
Ekspresi Raiden terlihat menyeramkan. Datar, tatapan tajam, rahang mengeras, luka lebam muncul dibeberapa bagian wajahnya. Bekas pukulan Alex.
Untung pria itu datang tepat waktu, jika tidak bodyguard yang berjaga didepan rumah bisa m*ti dalam waktu yang bersamaan.
Raiden kesetanan setelah tahu istrinya keluar dari pekarangan rumah tanpa penjagaan dan melepaskan kekesalannya terhadap orang-orang yang ada disekitarnya.
Tidak ada yang berani melawan, dilawan pun mereka tetap kalah. Kemampuan bela diri Raiden tidak ada yang mampu menyeimbangi, apalagi dalam keadaan emosi yang memuncak. Perubahan wajahnya langsung berubah drastis, tatapannya tajam seakan siap melenyapkan musuhnya.
Hanya karena Tasya, jiwa menakutkan Raiden yang beberapa bulan ini tidak pernah terlihat muncul kembali ke permukaan. Alarm bahaya untuk bodyguard yang selalu setia disampingnya.
"Den, sarapan dulu baru naik keatas," ujar Mpok Atiek lembut. Tepat tubuh kekar itu muncul dari balik pintu.
Sebenarnya Mpok Atiek ragu mengucapkan kalimat itu tapi dia sudah mengenal Raiden dari dulu. Dalam keadaan seperti ini, Raiden membutuhkan makanan atau samsak melupakan emosinya. Takut ada korban.
"Antar ke kamar aja Mpok," sahut Raiden datar tanpa ekspresi. Menaiki tangga satu persatu, berlalu masuk kedalam kamarnya.
File-file sudah menumpuk diatas meja, berarti Rudi baru saja kemari. Raiden harap pria itu tidak tahu apa yang terjadi, jika tidak urusannya semakin panjang.
***
"Lex, muka Lo pucat. Sakit atau kangen?" tanya Tasya. Menyentil kening pria disampingnya, yang terlihat berbeda dari beberapa menit yang lalu.
"Kepala gue pusing,"
"Pusing atau kangen Azara Sadewa?" Tasya meletakkan kepalanya diatas meja, tepat dihadapan wajah sahabatnya. Yang terlihat memejamkan mata, sesekali memijat keningnya.
Sebenarnya Tasya ingin membantu tapi dia tidak pantas melakukan itu. Jari manisnya sudah terisi. Takutnya timbul kesalahpahaman.
"Dua-duanya," jawab Alex dengan santainya.
"SERIUS LO? CK, CK, CK, DUA-DUANYA BUCIN. INI NIH YANG DIMAKSUD, TEMAN TAPI MESRA. MIRIS," teriak Tasya mengema seisi ruangan. Untung free class, jadi mereka bebas.
Sontak yang lain tertawa terbahak-bahak, setuju dengan ucapan Tasya. Kebetulan berita Alex yang membantu Zara mengobati penyakitnya, sudah tersebar luas. Karena mulut ember Tasya.
Kebetulan juga yang lain hanya tahu Zara sakit, tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Alex memilih diam, tidak berminat membalas Tasya seperti biasanya. Kepalanya benar-benar pusing, akibat kurang tidur belakangan ini.
"Yang begini jangan ditiru, bahaya."
"Sya, Lo bisa diam gak? kepala gue pusing," geram Alex. Tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya.
"Oh, benaran pusing?" tanya Tasya serius. Detik berikutnya bangkit dari tempatnya. Mengambil ranselnya dari laci meja dan ransel Alex, seraya menarik kerah kemeja pria itu dari tempatnya.
"Kita pulang, gue takut Lo jadi batu."
"Ck, kepala gue tambah pusing."
Bagaimana tidak? dia diseret begitu saja, Tasya seakan menganggapnya mainan mobil-mobilan yang bisa diseret ke sana kemari.
Bahkan guru BK tertawa kecil, melihat interaksi mereka berdua. Hanya meminta izin saja, Tasya harus melakukan drama singkat. Menangis layaknya istri ditinggal suami.
__ADS_1
Memalukan, nama Alex Budiman mantan ketua OSIS yang disiplin hancur sekejap.
"Gue keren banget gila. Besok-besok gue jadi artis aja kali yah, Oma pasti bangga."
Tasya berbicara sendiri, tepat mereka berdua keluar dari ruang BK.
"Ck, gue pengen lari dari kenyataan." Alex meringis, membayangkan wajah Tasya beberapa menit yang lalu. Entah bagaimana caranya Raiden hidup berdampingan dengan wanita yang satu ini. Dia saja angkat tangan, menyerah menghadapi Tasya.
"Lex gimana menurut Lo akting gue barusan?"
"Malu-maluin."
"Gak seru, gue udah baik mempercepat proses kita pulang dari sini tapi itu balasan Lo." Tasya kembali menarik kerah belakang Alex, menyeretnya melewati lorong sekolah satu persatu. Tanpa ada penolakan sedikitpun.
SMA GALAXY memang ketat. Meminta izin pulang saja sulit, selagi masih bisa dirawat di UKS.
"Om Raiden memang keren banget, bisa hidup sama titisan setan setiap hari," ucap Alex.
"Jadi maksud Lo, gue beban gitu?"
"Siapa bilang? Lo cantik, tinggi, pintar–"
"Oh, gak mampan."
Sontak Alex tertawa terbahak-bahak, setia mengikuti langkah kaki manusia dihadapanya. Walau tubuhnya terasa remuk, diseret-seret begitu saja.
"Eh, om Rudi. Ganteng banget, darimana om?" Tasya menghentikan langkahnya, menatap bingung kearah Rudi yang baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Ruang kepala sekolah," jawab Rudi tenang menutupi rasa terkejutnya.
"Ngapain?"
"Ada urusan penting,"
"Oh." Tasya hanya mengangguk paham, tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Suara bariton itu terdengar aneh ditelinganya, berbeda dengan suara Rudi yang dulu.
"Mau kemana?" tanya Rudi balik.
"Pulang, dia sakit." Tunjuk Tasya kearah Alex, yang melambaikan tangannya kearah Rudi walau posisi tubuhnya terlihat menyedihkan.
Bahkan Rudi saja meringgis, entah sekuat apa istri sahabatnya. Bisa melakukan hal itu.
"Ayo saya antar," tawar Rudi.
"Gak ngerepotin om?"
"Gak, papa."
Tasya tersenyum lebar, menarik Alex begitu saja. Menuntun lengan sahabatnya kepundak Rudi.
__ADS_1
"Pegangan sama om Rudi aja, gue capek."
"Sib*ngsat, Lo yang narik-narik gue," sergah Alex tidak terima.
Menurunkan lengannya dari pundak Rudi dan tersenyum canggung.
"Maaf om."
Rudi hanya mengangguk, kembali melanjutkan langkahnya dengan menahan tawa setengah mati. Kelakuan istri Raiden memang benar-benar. Pantasan pria itu betah di rumah seharian.
"Gue baik nolongin Lo Lex, siapa tahu Lo tiba-tiba pingsan. Zara gak ada di sini, gak ada yang bisa kasih napas buatan."
"Napas buatan pala Lo pe'a,"
"Terserah, gue gak peduli."
Tasya berlari kecil, mensejajarkanya langkahnya dengan Rudi. Diikuti Alex dari belakang.
"Om ganteng, mirip om suami," puji Tasya jujur.
Karena itu memang kenyataan. Tanpa polesan make up seperti yang dulu, wajah pria ini memang benar-benar mirip dengan wajah suaminya. Persis seperti saudara kembar.
"Tapi om suami lebih ganteng," sambung Tasya lagi.
Spontan Rudi tertawa kecil, tidak habis pikir dengan ucapan wanita disampingnya.
"Om Rudi sama om suami kembar atau saudara kandung yang lama terpisah bertemu kembali? mirip banget, iya gak Lex?" tanya Tasya dengan polosnya.
"Iya." Alex iyakan saja, kepalanya bertambah pusing. Melihat tingkah sahabatnya.
"Om suami gak ke kantor 'kan om?" tanya Tasya serius kearah Rudi.
"Gak tapi besok harus kekantor, ada pertemuan yang harus dia urus," jawab Rudi seadanya.
"Besok-besok kurangin dong om jadwal suami aku, nanti kambuh lagi sakitnya," bujuk Tasya. Tanpa sadar siapa yang memimpin perusahaan.
"Yah om Rudi, tolongin Tasya dong."
"Iya,"
"Awas aja kalo om bohong, om bisa mati ditangan aku."
Tasya tertawa jahat, tanpa memperdulikan tatapan aneh dari kedua pria itu.
Ck, cari bini modelan begini dimana? hiperaktif banget. Batin Rudi.
Lama-lama om Raiden bisa stress, untung nih anak cantik. Batin Alex.
"Ngomongin orang didalam hati gak baik loh, iya gak om Rudi? Alex Budiman?" tanya Tasya, dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya. Yang sayangnya terlihat menyeramkan.
________________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)