasanya geli dan aneh.
"Sayang," panggil Raiden lembut.
Meraih jemari lentik itu, mengecupnya berulang kali hingga seluas senyuman manis terukir indah dibibir pink itu.
"Kenapa om?"
"Kita pindah ke kota lain yah,"
"Kenapa?"
Terdengar helaan napas panjang, tubuh kekar itu bangkit dari tempatnya duduk di tepi ranjang tepat di samping gadisnya.
"Kita mulai hidup yang baru."
Astaga, Tasya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Baru kali ini ada manusia yang berbicara serius dan terdengar berfaedah masuk kedalam telinganya. Belasan tahun hidup didunia ini, baru hari ini ada manusia yang mengajaknya membuka lembaran baru meninggalkan dunia kelam nya.
Ternyata suaminya serius dengan ucapannya, kata cinta yang ia ucapkan bukan hanya semata-mata menyenangkan hatinya saja seperti yang dilakukan Alex dimasa lalu.
"Aku pikir-pikir dulu yah om, gak papa kan?" Untuk masalah yang satu ini harus dipikirkan matang-matang, apalagi ujian kelulusan tinggal menghitung bulan.
Raiden hanya mengangguk, menarik tubuh ramping itu kedalam dekapannya memeluk erat sesekali mengecup lembut pucuk rambut gadisnya.
Dengan pergerakan sepelan mungkin, mendorong pelan tubuh mereka berdua keatas ranjang, hingga berbaring sempurna.
"Om jangan takut, Tasya gak bakalan ninggalin om seburuk dan serumit apapun keadaannya. Namanya juga hidup om, akan ada saatnya ombak besar menghampiri. Gak selamanya hidup menderita, semua ada waktunya."
Raiden hanya mengangguk, memilih memejamkan mata menikmati sentuhan lembut jemari lentik itu dipunggung kekarnya.
Beberapa bulan ini kehidupan yang mereka lalui terlalu rumit, Raiden takut istrinya mengakhiri pernikahan yang mereka jalin. Apalagi hidup berdampingan dengan gadis yang satu ini mengubah seratus persen kehidupannya.
Raiden tidak mau kehilangan lagi, terutama mengalah. Dia harus menyingkirkan manusia yang berniat menghancurkan kehidupan mereka, karena pemeran utama dalam kehidupan mereka, tetap mereka berdua.
_______________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1