MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
INSECURE 2


__ADS_3

Janda muda beranak satu mangsa Rudi rencananya tapi dunia seakan tidak mendukung. Boro-boro menaklukkan hati Evelyn, bertatap muka dengan perempuan itu saja tidak.


Waktunya lebih banyak dihabiskan bekerja, bekerja dan bekerja. Apalagi Raiden sakit, Wisnu juga sakit menambah tangung jawabnya mengurus perusahaan.


"Anak sama bapak sama aja, beban," gerutu Rudi.


Wajahnya berantakan, layaknya pakaian kusut yang belum disetrika. File-file menumpuk diatas meja, untung Raiden membantunya dari sana. Jika tidak, Rudi jadi batu dalam waktu dekat.


"Ck, cari uang gini amat. Lembur tiap hari, bukannya kaya malah gila."


Rudi membanting file keatas meja, menimbulkan suara nyaring mengema seisi ruangan.


"Tuhan tutup mata atau gimana? kerja tiap hari tapi gak kaya-kaya. Umur kepala tiga tapi gak punya bini. Tuhan punya dendam pribadi sama saya?" bentak Rudi, berbicara dengan angin berlalu.


"Bukan Tuhan yang salah pak,"


"Jadi?"


"Manusianya."


"Oh, nyalahin saya kamu?"


"Bukan pak."


"Jadi?"


"Coba bapak bagi waktu. Jangan hanya fokus kerjaan tiap hari, sesekali nyenangin diri sendiri."


"Caranya?"


"Cari istri mungkin."


Sontak Rudi tertawa terbahak-bahak, namun detik berikutnya tawanya reda. Maniknya melotot seraya memiringkan kepala, melihat manusia yang berani-beraninya menjawab ucapannya barusan dari sela-sela file-file yang menumpuk di atas meja, yang menghalangi pandangannya dari arah pintu.


"Maaf pak, menganggu."


Rudi tersentak, wanita yang ia pikirkan beberapa menit yang lalu berdiri diambang pintu ruangannya. Dengan senyuman tipis terbit dibibirnya.


Gurat lelah tercekat jelas diwajahnya, walau tetap saja terlihat cantik.


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 20:00, berarti Evelyn salah satu karyawan lembur malam ini.


"Butuh bantuan?" tanya Rudi lembut.


"Laporan keuangan pak,"


"Oh, masuk aja."


Evelyn mengangguk, melangkah masuk kedalam dan duduk dikursi berseberangan dengan Rudi. Mengehela napas sejenak dengan memejamkan mata.


Itu semua tidak hilang dari pandangan Rudi, rasa kasian terbesit seketika.


Gini amat cari uang, batin Rudi.


Mengehela napas sejenak seperti yang dilakukan Evelyn, tanpa melepaskan tatapannya dari wanita dihadapannya.


"Kenapa belum pulang?" tanya Rudi akhirnya.


Wajah cantik gadis kecil waktu itu terlintas dalam benaknya, sekarang sudah malam padahal ibunya masih sibuk bekerja.


"Lembur pak, kebetulan jadwal saya malam ini," jawab Evelyn seadanya.


"Oh, pulang aja. Sekalian suruh yang lain pulang. Besok saja kita lanjut."


Wajah Evelyn langsung berbinar, dengan antusias meletakkan file digenggamanya keatas meja kerja Rudi.


"Terimakasih pak, saya permisi."

__ADS_1


Rudi hanya mengangguk, mengulum senyum melihat tingkah wanita dihadapannya.


Sederhana, kata yang terlintas dalam benaknya.


_________________


Akibat ucapan Tasya tadi siang, Raiden malah mendiaminnya. Pria itu hanya sibuk dengan layar komputer dan kertas putih yang menumpuk diatas meja.


Sesekali menerima telepon panggilan, entah siapa dan apa yang mereka bicarakan Tasya tidak tahu. Tapi kedengaranya membicarakan seputar bisnis.


Jujur Tasya kagum dengan pria ini, dalam waktu yang bersamaan Raiden bisa melakukan tiga kerjaan sekaligus. Sesekali menulis dan mengetik, kadang berbicara dengan seseorang dari ponselnya.


Kadang malah membantunya mengerjakan soal-soal yang tidak ia mengerti, walau menjawab seadanya.


"Om," panggil Tasya ragu. Menggeser lembar soalnya kearah suaminya, dengan senyuman kikuk.


Raiden hanya menaikkan alisnya, maniknya fokus menatap layar komputer.


"Ajarin yang ini dong,"


"Bentar."


Tasya hanya mengangguk, menatap wajah tampan itu dari samping dengan tatapan kagum. Makin kesini Tasya semakin inscure. Dari sisi manapun suaminya memang sempurna, tidak ada celah sedikitpun dan tidak cocok bersanding dengan manusia sepertinya.


Ck, gini amat nikah sama orang pintar. Batin Tasya.


Menunduk dalam diam, sembari mencoret-coret kertas kosong diatas meja.


Sekarang Tasya menyesal menghabiskan waktunya begitu saja dari dulu. Padahal seseorang sempat melarangnya, bolos setiap jam pelajaran. Bahkan pria itu sempat mengajaknya belajar serius dan berhenti membolos seperti yang biasa mereka lakukan.


Bodohnya, Tasya menolak ajakan itu. Hanya karena kehidupannya yang berantakan.


"Soal yang mana?"


Suara bariton terdengar tepat di telinganya, menyadarkan lamunan Tasya dan menoleh kearah suaminya. Tepat wajah tampan itu berjarak beberapa centi. Bahkan napas hangat beraroma mint itu, terasa menerpa wajahnya.


"Gak, jadi."


"Kenapa?"


Tasya hanya mengeleng, memutar tubuhnya kembali menghadap kearah meja dan melanjutkan kegiatan belajarnya.


"Hei! Soal yang mana?" tanya Raiden lembut.


Menarik lembar soal dari genggaman istrinya, menarik atensi Tasya kearahnya.


"Gak, jadi. Aku bisa sendiri,"


"Masa?"


"Iya, minta sini soalnya."


"Jawab dulu, soal yang mana?"


"Gak, usah. Aku bisa sendiri,"


"Bohong."


Tasya memutar matanya jengah, memilih mengerjakan soal yang lain malas berdebat dengan suaminya.


Moodnya berantakan, kepalanya pusing dan mengantuk diwaktu yang bersamaan.


Raiden menautkan alisnya, bingung melihat tingkah istrinya. Entah apa yang terjadi dengan wanitanya, tatapannya juga berbeda tidak seperti biasanya.


"Sayang," panggil Raiden lembut.


Mengeser laptopnya menjauh dan menarik tubuh ramping itu mendekat. Didudukkan di atas pangkuannya, tanpa ada penolakan sedikitpun.

__ADS_1


"Kenapa, hm?"


"Ngantuk,"


"Baru jam delapan, yakin mau tidur?"


Tasya hanya mengangguk, meletakkan kepalanya keatas meja tanpa berniat melakukan tingkah yang lain seperti biasanya.


Raiden semakin bingung, tumben-tumbenan istrinya seperti saat ini.


"Kamu sakit?" Raiden memeluk tubuh ramping itu dari belakang, seraya meletakkan kepalanya diceruk leher istrinya.


"Cuman ngatuk,"


"Bohong. Cerita! Kamu kenapa, hm?"


"Gak papa."


"Bohong," tekan Raiden.


Memutar tubuh ramping itu menghadap kearahnya dan mengangkatnya, naik keatas sofa.


"Uang jajan habis atau gimana?" tanya Raiden lembut.


Menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


Tasya setia bungkam seribu bahasa, merapatkan bibirnya rapat-rapat. Dengan tatapan sayu menahan ngantuk. Karena dia benar-benar mengantuk saat ini.


"Tasya ngantuk om," ucap Tasya akhirnya.


"Cerita dulu!"


"Cerita apaan?"


Raiden mendengus kesal, memilih mengalah dan menuruti ucapan istrinya.


"Kalo ada yang ngomong aneh-aneh, gak usah diladenin!" Raiden bangkit dari tempatnya, melangkah kearah ranjang seraya mengedong istrinya ala koala.


Ucapan Raiden tepat sasaran. Entah mengapa pria ini selalu tahu isi hatinya.


"Kamu tahu? manusia gak akan pernah senang melihat orang lain bahagia. Mereka akan selalu mencari cara, agar orang lain jatuh dan tidak percaya diri. Selama hidup, akan selalu ada b*bi yang ngomong ini, itu cuman karena iri," ucap Raiden.


Membaringkan tubuhnya diatas ranjang, dengan tubuh ramping itu diatas tubuhnya. Menarik selimut sebatas dada dan memeluk erat tubuh istrinya.


Tasya hanya mengehela napas, bingung harus mengatakan apa lagi. Ucapan suaminya benar-benar sesuai isi hatinya.


Beberapa hari yang lalu seseorang datang bertamu ke rumah Oma nya dan menyindirnya habis-habisan.


Awalnya Tasya biasa saja, tidak peduli dengan ucapan nenek tua itu tapi karena ucapan Alex tadi pagi. Dimana pria itu ingin fokus meraih cita-citanya dulu, baru memikirkan urusan yang lain. Tasya jadi merasa tersindir dan mengingatkannya dengan ucapan wanita tua itu beberapa hari yang lalu.


Flashback~


________________


TERIMAKASIH:)


HAPPY SUNDAY NIGHT


JANGAN LUPA IBADAH BUAT UMAT KRISTEN BESOK LOH YAH. BAIK DI RUMAH MAUPUN KE GEREJA.


TEMAN-TEMAN UMAT MUSLIM JUGA JANGAN LUPA IBADAH.


#SALAM TOLERANSI


#TERIMAKASIH YAH BUAT YANG MASIH SETIA MENGIKUTI CERITA SAYA SAMPAI SAAT INI.


#GBU:)

__ADS_1


__ADS_2