MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
DELAPAN PULUH LIMA


__ADS_3

Pengingat; Part alur maju mundur. Kata yang bercetak miring.


_______________


Ucapan Tasya benar-benar kenyataan, jam sudah menunjukkan pukul 20:35 namun belum ada tanda-tanda istrinya akan pulang ke rumah.


Beberapa kali Raiden hubungi tak satu pun yang diterima, yang ada ditolak. Bahkan ponselnya sengaja dinonaktifkan tepat panggilan ke 20.


Wajah Raiden langsung berubah drastis antara kesal, emosi bercampur aduk.


Tidak peduli dengan rambut yang masih basah, Raiden turun kebawah. Tanpa memperdulikan ketiga manusia yang duduk di sofa ruang tamu.


"MAU KEMANA, WOI!" teriak Rudi.


"HATI-HATI OM," ujar Alex.


Zara hanya diam, seraya mengulum senyum melihat raut khawatir diwajah suami sang sahabat. Entah mengapa dia senang melihat raut wajah itu, pertanda Raiden benar-benar mencintai istrinya.


Ternyata bahagia sesederhana ini,


berkat Tasya, Zara tahu yang namanya bahagia versi diri sendiri.


"Lo tahu Za, arti bahagia?"


"Bahagia itu sederhana, sederhana banget. Bahagia itu selalu ada setiap saat dan dimana aja. Lo tahu, saat ngeliat Lo dekat sama Alex aja gue bahagia banget. Senang aja gitu ngeliat orang bahagia, dicintai. Yang pastinya gak kayak gue."


"Gue selalu berharap, orang-orang gak ada yang ngerasain apa yang gue rasain. Selalu berharap orang-orang selalu tersenyum tulus, gak palsu kayak gue."


"Tapi dibalik itu, bahagia gue sederhana banget. Cukup ngeliat orang lain bahagia, tersenyum, dicintai orang yang mereka cintai. Tanpa ingin diposisi itu."


Nyatanya, Tasya mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari itu. Bahagia yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.


Tuhan itu selalu punya rencana diluar nalar manusia, jauh dari hal yang kita pikirkan.


Sederhana persis Tasya mengubah seratus persen kehidupannya, Zara tidak pernah sebahagia ini sepanjang kehidupannya.


Apalagi setelah mereka sampai di desa balik bukit, seseorang langsung bertanya keberadaan Tasya. Entah darimana dia tahu, yang pastinya dia tersenyum hangat menyambut kedatangan mereka berdua. Dengan kata pedas dibarengi senyuman manis itu.


"Tiga sekawan tapi yang datang hanya dua orang," ucap pemuda itu tiba-tiba.


Awalnya dia dan Alex kesal, namun kelanjutan ucapan pria itu selanjutnya membuat mereka berdua bungkam seribu bahasa.


"Namanya Tasya Jovanka yah? Kalian beruntung punya teman seperjuangan. Gak semua orang beruntung, punya teman seperjuangan seperti kalian."


"Apalagi dia orangnya benar-benar tulus, mulut sama hati gak pernah sejalan. Cuman mulut doang yang ngomong, ini itu. Nyatanya dia tulus."


"Namun terkadang iri, dengki selalu awal kehancuran. Tapi karma selalu berjalan, makanya hati-hati bertindak melakukan apapun itu. Bukan begitu Azara Sadewa?"


Ucapan pria itu lebih ke sindiran, menyadarkan Zara dari pikiran ke kanak-kanakannya.


Dulu bahagia yang selalu dia cari hanya dari Alex saja, nyatanya bahagia itu sederhana seperti ucapan Tasya.


Segila-gilanya Tasya, pemikirannya tidak segila itu. Yang ada melampui pemikiran Zara, yang selalu menganggap Tasya polos, bodoh pantas dib*dohi. Nyatanya, dia yang b*doh.


"Manusia bucin memang beda," celetuk Rudi.


"Om, Rudi jomblo yang selalu merasa menderita," sindir Alex.


"Tamu gak tahu diri," ucap Zara.


Sekejap hening, mereka bertiga saling melemparkan tatapan satu sama lain. Detik berikutnya, tawa mengelar seisi rumah.


Mereka bertiga memang tamu tidak tahu diri, hampir seminggu mereka menumpang di rumah orang. Makan, minum, menikmati fasilitas rumah klasik ini. Yang tentunya, hasil jerih payah Raiden.


Untung pasangan suami-istri itu baik, jika tidak mereka sudah diusir mulai dari kemarin.


Apalagi Mpok Atiek melayani mereka bertiga layaknya tuan rumah. Bahkan dianggap anak sendiri.

__ADS_1


_______________


Lima belas menit perjalanan, akhirnya Raiden sampai ketempat tujuan. Lebih tepatnya, rumah tetangga yang bersebelahan dengan rumah orangtuanya.


Rumah megah yang selalu sepi layaknya kuburan, kini terlihat berpenghuni. Beberapa bodyguard berjaga di depan rumah, lampu menyala. Terlihat berbeda dari beberapa bulan yang lalu.


Dengan wajah kesal Raiden masuk kedalam, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Namun detik ini juga ia menyesal, pemandangan dihadapannya benar-benar membuatnya bahagia setengah mati.


Tepatnya diruang keluarga, didepan telivisi keluarga kecil itu bersantai diatas karpet bulu-bulu. Kedua mertuanya duduk berdampingan dan manusia yang ia cari tiduran berbantalkan paha mertuanya. Dengan tatapan fokus ke layar televisi.


Raina dan Richard yang menyadari keberadaannya hanya tersenyum, mengajaknya bergabung tanpa menimbulkan suara.


"Maaf Ma, Pa," bisik Raiden. Melangkah ragu kearah ketiga manusia itu, duduk tepat disamping ayah mertuanya.


"Sya!" panggil Raina lembut. Dibalas anggukan kepala oleh siempunya, dengan tatapan yang masih setia kearah layar televisi.


"Kamu gak pulang?" tanya Raina jahil.


"Mama ngusir aku nih ceritanya?" tanya Tasya ketus. Menoleh kearah Raina dengan dahi mengerut. Baru menoleh kearah pria tampan yang duduk disamping papanya.


"Dia siapa?" tunjuk Tasya kearah Raiden. Dengan dahi mengerut, manik menyipit.


"Suami kamu," sahut Raina.


"Oh, suami aku." Tasya hanya mengangguk polos, kembali menatap layar televisi. Dengan tampang tidak berdosa.


Ketiga manusia yang melihat itu hanya tercegang, menatap Tasya dengan tatapan bingung sekaligus geram.


Hingga lima menit berlalu, baru siempunya sadar dengan aroma tubuh yang terasa familier.


"Eh, om Raiden?"


Tasya bangun dari tidurnya, duduk bersimpuh tepat dihadapan suaminya dengan tatapan bingung sekaligus heran.


"Sejak kapan om datang ke sini?"


"Tasya juga anak mama," sahut Richard tidak terima.


"Apa salahnya sih Pa, jawab iya?"


"Masalahnya Tasya anak kita berdua,"


"Mama cuman minta papa jawab iya, apa susahnya sih?"


"Iya-iya, puas mama?"


"Yang benar!"


"Iya, Tasya CUMAN anak papa."


"Oh, maksud papa Tasya anak hasil selingkuhan papa gitu?"


"Selingkuh apanya sih, Ma? papa udah bilang, mama salah papah."


"Salah paham darimana nya? Mama lihat sendiri papa berduaan sama perempuan–"


"Ck, kenapa malah adu mulut sih? aku cuman tanya, om Raiden kapan masuk ke rumah?" sela Tasya memotong pembicaraan kedua orangtuanya.


"BARUSAN!" jawab Raina dan Richard secara bersamaan.


"Yah, kok aku malah dimarahin?"


"Lagian manusia sebesar ini kamu gak lihat?" tunjuk Raina kearah Raiden.


"Aroma suami sendiri juga masa kamu gak kenal? kamu ini gimana sih. Mama sama papa aja sadar, masa kamu gak lihat? Ini suami kamu besar banget loh Sya, makanya jangan melamun," omel Raina. Tak habis pikir dengan tingkah laku putrinya.

__ADS_1


"Pa!" adu Tasya.


"Ma, udah! Buatin kopi sana, jangan marah-marah mulu!" ujar Richard, seakan tahu maksud ucapan putrinya.


"Belain terus! Mentang-mentang, kalian berdua–"


"Ma!"


"Iya."


Tasya hanya mengulum senyum, menatap punggung mamanya berlalu menjauh kedapur menuruti ucapan sang papa.


"Oh, sekarang udah jinak." Tasya manggut-manggut, menatap kearah Richard dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.


"Papa kasih makan apa nyonya kita?" tanya Tasya. Duduk menyela ditengah-tengah antara Richard dan Raiden.


"Mau tahu?"


Tasya hanya mengangguk antusias, merapatkan tubuhnya kearah sang papa mendengar bisikan pria paruh baya itu. Seraya terkekeh geli.


Raiden yang sedari tadi melihat interaksi mereka berdua hanya tersenyum tipis. Gemas sekaligus bahagia.


"Papa jahat ih, gak boleh gitu dong. Nanti nyonya besar kita ngambek lagi, bahaya tahu!" ujar Tasya.


Richard hanya tertawa kecil, memeluk erat tubuh putrinya seraya mengayun-ayunkan tubuh mereka berdua.


"Mama oke-oke aja."


"Tetap aja. Mama kalo ngambek susah dirayu tahu."


"Masa iya, beberapa bulan ini mama gak pernah ngambek lagi tuh."


"Terserah, aku gak peduli dan gak bakalan mau bantu. Kalo mama ngambek lagi."


Tasya melepaskan pelukannya, beralih menatap wajah tampan pria yang duduk disampingnya yang sedari tadi diam membisu.


"Om, ngapain ke sini?" bisik Tasya takut ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Numpang tidur," bisik Raiden. Ikut melakukan hal yang sama.


"Bilang aja gak bisa tidur sendiri,"


"Siapa bilang? Semalam yang gak bisa tidur dikamar sebelah siapa, coba?"


"Mana ada," elak Tasya.


"Siapa sayang?"


"Apaan sih om,"


"Siapa yang gak bisa tidur sendiri?" goda Raiden.


"Iya-iya, aku."


"Good."


"Dasar om-om," cibir Tasya.


Mengalihkan pandangan kearah yang lain, dengan melipat kedua tangan.


Namun detik berikutnya, emosinya kembali berapi-api.


"AKU UDAH BILANG, OM GAK USAH DATANG KE SINI! AKU GAK SUKA."


Richard memilih diam, dengan menahan tawa setengah mati. Walau dilubuk hati yang paling dalam, kasihan dengan sang menantu.


Tapi biar saja, agar Raiden pernah merasakan yang namanya dicuekin istri sendiri. Tanpa tahu kesalahan apa yang telah dia perbuat.

__ADS_1


________________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2