MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
SAKIT 2


__ADS_3

Sekejap, hening. Tidak ada yang berniat membuka pembicaraan. Hanya hembusan napas hangat beradu, bibir menyatu tanpa berniat melakukan gerakan lebih dari itu.


Manik Tasya yang semula terbuka lebar, perlahan terpejam. Menikmati hembusan napas hangat yang menyeruak dan sentuhan lembut bibir tebal itu.


Lilitan lengan dipinggangnya semakin erat, otomatis tubuh mereka semakin menempel.


Bahkan Tasya bisa merasakan suhu tubuh kekar itu yang semakin berbeda, dingin, hangat, keringat bercampur aduk.


"Om,"


Sontak Raiden berdecak kecil. Membuka matanya kembali dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, menghindari jemari lentik itu.


"Kita ke dokter aja yuk!" bujuk Tasya.


Berupaya menarik-narik selimut, walau tetap saja hasilnya sama. Raiden seakan tuli dan berubah menjadi batu, tidak bergeming sedikitpun bahkan tidak mengubris ucapannya.


"Om, berobat yuk! atau dokter aja yang datang ke sini? Biasanya Oma juga gitu. Kenalan Oma juga banyak, tinggal kita hubungin aja. Mau?" bujuk Tasya lagi.


Menghela napas sejenak, dengan gerakan kilat baru berhasil masuk kedalam selimut. Memeluk tubuh kekar itu dari samping, seraya meraba-raba kening suaminya.


"Makin panas, om demam?"


"Gak,"


"Jangan bohong mulu!"


"Nanti juga sembuh,"


"Ck, keras kepala."


Tasya bangkit dari tempatnya, turun dari ranjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Spontan Raiden membuka selimut yang membungkus tubuhnya, mengikuti gerak gerik istrinya hingga berlalu keluar dari kamar tanpa melirik sedikit pun kearahnya.


"Ck, ngambek? suami sakit malah ditinggal."


Raiden mengusap wajahnya gusar, kembali menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Makin lama, makin dingin atau hanya Raiden saja yang kedinginan? diluar cuaca panas tapi dia semakin kedinginan. Bahkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya tidak berguna sama sekali.


Lebih parahnya lagi tubuhnya hanya dibalut kaos oblong dan celana pendek sebatas lutut. Kaca balkon juga terbuka lebar. Menambah suhu dingin.


"Sya."


Hening tidak ada sahutan. Entah kemana wanitanya pergi, Raiden membutuhkan bantuan saat ini. Tubuhnya menggigil kedinginan, dia butuh penghangat lebih dari ini.


Hingga terdengar decitan pintu, bersahutan suara deru langkah mendekat.


"Sya,"


"Bentar."


Tasya meletakkan nampan yang ia dibawah keatas nakas, grasa grusu naik keatas ranjang.


"Apa? kenapa? ada yang sakit?" tanya Tasya khawatir. Menarik sedikit selimut yang menutupi wajah suaminya, menampakkan wajah tampan itu yang semakin terlihat pucat.


"Makin pucat, kita berobat aja yah."

__ADS_1


"Dingin,"


"Dingin?" beo Tasya.


Mengerjap maniknya dua kali, detik berikutnya turun dari ranjang. Menutup kaca balkon dan menarik gorden menutupi cahaya matahari langsung, hingga kamar temaram tanpa pencahayaan sedikitpun.


Grasa grusu menyalakan lampu kamar, berlari ke sana kemari mengobrak abrik isi lemari. Mengambil selimut, jaket dan celana panjang suaminya.


"Om, bisa bangun? bentar aja."


Tasya duduk di tepi ranjang, membantu tubuh kekar itu bangkit dari tempatnya. Memasangkan jaket, celana panjang hingga kaos kaki ditubuh kekar itu.


"Om, minum dulu." Tasya menyondorkan segelas susu hangat, diletakkan di telapak tangan suaminya dan menuntunnya hingga gelas putih itu menyentuh bibir suaminya.


Beberapa teguk habis tak tersisa.


"Om, lapar atau gimana?"


"Pusing,"


"Pusing?"


"Hm,"


Bibir Raiden membentuk sebuah senyuman tipis, saking tipisnya Tasya tidak menyadari hal itu.


Dia hanya sibuk membantunya berbaring keatas ranjang, dengan cekatan merapikan selimut dan menambah selimut putih yang dia ambil dari lemari.


Meraih botol minyak kayu putih dari atas nakas dan ikut berbaring disampingnya.


Dengan pergerakan sepelan mungkin Tasya menjadikan lengannya bantalan suaminya, tangan sebelahnya bebas memijat keningnya.


Jemari lentiknya telaten memijat lembut kening hingga hampir seluruh kepala Raiden. Terasa menenangkan.


Ditambah aroma minyak kayu putih menguar, memasuki indra penciumannya.


"Mulai besok om gak usah kerja lagi, kalo begini ceritanya."


Raiden hanya mengangguk, menyelusupkan kepalanya ke dada istrinya dengan senyuman mengembang dibibirnya.


Istrinya sekali normal, melebihi kapasitas manusia normal. Sekali berulah, tidak tanggung-tanggung berulah. Aneh tapi Raiden suka.


"Masih ada yang sakit?" lirih Tasya, terdengar khawatir.


"Gak ada lagi, cuman pusing sama dingin."


"Jangan bohong!"


"Iya,"


"Awas aja kalo bohong!"


Sontak Raiden tertawa kecil, tidak tahan menahan tawanya sedari tadi. Istri kecilnya memang beda dari yang lain, aneh, bandel, unik dan sexy.


Tasya Jovanka sangat sexy dimata Raiden. Apalagi saat berada di bawah tubuhnya. Mengairahkan, sexy dan cantik diwaktu yang bersamaan.


"Kenapa ketawa? ada yang lucu, apa?"

__ADS_1


"Gak ada,"


"Om, makin aneh. Kalo gak mesum, aneh. Kalo gak aneh, dingin kayak es batu."


"Jadi mau nya gimana?"


"Om cepat sembuh. Muka om makin pucat tahu,"


"Masa?"


"Iya,"


"Udah biasa," jawab Raiden tak kalah santai.


Saking santainya, Tasya ingin melemparnya kelantai bawah. Jantungnya berdetak kencang sedari tadi, saking takutnya melihat kondisi suaminya tapi bisa-bisanya dia sendiri mengucapkan kalimat itu dengan santainya.


Benar-benar kelakuan pria yang satu ini.


"Iya, sayang gak usah khawatir. Aku udah biasa begini, entar juga sembuh."


Tasya mencibik. Memukul kecil kepala suaminya, saking kesalnya.


"Benar-benar dah orangtua yang satu ini. Orang aku udah khawatir mulai dari tadi, malah om sendiri santai kayak di pantai. Mana muka om makin pucat tahu."


"Kamu gak usah khawatir, aku baik-baik aja kok," ucap Raiden lembut. Menyakinkan istrinya.


Walau kenyataannya seluruh tubuhnya terasa remuk. Luka s*yatan beberapa tahun yang lalu, terasa sakit. Terasa seperti luka baru.


Nama Jihan bergemuruh di kepalanya, rasa bersalah menghantui. Sedikit demi sedikit ingatan masa lalu itu kembali berputar, seakan dia dihadapkan pada kejadian itu kembali.


"Om, jangan melamun. Sini peluk!"


Tubuhnya ditarik ke depan, dipeluk erat tubuh ramping itu. Sesekali terasa elusan lembut dibelakang kepalanya.


"Om, gak boleh kalah. Itu cuman masa lalu, ingat masa lalu. Sekarang ada om, aku dan anak-anak kita nanti," bisik Tasya lembut, tepat di telinga suaminya.


Nathan, dokter yang menangani suaminya selama ini, mengajari Tasya melakukan hal ini. Karena dalam kondisi seperti saat ini, suaminya terkadang dikendalikan alam bawah sadar. Saking lelahnya.


Biasanya kepingan-kepingan kejadian masa lalu itu kembali muncul, mempersulit proses penyembuhan suaminya.


"Kita udah dua kali begituan, siapa tahu 'kan langsung jadi," ucap Tasya girang.


Mengembalikan sedikit demi sedikit kesadaran Raiden, kedua lengannya bertengger manis di pinggang ramping istrinya.


"Kayaknya dua kali belum jadi deh," sahut Raiden akhirnya.


Tubuh Tasya yang semula tegang, perlahan rileks dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya. Ajaran Nathan berhasil.


"Jadi?"


"Harus lima kali, kalo gak lebih."


"Makanya om cepat sembuh, harus ada tenaga ngelakuin itu. Gak mungkin 'kan om dibawah," ucap Tasya asal.


"Yah gak bisa, harus aku yang diatas."


Sontak mereka berdua tertawa terbahak-bahak, saling memeluk tubuh satu sama lain.

__ADS_1


_______________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2