MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
BERPISAH SEMENTARA 2


__ADS_3

"Kilat yah."


"Ha?" beo Tasya.


Menatap tubuh kekar itu grasa grusu melepas semua pakaiannya, dilempar begitu saja keatas lantai.


Awalnya Tasya bingung tapi melihat wajah tampan itu berbeda dari biasanya, ia melakukan hal yang sama. Hitung-hitung belajar menjadi istri yang baik.


"Tapi om bilang berangkat siang, nanti gak terlambat?" tanya Tasya, membiarkan tubuh kekar itu melakukan tugasnya.


"Kilat kok, jadi bentar."


Tasya hanya tertawa kecil, tidak heran lagi dengan tingkah mesum pria yang satu ini.


Kebetulan Rudi kembali mengirim pesan, mendesak Raiden datang secepatnya. Jika tidak, dia sendiri yang turun tangan menyeretnya pulang ke kota.


Masalahnya untuk yang satu ini Raiden tidak tahan lagi, apalagi istrinya seakan mengodanya setiap saat.


"Om suami,"


"Hm,"


"Mau kemana, kok Tasya gak diajak?" tanya Tasya. Disela-sela kegiatannya.


Siapa tahu saking fokusnya dengan kegiatan mereka, pria ini malah keceplosan mengatakan yang sebenarnya. Walau kenyataannya, Raiden tidak sebodoh itu.


"Kerja,"


"Tasya ikut, nanti di sana om bebas ngelakuin ini kapan aja. Aku gak marah kok," rayu Tasya.


Diluar dugaan pria itu menghentikan aksinya, mengangkat wajahnya dari ceruk leher putih itu. Menatap intens wajah istrinya.


"Kamu tetap di sini! Kalo aku pulang, baru kamu siap-siap layani suami. Aku juga gak gila ngelakuin ini tiap jam, apalagi tiap hari. Kamu pikir kita apaan?"


"Manusia,"


"Nah tahu manusia, kalo kita ngelakuin ini tiap jam kamu tahu apa hasilnya?"


Tasya hanya mengeleng, seraya mengalungkan kedua lengannya di belakang leher suaminya.


"Masuk ruang ICU," kata Raiden.


Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, tanpa menyadari senyuman lebar dibibir tebal itu.


Raiden senang melihat pemandangan ini, hampir setahun Pernikahan mereka berjalan ia tidak pernah menciptakan senyuman dibibir istrinya. Yang ada disiksa setan, hingga membantunya keluar dari masa lalu.


"Kamu di sini aja yah, bodyguard ada sekeliling rumah Oma. Kalo ada apa-apa langsung telepon,"


"Iya,"


"Jangan cuman iya, ujung-ujungnya ngambek."


"Gak, asal om kirim pesan tiap hari. Biar aku gak khawatir,"


Khawatir katanya? enam tahun Raiden mengenal Jihan, kata itu tidak pernah keluar dari mulut perempuan yang satu itu. Namun wanita yang berstatus sebagai istrinya sekarang, apa yang belum pernah Raiden rasakan, bahkan dengar dari siapapun. Semua ada pada Tasya.

__ADS_1


Sial, entah mengapa wanita yang satu ini pintar menaklukkan hatinya, bahkan hanya dengan kata-kata saja.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun Raiden kembali menyelusupkan wajahnya diceruk leher putih itu. Dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.


"Om jangan lama-lama pokoknya, jemput Tasya secepatnya ke sini."


"Iya, sayang. Jangan ngomong lagi, ini udah nangung."


Sontak mereka berdua tertawa terbahak-bahak, hanya karena sesi perpisahan itu mereka lupa apa yang sedang mereka lakukan.


Raiden juga malah terhanyut dengan pembicaraan itu, padahal gairah nya sudah diujung ubun-ubun.


"Makanya om jujur sama Tasya,"


"Astaga, kapan mulai kalo begini ceritanya? kita lanjut ngomong atau gimana?"


"Iya-iya, gak usah marah-marah. Lagian apa salahnya coba ngomong sambil... sakit banget om, gimana sih?"


Raiden seakan tuli, hanya fokus dengan kegiatannya. Menuntaskan gairah yang mereka tunda sedari tadi, hingga bibir pink itu mengeluarkan suara yang Raiden tunggu.


"Teriak sayang, biar Oma dengar."


"OM RAIDEN!"


"Good, sekalian d*sahannya dikuatin biar tetangga dengar."


"Brengsek."


__________________


Kemampuan Zara perlahan sirna, namun yang jadi masalah, iblis itu semakin menjadi-jadi seakan tidak terima. Berarti mereka berhasil sejauh ini.


"Lex,"


Siempunya menoleh kearah suara, tersenyum hangat sembari bangkit dari tempatnya.


"Kenapa? mimpi buruk lagi?"


Zara hanya mengeleng, bangkit dari tidurnya dengan bantuan pria itu.


"Lo udah sarapan?"


"Belum, nungguin Lo bangun."


"Ck, makan sana. Gue bisa makan sendiri, kalo Lo sakit gimana?"


"Gak bakal,"


"Keras kepala."


Zara turun dari ranjang, melangkah gontai kearah kamar mandi yang ada di dalam kamar.


Tempat tinggal mereka sekarang, lumayan nyaman. Apalagi bukan hanya desa yang ada di tempat ini, sekolah khusus keagamaan juga ada.


Mereka ditempatkan di satu kamar asrama, karena tidak memungkinkan Zara tidur sendiri. Walau tetap saja mereka tidur terpisah, hanya disatu ruangan saja.

__ADS_1


"Lex, bisa buka pintunya gak? gue hancurin sekalian nih pintu," teriak seseorang dari balik pintu.


Alex sudah tahu siapa orangnya, manusia 11/12 dengan Tasya. Mulut dengan kelakuan tidak ada bedanya, bahkan tidak segan-segan memukulnya. Seperti apa yang sering Tasya lakukan selama ini.


Terkadang melihat mahkluk yang satu itu, dia dan Zara terkadang kepikiran dengan Tasya. Ada perasaan bersalah, walau rindu lebih mendominasi.


Tepat pintu terbuka, tatapan tajam langsung mengarah kearahnya.


"Lama Lo," sergah Riki, melongos masuk begitu saja kedalam kamar dengan membawa nampan berisi sarapan.


"Bini Lo mana?"


"Ck, dia bukan bini gue bang."


"Sama aja, Lo gak usah ngejawab. Gue lempar Lo dari sini!"


Alex pasrah, memilih duduk ditepi ranjang menatap pria itu sibuk menata sarapan mereka bertiga diatas meja kecil.


Riki salah satu penolong yang membantu Zara, sekaligus teman cerita Alex selama ini. Akhlaknya memang dibawah rata-rata tapi masalah kemanusiaan dia nomor satunya.


"Bang, minggu depan kita izin ke kota. Tugas kita udah numpuk," ungkap Alex.


"Lihat kemajuan bini Lo aja, kalo makin parah yah Lo di sini aja terkurung tiap hari."


"Gak ada cara lain bang, biar dia cepat sembuh?"


"Ada, kematian," jawab Riki asal. Setiap saat itu saja yang dipertanyakan, manusia bucin memang berbeda. Menjijikan.


"Serius bang."


Riki diam tidak menjawab, bangkit dari tempatnya berpindah posisi duduk disamping Alex seraya merangkul pundak pria itu.


"Gue kasih tahu sama Lo, hidup ini keras dan kelam. Iblis, setan, manusia ada di dunia ini. Godaan setan selalu ada setiap saat dan itu semua tergantung pilihan masing-masing manusia."


"Permasalahan bini Lo memang rumit tapi asal dia tetap setia dengan pendiriannya, dan mau mengikuti ajaran kita sepenuhnya. Kunci satu-satunya, hanya ada ditangan dia sendiri. Bukan gue atau yang lain," terang Riki.


Zara yang mendengar itu semua diam mematung di tempat, niat awal membuka pintu kamar mandi tertunda sekejap. Ucapan Riki benar, kemampuannya selama ini ibarat suatu godaan.


Semakin bertambah kemampuannya, maka hati dan pikirannya semakin goyah. Ternyata ucapan Tasya benar adanya.


"Menurut gue sih Za, itu semua tergantung Lo. Ibarat nya nih yah, satu kemampuan Lo bertambah maka pikiran Lo diambil alih sama mereka (setan). Jadi semakin kemampuan Lo bertambah, tubuh sama hidup Lo juga bakal dikendalikan sama mereka."


"Tapi kalo Lo tolak satu persatu, ibaratnya nih Lo makin dekat sama yang diatas. Apa yang gak mungkin? itu semua tergantung hati sama pikirin Lo. Kita masih hidup di dunia, jadi gak ada yang sempurna. Pelan-pelan pasti bisa."


Terkadang Zara iri, dengan perempuan yang satu itu. Entah Tasya terbuat dari apa. Kelakuannya memang mirip seperti setan tapi masalah hati, Tasya menang banyak.


Dia harus cepat sembuh, kebaikan Tasya selama ini belum dia balas sedikitpun. Banyak hal yang mengganjal dilubuk hatinya, sekalian memastikan kebenarannya. Agar tidak memperburuk keadaan.


________________


Zara sama Alex muncul lagi:)


TERIMAKASIH:)


__ADS_1


__ADS_2