
Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, menanggapi umpatan suaminya. Jarang-jarang pria yang satu ini mengumpat, biasanya hanya meneriaki namanya saja.
"Orangtua di larang mengumpat om, katanya malaikat kegelapan yang jemput. Itu juga pas mandi, paling parahnya lagi waktu om pakai sabun. Jadi om di bawa ke neraka sambil bersabun, t*lanjang lagi."
Siempunya hanya menghela napas panjang, seraya mengelus dada. Bisa-bisanya istri sendiri mendoakan yang tidak-tidak. Untung di bawah umur.
"Jadi mulai besok, om banyak-banyakin berdoa biar masuk surga. Sekalian doain Tasya, biar dapat duda beranak satu ujung kompleks."
"TASYA!"
Wajah Raiden memerah sempurna, bahkan kedua telinganya ikut memerah. Layaknya benteng dengan tanduk yang siap menerkam mangsanya.
Tapi sayangnya siempunya tetap kekeh, melanjutkan pembicaraannya yang tidak ada faedahnya. Yang ada membuat Raiden kesal setengah mati.
"Bilang sama Tuhan, Tasya pengen duda beranak satu cuman itu aja. Doa om pasti terkabulkan, soalnya dosa om dikit, walau beda tipis sih sama Tasya."
Tasya terlalu sibuk berbicara, tanpa menyadari singa jantan di sampingnya bangkit dari tempatnya. Melepas kaosnya dan dilempar asal ke sembarang arah.
Tapi detik berikutnya mangsa nya menyadari kemarahannya, dengan gerakan kilat bangkit dari tempatnya melangkah menjauh dari jangkauannya.
"Ngapain sih om?"
Tasya tertawa kecil, sembari melipat kedua tangan tanpa merasa berdosa sedikitpun.
Tapi kali ini Raiden benar-benar marah, tatapannya tajam seakan siap menerkam nya.
"Ck, kesurupan lagi."
Tasya memilih diam di tempat, melihat tindakan Raiden selanjutnya. Sedikit demi sedikit tubuh kekar itu melangkah mendekat, detik berikutnya mengangkat tubuhnya dan di banting ke atas ranjang.
"NGAPAIN SIH OM?" teriak Tasya, detik ini juga menyesal dengan keputusannya.
Raiden menimpa tubuhnya, dengan seringai licik di wajahnya. Entah apa yang dia rencanakan, tapi kali ini Tasya benar-benar dalam bahaya.
"OM, BERAT WOI!"
Tasya berusaha memberontak, bahkan tidak segan-segan menjambak rambut suaminya tanpa memperdulikan ringisan kecil dari mulut siempunya.
Lagian wajahnya menyeramkan, layaknya om-om mesum seakan siap melahapnya. Padahal Tasya bukan ikan, melainkan anak setan.
"Astaga, rambut saya bisa rontok."
"Biarin, lagian ada shampo om. Katanya menghindari rambut rontok," jelas Tasya tanpa beban, sesekali tertawa terbahak-bahak.
Raiden meraih lengan gadisnya, walau tetap saja hasilnya sama. Yang ada punggungnya yang jadi sasaran, mungkin sebentar lagi patah tulang saking sakitnya. Raiden lupa, anak yang satu ini beda dari yang lain. Sesuai pengakuan siempunya, Tasya benar-benar anak setan.
__ADS_1
Pukulannya melebihi kapasitas kemampuan wanita pada umumnya, pantasan saja pria waktu itu pingsan sekejap. Pukulan Tasya memang sakit, malah lebih dari kata sakit.
"Lepasin tangannya, rambut saya bisa habis kalo kamu jambak terus."
"Biarin, lagian om mesum banget jadi orangtua. Udah tua juga,"
"Lah, orang kamu istri saya. Terserah saya dong ngapain."
"Yah gak boleh,"
Sesekali terdengar ringisan, hingga sekali tarikan pergerakannya terkunci. Senyuman jahat semakin terlihat di wajah tampan itu, malam pertama yang tertunda akan terjadi. Tapi itu tidak bisa di biarkan, Tasya benar-benar datang bulan hari ini.
"Ck, ngapain sih om?"
"Takut?" tanya Raiden balik.
"Biasa aja, tapi muka om jangan digituin. Jelek banget sumpah,"
Spontan wajah Raiden datar dalam sekejap, walau tetap saja tatapan matanya berbeda.
Menyadari hal itu Tasya malah tertawa terbahak-bahak, bukannya takut melihat kekesalannya.
"Om imut, kayak boneka b*bi."
"Ulangi!"
"Memang,"
"Dih, kepedean."
Terdengar helaan napas panjang, Raiden kembali terhipnotis dengan manik biru itu, rasanya tenang tapi menghanyutkan.
Tanpa sadar wajah mereka tersisa beberapa centi, bibir pink itu akan menjadi miliknya sebentar lagi. Tapi sayang semua tak seindah yang dibayangkan, tepat Raiden memejamkan mata terdengar dering ponsel. Detik berikutnya tubuhnya di dorong menjauh.
Br*ngsek, gagal lagi. Batin Raiden.
Dengan perasaan dongkol, Raiden memilih duduk di tepi ranjang menatap punggung gadisnya yang tidak jauh dari tempatnya.
Entah siapa yang berbicara di sebrang telepon, terlihat Tasya serius sesekali menganggukan kepala.
"Om,"
"Hm,"
"Tasya izin keluar bentar, ada aja janji sama papa. Tasya lupa," elak Tasya.
__ADS_1
Raiden tidak perlu tau masalah yang satu ini, rasanya memalukan pria yang satu ini tau kehidupannya yang sebenarnya. Cukup perilaku yang selama ini ia tunjukkan di depan Raiden yang pria ini kenal, sisi yang lain tidak.
"Mau kemana? jangan bohong sama saya,"
"Gak, Tasya gak bohong kok om. Tasya izin,"
Raiden hanya mengangguk kan kepala, menatap punggung gadisnya berlalu keluar dari kamar.
Tepat pintu tertutup, terdengar helaan napas panjang.
_____________
Kini Tasya kembali ke posisi kehidupan yang dulu. Hidup yang mengubah dunia nya, terutama kepribadiannya. Rumah orangtuanya, sekaligus neraka ke dua.
Rumah orangtua seharusnya tempat berlindung, jika salah satu anak sudah resmi menjadi istri atau pun suami orang. Tapi rumah Tasya berbeda. Rumah ini neraka.
Setiap manusia selalu menginginkan kehidupan yang tenang, bahagia, damai, dan keluarga harmonis. Tapi entah mengapa, kedua orangtuanya tidak tau yang namanya kehidupan harmonis.
18 tahun hidup di dunia, kata-kata yang selama ini Tasya hindari akhirnya terucapkan.
"Papa sama mama bakalan cerai," ucap Wesley papa Tasya.
'Ya Tuhan, salah Tasya apa? gak ada rencana gitu buka hati mereka berdua, Tasya manusia bukan hewan peliharaan. Sakit banget, Tuhan gak sayang sama Tasya yah?' batin Tasya.
Mungkin ini saatnya, daripada mereka berdua selalu adu mulut tidak jelas. Lebih baik Tasya menyerah dengan keadaan.
"Kalo menurut papa sama mama itu baik, yah gak papa. Tasya oke-oke aja," jawab Tasya dengan tenang.
Kedua tangannya terkepal kuat, menahan pelupuk mata yang akan mengeluarkan setetes air mata.
B*adab kata yang pantas untuk kedua manusia di hadapannya. Untuk apa coba Tasya dilahirkan? jika hanya untuk dijadikan pajangan, lebih baik tidak usah di lahirkan.
Mental di hancurkan, batin tersiksa, hanya materi yang terpenuhi layaknya hewan peliharaan.
"Papa sama mama urus aja secepatnya, Tasya bakalan datang kok pengadilan. Urusan hak asuh anak, gak usah pikirin. Tasya udah punya suami." Kalo gak, Tasya bunuh diri aja. Gak guna sumpah.
"Papa urus secepatnya, masalah harta kamu tetap pewaris." ucap Wesley tanpa beban.
Mati aja Lo sumpah, gak guna. Lo pikir gue butuh uang b*ngsat? gak, gue cuman butuh kasih sayang. Batin Tasya.
"Yaudah gak papa, Tasya izin mau ke kamar Tasya ngantuk. Semalam begadang sama suami," elak Tasya.
Tanpa memperdulikan teriakan orangtunya, Tasya berlari sekencang-kencangnya. Masuk kedalam kamarnya sebelum menikah, mengunci pintu dari dalam dan air mata sialan itu keluar dengan sendirinya.
________________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)