
Suasana mencekam itu perlahan mereda, isak tangis pilu sudah tergantikan dengan napas teratur. Merasa tubuh kekar itu mulai tenang perlahan Tasya melepaskan pelukannya, beralih menangkup wajah suaminya menghapus jejak air mata yang membasahi wajah tampan itu.
Senyuman manis terukir indah dibibirnya, seakan menguatkan Raiden yang terlihat rapuh.
"Om mandi dulu biar segar, jelek banget tau. Mana gak mandi semalam," cibir Tasya, seakan mengalihkan perhatian suaminya.
"Mandiin."
"Yaudah ayo,"
Sontak wajah Raiden berseri-seri, pupil eyes nya mengembang bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman manis.
"Ayo,"
Ck, ternyata masih kambuh. Batin Tasya.
Biasanya saat rekaman masa lalu itu muncul, Raiden akan di kendalikan alam bawah sadarnya. Itu sudah sering terjadi, makanya mertuanya berat melepaskan mereka berdua tinggal berdua.
Malah ini lebih menyakitkan dari Zara, lebih parah lagi.
Dengan berat hati Tasya bangkit dari tempatnya, mengikuti langkah kaki suaminya masuk kedalam kamar mandi. Semoga saja Raiden langsung sadar, takutnya alam bawah sadarnya melakukan hal yang tidak-tidak.
"Mandiin,"
Tasya hanya mengangguk kan kepala, membantu suaminya melepas ikat pinggang hingga celana panjangnya.
Tepat air shower menyala, tubuh kekar itu langsung sadar. Menatapnya aneh seakan menganggap Tasya pelaku pelecehan s*ksual anak di bawah umur.
"Ck, apaan sih? gak usah gitu ngeliatnya, bikin kesal aja."
"Ngapain kamu di sini?"
"Mau perkosa om,"
Terdengar helaan napas panjang, wajah linglung itu masih kentara di wajahnya. Tasya tidak tega meninggalkannya sendiri, takutnya trauma nya kambuh kembali.
"Katanya mau di mandiin, malah melamun."
Sontak manik Raiden melotot, menatap wajah cantik itu yang terlihat fokus membantunya tanpa merasa malu sedikitpun.
"Saya bisa sendiri,"
Tasya mencibir, jemarinya terus bergerak menyelusuri tubuh kekar itu. Mulai dari rambut hingga ujung kaki.
"Ck, kamu ngapain masih di sini?"
"Diam, bising banget mulai dari tadi."
Siempunya memilih diam, mengikuti jemari lentik itu bergerak menyelusuri tubuh kekarnya. Sentuhannya lembut, sesekali terasa cubitan kecil.
__ADS_1
"Nyusahin banget jadi orangtua, besok-besok om cari baby sister sekalian. Biar dapat bonus plus-plus,"
Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, menarik tubuh ramping itu mendekat dan menyalakan air shower kembali. Sekejap air mengalir, terlihat wajah cantik itu syok dan berusaha mematikan air.
"Astaga om, Tasya jadi basah."
"Katanya mau di mandiin,"
"OM-OM MESUM, GAK TAU DIRI!"
Raiden berusaha melepaskan seragam putih yang menutupi tubuh ramping itu. Karena hingga detik ini Tasya masih mengunakan seragam putih abu-abu nya. Semalam tidak sempat, karena kejadian tiba-tiba itu.
"Jauh-jauh sana, gak tau diri banget. Udah dibantuin juga,"
"Ucapan terimakasih,"
"Gak mau,"
Sekali hentakan lengan kekar itu terlepas, Tasya memilih menjauh dengan tatapan tajam dan napas yang memburu.
"OM-OM MESUM,"
Tanpa merasa berdosa nya Raiden malah tertawa terbahak-bahak, melanjutkan aksi mandi nya sesekali melirik kearah gadisnya yang masih setia menatapnya tajam.
Semakin hari sisi lemahnya semakin terlihat, hal yang paling memalukan seumur hidup Raiden. Dari masa lalu hingga sekarang, ia belum pantas dikatakan pria pemberani. Entah kapan semuanya berubah.
_______________
"Lex,"
Siempunya hanya terkekeh, merentangkan kedua tangannya di sambut Tasya dengan antusias.
"Lebih seraman semalam," bisik nya tepat di telinga Alex, seraya memeluk tubuh sahabatnya.
"Lo jaga dia baik-baik, takutnya dia hilang kendali. Kemampuan dia udah di luar batas, takutnya ada yang ngambil dia dari kita."
Alex hanya mengangguk kan kepala, mengelus lembut punggung sahabatnya tanpa memperdulikan dua pasang mata yang menatap tajam kearah mereka berdua.
"Ck, bocil."
Raiden melepas paksa pelukan haram itu, menyembunyikan gadisnya di belakang punggungnya seraya mengobarkan tatapan perperangan kearah Alex.
Sekejap suasana mencekam, dengan cepat Tasya menarik tubuh kekar itu duduk di sampingnya. Tanpa tau malunya mengupil dihadapan kedua sahabatnya. Kebiasaan jorok Tasya yang paling Zara dan Alex benci.
"Jorok banget sih, jauh-jauh sana. Anak gadis tapi gak ada akhlak," keluh Alex saking jijik nya.
Siempunya malah tertawa kecil, memperbaiki posisi duduknya sebelum pria tampan disampingnya tau kebiasaan jorok nya. Jaga image.
"Jadi?" tanya Tasya membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Melayat, perwakilan dari IPS 1." sahut Alex.
"Yaudah ayo, masih aja santai kayak di pantai."
"Gak boleh," bantah Raiden. Menghentikan pergerakan tiga sekawan itu.
"Kamu gak boleh kemana-mana!"
"Ck, kita cuman melayat om. Bukan liburan,"
"Tetap gak boleh,"
"Bilang aja mau ikut," sewot Tasya, menarik lengan kekar itu keluar dari rumah tanpa memperdulikan penampilan suaminya.
Lagian orang tampan selalu di segani, memakai baju apapun asal muka tampan. Tidak apa-apa melayat mengunakan celana training dan kaos oblong, asal pria ini tidak ribut.
"Ck,"
Sebenarnya Raiden malas keluar rumah, apalagi saat ini moodnya hancur berantakan. Bisa-bisanya bocah ingusan itu memeluk istrinya di depan matanya sendiri. Astaga Raiden tidak habis pikir.
Selama perjalanan hening, sesekali terdengar bisikan dari jok belakang Zara dan Alex berbicara serius dengan nada pelan. Tapi sayangnya Raiden bisa dengar semua percakapan mereka, mencerna baik-baik dan menghela napas panjang.
"Om ikut atau di mobil aja?" tanya Tasya, tepat mobil terparkir di depan rumah sederhana yang terlihat ramai.
"Saya tunggu di luar,"
Tasya hanya mengangguk kan kepala, melepas sabuk pengamannya seraya menoleh kebelakang. Tepat pintu jok belakang tertutup, jemarinya langsung melayang di udara mendarat di atas kepala Raiden dan menepuk pelan kepala suaminya.
Siempunya hanya menaikkan alis, dibalas dengan gelengan kepala.
"Om jangan kabur,"
"Ck, bocil."
Tasya hanya tertawa kecil, berlalu keluar dari mobil meninggalkan Raiden sendiri dengan tatapan tidak lepas dari punggung gadisnya.
"Dimana Lo?"
"Apaan?"
"Ambil alih gedung belakang sekolah SMA GALAXY, perketat keamanan."
________________
TERIMAKASIH;)
Selagi saya mampu, akan saya usahakan.
__ADS_1