
Tidak ada manusia yang terlahir sempurna, terkadang tubuh terlihat sempurna, namun ada kepribadian lemah yang tersembunyi dibalik itu semua. Begitu juga dengan Raiden. Dia memang terlihat sempurna di luar, nyatanya tidak dibaliknya.
Setelah perdebatan beberapa jam yang lalu, dia memang sengaja menghubungi kedua orangtuanya. Dia takut kelepasan, manusia yang berurusan dengannya wanita yang ia cintai.
Memang sebelum pernikahan mereka terjadi, Rudi sempat melarangnya menyetujui permintaan kedua orangtuanya. Dengan alasan, banyaknya resiko menikah dengan anak SMA.
Raiden juga tahu hal itu, tapi tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan malam itu. Karena dia dibawah pengaruh alkohol.
Seharian dia mengurung diri didalam kamar, mencari keputusan yang tepat. Duduk melamun di atas sofa, tatapan fokus ke layar televisi.
Hingga terdengar knop pintu berputar, menampakkan Tasya dengan kepala menunduk. Serta membawa nampan.
Raiden yang menyadari hal itu hanya menahan tawa setengah mati. Perempuan yang satu ini memang penuh kejutan, Raiden sulit mempelajari kepribadiannya.
"Om," panggil Tasya parau. Suaranya terdengar serak, khas baru menangis.
Spontan Raiden bangkit dari tempatnya, melangkah mendekat, mengambil alih nampan seraya menutup pintu.
"Ayo! mau sampai kapan kamu berdiri di situ!"
"Maaf."
Raiden hanya menghela napas, membawa nampan dengan satu tangan. Lengan sebelahnya bebas melilit di pinggang istrinya. Menuntun Tasya kearah sofa.
"Om, maaf," lirih Tasya parau.
Tetap setia berdiri, menolak ajakan Raiden duduk di sampingnya.
"Duduk!"
"Maaf, aku ngaku salah."
"Emang kamu salah apa?" tanya Raiden lembut. Sebenarnya dia sedikit terluka dengan ucapan istrinya, tapi namanya juga emosi.
Raiden juga salah, wanita yang hidup berdampingan dengannya masih anak SMA dan masih berpikir labil.
Seumuran Tasya memang sepantasnya memikirkan cita-cita, impian yang harus dia raih kedepannya. Raiden sebagai suami hanya bisa mendukung, bukan melarang.
Karena dulu ayahnya juga melakukan hal yang sama terhadap bundanya. Setelah mereka menikah, bundanya kembali melanjutkan studi ke luar kota dan sempat menjalankan hubungan jarak jauh, saat mengandungnya.
"Maaf, om."
"Jangan panggil saya, om!"
"Maaf. Aku janji gak bakalan mengulangi kesalahan yang sama. Kalo kamu mau pukul aku, gak papa."
Raiden tersenyum kecil, melipat kedua tangan didepan dada. Menatap istrinya yang masih setia menundukkan kepala, terlihat seperti anak kecil.
"Serius, mau dipukul?"
Tasya hanya mengangguk, dengan tubuh gemetar. Jujur Tasya takut tapi Rudi membujuknya, untuk meminta maaf langsung terhadap sang suami. Karena, jika Raiden memilih diam, berarti itu sifat aslinya. Dia tidak akan berani memukul, apalagi melukai orang yang ia cintai.
Sisi kelam itu muncul, jika menurutnya situasi itu benar-benar sama seperti kejadian di masa lalu.
"Duduk! Temani aku makan," ucap Raiden lembut.
Berat hati Tasya duduk, dengan kepala menunduk.
Raiden makan dalam diam, tatapan fokus ke layar televisi. Sesekali melirik kearah istrinya.
Hanya membutuhkan waktu yang singkat Raiden selesai makan. Menenguk tandas segelas air putih, dengan tubuh kian memanas.
Mulai awal dia makan, menurutnya sudah ada yang salah dengan tubuhnya. Padahal dia hanya meneguk air putih setengah gelas, sebelum menyendokkan makanan.
"Yang masak siapa?" tanya Raiden berat.
"Mpok Atiek, tapi karena udah dingin om, Rudi panasin lagi."
Rudi b*ngsat. batin Raiden.
Membuka kaosnya sekali tarikan dan di lempar asal keatas sofa. Padahal istrinya sedang hamil, itu juga Raiden belum sempat membawanya ke dokter kandungan.
Dia harus bagaimana. Obat perangsang itu sudah menguasai tubuhnya, napas kian memburu, jantung berdetak kencang.
__ADS_1
"Sayang aku mohon. Kamu keluar, kunci pintu dari luar!" pinta Raiden. Tanpa dikuasai obat perangsang pun istrinya selalu tepar melayani sisi jah*namnya, apalagi sekarang. Bisa-bisa istrinya keguguran.
"Kenapa?" tanya Tasya gugup. Menoleh kearah Raiden, yang terlihat kepanasan padahal suhu di kamar normal bahkan terasa dingin.
"Kamu keluar aja, nanti aku panggil!" Raiden bangkit dari tempatnya, hendak melangkah kearah kamar mandi. Namun Tasya mencekal lengannya.
"Kamu masih marah sama aku?"
Tubuh Raiden menegang, hanya sentuhan sekecil itu sudah membuatnya terangsang.
"Aku minta maaf,"
"Kamu gak salah."
"Tapi kenapa kamu menghindar?"
"Kamu gak bakalan tahu, nanti aja aku jelasin. Lebih baik kamu keluar, kunci pintu dari luar!"
"Aku mau di sini, sama kamu."
Spontan Raiden membalikkan tubuhnya, wajahnya memerah, buliran keringat membasahi tubuhnya. Napas tersengal-sengal, tatapan sayu dan berat.
Tasya tahu arti tatapan mata itu, tapi kenapa tiba-tiba?
"Lebih baik kamu keluar, aku butuh waktu sendiri," ucap Raiden menyakinkan. Menahan tubuhnya sekuat tenaga, agar tidak menerkam istrinya.
"Kenapa kamu gak ngomong?" Tasya melepas pakaiannya satu persatu, membiarkan tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.
Manik Raiden membola sempurna, menelan salivanya kasar dengan napas yang semakin berat.
"Jangan aneh-aneh, nanti kamu pingsan lagi."
"Gak, bakal."
"Ini beda sayang."
"Beda darimananya?"
"Obat perangsang," ungkap Raiden.
Tasya terkesiap seketika dan tertawa kecil. Memang ketiga makhluk itu ada-ada saja. Pantasan mereka bertiga memaksanya masuk kedalam kamar dengan membawa nasi dan segelas air, nyatanya ada niat jahat dibaliknya.
"Gak papa, aku bantu. Tapi pelan-pelan, nanti anak kita kenapa-napa lagi."
Tasya mengikis jarak diantara mereka berdua, membelai lembut wajah tampan itu.
Raiden langsung mengangkat tubuh ramping itu keatas ranjang. Dengan gairah yang sudah di ujung ubun-ubun.
"Pelan-pelan!" bisik Tasya.
Raiden hanya mengangguk, mengendalikan tubuhnya sekuat mungkin agar tetap tahu diri.
Kamar yang semula terang mendadak gelap, hanya ada lampu tidur dengan pencahayaan minim yang sengaja Raiden pasang. Takut istrinya terbangun tengah malam hendak ke kamar mandi dan sekedar berjaga-jaga.
Ketiga manusia yang sedari tadi berdiri dibalik pintu, bersorak senang setelah menyadari kamar pasangan suami-istri itu berganti gelap. Rencana mereka berhasil.
"Udah makanan penutup, tugas kita kelar. Turun-turun!" perintah Rudi. Kearah pasukannya.
_______________
Merasa terganggu dengan benda kenyal yang terasa basah yang sedari tadi mengangu tidurnya, terpaksa Tasya membuka matanya. Menarik selimut menutupi wajahnya, sayangnya langsung disambut pemandangan dibalik selimut.
Tubuh kekar suaminya, tanpa sehelai benangpun.
"Masih pagi udah cari kesempatan," bisik Raiden berat. Terkekeh geli menyadari tubuh istrinya menenggang.
Detik berikutnya wajah cantik itu kembali muncul dari balik selimut, dengan wajah memerah dengan tatapan kesal.
"Kenapa gak ngomong?" ucap Tasya kesal.
"Kamu gak nanya,
"Mesum."
__ADS_1
Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, menarik tubuh ramping itu kedalam dekapannya. Memeluk erat, sesekali mencium pucuk rambut istrinya.
"Masih pagi loh nih, itu nya udah bangun. Mesum banget sih," sergah Tasya.
"Itu apaan?" goda Raiden.
"Yang dibawah."
Tawa Raiden semakin pecah, pukulan kecil langsung menyambut punggungnya.
"Jangan mesum mulu, ih. Semalaman loh, masih aja mode on."
"Aku bisa apa?"
"Mesum."
"Iya-iya."
Tasya mencibik. Memeluk tubuh kekar itu erat, seraya mengecup lembut dada bidang suaminya.
"Sayang," bisik Raiden lembut. Membalas pelukan istrinya tak kalah erat.
"Aku minta maaf, semalam kelepasan. Jangan di masukin ke hati yah," imbuh Raiden.
"Aku juga minta maaf. Memang aku niatnya pergi diam-diam ke Jepang. Mau kuliah, cari kerja. Biar gak nyusahin mulu. Biar kita seimbang, biar orang-orang gak ngomong yang aneh-aneh tentang kamu," ungkap Tasya.
Raiden terkesiap mendengar pengakuan istrinya, dia tidak habis pikir. Demi dia, istrinya rela melakukan hal itu. Astaga, Raiden semakin merasa bersalah.
Memang selama ini, banyak berita-berita mengenai keluarganya. Terutama anak SMA yang sering datang ke kantornya. Banyak komentar jahat mengenai hal itu, menganggap Tasya sebagai sugar babynya.
Padahal Raiden selalu menghapus berita-berita yang tidak pantas, mengenai keluarganya dari sosial media atau media cetak. Terutama mengenai istri kecilnya. Takut Tasya kepikiran.
"Aku bakalan berusaha melakukan yang terbaik, biar aku pantas sama kamu," ucap Tasya serius.
Spontan Raiden melongarkan pelukannya, mengangkat dagu istrinya dan mengecup lembut bibir ranum itu yang terlihat bengkak karena ulahnya.
"Terimakasih nyonya atas pengakuannya. Tapi aku gak minta itu dari kamu, cukup tetap disampingku. Itu udah lebih dari cukup," ucap Raiden lembut.
"Omongan orang lain, gak usah dipikirin. Kalo menurut kamu kata-kata mereka udah berlebihan, bilang sama aku. Kita hadapi sama-sama!" tegas Raiden.
Manik Tasya berkaca-kaca, bibir melengkung kebawah hendak menangis. Namun tubuh kekar itu lebih dulu naik keatas tubuhnya.
Meraup bibirnya sedikit kasar, mengalihkan perhatiannya.
"Jangan nangis, aku gak suka!" ujar Raiden.
Melempar selimut yang semula menutupi tubuh mereka berdua, menampakkan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.
"Lebih baik layani suami, daripada nangis. Membuang-buang waktu!"
"Yah, itu mesum namanya."
Raiden hanya diam, tubuhnya sudah mengambil alih tugas nya. Tidak membiarkan istrinya beristirahat sejenak.
"Kamu tahu? cara setiap orang-orang menunjukkan perhatian itu berbeda-beda." bisik Raiden tepat ditelinga Tasya.
Jemari dan bibirnya bergerak liar, napas tersengal-sengal terasa menerpa wajah cantik itu.
"Aku mencintaimu dengan cara yang berbeda. Aku hanya bisa bertindak, tanpa mengucapkan kalimat romantis." Papa sama Mama gak jadi cerai, kamu ngerasain kasih sayang orangtua, kamu nyaman sama-sama sahabat kamu, nenek tua yang ngerendahin kamu hancur. Itu semua karena ancaman aku! Ucap Raiden yang sampai ditenggorokan.
"Jadi?" beo Tasya.
"Aku mencintaimu! jangan kemana-mana!"
"Aku juga mencintaimu!"
"Kita buka lembaran baru, selesai ujian. Kita pindah!" ungkap Raiden.
TAMAT
_________________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1