
Kedua insan itu, masih setia bergelanyut di balik selimut. Sinar matahari langsung masuk dari celah-celah jendela, burung berkicau terdengar dari luar.
Tapi entah mengapa kedua manusia itu masih setia memejamkan mata, tanpa ada yang berniat bangkit dari tempatnya. Rasanya malas, apalagi hari ini weekend hari yang paling di tunggu-tunggu untuk bermalas-malasan seharian di atas ranjang. Terutama untuk Raiden.
Tanpa memperdulikan pertemuan penting, dan dering ponsel yang terdengar entah keberapa kalinya Raiden tetap setia memejamkan mata. Tapi saat pelukan hangat itu mengendur, spontan maniknya terbuka lebar.
Menatap wajah cantik gadisnya yang tepat didepan wajahnya, dengan wajah tenang dan napas yang teratur.
"Sya," bisiknya tepat didepan wajah cantik itu, memastikan siempunya masih tertidur atau tidak.
Merasa aman, dengan pergerakan sepelan mungkin Raiden menarik tubuh ramping itu kembali ke dalam dekapannya, mencari kenyamanan yang ia dapatkan semalaman. Tapi sayangnya pergerakan sepelan apapun itu, siempunya tetap terganggu dan terbangun dari tidurnya.
"Om,"
"Tidur!"
"Om gak kerja?"
"Gak,"
"Hp nya di matiin, bising."
Raiden hanya mengangguk kan kepala, meraba-raba nakas mencari letak ponselnya dan mematikannya tanpa berniat menerima satu panggilan pun.
Memilih memejamkan mata kembali, seraya menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua.
Napas keduanya kembali teratur, manik tertutup rapat tanpa memperdulikan hari yang sudah siang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 09:30, jam makan pagi hampir terlewat.
_______________
Pukul 11:30, manik cokelat itu baru terbuka kembali. Tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya, senang tidur nya kembali nyenyak.
Hanya Tasya alasannya, entah mengapa tidur dengan gadis yang satu ini mimpi buruk itu tidak pernah muncul. Yang ada pikiran tenang, dan tidur nyenyak.
"Sesak,"
Sontak Raiden membuka selimut, seraya melongarkan pelukannya guna menatap wajah cantik itu yang masih setia memejamkan mata.
"Bangun, udah siang," ucap Raiden, tanpa diubriks sedikit pun. Yang ada tubuh ramping itu mencari posisi tidur yang nyaman, tanpa berniat melepaskan pelukannya.
"Anak gadis bangunnya kesiangan,"
"Terserah, Tasya gak peduli."
Spontan bibir tebal itu tertarik membentuk sebuah senyuman tipis, mengacak-ngacak pucuk rambut gadisnya saking gemasnya.
"Yaudah sana, saya mau bangun."
Hanya gelengan kepala yang terlihat, tubuh ramping itu malah merapatkan tubuhnya dengan tubuh kekarnya tanpa berniat melepaskan pelukannya.
"Jadi mau nya apa?"
"Peluk,"
"Kita belum sarapan, sana!"
"Gak mau."
__ADS_1
"Bocil, sesekali nurut. Lepasin tangannya,"
"Gak,"
Terdengar decakan kecil, terpaksa Raiden mendorong tubuh ramping itu walau tetap saja hasilnya sama. Yang ada kaki ramping itu melilit dipinggangnya, kedua lengannya memeluk erat tubuh kekarnya.
"Ck, jangan macam-macam."
"Cuman satu macam kok om, cuman peluk doang."
Raiden hanya bisa menghela napas panjang, berusaha mendorong tubuh ramping itu dengan segala upaya, hingga terdengar tawa dari bibir pink itu.
"Astaga, bandel banget jadi anak," omel Raiden.
"Om mesum banget jadi orangtua,"
"Lah, orang saya mesum sama istri sendiri."
Spontan Tasya mendongakkan kepalanya keatas, menatap wajah tampan itu dengan tatapan mengoda.
"Jadi Tasya istri Om nih ceritanya?" tanya Tasya jahil.
Bukan nya jawaban yang ia dapat, yang ada pukulan kecil di jidatnya.
"Ngomong apaan sih? bodoh boleh, tapi jangan keterlaluan bodoh nya."
"Jahat,"
Raiden hanya mengangkat bahunya acuh, melepas kaki ramping itu seraya bangkit dari tempatnya duduk di tengah-tengah ranjang.
"Cuci muka sana, mandi sekalian." ujar Raiden.
"Malas,"
Raiden hanya mengelengkan kepala, meraih kaosnya dari ujung ranjang memakainya seraya bangkit dari tempatnya.
"Om, mau kemana?"
"Cari istri baru,"
"Emang ada yang mau?"
"Banyak," jawab Raiden dengan sombongnya.
"Dasar om-om, gak ingat umur."
"Bocil!"
Raiden berlalu masuk kedalam kamar mandi, menghela napas panjang dan membasuh wajahnya. Hanya membutuhkan waktu yang singkat, urusan kamar mandi kelar.
Di ranjang terlihat gadisnya masih setia ditempat, bahkan bersembunyi dibalik selimut. Raiden memilih acuh, berlalu keluar dari kamar melangkah kearah dapur.
Weekend Mpok Atiek libur memasak, karena biasanya ia menghabiskan waktu di kantor lembur dengan komputer. Tapi karena ada manusia yang harus ia jaga di rumah, terpaksa Raiden selingkuh dari komputer nya untuk hari ini.
Hanya sebatas ucapan terimakasih atau perhatian, Raiden menyediakan sarapan pagi ralat makan siang untuk mereka berdua.
Nasi goreng spesial, lengkap air hangat dua gelas di letakkan di atas nampan. Membangunkan gadis yang satu itu bukan ide yang bagus, lebih baik di bawa ke dalam kamar memancing gadisnya makan sebelum maag nya kambuh.
__ADS_1
"Makan udah siang," ucap Raiden terdengar ketus.
Spontan Tasya bangun dari tidurnya, menatap punggung kekar itu duduk di atas sofa tepat di depan televisi.
"Om, masak apa?" tanya Tasya memastikan. Rasanya malas makan, yang ada ingin tidur seharian.
"Nasi goreng,"
Dengan gerakan kilat Tasya bangkit dari tempatnya, naik keatas sofa dari arah belakang tanpa memperdulikan tatapan tajam suaminya.
"Ck, kalo mau jadi monyet bukan di sini tempatnya," sindir Raiden.
Siempunya hanya mengangguk kan kepala, mulutnya penuh dengan makanan tanpa gosok gigi dan cuci muka. Asal makan.
"Astaga, anak gadis gini amat modelannya."
Raiden bangkit dari tempatnya, dengan entengnya mengangkat tubuh ramping itu. Menurunkannya tepat didepan cermin di dalam kamar mandi.
"Ngaca! mana ada anak gadis begini modelan nya,"
Bibir pink itu mengerucut kedepan, dengan kesal merapikan rambut panjangnya yang berantakan. Layaknya singa mengamuk itu gambaran rambut panjang Tasya saat ini.
Ditambah wajah kusut layaknya pakaian belum di setrika, menambah kesan lucu dimata Raiden.
"Mana ada anak gadis begini modelanya," cibir Tasya, mencopy paste ucapan suaminya.
Sontak siempunya melototkan matanya, dengan kesal hendak meraih wajah cantik itu sebelum lengannya di hempas manja oleh si pemilik wajah.
"Jangan pegang-pegang, nanti ketularan tua," sindir Tasya halus.
"Yah,"
"Orangtua harus banyak-banyak bersabar, nanti makin tua," ucap Tasya tanpa merasa berdosa nya.
"Anak yang satu ini benar-benar kelakuannya,"
Raiden hendak meraih tubuh ramping itu, tapi sayangnya siempunya lebih dulu menghindar.
"Mau ngapain sih om? Tasya lagi datang bulan, jangan macam-macam."
Raiden tetap tidak mau kalah, meraih lengan ramping itu menarik tubuhnya lebih dekat. Tapi sebelum rencananya berhasil, lengannya lebih dulu di putar otomatis tubuhnya ikut berputar seraya menahan sakit.
"Tasya udah bilang jangan macam-macam, om suami tersayang," ucap Tasya lembut, sembari terkekeh kecil.
Tapi sayangnya itu hanya bertahan sebentar, beberapa detik kemudian tubuh kekar itu berputar dan memojokkannya di belakang pintu kamar mandi.
Seulas senyuman tipis terbit dibibir ranum itu, tatapan mata cokelat itu berbeda dari biasanya. Entah apa yang pria ini pikirkan selama ini, tapi Tasya yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Ck, mau ngapain sih om?"
_________________
TERIMAKASIH:)
Rudi tidak salah apa-apa, tapi ternistakan. Sabar yah Tante Rudi 🤣
__ADS_1