
Lorong sekolah yang semula sepi mendadak bising. Pertanda tiga sekawan pembuat onar kembali bertemu.
Seperti biasa Tasya berdiri di tengah-tengah, merangkul pundak kedua sang sahabat seraya tertawa terbahak-bahak.
Padahal pemandangan didepan tidak ada yang lucu, bahkan Alex dan Zara bungkam sejak turun dari mobil. Entah apa yang Tasya pikirkan, mereka tidak tahu.
Hanya Tasya yang tahu isi kepalanya, dan alasan dibalik tawanya.
"Ck, lama-lama gue makin cinta sama om Raiden." Tasya bergumam sendiri. Membayangkan wajah tampan suaminya, terutama tingkah laku pria itu yang semakin membuatnya terpesona.
"Yah bagus," sahut Alex. Mengacak-ngacak pucuk rambut Tasya, gemas melihat tingkah wanita itu.
"Cowok suka apa aja Lex?" tanya Tasya serius. Menoleh kearah Alex, yang juga menatapnya.
"Tempat tidur."
"Ck, gak guna."
"Dikasih tahu, malah gak mau."
"Gue serius pe'a," sergah Tasya tak habis pikir dengan ucapan sang sahabat.
"Apa aja sih. Asal dari orang yang kita cintai, kita-kita cowok pasti terima," ucap Alex sedikit meninggikan suara. Kode terhadap Zara.
Walau kenyataannya perempuan itu tidak akan pernah peka dan tidak mau tahu.
Tasya yang semula tertawa sendiri bungkam sekejap. Sesekali terdengar decakan kecil, dahi mengerut.
"Hm, gimana yah?" Tasya melepas rangkulan lengannya dari pundak Alex dan Zara. Duduk sejenak ketempat duduknya, melepas ransel dari pundak diletakkan di atas meja.
Entah mengapa dia kepikiran membeli sesuatu untuk sang suami, sekedar pertanda bahwa Tasya menyakinkan hati sepenuhnya untuk Raiden Dirgantara seorang. Tapi masalahnya Tasya bingung, hadiah yang tepat untuk sang suami.
Bertepatan Alex hendak duduk ke tempatnya, Tasya langsung menarik kerah belakang pria itu dan menyeretnya keluar dari ruangan.
"Ck, mau kemana sih Sya?" gerutu Alex. Terkejut dengan tindakan mendadak itu.
"Gue lapar, temanin!"
"Tapi gak usah ditarik-tarik, pe'a."
"Bukan gue yang pengen," jawab Tasya asal. Seraya melebarkan langkah melewati lorong sekolah satu persatu.
Alex memilih pasrah, diseret ke kantin sekolah tanpa belas kasian sedikitpun. Untung Raiden baik belakangan ini, jadi Alex rela diperlakukan seperti itu untuk hari ini saja.
"BU KANTIN, NASI GORENG DUA PORSI. TEH MANIS 2 GELAS, ITU AJA," teriak Tasya tepat mereka berdua memasuki area kantin.
Menarik Alex ke meja paling pojok dan menepuk pundak pria itu tiga kali baru duduk disampingnya.
__ADS_1
"Pintar, mulai hari ini Lo harus nurut sama gue."
Siempunya tidak mengatakan apa-apa, hanya diam fokus menatap wajah Tasya yang terlihat berbeda tidak seperti biasanya.
"Sya, muka Lo–"
"Kita izin gabung," sela Bima memotong ucapan Alex. Bergabung ke meja yang mereka duduki, diikuti Kejora yang terlihat cemberut dengan tatapan tajam yang mengarah kearah Tasya.
Siempunya yang menyadari tatapan itu hanya mengangkat bahu acuh, merangkul pundak Alex tanpa memikirkan sang suami seperti biasanya. Tatapannya hanya fokus tertuju kearah dua manusia yang duduk dihadapan mereka.
"Mereka cocok gak Lex?" tunjuk Tasya kearah Bima dan Kejora. Tanpa beban sedikitpun
"Lumayan, sama-sama geser."
Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, setuju dengan ucapan sang sahabat.
"Gue bangga sama Lo Lex." Tasya menepuk pundak pria itu, dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.
"Makasih Sya."
"Sama-sama Lex."
Tasya meraih uluran tangan pria itu dan bersalaman layaknya rekan bisnis yang baru saja melakukan kerja sama.
Tingkah konyol seperti itu sudah biasa Tasya lakukan dan itu yang membuat Bima menyukai perempuan ini. Namun sayangnya, Tasya tidak pernah menerima pertanyaan cintanya. Bahkan tidak pernah melirik sedikitpun kearahnya.
Kebetulan Bima selalu tahu tentang Tasya, sekecil pun itu tanpa ada yang tahu. Termasuk siempunya.
"Kapan sebar undangan? Kelulusan bulan depan, kalo Lo berdua lupa," peringat Tasya.
"Kita udah tunangan, mungkin satu bulan setelah kelulusan baru sebar undangan sesuai kemauan Lo," sahut Bima.
Tasya manggut-manggut, sesekali menoyor kepala Alex yang sedari tadi fokus mendengar pembicaraan mereka.
"Lo jangan sebarin gosip, biar gue aja," ucap Tasya.
Sontak mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan tatapan aneh dari murid yang berlalu lalang.
Bahkan Bima dan Kejora yang duduk dihadapan mereka berdua hanya mengelengkan kepala. Tidak heran lagi dengan tingkah kedua manusia itu.
_________________
Berhubung free class Tasya dan kedua sahabatnya memilih belajar di perpustakaan. Sesekali berbisik-bisik, takut penjaga perpustakaan mengamuk.
Karena segalak-galaknya singa, lebih galak penjaga perpustakaan. Bahkan Tasya yang biasa berteriak-teriak layaknya orang hutan, bungkam sejak memasuki perpustakaan. Menghindari amukan si raja singa penjaga perpustakaan.
"Sya, benar si Kejora sama Bima tunangan?" bisik Zara. Seraya mengeser sedikit tubuhnya mendekat kearah Tasya.
__ADS_1
"Siapa bilang?" tanya Tasya balik.
"Alex."
Spontan siempunya tertawa kecil, sembari mengaruk tengkuk menghindari tatapan tajam Tasya.
"B*nci, udah gue bilangin. Jangan sebarin gosip," sergah Tasya.
"Cuman sama Zara doang kok Sya," jawab Alex.
"Benar-benar kelakuan Lo. Katanya lakik, kelakuan betina," ucap Tasya berapi-api.
Hal yang paling Tasya tidak sukai dari Alex hanya mulut pria ini. Tampangnya memang terlihat seperti laki-laki tapi mulut, melebihi perempuan.
Terkadang gosip sekolah bahkan rahasia guru-guru bisa mereka bertiga tahu. Tentunya informasi yang mereka dapat, dari Alex.
"Benar Sya?" tanya Zara penasaran.
"Hm, tunggu lulus baru nikah katanya," jawab Tasya jujur.
"Boleh juga tuh, soalnya gue sering ngeliat mereka jalan berdua. Gaya pacarannya juga udah melewati batas."
Tasya hanya manggut-manggut, tatapannya hanya fokus ke soal-soal yang bertumpuk di atas meja. Ujian semakin mendekat, target nilai diatas rata-rata harus terwujud.
"Sya, muka Lo pucat dari pagi. Lo sakit?" tanya Alex akhirnya.
Gara-gara Bima pembicaraan mereka berdua terpotong saat di kantin. Ujungnya dia berpikir positif, mungkin karena Tasya belum sarapan makanya wajah cantik itu pucat. Namun sampai sekarang, wajah Tasya tetap pucat. Tidak seperti biasanya.
"Kepala gue pusing, pengen muntah tapi gak ada yang keluar. Mungkin masuk angin," ucap Tasya seadanya.
"Lo hamil?" bisik Zara serius, tepat di telinga Tasya. Takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Gak mungkin,"
"Lo udah punya suami Sya, biasa aja 'kan?"
"Gak mungkin, Za," elak Tasya, tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Pulang sekolah kita ke dokter kandungan, gimana?" usul Zara.
Tasya mengerutkan dahi, berpikir sejenak dengan ucapan sang sahabat detik berikutnya mengelengkan kepala.
"Gak, deh. Malas, gue pengen tidur pulang sekolah."
"Ck, terserah."
_______________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)