
Beberapa saat Tasya masih setia diam mematung ditempat, hingga terdengar pintu diketuk, bersahutan teriakan kecil Keano dari luar.
Jujur Tasya malas berurusan dengan siapapun saat ini, kepalanya pusing dan hanya diisi satu manusia saja tidak yang lain.
Menghela napas sejenak baru Tasya bangkit dari tempatnya. Melangkah tertatih kedalam kamar mandi, tanpa memperdulikan teriakan Keano.
"Dia pergi kemana coba? mau cari istri baru yang lebih tua?"
Banyak pikiran aneh yang terlintas benaknya, rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya melepaskan kekesalannya.
Antara percaya atau tidak percaya Tasya bingung jadinya. Lagian salah Raiden sendiri, dia pergi diam-diam tanpa pamit, otomatis ia curiga walau tetap saja khawatir lebih mendominasi.
Selama di kamar mandi umpatan demi umpatan tidak henti-hentinya Tasya lontarkan, bahkan manusia yang ia bicarakan bersin-bersin diwaktu yang bersamaan.
"Diabetes?"
Raiden hanya diam, hidungnya terasa gatal hingga bersin-bersin beberapa kali.
"Makan kuman?"
"Diam!"
Sontak Rudi tertawa terbahak-bahak, merasa terhibur melihat Raiden menderita seperti saat ini. Apalagi hidungnya terlihat memerah dan bersin-bersin tak kunjung reda.
"Biasanya ada yang ngomongin dibelakang," tebak Rudi.
Sial, Raiden baru ingat dengan istri kecilnya. Bisa dipastikan Tasya bingung mencari keberadaannya. Tadi siang dia tidak tega membangunkannya, apalagi sebelum mereka tidur istrinya sempat menangis.
"Keluar!"
Terdengar decakan kecil, dengan berat hati Rudi bangkit dari tempatnya melangkah keluar dari ruangan Raiden dengan bulu kuduk merinding.
Kantor dalam keadaan sepi seperti saat ini memang terlihat menyeramkan, hanya Raiden saja yang berani duduk sendiri diruanganya sepanjang malam.
Untung ruangannya dilengkapi kamar, jadi Rudi bisa bersembunyi di sana menunggu pagi. Tidak memungkinkan meninggalkan Raiden sendiri di kantor, takutnya setan berbaju merah yang sering dibicarakan karyawan muncul mengoda Raiden. Padahal pria itu sudah memiliki istri, sepantasnya Rudi yang digoda.
"Bang,"
Sekejap tubuh Rudi merinding, baru saja dipikirkan malah muncul sendiri.
Dengan pergerakan sepelan mungkin Rudi melangkah masuk kedalam ruangannya, tanpa menoleh ke kanan dan kiri.
"Ternyata pak Rudi penakut juga," gumam satpam seraya tertawa kecil.
Barusan dia hanya bercanda, rumor yang beredar tidak ada benarnya. Buktinya selama dia bekerja dan berjaga tiap malam, tidak ada satu pun sosok yang mengganggunya. Hanya merinding saja dan benar-benar takut.
Tepat Tasya keluar dari kamar mandi, bertepatan ponselnya berdering. Dengan semangat yang meronta-ronta meraih ponsel dari atas nakas, tersenyum lebar melihat nama yang tertera di sana.
"Angkat gak yah? biarin aja, siapa suruh bikin kesal."
__ADS_1
Pikiran dan mulutnya tidak sejalan, tubuhnya bergerak sendiri menyentuh layar ponsel. Hingga suara bariton khas suaminya menyambut telinganya.
"Sayang,"
Hening tidak ada sahutan. Tasya senyum-senyum sendiri ditempat, melupakan kekesalannya.
"Ngambek?"
"Siapa bilang?"
Terdengar tawa dari sebrang, menimbulkan semburat merah jambu diwajah cantik itu.
"Maaf, tadi gak sempat bangunin. Udah pakai baju?"
"Ngomong apaan sih?"
"Ganti jadi panggilan video aja, aku mau pastiin sendiri. Kamu udah pakai baju atau gak."
"Mesum,"
"Buruan!"
"Tasya udah mandi tahu. Dasar om-om mesum, mana istri ditinggal lagi."
"Maaf, aku sibuk belakangan ini. Kamu baik-baik di sana, jangan nakal sama Oma. Ingat Oma udah tua,"
"Jangan cuman iya, kamu bandel banget kalo dibilangin."
"Iya,"
"Udah dulu, aku mau lanjut kerja lagi."
"Om, kerja?"
"Hm,"
"Malam-malam begini?"
"Iya,"
Tasya berdecak kecil, tidak habis pikir dengan suaminya. Memang sebelum mereka menikah, Raiden sudah terkenal manusia gila kerja. Berangkat pagi pulang pagi, tapi setiap lengang pria itu lebih banyak melamun daripada tidur.
"Om, jaga kesehatan. Jangan sampai sakit,"
Raiden tersenyum disebrang, desiran aneh mengalir dalam aliran darahnya mendengar bisikan lembut bernada khawatir itu.
Andai bukan satu masalah itu, Raiden pasti membawa istrinya pulang. Tanpa dipisahkan jarak seperti saat ini.
"Kamu baik-baik di sana, aku usahain pulang secepatnya."
__ADS_1
_______________
Sinar matahari pagi terbit dari timur. Suara lalu lintas terdengar jelas berlalu lalang melintas ibu kota. Jam sudah menunjukkan pukul 07:00. Tepat Raiden selesai mengurus file-file yang menumpuk di atas meja.
Helaan napas panjang terdengar, detik berikutnya pintu terbuka menampakkan Rudi yang sudah terlihat rapi dengan style formalnya.
"Selamat pagi sir, selamat menikmati rutinitas yang padat. Silahkan anda mandi terlebih dahulu, baru sarapan. Setelahnya, kita meeting dipimpin anda sendiri."
Raiden hanya mengangguk, bangkit dari tempatnya berlalu masuk kedalam ruangan dibalik rak buku tepat disamping meja kerjanya.
Hanya membutuhkan waktu yang singkat, tubuh kekar itu sudah dibalut pakaian formalnya. Sarapan pagi sudah terlewat beberapa menit yang lalu.
Kini jadwal pertama mengadakan rapat akan berlangsung. Raiden sudah stand by pada posisinya, hingga terdengar deheman keras mengisi suasana yang canggung.
"Rapat kita mulai,"
Apa yang ada dikepalanya terucap jelas, apa yang ia inginkan selama ini akhirnya bisa diutarakan. Beberapa setuju dengan pendapatnya, beberapa lagi ragu akan resikonya.
Raiden mengerti akan hal itu, apalagi ini pertama kalinya mereka beralih kebisnis kuliner. Banyak bisnis yang ayah nya jalankan, entah mengapa Raiden tertantang bagian itu.
Mengingat istrinya juga lumayan ahli bagian dapur. Masa depan wanita yang satu itu harus Raiden pikirkan. Berjaga-jaga, siapa tahu Tasya hamil bertepatan lulus sekolah.
Dia memang terlalu berani mengambil keputusan waktu itu, hanya karena n4psu semata ia berani melakukan hubungan suami-istri dengan istri kecilnya. Padahal Tasya masih sekolah. Resiko hamil muda juga banyak, memikirkan itu saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling.
Trauma s*alan itu, terlalu susah diajak kompromi.
"Menurut saya, terserah anda saja sir. Kita hanya menjalankan tugas, sesuai perintah anda."
Final, Rudi mengambil keputusan itu saja. Toh Raiden dan Wisnu manusia yang berbeda. Jika Raiden lebih tertantang menjalankan bisnis bagian itu, Wisnu bisa apa? Palingan hanya mendukung Putra semata wayangnya saja.
Raiden hanya mengangguk, mengakhiri rapat dengan pikiran yang bekerja dua kali lipat. Proyek yang satu itu harus diselesaikan secepatnya, masih banyak proyek yang harus dia urus.
"Jadwal selanjutnya–"
"Undur, saya ada urusan. Tiga puluh menit, lewat dari itu hubungi saya."
Rudi diam mematung di tempat, menatap punggung kekar itu berlalu menjauh tanpa berniat mengucapkan sepatah kata pun.
Jika dalam mode on seperti saat ini, pasti pria itu memiliki urusan yang penting. Tanpa berniat memberitahunya masalah apa yang dia hadapi.
Ternyata Raiden masih kecewa. Dari dulu sampai sekarang, Rudi masih tetap saja mengecewakan pria yang satu itu. Mulai dari kepribadiannya yang berubah, hingga masalah Andro yang muncul kembali. Rudi benar-benar sahabat yang buruk.
Entah cara apa lagi harus yang dia lakukan agar Raiden kembali percaya. Seribu cara pun dia lakukan, Raiden tetap tidak percaya. Ternyata mengembalikan kepercayaan seseorang tak semudah yang dibayangkan.
"Gue sahabat yang buruk."
________________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1