MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
TIGA PULUH LIMA


__ADS_3

Mereka berdua sama-sama bungkam, sesekali melirik tajam satu sama lain dan berdecak kecil. Raiden yang mulai bosan, akhirnya mengalah. Mengecup singkat pelipis gadisnya, lalu bangkit dari tempatnya.


"Om bau rokok."


"Kenapa emangnya?"


"Tasya gak suka, bau."


"Yaudah aku mandi dulu biar gak bau."


Tasya hanya mengangguk kan kepala, menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya dengan senyuman mengembang.


Kedua kakinya melilit dipinggang Raiden, sesekali mengecup rahang tegas itu.


"Turun!"


"Yah,"


"Jangan bandel!"


"Mau di gendong,"


"Berat, dosa kamu terlalu banyak."


Siempunya mendengus kesal, dengan berat hati turun dari gendongan suaminya. Naik keatas ranjang, bersembunyi dibalik selimut hitam itu.


"Ck, mandi dulu sana. Nanti banyak kuman,"


"MALAS."


Raiden hanya mengelengkan kepala, melepas kancing kemejanya satu persatu, berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Tubuhnya gerah, hanya karena sentuhan sekecil itu. Entah sampai kapan Raiden tahan, apalagi mereka berdua tidur diatas ranjang yang sama setiap malam.


Tapi perkataan Mpok Atiek tergiang-giang dikepalanya, membuat Raiden ragu melanjutkan aksinya.


"Tapi home schooling juga bisa, jadi ngapain nunggu sampai lulus?" gumam Raiden final.


Pikirannya hanya dihantui itu saja setiap hari, baru kali ini tubuhnya bergairah melakukan hal lebih dari sekedar tidur dan berpelukan. Apalagi tubuh ramping itu seakan menantangnya, tatapan manik biru itu menghanyutkan seakan mengodanya melakukan hal yang tidak-tidak.


Ragu dan bimbang, tapi tubuhnya tidak bisa diajak kompromi lagi.


Bertepatan Raiden keluar dari kamar mandi, tepat tubuh ramping itu masuk kedalam kamar. Dengan piyama tidur bergambar Doraemon, yang terlihat kebesaran ditubuh rampingnya.


Rambut panjangnya di ikat asal, dengan boneka ulat berwarna hijau dililitkan di lehernya seperti biasa.

__ADS_1


"Hati-hati om, nanti kesurupan," ucap Tasya. Menatap tubuh kekar itu yang terlihat diam mematung di depan pintu kamar mandi.


Spontan siempunya melanjutkan langkahnya kembali, berlalu masuk kedalam walk closet dengan pikiran yang semakin berantakan.


"Aneh, kayaknya ada setan yang ngintip om suami mandi. Makin lama, setan makin ngelunjak. Gak tau diri," oceh Tasya kesal.


Kejadian tadi siang masih membekas sempurna di benaknya, apalagi tubuhnya terasa berat kehabisan tenaga. Padahal tidak melakukan apa-apa.


"Mpok Atiek di dapur?" tanya Raiden menyadarkan lamunan gadisnya.


"Gak tau om, Tasya cuman ke kamar sebelah."


Ranjang bergerak, bersahutan tubuh kekar itu berbaring disampingnya. Menatapnya lekat, seraya menyingkirkan helai rambut yang menutupi area leher istrinya.


"Bekas cakaran, kok bisa?" tanya Raiden bingung.


"Gara-gara setan om,"


Terdengar decakan kecil, elusan lembut menyapa area leher nya. Sesekali bibir tebal itu mengecup lembut, seakan menganggap nya benda yang mudah hancur.


Tau begini, SMA GALAXY sudah hancur sedari tadi. Bisa-bisanya ada yang berani menyentuh miliknya, bahkan melukai nya.


"Buka!" perintah Raiden dingin, sembari menarik-narik ujung piyama tidur gadisnya.


Siempunya hanya menurut, melepas piyama tidurnya menyisahkan b*a hitam dan celana piyama tidurnya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Raiden bangkit dari tempatnya, meraih kotak p3k dari bawah ranjang.


"Sakit?" tanya Raiden lembut, menarik tubuh ramping itu mendekat dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Cakarannya gak sakit banget sih om, tapi leher Tasya jadi sulit digerakin." jelas Tasya seadanya.


Setan menyedihkan itu seakan menggila, melilit lehernya hingga terasa tembus ke seluruh nadi tubuhnya. Apalagi saat dilempar membentur lantai lapangan basket, menambah lebam ditubuh nya.


Banyak warna kebiruan hampir di seluruh tubuhnya, entah apa yang setan itu lakukan. Hingga berkeinginan membunuhnya.


Hanya demi sahabat Tasya rela melakukan apapun, tapi sayangnya sahabatnya tidak mengingatnya sedikitpun.


Bahkan hingga detik ini, tidak ada satu pun pesan yang masuk. Zara dan Alex seakan melupakannya. Benar-benar melupakannya.


"Gak usah di pikirin, mulai besok jauhi teman-teman kamu. Saya gak suka,"


ucap Raiden seakan tau isi pikirannya.


Tasya memilih diam, tanpa berniat menjawab ucapan suaminya.

__ADS_1


"Kamu tau, manusia itu egois. Hanya memikirkan kepentingan pribadi, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Gak semua orang baik, gak semua orang jahat. Tapi egois juga penting sayang," ucap Raiden lembut.


"Maksudnya om?"


"Sahabat juga bisa membunuh diam-diam,"


"Asal jangan om yang bunuh Tasya diam-diam."


Sontak Raiden tertawa kecil, mengobati area leher istrinya dengan wajah serius tanpa memperdulikan tingkah siempunya.


"Om cinta gak sama Tasya?"


"Cinta gak harus di ucapkan dengan kata-kata. Karena mulut sama hati, gak pernah sejalan."


"Jadi?"


"Apanya?"


"Om gak cinta sama Tasya?"


"Gak tau, kurang m*ntok soalnya."


"Mesum."


"Bercanda,"


"Bohong,"


"Memang."


Sontak Tasya melototkan matanya, mengigit leher suaminya bertepatan didepan matanya. Ringisan kecil terdengar dari bibir siempunya, walau tetap saja Raiden melanjutkan kegiatannya.


"Biar impas,"


"Dasar bocil."


"Tasya udah dewasa tau om,"


"Coba gerak!" tantang Raiden lagi.


Diluar dugaan, tubuh ramping itu benar-benar bergerak. Memeluk erat lehernya, sesekali mencium telinganya.


Di sela-sela aksinya siempunya tersenyum jahat, membangkitkan gairah suaminya hingga tubuh kekar itu merespon. Mencengkeram pinggang nya, manik cokelat nya kian terpejam.


"Gimana om?" bisik Tasya tepat ditelinga suaminya, sekalian melihat sampai dimana pertahanan siempunya.

__ADS_1


______________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2