MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
TEMAN


__ADS_3

Raiden yang mendengar bisikan Alex hanya berdecak kecil, duduk di sofa tepat menghadap kearah TV. Bertepatan Rudi dan Alex bangkit dari tempatnya.


"Om, bisa main game?" tanya Alex. Duduk menyela ditengah-tengah, seraya mengeluarkan stick gema dari bawah meja, yang Raiden yakini Rudi mengobrak abrik isi lemari kamar belakang.


Kebetulan Raiden menyimpan barang-barang lama di sana, sekalian pertanda, Raiden pernah memiliki teman masa sekolah dulu. Sebelum kejadian beberapa tahun yang lalu terjadi.


"Jangan nantangin sahabat gue Lex," ucap Rudi menepuk pundak Raiden. Seakan bangga memiliki sahabat sepertinya.


"Kita buktiin," tantang Alex. Meletakkan stick game ditelapak tangan Raiden dan Rudi. Tanpa segan sedikitpun.


Bahkan Raiden yang diperlakukan seperti itu sempat tersentak kaget, heran sekaligus kagum melihat sosok manusia yang duduk disampingnya.


Sebenarnya dulu Raiden juga sama seperti Alex. Jahil, mudah bergaul, bahkan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Namun rasa percaya diri dan percaya akan orang lain hilang sekejap, hanya karena ulah Andro dengan saudara kembarnya.


Setelah kejadian itu juga Raiden menutup diri dari siapapun tanpa terkecuali, bahkan menjauhi Rudi sahabat dekatnya.


Hanya saja mental pria itu sekuat baja, apapun yang Raiden katakan Rudi tidak pernah sakit hati. Malah setia berdiri di sampingnya, berperan sebagai sahabat terbaik.


"Tasya juga jago main game om, aku aja kalah tiap lawan dia. Dulu juga kita sering ngumpul sama yang lain, cuman main game doang sih tapi seru," ungkap Alex.


Raiden yang mendengar nama istrinya disebut tertarik dengan pembicaraan mereka, karena apapun itu asal tentang Tasya Jovanka, Raiden harus tahu.


"Sama siapa?" tanya Raiden penasaran. Menarik perhatian kedua manusia yang duduk disampingnya.


"Banyak om tapi lebih banyak anak-anak nakal SMA GALAXY. Karena memang mereka kompak-kompak sama Tasya," jawab Alex jujur.


"Cowok semua?"


"Iya, om. Soalnya mulai dari SMP Tasya udah sering bolos. Jadi sampai ke SMA, mereka makin dekat."


Raiden manggut-manggut, fokus menatap layar televisi dengan pikiran berkeliaran kemana-kemana.


"Tapi tenang aja om, selagi kita bertiga kompak. Gak bakalan ada yang berani macam-macam sama Tasya. Apalagi sekarang dia udah gak pernah bolos lagi," ucap Alex seakan tahu isi kepalanya.


Karena memang kenyataannya seperti itu. Selama ada Alex yang jadi pawang Tasya, tidak akan ada yang berani mendekati perempuan yang satu itu. Terkecuali Bima.


Selain dari Bima, yang lain hanya berani menatap Tasya dari kejauhan. Apalagi wanita yang satu itu tripikal manusia yang sulit ditaklukkan.


Bahkan Alex saja sempat kaget mengetahui Tasya menganggumi sosok seorang Raiden Dirgantara, pria dingin dengan sifat yang berbanding terbalik dengannya


"Jadi sekarang Lo masih suka sama Tasya Lex?" tanya Rudi jahil. Sekalian melihat reaksi Raiden.


Seperti dugaannya, wajah pria itu langsung mengeras, tatapannya tajam seakan siap melenyapkan mangsanya.


"Kalo dia mau, yah kita terobos aja om," ujar Alex, mengikuti alur permainan Rudi.


"Gue dukung Lex,"


"Makasih om, aku usahain."


Sontak Raiden bangkit dari tempatnya, detik itu juga tawa kedua manusia yang duduk disampingnya lepas, mengema seisi rumah.

__ADS_1


"LEX, PAWANGNYA GAMUK. LARI LEX, LARI!" ujar Rudi heboh. Gerakan kilat melompat dari sofa, diikuti Alex dengan tawa yang semakin lepas.


"Kita cuman bercanda om, serius," ucap Alex disela-sela tawanya.


"B*NGSAT." Raiden kesetanan, melempar bantal sofa tepat mengenai sasaran.


Kedua sasarannya malah semakin menjadi-jadi dan Raiden simpulkan dia dijebak.


"BUCIN!" teriak Rudi.


________________


Pukul 00:00


Tasya mengendap-endap keluar dari kamar, dengan manik yang masih terbuka lebar. Padahal Zara sudah tidur lelap setelah belajar dan berdoa. Namun sayangnya, tuan rumah malah terjaga hingga tengah malam. Terpaksa Tasya keluar, mengintip kamar sebelah memastikan suaminya.


Tapi sayangnya manusia yang ia cari tidak ada dikamar, malah selimut masih utuh terlihat tidak tersentuh sama sekali.


Sayu-sayu terdengar suara dari bawah, tepatnya TV menyala dan punggung seseorang yang masih setia terjaga.


"Om, Rudi. Om suami mana?" bisik Tasya. Menarik perhatian siempunya, menoleh kearah suara dengan senyuman manis terukir dibibirnya.


"Tidur," tunjuk Rudi kearah sofa tepat disampingnya.


Sontak Tasya melangkah mendekat, tersenyum kecil melihat suaminya yang sudah tertidur di atas sofa tanpa selimut sekedar menghalau suhu dingin.


Padahal Alex yang tidur di sofa lainnya saja memakai selimut, bahkan sudah tertidur pulas.


"Om, belum tidur?" tanya Tasya sekedar basa-basi. Duduk tepat disamping Rudi, mengangkat kecil kepala suaminya keatas pangkuannya.


Tasya hanya mengangguk paham, fokusnya hanya kesatu titik. Wajah tampan suaminya yang terlihat tidur nyenyak tanpa terganggu sedikitpun.


"Om, bangun! Pindah ke kamar yuk!" bisik Tasya tepat di telinga Raiden. Jemarinya sibuk mengelus lembut rambut suaminya, sesekali menarik-narik hidung mancung itu.


"Sayang, bangun!" bisik Tasya lagi, tak kalah lembut dari sebelumnya.


Manik hitam itu langsung terbuka sedikit demi sedikit, menatapnya sayu menahan ngantuk.


"Pindah yuk!" ajak Tasya. Tersenyum lebar melihat wajah tampan itu terlihat linglung, dengan dahi mengerut.


"Belum tidur?" tanya Raiden serak, khas bangun tidur.


"Belum, pindah ke kamar yuk!"


Raiden hanya mengangguk, bangun dari tidurnya dengan bantuan Tasya. Dengan telaten memopong tubuh kekar itu naik keatas, tanpa menyadari Rudi yang sedari tadi diam membisu melihat interaksi mereka berdua.


"Ck, gini amat numpang tidur di rumah orang yang punya bini," gumam Rudi.


Menghela napas sejenak, seraya berbaring keatas sofa.


Rencana tidur dikamar sebelah gagal total. Tasya malah ikut berbaring disamping tubuh kekar itu, setelah mematikan lampu kamar seperti biasanya.

__ADS_1


"Teman kamu tidur sama siapa?" tanya Raiden. Menarik tubuh ramping itu kedalam dekapannya, memeluk erat dengan selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua.


"Tidur sama diri sendiri," jawab Tasya asal. Kesal mendengar pertanyaan suaminya.


Sontak Raiden tertawa kecil, dengan gemas mengeratkan pelukannya.


"Om," panggil Tasya lembut.


"Hm,"


"Pengen punya anak berapa?"


"Selusin,"


"Serius, ih."


"Serius sayang. Banyak anak banyak rezeki,"


"Ck, masalahnya aku mana kuat."


"Kita bagi rata, setengah kamu yang mengandung setengah lagi aku."


"Mana bisa."


Tasya melilitkan kedua kakinya ke pinggang suaminya, gemas dengan tingkah pria itu.


"Bisa, kamu sendiri yang ngomong waktu itu."


"Bercanda tahu,"


"Aku gak percaya."


"Terserah, aku ngantuk."


"Begadang aja yuk!"


"Besok-besok aja, aku udah ngantuk banget" ucap Tasya serius.


Maniknya memang benar-benar berat dan mengantuk, beda dari beberapa menit yang lalu. Ternyata penawar ngatuk nya pria yang memeluknya.


"Bercanda,"


Tasya hanya mengangguk, mencari posisi yang nyaman di dada bidang suaminya. Sesekali mengecup lembut tubuh kekar itu yang sudah tidak dibalut apa-apa. Kebiasaan Raiden, tidur bert*lanjang


"Selamat malam om suami."


Spontan bibir Raiden terangkat membentuk sebuah senyuman manis.


"Selamat malam juga nyonya."


_________________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


BEBERAPA PART MENUJU ENDING


__ADS_2