MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
JEALOUS


__ADS_3

"MAU KEMANA LO BERDUA?" teriak Chelsea, si ketua OSIS pengahalang rencana Tasya selama ini.


Mereka berdua memilih diam, melempar tatapan satu sama lain dan menghela napas panjang. Rencana bolos hari ini gagal, padahal rencananya mereka berdua akan mengunjungi satu tempat.


Tempat yang selama ini Tasya sukai, sekaligus tempat bermain mereka sejak kecil. Latihan bela diri.


"Lo gak ada kapok-kapoknya selama ini," sergah Chelsea kearah Tasya.


Berdiri tepat dihadapannya, sembari bercakak pinggang. Dua perempuan yang mengikutinya dari belakang hanya diam, sesekali melirik kearah Axel.


"Lo gak malu? Axel anak baru, mana cowok lagi."


"Kenapa emang kalo dia cowok? orang dia teman gue, iya gak?"


Siempunya hanya menganggukkan kepala, dengan wajah datar tanpa ekspresi ciri khas Axel selama ini.


"Dasar m*rahan,"


Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, ia biasa mendengar sindiran itu. Padahal selama ini Tasya tidak pernah naik ranjang siapapun, kecuali ranjang Raiden suaminya.


Tapi selama kita benar, lebih baik diam daripada berkoar-koar. Menghabiskan tenaga.


Melihat reaksi Tasya yang terlihat tenang seperti biasa, membangkitkan emosi Chelsea yang merasa tersaingi dengan gadis modelan seperti Tasya. Ia tidak boleh kalah dengan gadis yang satu ini, bahkan Axel murid baru saja langsung menempel dengannya.


Padahal perbandingan wajah mereka, sangat jauh berbeda. Ia lebih cantik, dan harus lebih unggul dalam bidang apapun. Mengiri.


"Pohon gak jauh dari buah nya, gambaran ibu Lo pasti kayak gini. Wanita mur*han."


Sontak manik Tasya melotot, terkejut mendengar ucapan perempuan dihadapannya. Seumur-umur baru kali ini ada yang berani membawa-bawa mama nya. Walaupun mereka gagal mendidiknya, bukan berarti orang-orang bebas merendahkannya.


"Ngomong apaan Lo?" geram Tasya. Melempar ranselnya kearah Axel dan mencengkeram kerah kemeja cewek itu.


"Lo sama aja kayak ibu Lo, mu ra han."


"JAGA UCAPAN LO!"


"Kenapa benar yah? udah berapa ranjang Lo naikin, di bayar berapa?"


Satu pukulan langsung melayang di wajah Chelsea, Axel yang melihat pemandangan itu hanya melipat kedua tangan, tanpa berniat membantu sama sekali.


Itu biasa, malah biasa sekali. Waktu kecil pun begitu, bahkan wajah Tasya sudah babak belur Axel memilih diam agar gadis yang satu itu tau yang namanya melawan.


"Pukul Sya sampai mampus," ujar Axel dengan tenangnya.


"Hidup itu keras, jadi Lo juga harus keras."


Kata itu yang selalu Axel ucapkan di masa lalu, tapi sayangnya kata-katanya tidak pantas di ucapkan dalam waktu genting seperti saat ini. Yang ada Tasya semakin menjadi-jadi.


_______________


Lepas kejadian tadi, Tasya dan Chelsea malah di seret ke ruang kepala sekolah. Seperti biasa Tasya berdiri, Chelsea duduk di salah satu kursi di hadapan kepala sekolah.

__ADS_1


Tasya tidak mempermasalahkan hal itu, asal mama nya tidak di bawa-bawa.


"Sampai kapan kamu seperti ini? kamu anak gadis, bukan pria Tasya," ucap kepala sekolah.


Siempunya hanya diam, dengan menunduk kepala.


"Wanita mu ra han memang gitu Bu, gak ada etika. Mungkin orangtuanya gak ngajarin etika," ucap Chelsea. Sesekali meringis karena luka robek di sudut bibirnya.


"Saya gak minta pendapat kamu!" bentak wanita paruh baya itu kearah Chelsea.


"Lah memang benar Bu dia mu ra han. Buktinya Axel anak baru aja langsung nempel sama dia. Kayaknya udah di kasih jatah tiap malam."


"Ekhm,"


Dehemen keras terdengar, bersahutan derap langkah mendekat hingga sepatu hitam mengkilap berhenti tepat di hadapan Tasya.


"Selamat pagi bu, saya wali dari Tasya Jovanka."


Sekejap hening, manik Raiden hanya fokus kearah istrinya yang terlihat berantakan. Tapi yang lebih membangkitkan emosinya, gadisnya di rendahkan mulai dari tadi bahkan di perlakukan tidak adil.


Dengan kesal Raiden meraih salah satu kursi dan mendudukkan gadisnya sedikit paksa.


Wajah kepala sekolah langsung pucat dengan tubuh gemetar. Mungkin sebentar lagi jabatannya akan menurun drastis. Apalagi yang berurusan dengannya putra tunggal Dirgantara. Pria kejam yang tidak segan-segan melakukan apa saja, asal sakit hatinya terbalas.


"Ma– maaf pak," ucap wanita paruh baya itu gugup.


"Jadi saya di panggil hanya melihat ponakan saya di rendahkan, begitu Bu?" tanya Raiden dengan nada mencengkam.


"Saya kecewa dengan kualitas kerja anda,"


Suasana semakin mencekam, apalagi rahang tegas itu semakin mengeras.


"Dua siswa di perlakukan berbeda, saya baru tau ada peraturan seperti itu."


"Saya minta maaf pak,"


"Saya izin bawa ponakan saya pulang, saya kurang yakin dia aman di sini."


Raiden langsung menarik lengan ramping itu, menariknya berlalu keluar dari ruangan kepala sekolah. Meninggalkan dua wanita itu dengan tubuh yang gemetar, karena bukan kepala sekolah saja yang terancam Chelsea lebih terancam di sini.


Ekpresi wajah tampan itu tetap sama, dengan tatapan yang semakin tajam. Tapi itu hanya bertahan beberapa detik, tepat maniknya menangkap satu sosok yang terlihat familier.


"Dia ngapain di sini?" tunjuk Raiden kearah Axel, yang terlihat melangkah mendekat kearah mereka berdua.


"Cari mati katanya,"


"Bodoh,"


"Memang. Cuman dia doang detektif yang paling bodoh sepanjang masa, udah di jebak satu kali masih aja ngotot."


"Dibayar mahal-mahal juga gak mau,"

__ADS_1


"Udah Tasya bilang om, dia memang bodoh. Padahal otaknya dibawah rata-rata, sok sokan menangkap psikopat."


Raiden hanya mengelengkan kepala, berbelok ke lorong yang lain tepat Axel membuka mulut. Gadisnya harus di jauhkan dari siapapun terlebih kaum Adam, yang ada menambah saingannya.


"Ck, Sya."


Dengan tergesa-gesa Axel berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan dua manusia dihadapanya, walau tetap saja hasilnya sama.


"Gimana Lo diskros berapa hari? Gue udah bilang pukul aja sampai mampus, tapi Lo malah diam aja," ujar Axel, yang tidak diubriks sama sekali.


"Padahal itu masih lawan kecil, tapi Lo malah kalah."


"Kalo dia mati, sama aja gue nyerahin diri ke balik jeruji," sahut Tasya akhirnya.


"Gak bakal, si botak bakalan bantu. Dia mana mau musuhnya kalah begitu aja, balas dendam nya aja belum terbalas." ucap Axel asal.


Kenyataannya mantan kepala sekolah dulu tepatnya ayah Axel, tidak terlalu memikirkan kejadian 2 tahun yang lalu. Kejadian itu dia anggap angin berlalu, tapi masalah memukul Tasya itu memang benar.


Karena dari dulu ayah Axel selalu berharap Tasya menjadi menantunya, tapi sayangnya kelakuannya 11/12 dengan Axel.


Apalagi Axel ngotot menjadi detektif, pekerjaan yang paling membahayakan menurut ayah Axel. Bahkan nyawanya sempat terancam, tapi sampai sekarang pria itu tetap kekeh dengan pendiriannya.


Malah turun tangan sendiri ke SMA GALAXY, hanya menyelidiki kasus pembunuhan itu. Untungnya dia dipertemukan dengan teman kecilnya, walau sebenarnya usia mereka bertaut tiga tahun. Gadis yang satu ini saja yang tidak ada sopan-sopan nya.


"Tapi kemampuan bela diri Lo makin keren juga,"


"Biar gue bunuh Lo sewaktu-waktu. Orang hampir mati, tapi Lo masih santai gak ngapa-ngapain."


"Yah bagus, sekalian Lo latihan bela diri."


"Setan,"


Axel tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan tatapan tajam yang mengarah ke arahnya.


Bisa-bisanya pria yang satu ini sok akrab dengan gadisnya, padahal dia sendiri tau Tasya adalah istrinya.


Sontak Raiden mengehentikan langkahnya, menarik tubuh ramping itu kebelakang tubuhnya menyembunyikan Tasya dari pandangan Axel.


"Jangan dekat-dekat sama bini gue, mulai sekarang!"


Pria dihadapannya hanya tersenyum, menatap kedua punggung itu berlalu menjauh.


"Ck, siapa suruh bini Lo cantik." ujar Axel.


________________


TERIMAKASIH


AKU JUGA SENANG INI PERTAMA KALI NYA AKU NULIS NOVEL DENGAN ALUR BERBELIT-BELIT, DAN JUJUR ITU MENYENANGKAN.


BINGUNG? BIASA AJA. MALAH AKU JELASIN ALURNYA SETIAP RINCI. AKU PIKIR KALIAN PAHAM

__ADS_1



__ADS_2