
Sepasang suami-istri itu masih setia memejamkan mata, hingga terasa sesuatu yang menimpa bersahutan tawa kecil.
"Kakak Sya,"
Sial, mimpi indah Raiden runtuh sekejap. Maniknya terbuka, menatap bocah kecil itu memaksa masuk ke sela-sela pelukan mereka berdua.
Terpaksa Raiden melongarkan pelukannya, menarik tubuh kecil itu ketengah-tengah mereka berdua dan memeluk erat tubuh kecil itu. Hingga terdengar rengekan.
"Abang susah napas, Daddy jangan nakal. Nanti kakak Sya marah."
"Daddy?"
Raiden tercengang, melongarkan pelukannya menunduk sedikit menatap wajah bocah kecil itu.
"Daddy mirip papa, jadi Abang panggil Daddy. Boleh?" tanya bocah kecil itu dengan polosnya.
Spontan seulas senyuman manis terukir indah dibibir Raiden, dengan antusias menganggukan kepala.
Impiannya selama ini memang menjadi seorang ayah, apalagi dulu Jihan sering berkhayal menjadi istrinya dan tentunya ia yang jadi suami.
Walau kenyataan tak seindah ekpestasi, semua yang mereka impikan tidak ada yang menjadi kenyataan. Yang ada mimpi buruk dan masa lalu kelam.
"Daddy ganteng," tunjuk Keano tepat dihidung mancungnya.
"Mana ada,"
"Iya, Daddy ganteng, kakak Sya cantik Abang pangeran."
"Kenapa pangeran?"
"Ada pedang nya Daddy, bisa lawan musuh."
Sontak Raiden tertawa kecil, mengacak-ngacak pucuk rambut bocah kecil itu dan memeluknya kembali.
Sial, Raiden ingin menangis hanya karena bocah kecil ini. Bayangan masa lalu itu kembali terlintas, ucapan Jihan begitu membekas sempurna.
"Rai, di masa depan nanti pokoknya aku yang jadi nona muda Dirgantara. Aku pengen punya anak kembar, satu cewek satu cowok. Ingat itu, calon ayah."
Nyatanya, yang ada di posisi itu Tasya Jovanka. Wanita yang paling Raiden cintai dan mengubah dunia kelam nya. Mencintainya dengan tulus, walau banyak kaum Adam yang lebih tampan dan lebih sempurna darinya.
"Om,"
Sontak Raiden tertawa kecil, melongarkan kakinya yang melilit pinggang ramping itu sembari membuka selimut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Sesak tahu," protes Tasya. Dengan bibir mengerucut kedepan, hingga bibir ranum itu menyatu dengan bibirnya.
"Astaga om, mata Keano ternodai."
Jemari lentik itu mengusap kasar wajah Keano, mencium manik kecil itu berulang kali.
"Cium, kakak Sya."
"Gak boleh, Abang masih kecil. Oke,"
"Oke."
"Good boy, om-om ini memang mesum. Gak tahu tempat," sergah Tasya, dengan tatapan tajam kearah suaminya.
"Ini kamar kalo kamu lupa," imbuh Raiden tak mau kalah.
"Kamar memang kamar, masalahnya ada Keano di sini."
"Kenapa emangnya?"
"Astaga om, otak dia bisa kotor."
"Gak bakal,"
"Nakal banget sih om, udah dibilangin juga."
"Live streaming aja yuk sekalian!"
Raiden melepas pelukannya dari tubuh kecil itu, dengan gerakan kilat pindah ke posisi yang lain tepatnya di sebelah Tasya.
"Yah, apa-apaan sih. Om, Jangan macam-macam."
__ADS_1
"Cuman satu macam kok."
Keano yang melihat Raiden bert*lanjang dada, meniru apa yang pria itu lakukan. Membuka piyama tidurnya menyisahkan celana tidurnya saja.
Dengan semangat bangkit dari tempatnya, melakukan hal yang sama seperti yang Raiden lakukan tapi sayangnya tersangkut tepat diatas perut Tasya.
"Astaga, ngapain bang?" tanya Tasya sembari terkekeh geli.
"Kayak Daddy."
"Daddy?"
"Iya,"
"Siapa?"
"Katanya aku mirip papa nya, jadi dia manggil aku Daddy," jelas Raiden.
Sontak Tasya tertawa kecil, bangkit tidurnya dengan bantuan suaminya.
"Jadi suami kakak mirip papa gitu?" tanya Tasya penasaran.
"Iya,"
"Padahal suami kakak ganteng tahu, papa kamu jelek."
Raiden hanya berdecak kecil, memakai kaosnya kembali seraya
bangkit dari tempatnya berlalu masuk kedalam kamar mandi.
"Kakak Sya, lapar."
"Bentar,"
Tasya mengikat rambutnya asal. Meraih piyama tidur Keano, dipasangkan kembali ke tubuh kecil itu.
"Daddy?"
"Ke kamar mandi."
"Abang mau digendong Daddy,"
"No, Abang cuman pengen digendong Daddy. Bukan kakak Sya, nanti kakak capek. Abang udah besar, berat kata mama."
"So sweet."
Tasya mencium wajah tampan itu bertubi-tubi, hingga tubuh kecil itu melayang di udara.
"Cuci muka sana! jangan malas,"
Terdengar helaan napas panjang, tubuh ramping itu berlalu masuk kedalam kamar mandi. Menuruti ucapan suaminya.
Sarapan pagi ini lain dari biasanya, kehadiran Keano menambah kesan untuk sarapan pagi ini. Sesekali mereka tertawa kecil, mendengar ocehan tidak jelas yang keluar dari bibir mungil itu.
Hingga sarapan berakhir Ratna bangkit dari tempatnya, melangkah masuk kedalam kamar bersiap-siap berangkat ke Gereja seperti biasa.
Tasya tidak mengatakan apa-apa, walau rasanya ingin bermanja-manja dengan wanita itu tapi apapun yang Oma nya lakukan Tasya harus mendukung penuh.
"Kenapa, hm?"
Elusan lembut menyapa sudut bibirnya, bibir ranum itu terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman manis hanya ditunjukkan kearahnya.
"Gak, papa kok om."
"Main air nya jadi?" tanya Raiden lembut. Ia tahu istrinya menyembunyikan sesuatu, wajah cantik itu tiba-tiba murung tidak seperti biasanya.
"Tapi om ikut, kalo gak–"
"Iya-iya."
Sontak tubuh ramping itu bangkit dari tempatnya, dengan wajah sumringah.
"Ayo!"
Tasya menarik-narik lengan kekar itu, otomatis siempunya bangkit dari tempatnya membawa Keano yang sedari tadi menempel dengannya.
__ADS_1
Tepat pintu terbuka, sinar matahari langsung menyambut. Menyilaukan tapi pas untuk bermain air pagi ini.
Grasa grusu tubuh ramping itu melepas piyama tidurnya, menyisahkan pakaian dalam saja. Melangkah ke sana kemari, menyiapkan perlengkapan renang Keano.
Seseorang yang sedari tadi mengikuti gerak gerik nya hanya bisa pasrah, menahan diri untuk tidak melahap wanitanya detik ini juga.
"Jaga mata, dasar mesum."
Tasya mengambil alih Keano dari gendongan suaminya, tanpa memperdulikan senyuman jahil dibibir siempunya.
"Ke kamar aja yuk!"
"Mesum banget sih om, itu aja yang dipikirin mulai semalam."
"Apa salahnya coba? cuman ke kamar doang,"
"Bilang aja mau begituan."
"Tuh tau, yaudah ayo!"
"Om," tekan Tasya, dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Bercanda, gak usah ngambek. Katanya main air,"
Raiden melepas kaos nya, mengambil Keano dari gendongan istrinya. Tanpa memperdulikan tatapan tajam yang mengarah ke arahnya.
"Aku jadi gak mood, gara-gara om sih."
"Kenapa lagi? katanya main air, buruan sini!"
Tasya hanya berdecak kecil, masuk kedalam kolam dengan wajah kesal. Memilih berenang sendiri, tanpa memperdulikan suaminya yang terlihat sibuk bermain air dengan Keano.
"Kakak Sya ngambek," bisik Raiden tepat di telinga Keano. Sembari terkekeh geli.
"Ngambek itu apa, Daddy?"
"Marah."
"Kakak Sya marah?"
"Iya,"
"KAKAK SYA," pekik Keano, menarik perhatian siempunya.
"GAK BOLEH MARAH, NANTI TUHAN CUBIT."
Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, hingga tubuhnya ditarik kebelakang lehernya dic*kik.
"Ngomong apaan sama Keano, istri ngambek itu dibujuk bukan diomongin dibelakang," sergah Tasya.
Merayap naik keatas punggung kekar itu, melilitkan kedua kakinya di pinggang suaminya.
"Om gak ada romantis-romantisnya jadi suami,"
"Romantis kayak gimana lagi?"
"Bujuk kek atau gimana gitu. Ini malah ikutan diam,"
"Yah, aku gak salah apa-apa."
"Gak mau ngaku, lagi."
"Iya, maaf."
Tasya hanya mengangguk, memeluk tubuh kekar itu erat sesekali mencium pelipis suaminya.
Siempunya tidak mengatakan apa-apa, hanya fokus bermain air dengan Keano.
"Sayang,"
"Iya, kenapa om?"
"Nanti sore, aku pulang ke kota. Kamu di sini aja, gak papa kan?"
Tubuh Tasya menegang, manik membola tidak terima dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
_________________
TERIMAKASIH 🍊