
Kecupan mesra itu semakin liar, bahkan kemeja putih Tasya sudah tergelentak ganas di atas lantai. Tubuhnya di angkat ke atas meja, dengan tubuh kekar itu berdiri di antara kedua kakinya.
Tanpa Tasya sadari, bibir tebal itu tersenyum di sela-sela kegiatannya. Jemarinya ke sana kemari, mengelus lembut lekukan tubuh gadisnya. Tepat jemarinya menyentuh bagian yang paling Raiden sukai, siempunya malah sadar dan mendorong tubuh kekarnya seraya bangkit dari tempatnya.
"No," tolak Tasya, dengan napas yang tersengal-sengal.
Sontak Raiden melototkan matanya, menarik jemari lentik itu kearah bagian bawah tubuhnya.
"Tanggung jawab,"
Siempunya hanya mengelengkan kepala, menarik jemarinya kembali dan menurunkan tank top nya yang tersingkap keatas.
"Tasya besok ujian,"
"Gak ada sangkut pautnya."
"Nanti Tasya gak bisa jalan," terang Tasya dengan polosnya.
Wajah Raiden langsung berubah drastis, bahunya merosot dengan kepala yang menunduk. Ibarat mendaki gunung, tepat di puncak malah jatuh pingsan.
Tidak ada gunanya ciuman panas barusan, karena adengan panas itu tidak bisa di lanjutkan lagi.
Spontan Tasya tertawa kecil, menarik tubuh kekar itu mendekat dan memeluknya erat sembari mengelus lembut punggung suaminya.
"Maaf, selesai ujian deh janji."
Hening, tidak ada sahutan. Detik berikutnya Raiden menganggukan kepala, dan membalas pelukan istrinya.
"Tapi om jangan ngambek. Om suka banget ngambek, padahal udah tua juga." cibir Tasya.
"Mana ada," elak Raiden tidak mau kalah. Walau kenyataannya sih, iya. Hal memalukan seumur hidupnya, bersikap manja di depan seseorang. Hanya Tasya manusia pertama melihatnya menangis, ketakutan, bahkan merajuk.
Selama ini Raiden tidak pernah mengapresiasikan sesuatu, tapi melihat ekspresi wajah Tasya yang berubah-ubah sesuai mood. Raiden tau artinya ekpresi wajah sesuai suasana hati.
"Tasya ingat ucapan om,"
Siempunya hanya mengangguk kan kepala, mengangkat tubuh ramping itu dari atas meja. Memilih duduk ketempat semula, dengan Tasya di atas pangkuannya.
"Aku mau ngomong sesuatu," ucap Raiden serius.
Tasya hanya mengangguk kan kepala, menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya menghirup dalam-dalam aroma khas tubuh kekar itu.
"Kamu tau masa lalu saya?"
"Iya, dari bunda tapi dikit." Orang Tasya udah lama jadi pengangum rahasia, om Raiden aja yang gak sadar. Ucap Tasya yang sampai ditenggorokan.
"Sebenarnya, pembunuh waktu itu udah mati." ungkap Raiden.
Sontak Tasya menarik wajahnya kembali, menatap wajah tampan itu dengan tatapan tidak percaya.
Tidak mungkin orang mati hidup kembali, berita yang tersebar luas beberapa tahun yang lalu pembunuh itu lari tanpa jejak. Tapi suaminya sebagai korban bilang, pembunuh itu sudah tidak ada lagi. Jadi pembunuh yang berkeliaran itu siapa?
"Om serius?"
"Iya, sebelum Jihan kehabisan napas ada seseorang yang datang. Membunuh si br*ngsek itu dari belakang."
"Ah masa, om jangan bohong."
"Gak, saya serius."
Tasya hanya tertawa kecil, beralih memperbaiki penampilan suaminya dengan pikiran yang berkeliaran kemana-kemana. Jadi alur cerita ini gimana sebenarnya? kenapa jadi rumit tak beraturan.
Tasya sengaja memberanikan diri menceritakan pembunuhan itu, siapa tau pembunuh yang berkeliaran selama ini musuh suaminya. Tapi tak di sangka semua tak semudah yang dibayangkan.
__ADS_1
Pembunuh yang berurusan dengan suaminya di masa lalu ternyata mati di tempat dan sekarang muncul psikopat yang baru.
"Gak usah di pikirin, saya bisa urus. Asal kamu sama teman-teman kamu gak ikut campur. Bahaya,"
"Ck, iya-iya. Tapi om hati-hati, Tasya takut om mati."
"Ngomong apaan sih? katanya takut mati tapi malah di doain. Perkataan itu doa,"
"Om sih bikin kesal,"
"Yah?"
"Itu baju Tasya, gak ada kancingnya lagi. Rusak semua om,"
Tunjuk Tasya kearah lantai, beberapa kancing berwarna putih berserakan dimana-mana. Raiden terlalu semangat, berakhir seperti itu.
"Masuk ke ruangan rahasia aja, tunggu Rudi beli yang baru."
"Dih, bilang aja om mau cari kesempatan. Om mau p*rkosa Tasya kan?"
"Jangan asal nuduh, lagian kita suami istri. Terserah saya dong,"
"Mesum,"
"Masuk sana, dorong lemari yang itu. Di balik nya ada kamar,"
"Gak mau,"
"Yaudah, kita belah duren di sini aja."
"OM RAIDEN!"
"Iya sayang,"
"Sayang,"
"OM RAIDEN!"
"Kenapa sayang?"
"YAH."
Tanpa memperdulikan pukulan kecil di dada bidangnya, Raiden bangkit dari tempatnya melangkah mendekat kearah lemari buku yang bertengger di samping meja kerjanya. Mendorong pelan, hingga menampakkan satu ruangan yang terlihat nyaman.
Dekorasinya sederhana, bernuansa hitam seperti kamar Raiden di rumah. Di lengkapi king size empuk, bahkan lemari makanan.
Jantung Tasya kian berdetak kencang, berusaha memberontak turun dari gendongan suaminya. Tapi sayangnya sudah terlambat, tubuh kekar itu lebih dulu melangkah masuk dan membaringkan tubuh mereka berdua di atas ranjang.
"Hukuman, siapa suruh kamu bolos."
"Om, Tasya ujian besok."
"Ujian susulan, nanti saya urus."
"Om,"
"Kenapa, hm?"
Raiden bangkit dari tempatnya, membuka jas hitam dan kemeja putihnya di letakkan di ujung ranjang.
Wajah cantik itu memucat, duduk di tengah-tengah ranjang menatap was-was kearah suaminya.
Dengan seringai licik tubuh kekar itu kembali naik keatas ranjang, sekali tarikan tubuh ramping itu terangkat ke atas tubuh kekarnya.
__ADS_1
"Tidur! saya ngantuk,"
"Tapi–"
"Malam pertama kita tunda dulu, tunggu nona muda Dirgantara selesai ujian."
"Bukan itu om, Tasya gak nyaman tidur begini," protes Tasya, seraya berusaha bangkit dari posisinya.
"Kenapa? lebih suka di bawah?"
Tanpa memperdulikan tingkah gadisnya, Raiden meraih kedua kaki ramping itu diletakkan di kedua sisi tubuhnya.
"Yah, om."
"Hm, jangan banyak gerak. Nanti saya serang,"
"Kaki nya dilurusin aja,"
"Biar gampang,"
"Om,"
"Kenapa lagi?"
"Jangan pegang-pegang."
Terdengar kekehan geli, Raiden memeluk erat tubuh ramping itu sesekali mencium pucuk rambut gadisnya. Barusan ia hanya bercanda, sekalian melihat reaksi gadisnya.
Lama-lama Raiden gemas dengan tingkah anak yang satu ini, apalagi ketika suaranya terdengar merajuk membangkitkan sisi liar nya. Astaga, Raiden terlihat seperti pedofil. Alias pecinta anak dibawah umur.
Tapi persetan dengan itu semua, lagian mereka berdua suami istri bukan sugar Daddy dengan sugar baby nya. Walau sebenarnya gambaran mereka berdua terlihat seperti paman dan ponakan, bahkan bapak dan anak.
"Om, jangan macam-macam. Tasya mau tidur,"
"Cuman satu macam, biar kita punya anak."
"Mesum."
"Itu bukan mesum namanya, tapi berkembangbiak."
"Om pikir kita apaan, tumbuhan?"
"Setan sama tuan nya."
______________
TERIMAKASIH
TERNYATA PEMBUNUH NYA BUKAN ITU #Tertawa jahat.
#VISUAL RAIDEN DIRGANTARA
#JANGAN LUPA NAPAS, INGAT SUAMI, ANAK, PACAR, GEBETAN, ANAK TETANGGA. BWUAHAHA
#TASYA MENYUSUL
__ADS_1