
Sepanjang lorong sekolah Tasya ketar ketir sendiri, pusing memikirkan nilai dan ancaman suaminya. Mungkin dulu urusan sekolah hal biasa, bahkan nilai dibawah rata-rata pun biasa.
Namun sekarang, semua berbeda. Ada manusia yang hidup berdampingan dengannya. Manusia yang menganggapnya hidup, manusia yang menganggapnya ada di dunia ini. Manusia yang tahu tentang kehidupannya sekecil apapun itu.
Bahkan Tasya tidak ingat hari ini pembagian hasil ujian Minggu lalu tapi entah mengapa suaminya tahu hal itu.
"Sya!"
Siempunya hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ranselnya ditarik kebelakang.
"Ck, masih muda udah tuli," sergah Alex. Memukul kecil punggung Tasya dan menarik rambut panjang itu kebelakang. Hingga kepala siempunya mendongak keatas.
"Apaan sih? belum jadi suami udah KDRT aja Lo," geram Tasya.
Sontak Alex tertawa terbahak-bahak, menyeret tubuh ramping itu tanpa belas kasian.
"Eh, bini Lo mana?" tanya Tasya heboh. Sekali hentakan tubuhnya berdiri tegak. Mensejajarkan langkanya dengan pria disampingnya.
"Belajar agama sampai Minggu depan."
"SERIUS LO LEX? WOW, GILA!"
"Gila darimananya?" tanya Alex bingung. Memilih duduk dikursi yang sering Zara duduki, diikuti Tasya duduk disampingnya.
"YAH, GILA! KALO DIA BELAJAR AGAMA BERARTI–"
"Gak usah teriak-teriak, gue belum tuli," sela Alex. Memotong ucapan Tasya.
Memang urat malu perempuan yang satu ini putus, bisa-bisanya berbicara sekencang itu. Bahkan teman sekelas mereka yang sudah hadir, menatap bingung kearah mereka berdua.
"Yah, maaf atuh. Saya penasaran."
"Tapi gak usah gitu kali Sya,"
"Iya-iya, buruan cerita!"
"Apaan?"
"Sib*ngsat." Tasya bangkit dari tempatnya, siap siaga hendak melayangkan pukulan.
"KDRT, BELUM JADI ISTRI LO UDAH KDRT." Alex histeris.
Menarik perhatian yang lain, ada yang tertawa, ada juga yang mengelengkan kepala tidak heran dengan tingkah mereka berdua.
"LO DULUAN! GUE SERIUS MALAH BERCANDA!"
"Maaf-maaf, Lo duduk! Biar gue ceritain tapi janji jangan mukul gue."
"Gue gak janji,"
"Yah, Sya."
"Buruan!" desak Tasya. Merapatkan tubuhnya dengan tubuh Alex, takut yang lain mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
Alex menghela napas sejenak, detik berikutnya menoyor kepala perempuan yang duduk disampingnya.
"Kok Lo mukul gue sih?"
"Cerita gak nih?" ancam Alex. Berancang-ancang hendak bangkit dari tempatnya.
"Iya-iya, buruan! Sebelum gue berubah pikiran. Lo bisa mati ditangan gue."
Sontak Alex tertawa kecil, hendak merangkul pundak sahabatnya sebelum tatapan tajam yang beberapa waktu lalu terlintas dalam benaknya. Sial, Alex baru ingat sahabatnya yang satu ini sudah memiliki suami. Mana pawangnya galak.
Alex ingat betul, tatapan membunuh Raiden waktu itu. Sekejap tubuhnya merinding dan menunda aksinya yang hendak merangkul pundak sahabatnya. Memilih melipat kedua tangan, seraya bersandar di sandaran kursi.
"Kemampuan Zara udah mulai hilang tapi tiap malam, dia sering mimpi buruk," ungkap Alex. Menunduk lesu, tersiksa sendiri melihat keadaan sahabatnya.
"Mimpi buruk mah masih biasa Lex, asal hantunya gak muncul."
"Iya juga sih, mata batin Zara juga udah tutup tapi bentar, waktu itu 'kan Lo pernah lihat sendiri wujudnya. Kata Zara dia gak sengaja pegang tangan Lo, jadi mata batin–"
"Udah kelar. Axel yang bantuin."
"Axel indigo?"
"Dukun."
Sontak mereka berdua tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan tatapan mata yang tertuju kearah mereka berdua.
"Sebenarnya dulu, Axel bukan anak India."
"Indigo."
"Kenapa yah orang-orang beruntung banget? ck, sampai segitunya karena cinta. Gue kapan digituin?" sambung Tasya lagi.
Alex meringis, merasa tersindir mendengar ucapan sahabatnya.
Sebenarnya dulu, Alex sempat menyimpan perasaan dengan perempuan yang satu ini. Tapi saking banyaknya yang mendekati Tasya, Alex memilih mundur.
Saingannya gak main-main, anak-anak orang kaya semua. Hampir sederajat dengan keluarga Dirgantara suami Tasya sekarang.
Alex sebenarnya berasal dari keluarga berada tapi setiap laki-laki yang mendekati Tasya, bahkan mulai dari sekolah dasar dulu pasti berasal dari keluarga terhormat yang lebih kaya dari orangtuanya.
Karena itu Alex memilih Zara, masih banyak pria lain yang mengantri mendekati Tasya. Bahkan Axel salah satunya. Beberapa kali Alex kedapatan, melihat sendiri pria itu menatap Tasya dengan tatapan kagum.
"Makanya Lex, buruan kawinin Zara."
"Yah, Lo pikir kita apaan?"
"Manusia,"
"Ck, gue belum kepikiran sampai ke situ. Cita-cita gue belum terwujud Sya."
Sontak Tasya tertawa kecil, menutupi rasa malunya. Semua teman-temannya memikirkan cita-cita, dia sendiri tidak memiliki cita-cita. Memalukan.
"Lex, kalo gue hamil gimana menurut Lo?" bisik Tasya serius.
__ADS_1
Sontak manik Alex melotot, menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Namun detik berikutnya, mengacak-ngacak pucuk rambut sahabatnya.
"Gak papa, kita syukuri aja gue juga gak sabar punya ponakan. Ingat Sya, suami Lo pria dewasa udah sepantasnya punya anak," ujar Alex lembut. Menyakinkan sahabatnya.
"Tapi–"
"Sya, kalo yang diatas udah kasih kepercayaan, patut disyukuri. Gak semua orang seberuntung Lo."
Tasya hanya mengangguk patuh, dengan pikiran berkecamuk.
"Gak usah dipikirin, masalah cita-cita urusan belakang." Lagian suami Lo punya segala-galanya, apa yang gak bisa Raiden Dirgantara kasih buat Lo? ucap Alex yang sampai ditenggorokan.
Terdengar helaan napas panjang, Tasya menunduk dalam-dalam dengan memejamkan mata.
"Gue malu Lex," lirih Tasya, terdengar serak menahan tangis.
"Kenapa?"
"Suami gue sempurna Lex, Lo tahu? tahun ini dia mau melanjut studi lagi. Katanya mau ambil S2 sama om Rudi. Gue gak sengaja baca pesan mereka semalam," ungkap Tasya.
"Gak papa, ada waktunya."
"Tetap aja. Apa kata orang nanti, kalo ada yang tahu istri Raiden Dirgantara cuman tamatan SMA."
"Ck, kok Lo ngomong gitu sih Sya?" Tasya yang gue kenal, gak pernah begini," ucap Alex kesal.
Tasya hanya diam, bingung dengan perasaannya saat ini.
"Bodoh amat sama omongan orang lain, Lo jangan bodoh Sya! gue ada di sini kalo Lo butuh. Gak usah pikiran yang gak penting," nasehat Alex.
Menepuk pelan pucuk rambut sahabatnya, dengan senyuman manis terukir indah dibibirnya.
Hal yang paling Tasya sukai dari Alex Budiman.
"Lo harus semangat, oke?"
Tasya hanya mengangguk, menghempas lengan Alex dari kepalanya takut suaminya tahu.
"Lo jangan pegang-pegang! Ingat suami gue!" ancam Tasya seakan menakuti pria dihadapannya.
"Rese Lo berdua. Gak suami, istri juga ngeselin," gerutu Alex. Sembari mengalihkan tatapannya kearah yang lain.
Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, pikirannya saat ini hanya dihantui nilai ujian dan ancaman suaminya.
Sial, masa tiap malam gue dip*rkosa. batin Tasya.
Memikirkan tubuh kekar itu saja sudah membuatnya merinding, apalagi saat~
Astaga Tuhan, Tasya tobat.
Kedua jemarinya terkepal kuat, mempersiapkan diri mulai detik ini.
_______________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)