
Sepanjang perjalanan pulang, Tasya dihenti-hentinya melontarkan pertanyaan. Bahkan pertanyaan yang tidak ada faedahnya pun, wajib Raiden jawab. Sesuai paksaan nona Dirgantara.
"Jadi, om biasa tamu ke sekolah? sama siapa? om, Rudi sama bang Nathan gak ikut?" tanya Tasya kepo. Menatap wajah tampan itu yang terlihat fokus menyetir, sesekali melirik sekilas kearahnya.
"Gak,"
"Ih, yang benar!" Tasya menarik-narik ujung jas hitam suaminya, memaksa Raiden menjawab pertanyaan-pertanyaannya secara jelas, padat dan lembut sedari tadi.
"Gak ada yang ikut, cuman aku," jelas Raiden lembut. Dengan tatapan fokus kedepan, membelah jalanan yang lumayan padat.
"Emang om–"
"Jangan panggil om, aku gak suka!" sela Raiden memotong ucapan istrinya.
"Lupa,"
"Makanya dibiasakan!"
"Iya-iya, itu aja ngambek."
"Yah?"
"Diam-diam, jawab pertanyaan aku! satu pertanyaan lagi."
Tasya mengeser tubuhnya mendekat kearah tubuh kekar itu, menatap wajah Raiden dari jarak dekat memastikan suaminya berbohong atau tidak.
Siempunya yang merasa diinterogasi hanya menghela napas, bingung dengan tingkah istrinya. Entah efek hamil muda atau otak istrinya semakin geser. Raiden tidak tahu.
"Kamu... masih kepikiran sama Jihan?" bisik Tasya pelan. Sedikit ragu mengucapkan kalimat itu.
Raiden hanya mengangguk, menjawab seadanya.
"Kenapa?" tanya Tasya ketir. Sedikit terluka, dengan jawaban suaminya.
"Kasian." Raiden menghela napas sejenak. Menghentikan mobil, tepat lampu merah menyala. Tatapan setia lurus kedepan, seakan tidak berniat melirik kearah istrinya.
"Dia gak pernah beruntung. Dari kecil, dia biasa hidup menderita. Gak pernah ngerasain yang namanya hidup bahagia apalagi tersenyum."
"Nyatanya setelah dewasa, hidup dia lebih menderita. Dibunuh pelan-pelan, dipaksa berhubungan badan. Sebelum dia benar-benar di bunuh," ungkap Raiden. Jemarinya mencengkeram kuat setir mobil, rahang mengeras tatapan mulai berbeda.
Hal yang membuat Raiden terluka sampai sekarang, karena satu hal itu. Dia tidak masalah dibunuh pelan-pelan, asal Jihan tidak diperlakukan seperti itu. Bukan karena cinta, tapi kasihan.
Apalagi dia tahu yang namanya perpisahan yang pahit, dan batas mencintai seseorang agar tidak berlebihan hanya dari Jihan.
Terutama mencintai sang pencipta, baru ciptaannya.
"Sayang," ucap Tasya lembut. Menyandarkan kepalanya ke lengan kekar itu, seraya mengusap kepalan tangan suaminya.
"Kontrol emosi!"
Terdengar helaan napas panjang, kepalan tangan itu mulai mengendur.
"Gak boleh emosional, gak boleh gegabah mengambil keputusan. Karena emosional yang berlebihan,
kamu bisa kehilangan seseorang," ucap Tasya serius.
__ADS_1
"Ibarat mencintai seseorang, sisihkan rasa benci sedikit. Jadi saat dia melakukan kesalahan, kamu tidak terluka," sambung Tasya lagi.
Bibir Raiden terangkat dengan sendirinya, menoleh kearah istrinya yang terlihat sibuk memainkan jemarinya.
"Masa lalu memang sulit dilupakan, tapi bukan berarti mengenang masa lalu setiap saat, yang ada menambah luka. Aku tahu masa lalu om memang pahit... tapi coba belajar ikhlas."
Raiden hanya mengangguk, mengecup lembut pucuk rambut istrinya berulang kali.
"Tahu darimana ngomong gitu, hm?" bisik Raiden seraya tertawa kecil.
"Perjalanan hidup. Kebetulan juga hidup aku pahit, masa lalu aku juga pahit. Tapi itu semua gak perlu dipikirin. Masih ada suami yang harus dipikirkan," sindir Tasya halus.
"Iya-iya, maaf."
"Mulai sekarang, kamu cuman boleh mikirin aku! Sekali ketahuan mikirin orang lain, apalagi istri orang. Jangan harap, ada jatah satu tahun!"
"Yah, gak boleh gitu dong. Masa satu tahun?"
"Makanya, pikirin aja terus si Jihan-jihan itu."
"Aku cuman kasian," elak Raiden.
"ASTAGA TUHAN, KAMU KAPAN SIH PEKA JADI SUAMI? AKU CEMBURU, OY! KAMU TAHU GAK ARTI CEMBURU?"
"AKU CEMBURU KAMU MIKIRIN JIHAN MULU," teriak Tasya.
Menarik tubuhnya menjauh dari tubuh kekar itu, dengan napas memburu kedua tangan terkepal.
Namun ucapan Raiden selanjutnya membuat Tasya kesal setengah mati. Bahkan tidak segan-segan menjambak dan memukul suaminya.
"SUAMI GAK TAHU DIRI! MATI, MATI, MATI AJA KAMU. GAK GUNA!"
Tasya kesetanan, memukul tubuh kekar itu sekuat tenaga tanpa memperdulikan ringisan dan tawa suaminya.
"Jadi ceritanya, ada aja yang cemburu nih?" goda Raiden. Berusaha menghindar, dengan tawa kian lepas.
"Kenapa gak ngomong langsung sama aku, kalo kamu cemburu?"
"DIAM GAK!"
"Emang tahu arti cemburu itu apa? kamu masih di bawah umur loh," ucap Raiden. Semakin gencar menggoda istrinya.
"DIAM!"
"Kamu makin cantik kalo cemburu, jadi pengen makan."
"DIAM, IH."
Sial, kenapa dia terjebak sendiri. Apalagi tatapan mata suaminya terlihat menyebalkan, berlipat-lipat menyebalkan dimatanya.
"Sekali lagi, kalo kamu cemburu bilang sama aku. Tapi ngomongnya di kamar aja, biar langsung–"
"Diam, ih."
Tasya membungkam mulut suaminya dengan boneka ulat bulu yang melilit dilehernya, dengan wajah memerah hingga ke telinga.
__ADS_1
"Aku gak pernah cemburu, jangan kepedean!" elak Tasya. Menatap tajam manik suaminya, dengan mengigit bibir bawah sekuat tenaga Malu, kesal bercampur aduk.
"Jangan digigit!" Terpaksa Raiden melepas boneka yang membungkam mulutnya. Wajah cantik itu kian memerah dengan manik berkaca-kaca.
Sial, Raiden salah opsi. Sebenarnya dia mudah mengunci pergerakan istrinya mulai dari tadi, apalagi tubuh ramping itu tak sekuat biasanya.
Tapi dari artikel yang dia baca, mood ibu hamil mudah berubah-ubah. Bahkan terkadang menangis hanya karena masalah sepele. Raiden hanya menghindari itu saja, tapi sayangnya pilihannya salah.
"Bibirnya jangan digigit," ucap Raiden selembut mungkin. Mengusap bibir istrinya, sesekali mengecup lembut bekas gigitan siempunya.
"Aku gak pernah cemburu!" lirih Tasya.
"Iya,"
Raiden menahan tawa setengah mati, bingung dengan tingkah istrinya.
"Tapi jangan pernah mikirin si Jihan-jihan itu lagi, aku gak suka."
"Iya, tenang aja. Kamu gak usah cem– eh, maksudnya itu," ucap Raiden asal. Untung belum keceplosan, jika tidak hancur sudah telinganya detik ini juga.
"Itu apaan?" tanya Tasya kesal.
"Itu,"
"Apaan?"
Astaga, dia harus ngomong apaan? wajah Raiden yang semula jahil, berubah drastis. Memutar matanya jengah, mencari jawaban yang tepat.
"Buruan!" desak Tasya.
"Maksudnya, aku gak bakalan mikirin masa lalu lagi," elak Raiden.
"Bohong."
"Serius, sayang.
"Tadi kamu ngomong cem... bukan itu."
Astaga, apa wanita semenyebalkan ini? Kata-kata yang tidak penting saja hapal betul dan harus diperpanjang.
"Jawab gak?" ancam Tasya. Berancang-ancang hendak keluar dari mobil, walau kenyataannya pintu mobil terkunci.
Namun demi jatah satu tahun, plus menghindari amukan dan omelan. Raiden harus mengalah.
"Cemburu," ungkap Raiden jujur.
Tapi sayang, Raiden menyesal dengan keputusannya. Tidak seharusnya, dia mengucapkan sepatah kata itu.
Memang satu kata, namun berujung ke rumah sakit.
Ck, masih dalam kandungan udah punya dendam pribadi sama bapak sendiri, batin Raiden.
______________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1