MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
GEDUNG BELAKANG SEKOLAH


__ADS_3

Raiden benar-benar menuruti ucapan gadisnya, malam ini mereka berdua menginap di rumah mertuanya. Tanpa berniat bertanya lebih lanjut, apa yang terjadi sebenarnya. Tunggu waktu yang tepat baru Raiden tanyakan.


Hanya bermodalkan celana hitam dan kemeja putih. Berakhir bert*lanjang dada seperti biasanya. Untungnya Raiden menggunakan boxer di balik celana panjangnya, walau hanya sebatas paha.


"Ck, pakai celana Tasya aja om. Gak enak banget ngeliat nya," gerutu Tasya entah keberapa kalinya.


Walau tetap saja pria yang satu itu keras kepala, naik keatas ranjang seraya mematikan lampu dan berbaring disampingnya.


"Om, jangan macam-macam!"


"Sudzon mulu jadi anak,"


"Om sih, mukanya kayak om-om mesum. Tasya jadi takut,"


Terdengar helaan napas panjang, Raiden membalas pelukan tubuh ramping itu. Sesekali terasa pergerakan ranjang, Tasya berupaya mengikis jarak diantara mereka berdua.


"Katanya takut," sindir Raiden.


Tasya hanya nyengir kuda, menyelusupkan kepalanya ke dada bidangnya, seraya menghirup dalam-dalam aroma khas suaminya.


"Jangan aneh-aneh, saya bisa hilang kendali kalo kamu pancing terus," ujar Raiden.


"Mesum,"


"Kamu mau? Malam ini juga gak papa,"


"Ngomong apaan sih om?"


"Orang kita suami istri, gak salah dong begituan?"


"Yah salah,"


"Salah darimana nya? detik ini juga kamu bisa saya b*ntungin,"


"Mesum. Om-om mesum, gak tau malu. Udah tua juga,"


Tasya memukul kecil dada bidangnya, seraya membalikkan tubuh membelakanginya. Hingga terasa lengan kekar melilit dipinggangnya kembali, seraya mengikis jarak diantara mereka berdua.


"Apaan sih, jauh-jauh sana. Gak usah peluk-peluk," sentak Tasya.


"Diam! udah malam,"


"Emang yang bilang siang siapa? dasar om-om,"


"Ini bocil kenapa sih? mulai dari tadi sensi banget jadi anak,"


"Dih gak sadar,"


Tasya kembali membalikkan tubuhnya, memukul tubuh kekar itu sepuas-puasnya seakan melepaskan kekesalannya. Ucapan orangtuanya seakan berputar-putar dalam benaknya, moodnya hancur berantakan hanya memikirkan itu saja.


"Manusia gak tau diri,"


"Sejak kapan saya gak tau diri?"

__ADS_1


"Om-om mesum,"


"Ck, kurang belaain."


Raiden menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua, sekali tarikan tubuh ramping itu sudah berada di bawah kuasa tubuh kekarnya.


"OM RAIDEN!"


"Jangan teriak-teriak, nanti ada yang dengar."


_______________


Pagi ini wajah cantik itu terlihat kesal, tatapannya tajam dengan kedua tangan terkepal. Bahkan tidak segan-segan melayangkan pukulan ke arahnya. Untung Raiden gesit, walau tetap saja pukulan itu mengenai tubuh kekarnya.


"Mukanya jangan digituin, jelek banget sumpah," ejek Raiden tanpa beban.


Siempunya hanya diam, melangkah keluar dari kamar tanpa berniat pamit kearahnya.


"PAMIT DULU SAMA SUAMI!" teriak Raiden, sesekali tertawa kecil.


Semalam ia berhasil mengerjai gadisnya, hampir seluruh tubuh ramping itu berhasil tersentuh jemarinya. Bahkan lengkap dengan tanda kepemilikan.


Padahal selama ini Tasya selalu menantangnya, nyatanya dia takut juga. Tapi entah, gadisnya sedikit berbeda. Memang Raiden akui Tasya memang agresif, tapi setelah perihal menangis itu mood gadisnya berubah-ubah tak menentu. Entah apa yang Tasya sembunyikan.


"Dasar om-om mesum,"


Tasya merapikan hodiie nya, berupaya menutupi tanda kemerahan di area lehernya.


Tidurnya terganggu, mood nya berantakan, di tambah kelakuan suaminya yang berbeda mulai dari semalam.


Semalam ia hampir dip*rkosa suami sendiri, Tasya tidak habis pikir pria dingin itu ternyata bisa sejahil itu. Bahkan sempat merengek karena Tasya menolak permintaannya, layaknya anak kecil.


"Kenapa Lo? gak di nafkahi?" tanya Alex. Tepat pintu mobil tertutup.


"Bukan urusan Lo,"


Sontak Zara tertawa terbahak-bahak, merasa terhibur melihat wajah kesal kedua sahabatnya. Bisa di pastikan satu hari ini ia akan mendapatkan tontonan gratis. Si anak broken home ini pasti terlibat masalah, dalam keadaan seperti ini Tasya bisa meledak-ledak dalam satu harian penuh.


"Gak tau terimakasih jadi orang, udah di jemput juga." gerutu Alex.


"Lah ngapain Lo jemput gue? bodoh banget sih Lo,"


"Sejak kapan gue bodoh? gak sadar,"


Spontan Tasya mencondongkan tubuhnya ke kursi kemudi, mencengkeram kerah kemeja putih Alex tanpa memperdulikan mobil yang sedang melaju.


"Maksud Lo, gue bodoh gitu?" geram Tasya.


"Gak-gak, Lo pintar banget. Walau nilai C D E mulu, gak pernah B."


"ULANGI!"


"Yang mulia ratu selalu yang terbaik. Lepasin tangan Lo, kita bisa kecelakaan. Gue sama Zara belum bulan madu,"

__ADS_1


"Biarin,"


"Ck, anak pungut."


Tasya memukul kecil punggung sahabatnya, kembali duduk ke posisi semula dengan menahan emosi yang menumpuk.


Zara hanya geleng-geleng kepala, tidak heran lagi dengan tingkah kedua makhluk di sampingnya.


Mungkin jika mereka berada di tempat yang terbuka, Alex bisa berubah menjadi samsak dalam sekejap. Demi menolong Tasya, agar tidak melepaskan emosinya tidak pada tempatnya.


Tasya salah satu manusia tempramen, jika suasana hatinya sedang buruk. Jiwa bar bar nya bertambah buruk. Bahkan tidak segan-segan memukul siapa saja, asal rasa sakit hatinya hilang terhempas angin lalu. Padahal itu salah, makanya Alex rela menjadi samsak beberapa jam.


"Namanya juga hidup Sya, gak usah di pikirin, nikmati aja. Lagian Lo udah punya suami, apa lagi yang kurang? harta, tahta ada semau sama suami Lo. Tinggal layani aja tiap malam diatas ranjang," ucap Zara dengan santainya.


"Lo aja, gue gak butuh."


"Terserah."


Zara hanya mengangkat bahunya acuh, melepas sabuk pengamannya dan berlalu keluar dari mobil.


"Gedung belakang sekolah," ucap Zara tepat menginjakkan kaki memasuki pekarangan sekolah.


"Ha? kesurupan Lo?" tanya Tasya, seraya merangkul pundak sahabatnya.


"Gedung belakang sekolah bakalan jadi tempat haram. Pelecehan, pembunuhan, bakalan ada di sana."


"Ngomong apaan sih Lo," elak Tasya, walau tetap saja jantungnya sudah berdetak kencang dengan napas yang tercekat.


Jika Zara sudah berbicara yang tidak-tidak, pasti akan ada hal buruk. Tasya selalu takut jika Zara sudah membuka mulut, karena setiap ucapannya selalu benar-benar terjadi.


Buktinya masalah Bima dan Kejora sudah berakhir, bukti tidak ada yang membuktikan Bima bersalah. Hanya ada satu orang di baliknya, pembunuh berdarah dingin yang berkeliaran selama ini.


"Korbannya ada, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15,Mph–"


Alex langsung membungkam bibir Zara dengan telapak tangannya, seraya mengelengkan kepala.


"Jangan di lanjut," tegasnya.


Jujur Alex juga takut, apalagi jika korbannya salah satu dari sahabatnya. Mereka selalu percaya ucapan Zara, walau kadang membantu Zara melepaskan kemampuan itu.


Karena sama saja Zara menyamakan kedudukan dengan sang pencipta, hanya Tuhan yang boleh tau kehidupan manusia bukan manusia itu sendiri.


"Pelakunya Lo tau siapa Za?" tanya Tasya penasaran.


Zara hanya mengelengkan kepala, karena kemampuannya sebatas melihat tempat kejadian dan putaran apa yang akan terjadi. Tapi wajah selalu buram.


"Pelakunya cuman satu orang, tapi gue gak tau dia siapa," ungkap Zara.


_____________


TERIMAKASIH:)


__ADS_1



__ADS_2