
Diluar dugaan, jemari lentik itu malah menarik lengannya hingga tubuh kekarnya jatuh ke atas tubuh ramping itu dengan mulusnya.
Terdengar kekehan geli, lehernya dipeluk erat kedua lengan ramping itu.
"Om, takut atau gimana? Tasya istri Om kalo lupa," ucap Tasya lembut.
Pertama kalinya Raiden mendengar ucapan lembut keluar dari mulut itu, setelah beberapa hari mereka tinggal berdua.
"Jangan terlalu kaku om jadi orang, santai kita gak ngapa-ngapain juga," goda Tasya.
Terdengar helaan napas panjang, tubuh kekar itu perlahan melunak melepas sepatunya menggunakan kedua kakinya dan memperbaiki posisinya tepat di atas tubuh ramping itu.
Siempunya memberi persetujuan, jadi tidak salah Raiden melakukan hal lebih dari ini. Mencari posisi yang nyaman di ceruk leher putih itu, menghirup dalam-dalam aroma khas gadisnya yang terasa memabukkan.
Entah apa yang gadis ini lakukan, sekejap Raiden terhipnotis. Kedua maniknya terpejam, menikmati sentuhan lembut jemari lentik itu diatas rambutnya.
"Sya,"
"Kenapa, om?"
"Kamu makan apaan bisa senyaman ini?"
"Jengkol om,"
"Berapa kilo?"
"100 kilo,"
"Ngawur."
Tasya tertawa kecil, memeluk erat leher suaminya tanpa memperdulikan posisi mereka saat ini. Lagian mereka berdua suami istri, tidak ada salahnya menurut Tasya.
"Bolos pergi kemana?" tanya Raiden, seraya mendongakkan kepalanya keatas. Hingga jemari lentik itu mengelus lembut rahangnya.
"Ke rumah Zara," jawab Tasya jujur.
"Zara?"
"Sahabat Tasya om,"
"Oh, yang satunya lagi siapa?"
Seingat Raiden mereka ada tiga, dua sahabat istrinya.
"Alex,"
"Pacar kamu?" tanya Raiden ketus.
Entah mengapa Raiden tidak suka dengan nama itu, karena pemilik nama itu pasti pria bukan wanita.
"Masih gebetan om," balas Tasya tanpa beban, sembari menahan tawa melihat wajah tampan itu kesal.
"Ck, bocil."
"Yah, Tasya bukan bocil yah om."
"Terserah,"
Raiden menghela napas panjang, kembali ke posisi semula menyembunyikan wajahnya diceruk leher istrinya.
Sekejap hening, Tasya memilih diam sembari mengelus lembut rambut suaminya, siempunya memejamkan mata menikmati sentuhan lembut itu.
Hingga terdengar deringan ponsel mengalihkan perhatian Tasya, meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas dengan nama Alex tertera di sana. Tumben-tumbenan pria yang satu ini berani menelponnya.
Biasanya mengirim pesan, karena menurut Alex suara Tasya suatu malapetaka yang harus dihindari.
"Halo, tumben. Gak takut malapetaka?"
Terdengar tawa dari sebrang, dengan teriakan Zara kesal mendengar tawa Alex.
"Apaan sih Lex? gak jelas Lo,"
"Jangan marah-marah dulu, gue mau ngomong sesuatu,"
"Buruan!"
"Kejora masuk rumah sakit,"
"Gak penting banget, sumpah,"
__ADS_1
"Dengerin dulu pea. Katanya Kejora hampir di bunuh, yang jadi tersangka si Bima. Tapi anehnya, si Bima juga pingsan di lokasi."
"Serius?"
"Iya, si Bima memang pingsan tapi ada barang bukti di tangannya. Jadi si Bima tetap tersang–"
"Nama Lo juga terseret Sya, gara-gara kejadian tadi siang," potong Zara dari sebrang.
"Lah kenapa jadi gue?"
"Katanya si Bima frustasi gara-gara Lo. Mana udah lima belas kali Lo tolak lagi," sambung Alex.
"Gak jelas,"
Tasya langsung memutuskan sambungan sepihak, melempar ponselnya asal keatas ranjang. Memilih mengelus lembut rambut suaminya kembali, dengan pikiran berkeliaran kemana-kemana.
Aneh, batin Tasya.
"Siapa?" tanya Raiden ketus.
"Apanya, om?"
"Barusan,"
"Alex, om cemburu?"
"Gak,"
"Cemburu dong om,"
"Gak,"
"Yah, cemburu dong om,"
"Gak,"
"Yaudah, jauh-jauh sana!"
"Gak,"
"Apaan sih om, berat banget tau."
"Berat om, tapi bentar itu apaan?"
Tasya mengerutkan dahi, merasa ada yang mengganjal dan keras dibagian bawahnya.
"Om, itu apaan?"
Hening, tidak ada sahutan. Raiden bungkam tanpa berniat membalas ucapannya, napasnya berat, kedua tangan terkepal menahan gejolak panas yang mengalir dalam aliran darahnya.
"Om yang keras itu apaan?" Tasya heboh, berusaha mendorong tubuh kekar itu hingga terlentang di sampingnya.
Maniknya langsung meneliti tubuh kekar itu dari bawah sampai atas, detik berikutnya melototkan matanya.
Astaga, bisa-bisa saya depresot. batin Tasya
Cepat-cepat Tasya mengubah mimik wajahnya, beralih menatap wajah tampan itu dengan tatapan sok polos.
"Itu apaan om?"
"Diam!"
"Tasya potong yah,"
Sontak Raiden melototkan matanya, bangkit dari tempatnya duduk tepat disamping gadisnya.
"Sini Tasya potong, nanti ada yang lihat," goda Tasya. Jemari lentiknya terangkat, dengan gerakan kilat dicekal lengan kekar itu.
"Jangan aneh-aneh!"
"Tasya cuman bantuin om,"
"Gak usah,"
Tapi Tasya tetaplah Tasya. Dengan gerakan kilat menghempaskan lengan kekar itu, hingga cekalan tangannya terlepas.
Kedua jemarinya berusaha menjangkau tonjolan di balik celana hitam itu, dengan menahan tawa setengah mati.
Wajah tampan itu terlihat memerah, sesekali Tasya mengodanya melihat sampai dimana pertahanan suaminya.
__ADS_1
"Sya,"
"Iya, om."
"Keluar!"
"Itu belum dipotong om, nanti ada yang lihat."
Terdengar helaan napas panjang, dengan tenaga yang tersisa Raiden mengangkat tubuh ramping itu, tanpa memperdulikan pukulan kecil di punggung kekarnya.
Membuka pintu dan menurunkan tubuh ramping itu tepat didepan pintu. Dengan gerakan kilat, menutup pintu dan mengunci dari dalam.
"OM, ITU BELUM DI POTONG!"
"BOCIL."
Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, membayangkan wajah tampan itu kesal sekaligus memerah.
Tasya akui suaminya memang kuat. Padahal di kasih lampu hijau, tapi Raiden tidak mengunakan kesempatan itu.
Bahkan sedari tadi, jemarinya tidak bergerak sama sekali. Hanya maniknya yang tertutupi gairah, seluruh tubuhnya diam mematung seakan tidak ingin menyentuhnya. Kalo begini ceritanya, Tasya makin kagum dengan pria yang satu itu.
"Ck, makin hari makin tersiksa," gumam Raiden.
________________
Lepas kejadian tadi Raiden memilih mengurung diri di kamar, takutnya khilaf saat berpapasan dengan gadisnya. Apalagi bayangan tubuh ramping itu terekam jelas di otaknya, semua terlihat sempurna tak sesuai dengan umur anak SMA.
Hingga terdengar ketukan pintu, bersahutan teriakan malaikat pencabut nyawa Raiden.
"Ck, ngapain lagi? ya Tuhan, aku mana tahan kalo begini ceritanya."
Dengan berat hati Raiden bangkit dari tempatnya, membuka kunci dan memutar knop pintu menampakkan gadisnya yang terlihat cantik malam ini.
Piyama tidur bergambar unicorn yang terlihat kebesaran ditubuh rampingnya, boneka ulat berukuran besar dililitkan dilehernya dan rambut panjang tergerai bebas.
"Selamat malam om suami,"
"Pasti ada maunya,"
"Numpang tidur."
Tasya melongos masuk begitu saja, tanpa memperdulikan suaminya yang tercegang didepan pintu.
Cobaan apa lagi ini? batin Raiden.
Dengan santainya Tasya naik keatas ranjang, masuk kedalam selimut tebal milik suaminya dan memejamkan mata.
"Awas kesurupan om," ujar Tasya tanpa melirik kearahnya.
Terdengar decakan kecil, pintu tertutup dan langkah kaki mendekat kearah ranjang.
"Harus banget numpang tidur?" tanya Raiden ketus.
"Harus,"
"Ck, kalo saya b*ntungin nanti malam gimana?"
"Silahkan,"
"Kamu gak takut?"
"Gak, orang om yang hamil."
"Lah,"
Dengan malas Tasya membuka matanya kembali, menatap wajah tampan itu dengan tatapan kesal.
"Jadi maksud om gimana. Tasya gitu yang hamil? jadi om ngapain? cuman enaknya doang? yah gak boleh,"
Raiden tercegang, duduk di tepi ranjang tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik itu. Sebenarnya manusia yang satu ini berasal dari planet mana? masa isi otaknya gak ada yang benar.
"Yah harus bagi-bagi, enaknya bagi-bagi sakitnya juga harus bagi-bagi. Jadi om yang hamil titik gak ada bantahan."
"Caranya?" tanya Raiden dengan polosnya, penasaran jawaban yang akan dilontarkan bibir pink itu.
"Muntah."
________________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)