MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
TUJUH ENAM


__ADS_3

Raiden tercengang, menatap tubuh ramping itu berlalu keluar dari mobil tanpa memperdulikan ucapannya. Padahal baru saja Tasya berjanji akan bertobat menjadi istri yang baik. Sekarang malah berulah lagi, melupakan janji yang dia ucapkan.


"Ck, bocil." Raiden memutar setir, perlahan meninggalkan pekarangan sekolah menuju tempat pertemuannya dengan seseorang.


Bahkan Rudi sudah berulang kali menghubunginya, agar tepat waktu datang ke tempat tujuan. Karena setelah itu, akan ada pertemuan di kantor.


Makin ke sini jadwalnya semakin padat, apalagi ayahnya sedang jatuh sakit. Itu juga Raiden tidak sempat menjenguknya. Bisa dipastikan, ayahnya menganggapnya anak durhaka.


Tak menunggu lama mobil Raiden sudah terparkir di parkiran hotel. Hotel yang sering dijadikan tempat untuk mengadakan pertemuan, seperti saat ini.


Didepan lobby seseorang sudah stand by menunggunya, dengan senyuman lebar menyambut kedatangannya.


"Selamat pagi pak, saya Samudra," sapa pria itu. Wajahnya masih terlihat muda, seumuran anak SMA.


Ini yang paling Raiden sukai belakangan ini, orang-orang yang dia temui kebanyakan pemuda dengan umur jauh dibawahnya tapi semangat mereka sangat berkobar. Mendukung penuh untuk mengajaknya bekerja sama.


"Raiden Dirgantara," balas Raiden tegas. Seulas senyuman tipis terbit dibibirnya, sekedar menghargai pemuda dihadapannya.


"Mari pak, saya sudah pesan tempatnya."


Raiden mengangguk, berjalan beriringan dengan Samudra melewati lobby yang cukup ramai pagi ini.


Kebetulan hotel ini salah satu hotel berbintang, ayahnya juga menanam saham terbesar di sini. Sewaktu-waktu Raiden bisa menguasai hotel ini, jika dia mau.


Apalagi pemilik hotel ini menawarkan, agar mereka yang memegang hotel ini sepenuhnya. Namun ayahnya memberi jangka waktu setahun, agar pemilik hotel ini mengembangkan usahanya siapa tahu keberuntungan berpihak.


Suatu keberuntungan juga, Raiden lihat kemajuan hotel ini sangat pesat belakangan ini.


"Maaf pak sebelumnya, saya sedikit gugup," ungkap Samudra jujur.


Senyuman jahil khas anak muda terbit dibibirnya, yang Raiden yakini anak yang satu ini dipaksa memimpin perusahaan keluarga. Sama sepertinya dulu.


"Gak, papa. Dulu saya juga begitu, lamban laun bakalan terbiasa," terang Raiden.


Entah mengapa mulutnya bergerak sendiri mengucapkan kalimat itu, mengingat istrinya yang selalu banyak bicara.


Wanita yang satu itu memang membawa banyak perubahan dalam kehidupannya, terutama bertatap muka dengan orang lain seperti saat ini.


"Perusahaan Dirgantara memang keren banget pak. Buka cabang dimana-mana, menanam saham dimana-mana, menjalankan bisnis ini itu tanpa ada tanda-tanda gulung tikar. Rahasianya apa pak?" tanya Samudra dengan polosnya.


Sontak senyuman lebar tercetak jelas dibibir Raiden, menepuk pundak pria disampingnya yang sedari tadi menatap kagum kearahnya.


"Usaha, gak cuman tidur," ucap Raiden.


"Saya juga tau pak, masalahnya kunci agar perusahaan kita tetap berjalan dan seimbang dengan perjalanan waktu dan pangsa pasar. Gimana pak?"


"Nanti juga kamu bakalan tahu. Ikuti aja alurnya tapi kuncinya cuman berusaha."


"Siap, boss." Samudra menghormat, dengan senyuman lebar dibibirnya.


"Bapak keren banget, saya kagum banget ngeliatnya."


Raiden hanya mengangguk, tidak mengatakan apa-apa. Setiap orang yang bertemu dengannya, apalagi tampilannya seperti Samudra. Selalu mengatakan kalimat itu. Padahal menurutnya dia biasa saja.


______________


"Lo pulang sama siapa?" tanya Tasya.


Kini mereka berdua duduk di kantin, meja paling pojok. Takutnya ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Bang Riki, yang ngobatin gue di sana. Kebetulan dia ke kota, katanya ada urusan penting," jawab Zara seadanya.

__ADS_1


"Alex tahu?"


"Gak." Zara mengeleng, dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Suami Lo bisa marah."


"Maaf, bosan banget Sya di sana. Gue cuman dikurung disatu ruangan, gak punya teman lagi."


Tasya hanya menghela napas, mengerti akan hal itu. Alex juga menceritakan sedikit keluhan mereka di sana sama seperti yang diucapkan Zara.


Semua orang juga akan merasa bosan dikurung seharian, apalagi melakukan aktifitas yang sama setiap hari.


"Jadi gimana perasaan Lo sekarang?" tanya Tasya serius.


Sontak Zara menegakkan tubuhnya, wajahnya berbinar dengan antusias menganggukan kepala.


"Tenang banget, sejuk, bisa napas, gak mikirin apa-apa."


"Dasar, dulu diajak belajar agama gak mau. Sekarang tahu 'kan gimana enaknya hidup tanpa beban dosa?"


Zara hanya tertawa kecil seraya memeluk tubuh sahabatnya.


"Maaf,"


"Perubahan Lo drastis banget Za." Tasya akui hal itu.


Wajah Zara semula memutih layaknya mayat hidup, sekarang terlihat seperti manusia normal. Tatapannya yang selalu kesana kemari, entah mencari apa. Kini hanya fokus ke satu objek.


Kadang Zara juga terlihat linglung, layaknya manusia yang hilang arah. Mengantuk tidak kenal waktu, murung setiap hari.


Namun sekarang, Zara terlihat seperti malaikat yang jatuh dari genteng. Kelamaan berjemur, akhirnya otak dan hatinya berjalan. Darah yang semula terlihat tidak mengalir, kini mengalir di seluruh tubuhnya.


"Maafin gue Sya," ucap Zara tulus.


Tasya melepas pelukannya, lalu bangkit dari tempatnya.


"Gue mau belajar," ucap Tasya.


Sontak Zara bangkit dari tempatnya, memukul kecil punggung Tasya siapa tahu setan yang mengganggunya selama ini. Pindah ke tubuh sahabatnya.


"Apaan sih? sakit banget, gila kali Lo," sergah Tasya.


"Lo kesurupan?"


"Setan aja takut sama gu– eh, takut sama om Raiden. Iya, takut sama om Raiden. Bukan gue."


Tasya merangkul pundak sahabatnya, menarik sedikit paksa tubuh Zara keluar dari kantin.


"Tumben Lo belajar," celutuk Zara.


"Gue takut diperkosa a*jing," bisik Tasya.


"Diperk*sa sama siapa?"


"Yah, suami gue siapa lagi?"


"Ck, itu namanya bukan pemerk*saan. Lo berdua suami istri, gimana sih Sya."


"Tetap aja, gue takut." Om Raiden buat tandingan gue, ucap Tasya yang sampai ditenggorokan.


"Dulu nonton film dewasa Lo malah pengen nyoba. Sekarang dikasih yang hot, malah takut."

__ADS_1


"Kok Lo banyak omong sih? gak kayak Zara yang dulu,"


"Jadi Lo gak senang gue banyak omong?"


"Gak," jawab Tasya asal.


"Jahat banget sih Sya,"


"Bercanda, bestie. Kita keperpustakaan aja, di sana banyak cogan. Siapa tahu–"


"Ingat suami, nanti Lo diperk*sa lagi."


"Gak seru Lo."


Sontak Zara tertawa terbahak-bahak, tetap setia mengikuti langkah kaki Tasya. Hingga mereka berdua masuk kedalam perpustakaan, duduk di meja yang paling pojok.


"Kita free class, Bu Gendut ketahuan selingkuh," ucap Tasya.


"Lo jangan keseringan nyebarin hoax, kasihan orangnya!" peringat Zara. Dia Ingat betul kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana Tasya menyebarkan hoax kematian kepala sekolah mereka.


Bodohnya lagi, seluruh sekolah percaya. Untung pak buncit sahabat dekat orangtunya, kalo tidak habis sudah riwayat Tasya detik itu juga.


"Iya, gue mau tanya. Lo masih bisa lihat hantu?"


"Gak, cuman ngerasain keberadaan mereka doang."


"Kalo kemampuan yang satu lagi?"


"Gak juga tapi kadang muncul, sekilas aja sih."


Tasya manggut-manggut, mengeluarkan semua isi ranselnya keatas meja dan menyusunnya dengan rapi.


Zara hanya diam, mengikuti setiap gerak gerik sahabatnya yang terlihat fokus menyusun soal-soal ujian diatas meja dan mengerjakannya dengan hikmah. Terlihat tidak seperti Tasya.


"Sya, gue mau tanya boleh?"


"Silahkan,"


"Lo kenal Jihan? kalo gak salah mantan suami Lo,"


"Kenal tapi udah almarhum."


"Serius?"


"Hm, mati terbunuh."


"Syukur deh,"


"YAH?"


"Jangan teriak-teriak, ini perpustakaan!" peringat Zara.


"Lo yang duluan," sergah Tasya.


Menatap tajam kearah sahabatnya, tak habis pikir dengan ucapan Zara barusan.


"Nanti aja gue ceritain, sekalian pulang sekolah gue mau kerumah Lo. Ngeliat Alex."


"BUCIN."


_____________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


__ADS_2