
Beberapa menit sebelumnya
Sesuai perkataan Tasya, mereka berdua maraton menonton film mulai dari pukul 15:30 sampai 18:00. Bahkan rencananya hingga pagi, seperti kebiasaan mereka dulu.
Memilih berbaring di atas ranjang dengan tatapan lurus kedepan, sesekali mengunyah dan mengoleskan krim kecantikan kewajah. Waktu seperti saat ini harus di pergunakan sebaik mungkin, setelah Tasya menikah waktu luangnya kebanyakan di habiskan menjahili suaminya.
Dan sesuai perkataan tuan rumah, film yang mereka tonton film genre thriller dengan suasana mencekam, tapi tidak dengan wajah si penonton.
"Kurang sadis menurut gue," ujar Tasya dengan santainya, dengan mulut yang tiada hentinya mengunyah.
"Mending Lo aja yang masuk kedalam, bising banget mulai dari tadi," sergah Zara kesal.
Menonton dengan Tasya harus menyiapkan emosi dan mental. Karena bukan film yang membangkitkan emosi, melainkan suara Tasya yang tiada hentinya menjadi sutradara dadakan.
Mulai dari awal film hingga akhir ada saja yang di nilai, mulai dari pemain bahkan tong sampah pun harus di komentari.
"Menurut gue tempat sampah nya kurang Aesthetic, seharusnya warna hitam bukan biru. Baru diletakin di pojok, bukan di atas kepala pemain."
Untung Zara orangnya sabar, walau wajah Tasya sudah lebam beberapa bagian.
Walau begitu si pemilik wajah tetap santai, bahkan semakin gencar menjadi sutradara dadakan.
"Gue bunuh Lo,"
Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, menerima setiap pukulan Zara tanpa mengelak sedikit pun. Sebenarnya bisa saja Tasya mengelak atau melawan, tapi melihat wajah emosi Zara seperti saat ini suatu pemandangan indah yang tidak boleh terlewatkan.
"Gue kesal banget sama Lo,"
"Alex cinta mati sama Lo."
Jemari Zara melayang di udara, terdengar helaan napas panjang dengan kasar memukul punggung Tasya kembali.
"Jangan bawa-bawa nama Alex, kesal gue."
"Ck, sampai kapan Lo berdua begini? yang satu bodoh, satunya lagi pura-pura gak tau. Mending Lo aja yang nembak Alex, gak habis thinking gue sama Lo berdua." omel Tasya.
Sebenarnya Zara juga menyimpan rasa dengan pria yang satu itu, tapi sayangnya setiap Alex menunjukkan perhatian lebih Zara malah sok jual mahal. Nyatanya pengen lebih dari itu.
Tasya malah lebih dari kesal, apa susahnya coba Alex menyatakan perasaannya langsung di depan orang yang bersangkutan. Karena setiap wanita selalu menginginkan momen yang satu itu, momen dimana pria bertekuk lutut tepat di hadapan wanita dan menyatakan perasaannya.
Tapi Alex berbeda, pikiran kotornya lebih dulu menguasai diri dan mundur sebelum mencoba.
"Biarin, biar dia capek sendiri. Lagian makin hari makin gila, masa gue diajak begituan. Alex pe'a," gerutu Zara.
Itu ajarin gue, batin Tasya seraya tertawa jahat.
"Gue tau itu ajarin siapa, tapi tunggu waktu yang tepat baru gue bunuh."
Tasya hanya cekikan, beralih menatap layar ponselnya membiarkan Zara melakukan semaunya. Tapi detik berikutnya pergerakan ranjang berhenti, hanya napas memburu yang terdengar bersahutan.
__ADS_1
"Za,"
Dengan gerakan kilat Tasya bangkit dari tempatnya, menatap wajah Zara yang terlihat pucat pasi dengan tubuh gemetar.
"Dia mati,"
"Ngomong apaan sih, jangan aneh-aneh Za."
"Dia mati, dibunuh."
"Siapa yang mati?"
"Mati,"
"Zara!"
"Ini salah gue."
Zara menangis histeris, menjambak rambutnya frustasi dengan tubuh kian gemetar. Entah apa yang terjadi, tapi tubuh Tasya lebih gemetar ketakutan melihat kondisi sahabatnya.
"Ini salah gue,"
"Lo gak salah apa-apa, tenang gue di sini."
Iya tenang, Tasya harus tenang. Bagaimanapun juga ini sudah biasa, yah biasa takut melihat Zara seperti saat ini.
Dengan tangan yang gemetar Tasya meraih tubuh Zara, memeluknya erat tanpa sadar air mata membasahi pipinya.
"Gak, itu cuman ilusi. Lo cuman milik gue, gak boleh ada yang ngambil Lo."
"INI SALAH GUE,"
"Gak, Lo gak salah."
"DIA MATI. GUE HARUS MATI."
"GAK, LO GAK BOLEH MATI."
"Ini semua salah gue, dari awal gue udah tau ini bakalan terjadi tapi gue malah diam. Dia mati gara-gara gue,"
"Gak, Lo gak salah."
Teriakan Zara semakin histeris, bahkan tidak segan-segan memukul dirinya sendiri. Ini sudah biasa, potongan kejadian yang tiba-tiba muncul dalam benaknya membuat mental Zara hancur. Bahkan berakibat fatal, karena Zara bisa melukai diri sendiri.
Jujur sebenarnya ini menakutkan, tapi Tasya harus temeng terkuat, menutupi luka hati melihat kondisi sahabatnya.
"Sya,"
Tubuh siempunya menegang, menatap lurus kearah pintu menatap suaminya yang terlihat khawatir. Entah sejak kapan pria itu pulang, rasanya Tasya ingin lari menyembunyikan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Keluar," ucap Tasya tanpa bersuara.
Raiden hanya mengeleng, tatapannya tidak lepas dari dua manusia yang ada diatas ranjang. Wajah istrinya terlihat syok, linglung, tapi tetap bersikap tenang seolah itu biasa membuatnya takut.
Astaga Raiden bingung harus melakukan apa, bahkan tubuhnya kian gemetar mendengar jeritan tangis itu.
"Dari awal gue tau ini salah. Gue mohon, bunuh gue kalo Lo benar-benar cinta sama gue."
Kepingan pahit yang selama ini terlupakan muncul dengan sendirinya. Tangisan, jeritan, d*sahan, pukulan, semua bercampur aduk.
Andai waktu itu Raiden kuat, itu tidak akan terjadi dan tidak akan terjadi lagi.
"Kenapa sayang?"
Sayang? telinga Tasya pasti salah. Sejak kapan pria dingin ini romantis?
"Dia kenapa?" bisik Raiden lembut, seraya menghapus jejak air mata gadisnya.
Tasya hanya mampu mengelengkan kepala, memeluk erat tubuh Zara sesekali mencium pucuk rambut sahabatnya dengan lembut. Dia tidak boleh kehilangan lagi, cukup papa dan mama nya yang lenyap dalam benaknya. Tidak dengan sahabatnya.
"Za, gue di sini. Jangan takut. Ingat itu cuman ilusi, cuman ilusi." Lo harus kuat, biar kita bunuh b*jingan itu. ucap Tasya yang sampai ditenggorokan.
Sebenarnya itu bukan ilusi, pasti sebentar lagi berita pembunuhan akan tersebar luas dalam sosial media. Pembunuh itu sengaja meninggalkan korban di tempat terjangkau manusia normal, seakan menakuti yang lain. Tanpa jejak, hanya meninggalkan tanda segitiga seperti biasa.
"Sayang,"
Spontan seulas senyum tipis terbit dibibir Tasya, beralih membalas tatapan mata suaminya seakan menyakinkan semuanya baik-baik saja.
"Bantuin aku dong," lirih Tasya.
"Ngapain?"
"Berbaring,"
Raiden menganggukan kepala, dengan gerakan kilat merapikan tempat tidur. Meletakkan semua alat make-up gadisnya ke tempat semula, dan menuntun mereka berdua berbaring di atas ranjang tanpa melepaskan pelukannya.
Entah apa yang terjadi, tapi kelihatannya gadis yang satu ini memiliki kemampuan yang tidak di miliki orang lain. Raiden yakin hal itu.
Sesekali terdengar isakan tangis, dengan penuh kasih sayang Tasya memeluk tubuh sahabatnya. Seakan mengganggap Zara benda rapuh, sekali tersentuh langsung hancur.
"Za, jangan takut gue di sini."
Bibir Raiden langsung terangkat keatas, membentuk sebuah senyuman manis tanpa Tasya sadari. Tubuh kekarnya duduk di tepi ranjang, seraya mengelus lembut rambut istrinya. Ternyata gadis bar bar nya bisa juga bersikap tenang seperti saat ini, berarti hanya di depannya saja berulah layaknya tuyul. Dasar anak setan emang.
"Sayang,"
"Ck, jangan panggil begituan. Jijik banget tau om,"
______________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)
AKU HARAP KALIAN SUKA