
Selama ujian Tasya tidak henti-hentinya mengerutu, meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan mata.
Selama ini Tasya memang tidak pernah membaca, apalagi menghapal materi. Pikiran nya hanya dipenuhi Raiden anak tetangga sekaligus CEO muda, tampan dan mampan. Kalo pun mereka tidak menikah beberapa bulan yang lalu, Tasya akan turun tangan sendiri mencari perhatian pria dingin itu.
Tujuan hidupnya hanya satu, menikah dengan Raiden Dirgantara. Tidak ada tujuh lain, bertahan hidup pun tidak ada gunanya. Keluarga berantakan, cinta pertama kandas begitu saja malah sempat membuatnya frustasi.
"Sya,"
"Apaan?"
"Buruan setan,"
"Rese Lo, gak guna."
"Ck, buruan!"
Sesekali Alex melirik kearah pintu, takutnya guru tiba-tiba masuk padahal misi mereka belum kelar. Mana anak yang satu itu sok jual mahal, nyatanya butuh.
Dengan berat hati Tasya mengangkat wajahnya, menatap kearah kedua sahabatnya yang menatapnya kesal.
"Ke bawah,"
Tasya mengikuti arahan Alex, menatap ke bawah tepat sepatu hitam pria itu dengan kertas putih di atasnya. Dengan polosnya Tasya hanya mengangguk kan kepala, tepat sepatu hitam itu berhenti didepan kaki nya.
"Jodoh orang berguna banget, makasih Lex."
Siempunya hanya mengangguk kan kepala, menunggu sepatunya di lempar kembali kearahnya. Tapi di luar dugaan, Tasya malah melempar sepatunya ke belakang kelas dan tersenyum tanpa dosa.
"Kelar, nanti ambil sendiri jangan lupa." ucap Tasya dengan santainya, kembali duduk ke tempat semula tanpa memperdulikan tatapan tajam sahabatnya.
"Pe'a, Tasya bodoh." maki Alex saking kesalnya.
Seperti biasa Zara hanya mengelengkan kepala, memilih melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan kedua sahabatnya.
Perlakuan Tasya barusan tidak hilang dari pandangan Axel, menatap gadis yang duduk disampingnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
*Aneh, batin*nya.
Ini pertama kalinya Axel bertemu perempuan sebar bar ini, malah kelakuannya tak seimbang dengan wajah dan tubuh modis nya.
Axel akui gadis yang satu ini memang cantik, apalagi kepribadian nya langka. Tapi sayangnya, sifat bar bar nya di luar nalar manusia normal.
"Jangan lihat-lihat gue, nanti Lo jatuh cinta. Gue udah punya suami btw, nanti Lo dia bunuh." ucap Tasya dengan santainya.
Buat apa disembunyikan, toh tidak akan ada yang percaya dengan ucapannya. Karena selama ini ia dijuluki manusia pembohong tingkat akut.
Pernah sekali satu sekolah gempar karena ucapannya, Tasya menyebarkan hoax kepala sekolah mereka mati terbunuh. Seluruh sekolah gempar akan berita itu. Tapi tepat bel pulang berbunyi, suara kepala sekolah mengelar seisi sekolah.
Kebetulan mantan kepala sekolah mereka dulu sahabat dekat kedua orangtuanya. Sekaligus musuh bebuyut Tasya, hanya karena kesal melihat kepala botak nya. Rip Tasya.
Pasti nya anak baru ini juga tidak akan percaya dengan ucapannya, mereka saja–
__ADS_1
"Raiden Dirgantara."
Sontak Tasya melototkan matanya, menoleh kearah Axel dengan tatapan mengintimidasi.
"Darimana Lo tau?"
_________________
Seperti biasa, Raiden hanya duduk di kursi kebesarannya. Menatap layar komputer, dengan jemari menari-nari di atas keyboard.
Sebenarnya hari ini ada meeting, tapi selagi ada Rudi ia tidak akan pernah turun tangan. Kecuali ayah nya yang pemimpin rapat.
Lebih baik terjun langsung ke lapangan, daripada berkumpul dengan orang-orang dalam satu ruangan. Rasanya pusing.
"Sir,"
Rudi muncul dari balik pintu, dengan menyembulkan kepalanya kedalam layaknya anak kecil mengajak teman bermain. Raiden jadi rindu kehidupan masa itu, dimana Rudi datang kerumah dan mengajaknya bermain dari pagi hingga sore.
Apalagi mereka berdua berteman baik dari kecil, bahkan beberapa orang mengira mereka berdua saudara kembar saking kompaknya.
Tapi seiring berjalannya waktu, semua perlahan berubah. Bukan hanya Raiden yang berubah, bahkan Rudi pun berubah. Berubah menjadi sosok di luar dugaan Raiden.
Walaupun begitu, Rudi tetap menjadi sahabatnya hingga detik ini. Menjadi Abang dan teman cerita.
"Apaan?"
"Perjanjian,"
"Cepat beb, keburu siang. Nanti make up aku luntur."
"Stres."
Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, melipat kedua tangannya seraya bersandar di depan pintu.
Merasa kerjaanya kelar, Raiden langsung bangkit dari tempatnya. Meraih jas hitam ia yang letakkan di sandaran kursi, di pasangkan kembali ketubuh kekarnya.
"Bagaimana servis nona muda semalam, memuaskan?" tanya Rudi, tepat Raiden melangkah mendekat kearahnya.
"Tertunda," jawab Raiden jujur, sekalian melihat reaksi pria di sampingnya.
"Maksudnya?"
"Mpok Atiek masuk ke kamar."
Sontak Rudi tertawa terbahak-bahak, menarik perhatian seluruh karyawan tanpa terkecuali. Tumben-tumbenan kedua pria itu akur, apalagi Rudi terlihat bahagia. Bahkan mengandeng lengan kekar Raiden, tanpa ada penolakan dari siempunya.
Karena biasanya Rudi berdiri di belakang Raiden, mengikuti kemanapun pria itu melangkah.
"Belakangan ini ada penguntit, kayaknya dia bosan hidup Sir," bisik Rudi serius.
"Bunuh aja, sekalian cari mangsa sesuai foto yang gue kirim. Gue kasih waktu seminggu. Kalo Lo dapat, seperti biasa."
__ADS_1
"Oh, tentu."
Rudi tersenyum lebar, duduk di jok belakang tepat di samping Raiden.
Karena biasa mereka mengunakan supir terjun ke lapangan, agar aman dari musuh.
________________
Sesuai pengarahan dari monitor, seluruh siswa diarahkan berbaris di lapangan setelah bel pulang sekolah berbunyi. Dibawah terik matahari yang panas mengunakan topi.
Tapi itu semua tidak ada tandingannya, dibandingkan dengan hati dan pikiran yang berkecamuk. Semua siswa takut di waktu yang bersamaan, dua orang siswa meninggal dengan cara yang sadis. Tidak ada yang tau siapa dalang dibalik nya.
Kepolisian dan detektif bekerja keras belakangan ini, tapi hingga detik ini tidak ada tanda-tanda jejak si pembunuh.
Dia hilang bagai di telan bumi, tidak ada jejak sama sekali.
"Sya," bisik Zara pelan, merapatkan tubuhnya sedikit demi sedikit kearah Tasya. Dengan tatapan lurus kedepan.
"Apa?"
"Yang di depan itu murid baru?"
"Murid yang mana? cuman kepala sekolah kok di depan,"
"Masa Lo gak lihat sih? gede begitu Lo gak lihat,"
"Gak ada Za, cuman kepala sekolah doang."
Tubuh Zara langsung menegang, menelan salivanya kasar tanpa melepaskan tatapannya dari satu objek. Zara tau sekarang, murid di depan itu bukan manusia melainkan setan.
"Lo lihat setan?" bisik Tasya seakan tau maksud ucapannya, meraih jemari Zara mengengam nya erat menguatkan sahabatnya.
"Dia cantik, bulu mata lentik dengan senyuman manis–"
"Rambut panjang tergerai bebas, muka pucat, senyuman lebar hingga ke telinga, gak punya tangan, gak punya kaki." jelas Zara detail, menyaksikan langsung wajah cantik itu berubah drastis menjadi wajah yang mengerikan.
"Ngomong apaan sih?"
"Dia berbalik kearah sini, tersenyum lebar dan ngeliat kearah gue."
"Zara!"
"Dia melayang di udara, tersenyum lebar hanya kearah gue. Kita teman mati–"
"ZARA! MATI LO SETAN."
Tasya histeris, menarik perhatian semua siswa terlebih Alex yang berdiri tepat dibelakang mereka berdua. Mengambil alih Zara dan memeluknya erat.
"MATI LO SETAN! TEMPAT LO GAK DI SINI ANJ*NG!" teriak Tasya semakin histeris.
________________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)