
Hidup tak semua tentang aku dan kamu. Akan ada pengganggu ketenangan dan tamu tidak tahu diri.
Raiden pikir kedua manusia penganggu itu pulang ke rumah masing-masing, nyatanya menginap dirumah tanpa sepengetahuannya.
Kebetulan dia dan istrinya ketiduran hingga pagi, jadi mereka tidak tahu apa yang terjadi dibawah. Terutama pemandangan ini.
Ruang tamu yang biasanya rapi, kini berantakan. Kedua manusia penganggu itu tidur di atas sofa tanpa beban sedikitpun.
Botol alkohol dan camilan berserakan dimana-mana, tv menyala yang Raiden yakini itu menyala dari semalam. Jika istrinya tahu hal ini, habis sudah riwayat kedua manusia ini.
"Ck." Raiden hanya berdecak kecil, berlalu kedapur tanpa berniat membangunkan kedua manusia itu. Biar saja istrinya yang turun tangan, biar lebih seru.
Lebih baik ia memasak, tentunya untuk sarapan dan bekal makan siang istri kecilnya.
Mpok Atiek yang awalnya sibuk membersihkan dapur, menoleh kearah decitan sandal yang mendekat. Ternyata Raiden dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun, kebiasaan pria itu setiap hari.
"Selamat pagi Den, perlu bantuan?" tanya Mpok Atiek lembut.
Siempunya hanya mengeleng, melangkah kearah kulkas dan memilih bahan makanan menu untuk hari ini. Mpok Atiek sudah biasa diperlakukan seperti itu, jadi tidak diherankan lagi.
Tepat jemari Raiden meraih telur, teriakan dari ruang tamu terdengar melengking memenuhi rumah. Pertanda istrinya sudah bangun.
"ASTAGA, KANDANG AYAM DARIMANA INI? WOI!" Tasya histeris.
Membangunkan dua manusia yang tidur diatas sofa. Gegalapan bangkit dari tempatnya, duduk di sofa dengan nyawa yang belum terkumpul.
"INI KENAPA JOROK BEGINI? KALIAN PIKIR BERSIHIN RUMAH ITU GAMPANG? BERSIHIN!"
Hening, tidak ada sahutan. Rudi dan Alex setia duduk ditempat, dengan memejamkan mata.
Mereka berdua begadang semalaman, jarang-jarang Rudi mendapatkan teman yang bisa diajak kompromi menonton pertandingan sepak bola. Jadi mereka begadang hingga pagi, hanya menonton itu saja.
"BURUAN!" desak Tasya.
Terpaksa mereka berdua bangkit dari tempatnya, merapikan ruang tamu yang sudah terlihat seperti kandang ayam sesuai ucapan Tasya.
"BESOK-BESOK TAHU DIRI KALO NUMPANG DI RUMAH ORANG."
"Iya-iya," sahut Rudi ogah-ogahan.
"NGEJAWAB LAGI! DIBILANGIN JUGA. MAKANYA CARI ISTRI OM,"
"Gak ada yang mau," jawab Alex bukan Rudi.
"Sok tau Lo bocil," sergah Rudi. Melempar bantal sofa kearah Alex.
"Memang benar, kalo ada yang mau gak mungkin om masih jomblo sampai sekarang," ucap Alex tanpa beban.
"Siapa bilang? gue udah punya calon bini,"
"Garis bawahi, calon bini. Bisa aja yang lain keduluan kalo om gak maju-maju."
"Sok tau Lo."
"Gak percaya, lihat aja kedepannya."
"Ngedoain yang gak benar Lo sama gue?"
Dengan santainya Alex mengangguk, detik berikutnya bantal sofa melayang kearahnya. Tepat pada sasaran.
__ADS_1
"Mati aja Lo!" geram Rudi.
Tasya hanya menghela napas panjang, berlalu menjauh kearah dapur. Kesal melihat tingkah kedua manusia dihadapanya.
Mpok Atiek yang mendengar teriakkan itu hanya tertawa kecil, meraih sapu dari sudut dapur dan melangkah kearah ruang tamu.
"Bikin kesal aja, gak tau apa bersihin rumah segede ini susah," gerutu Tasya. Berdiri di pintu dapur, menatap punggung kekar suaminya yang terlihat sibuk dengan urusan dapur seperti biasanya. Pemandangan indah yang membuat emosinya hilang sekejap.
Ide cemerlang langsung muncul di benaknya, dengan pergerakan sepelan mungkin melangkah mendekat kearah suaminya hendak memeluk tubuh kekar itu dari belakang.
"Mau ngapain?" Suara bariton khas suaminya terdengar, mengehentikan aksinya. Namun detik berikutnya, kedua lengannya sudah melilit dipinggang suaminya.
"Om, masak apa?" kilah Tasya.
"Mau ngapain?" ulang Raiden lagi.
"Cuman peluk doang, galak banget ih. Sama istri sendiri juga."
"Mandi gih!"
"Bentar. Om, kerja?"
"Hm, mungkin pulang agak malam. Pulang sekolah langsung pulang, jangan kemana-mana! Nanti supir yang jemput,"
"Iya, om suami."
Raiden hanya mengangguk, fokusnya hanya kearah kegiatannya. Tanpa memperdulikan tingkah istrinya.
"Om, udah mandi?" tanya Tasya. Seraya mengendus-endus tubuh kekar itu, yang terasa memabukkan.
"Mau mandi bareng?" tanya Raiden balik.
"Jadi?"
"Wangi,"
"Padahal aku belum mandi. Itu juga masih bau keringat kamu yang semalam."
"Ngomong apaan sih?" Wajah Tasya sudah memerah sempurna. Kegiatan mereka semalam kembali terlintas. Padahal Tasya sudah mati-matian melupakan itu semua.
"Gak percaya? coba cium yang didalam, pasti baunya–"
"Mesum," sela Tasya memotong ucapan suaminya.
Sontak Raiden tertawa kecil, gerakan kilat membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir istrinya yang terlihat bengkak karena ulahnya.
"Mandi gih!"
Tasya hanya diam mematung di tempat, entah setan apa yang merasuki suaminya. Tumben-tumbenan bersikap romantis seperti ini.
"Sayang, jangan melamun. Mandi sana! Kalo aku mandiin, takutnya kamu gak bisa jalan satu Minggu."
"Boleh," jawab Tasya asal.
"Jangan mancing, nanti kamu nyesel. Semalam aja nangis," ejek Raiden.
Kebetulan semalam Raiden kembali melanjutkan aksinya, karena ulah istrinya sendiri.
Tasya menunda aksi tidurnya dan malah mengodanya tanpa tahu akibat dari ulahnya. Terpaksa Raiden menggempurnya kembali, hingga siempunya merengek karena kecapean.
__ADS_1
Padahal salah dia sendiri, membangunkan singa jantan yang sedang kasmaran.
"Mesum-mesum, dasar om-om."
Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, berusaha menghindari cubitan istrinya membuat siempunya semakin kesal.
"Om, nakal. Katanya cinta," rengek Tasya.
"Cinta yah memang cinta tapi kalo kamunya m*ntok, aku mana bisa nolak," goda Raiden.
"Ih, om jangan ngomong yang aneh-aneh."
"Kenapa? mau coba di dapur?"
"OM RAIDEN!"
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Jangan ngomong mesum, Tasya gak suka."
"Iya-iya, kita mesum di kamar aja."
"Om,"
"Iya-iya, mukanya jangan digituin. Jadi pengen makan,"
"Dasar."
Raiden hanya tertawa kecil. Kembali melanjutkan kegiatannya, tanpa memperdulikan Tasya yang kembali memeluknya dari belakang.
Tanpa mereka sadari, enam pasang mata melihat semua tingkah mereka berdua dari kejauhan. Dengan senyuman mengembang dibibir masing-masing.
__________________
Seperti biasa Raiden akan mengantar istrinya ke sekolah dan memastikannya selamat sampai tujuan.
Tepat Tasya keluar dari mobil, seseorang yang berdiri di depan gerbang langsung menarik perhatiannya. Tanpa memperdulikan ucapan suaminya, Tasya langsung menutup pintu mobil. Dengan langkah lebar mendekat kearah perempuan itu dan berhambur memeluknnya.
"Kangen," lirih Tasya. Tanpa memperdulikan tatapan mata yang tertuju kearah mereka berdua.
"Gue juga kangen banget sama Lo. Maafin gue Sya,"
"Ngomong apa sih? minta maaf mulu," sergah Tasya. Melepaskan pelukannya dan menarik Zara memasuki pekarangan sekolah.
"Alex mana?"
"Di rumah, kepalanya masih pusing. Mana begadang lagi semalam tapi Lo tenang aja. Suami Lo aman di rumah."
"Dia bukan suami gue," sanggah Zara tidak terima dengan ucapan Tasya.
"Sama aja, btw Lo makin cantik aja. Bisa-bisa Alex makin cinta sama Lo."
Zara hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya, setia mengikuti langkah kaki Tasya kemana pun wanita itu menariknya.
"Lima belas menit lagi bel, kita kekantin aja. Banyak hal yang ingin gue tanyain,"
"Boleh." Zara mengangguk, menyetujui ucapan sahabatnya.
________________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)