
Tepat pintu terbuka, Raiden dan Tasya langsung disambut pemandangan yang tidak mengenakan mata. Tercengang ditempat beberapa saat, menatap ketiga manusia yang duduk di sofa ruang tamu secara bergantian.
Tasya yang semula bergelanyut manja dipunggung suaminya langsung turun melompat. Melangkah lebar kearah sofa, seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Lo apain mereka berdua?" tanya Tasya kearah Zara. Sembari meringis sendiri, melihat lebam diwajah Alex dan Rudi.
"Mereka duluan, yaudah gue balas," jawab Zara dengan santainya. Menatap layar televisi dengan melipat kedua tangan didepan dada, tanpa memperdulikan ringisan yang keluar dari mulut kedua manusia yang duduk disampingnya.
Dia dan Tasya memang hampir sama dalam bidang bela diri, melawan manusia seperti mereka hal kecil untuk mereka berdua.
"Ck, lemah. Gitu aja nangis," ejek Tasya.
Raiden yang berdiri di belakang istrinya hanya mengulum senyum, tidak habis pikir dengan tingkah manusia yang ada dihadapannya.
Tidak Rudi, kedua sahabat istrinya juga sama, sama-sama manusia aneh.
"Tambahin Za, biar mampus sekalian." Tasya tertawa terbahak-bahak, duduk di sofa single tanpa melepaskan pandangan dari Alex dan Rudi.
"Gimana om, sakit gak?" tanya Tasya jahil.
"Masih nanya," jawab Rudi ketus. Mengopres lebam dan luka diwajahnya mengunakan es batu. Sesekali meringgis sakit saat es batu itu menyentuh kulitnya.
Entah darimana kemampuan perempuan yang satu itu, bisa-bisanya mengalahkan dua pria dalam sekejap mata. Bahkan tidak terluka sama sekali.
"Makanya kalo cari lawan harus yang seimbang, jangan nantangin Zara. Apalagi aku."
Sontak Raiden memukul kecil jidat istrinya, menarik tubuh ramping itu bangkit dari tempatnya. Mendorong kecil ke arah meja makan.
Kebetulan mereka berdua langsung pulang dari rumah sakit, mood nyonya Dirgantara sudah hancur karena ulahnya sendiri. Jadi mereka memutuskan pulang dan makan di rumah saja.
"Makan!" tekan Raiden.
Terdengar decakan kecil, terpaksa Tasya makan walau perut dan mulutnya terasa menolak.
"Za, obati dong," pinta Alex. Sesekali meringgis sekedar mencari perhatian perempuan yang duduk disampingnya, walau tetap saja hasilnya sama. Zara seakan tuli dan tidak mau mengobati luka lebam diwajahnya.
Padahal perempuan itu sendiri akibat luka diwajahnya.
"Obati sendiri!" tolak Zara mentah-mentah.
"Za, masa Lo tega sama calon suami sendiri."
"Masih calon suami udah belagu, bocil," sindir Rudi.
"Masih enak om calon bini, om sendiri gak punya calon bini gak punya gebetan malah," sindir Alex balik.
"Sok tau,"
"Memang benar, bilang aja om–"
"DIAM!" sentak Zara mengema seisi rumah, tak habis pikir dengan tingkah kedua manusia yang duduk disampingnya.
Sudah diberi pelajaran, masih berani-beraninya membuka mulut yang Zara yakini berujung adu tojos lagi.
__ADS_1
"SEKALI LAGI ADA YANG BERANTAM, MAMPUS LO BERDUA!" sambung Zara lagi.
Alex dan Rudi langsung serempak bangkit dari tempatnya, pindah ke sofa yang lain guna menjauh dari Zara.
"Gue sayang sama Lo Za tapi kali ini, kita cerai dulu," ucap Alex memainkan drama.
Mendengar ucapan pria disampingnya Rudi memilih diam setengah mati, walau tangan dan mulutnya sudah tidak tahan lagi melayang di udara mendarat di wajah Alex.
Raiden yang sempat melihat pemandangan diruang tamu hanya mengelengkan kepala, menaiki tangga satu persatu diikuti Tasya dari belakang.
Berlalu masuk kedalam kamar mandi, berdiri dibawah air shower yang menyala langsung membasahi seluruh tubuhnya. Hanya membutuhkan waktu yang singkat, Raiden sudah selesai dengan ritual mandinya.
Keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dipinggangnya, bertepatan Tasya turun dari ranjang dengan boneka ulat bulu melilit dilehernya.
"Mau kemana?" tanya Raiden lembut.
Menaikkan sebelah alisnya, seraya menatap penampilan istrinya dari bawah sampai atas.
Entah mengapa saat memakai piyama tidur kebesaran dan bergambar unicorn seperti itu istrinya terlihat lucu. Ingin rasanya mengurung Tasya seharian didalam kamar saja.
"Tidur," jawab Tasya seadanya.
"Jadi kenapa bawa perlengkapan segala?"
"Oh, aku mau tidur dikamar sebelah sama Zara."
Raiden tercengang, melongo tidak percaya dengan ucapan istrinya. Baru saja ia membayangkan mengurung Tasya didalam kamar seharian tapi bisa-bisanya istrinya pindah ke kamar sebelah tanpa mengajaknya.
"Gak, boleh," larang Raiden mentah-mentah.
"Ck, kita mau belajar. Om tidur sendiri aja malam ini,"
"Aku bilang gak, tetap gak boleh."
"Yaudah, aku ajak Zara tidur di sini aja. Tidur ditengah-tengah, biar om gak bisa macam-macam!"
"Yah, gak boleh gitu dong." Raiden melepas handuk yang melilit pinggangnya, menyisahkan boxer hitam.
"Jadi mau om gimana sih? ini salah, itu juga salah," sergah Tasya.
Kalo begini ceritanya Raiden harus mengalah. Bukannya apa-apa, tidur dengan istrinya mimpi buruk yang selalu menghantui hilang entah kemana. Tergantikan rasa nyaman dan aman.
Entah apa yang Tasya makan, bisa membantunya menghilangkan trauma s*alan itu sedikit demi sedikit. Namun Raiden ragu mengatakan keinginannya.
"Yaudah, tidur jangan kemalaman. Gak usah dipaksa belajar, masih ada hari esok," peringat Raiden.
Spontan wajah cantik itu berubah drastis, dengan girang melangkah mendekat kearahnya. Berjinjit sedikit upaya mensejajarkan tinggi mereka berdua dan mengecup sekilas bibir tebal itu.
"Makasih om."
Raiden hanya mengangguk, menatap tubuh ramping itu berlalu keluar dari kamar dengan bibir terangkat membentuk sebuah senyuman manis.
"AZARA BUDIMAN YUHUI! NAIK KEATAS KUY!" teriak Tasya mengema seisi rumah.
__ADS_1
Menarik perhatian ketiga manusia yang duduk diatas sofa.
"Ck, sekarang malah cosplay jadi monyet," ucap Rudi tak habis pikir.
"Malah kadang jadi singa om, ular, ayam, sapi, jerapah, setan malah," sahut Alex menanggapi ucapan Rudi.
"Untung istri orang,"
"Emang kenapa om kalo istri orang?" tanya Alex bingung.
"Yah gue nikahi, apa lagi?"
Sontak Alex bangkit dari tempatnya, berdiri tak jauh dari Rudi dengan senyuman jahil terbit dibibirnya.
Waktunya balas dendam.
"OM RAIDEN! SI TUA B*NGKA CALON PELAKOR!" teriak Alex heboh.
Zara yang mendengar itu mendengus kesal, membuka sandal jepit nya dan membungkam mulut Alex mengunakan benda itu.
"B*nci," cibir Zara.
Sontak Rudi dan Tasya tertawa terbahak-bahak setengah mati. Bahkan Raiden yang sudah berdiri dibelakang istrinya ikut tertawa kecil. Entah mengapa tingkah ketiga manusia itu semakin menjadi-jadi.
Untung sandal jepit itu bersih, karena itu milik Tasya. Pemilik rumah pencinta kebersihan.
"Sayang, tidur gih! Udah malam," ucap Raiden tepat tawa Tasya reda.
"Bentar–"
"Buruan sebelum aku berubah pikiran!"
"Iya-iya,"
Tasya melangkah masuk kekamar sebelah diikuti Zara dari belakang. Dengan tawa yang kembali pecah.
Dengan berat hati Raiden turun kebawah, ikut bergabung dengan kedua manusia itu. Yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Tidur sendiri bro?" tanya Rudi.
Tertawa terbahak-bahak dengan Alex, terhibur melihat wajah kesal Raiden.
"Kayaknya bakalan ada yang tersiksa malam ini," ucap Rudi semakin gencar menggoda sahabatnya.
"Tidur sendiri, peluk diri sendiri. Kayak om Rudi," sindir Alex.
"Lah, kenapa jadi gue? sebenarnya Lo dipihak siapa sih bocil?"
"Om mau kita diusir dari sini?" elak Alex serius.
________________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1