MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
PEMERAN UTAMA 1


__ADS_3

Mungkin semalam, Alex, Zara dan Rudi uring-uringan memikirkan pasangan suami-istri itu. Nyatanya tidak terjadi apa-apa. Mereka berdua terlihat baik-baik saja, bahkan terlihat menjijikan dimata Rudi.


Jika selama ini Raiden acuh tak acuh terhadap istrinya, sekarang malah kelebihan bucin. Pagi-pagi Raiden sudah stand by memasak di dapur, memasak sarapan pagi untuk istri tercinta.


Dan sekarang, pria itu sibuk menyuapi istrinya yang sedari tadi duduk diam membisu, tidak banyak tingkah seperti biasanya. Terkadang merengek tidak jelas. Dan Raiden selalu sabar melakukan apa saja keinginan istrinya.


Entah apa yang terjadi mereka bertiga tidak tahu, mereka memilih diam dengan tatapan fokus kearah kedua manusia itu. Sembari menikmati sarapan.


"Udah kenyang," tolak Tasya. Tepat sendok berisi makanan, menyentuh bibirnya.


"Satu sendok lagi," bujuk Raiden lembut.


"Gak mau, pengen muntah," rengek Tasya. Wajahnya sedikit memucat, bibir mengerucut kedepan.


Sontak Raiden bangkit dari tempatnya, menyimpan piring bekas sarapan mereka berdua ke wastafel. Baru kembali mendekat kearah istrinya.


"Ayo!" ajak Raiden.


Tasya hanya menurut, mengikuti tubuh kekar itu menaiki tangga satu persatu tanpa memperdulikan ketiga manusia yang sedari tadi menonton drama mereka berdua.


"Om," bisik Alex kearah Rudi.


"Apa?"


"Mereka berdua kenapa? Om salah kasih obat semalam?"


"Benar kok, teh herbal obat penenang Raiden biasanya. Gak ada racun," jawab Rudi seadanya.


"Tapi–"


"Ck, kadang gue heran. Sebenarnya Lo cewek apa cowok sih Lex?" sela Zara memotong ucapan Alex. Kesal dengan tingkah pria itu.


Siempunya hanya nyengir kuda, menoleh kearahnya sembari mengaruk tengkuk.


"Udah berapa kali gue bilangin, Lo lakik Lex bukan cewek," sergah Zara.


Sontak Rudi tertawa terbahak-bahak, menepuk pundak Alex tiga kali baru bangkit dari tempatnya.


"Ganti celana Lo jadi rok, gue kasian lama-lama," ejek Rudi. Berlalu menjauh dari meja makan, dengan roti bakar dikedua tangannya.


"Gue tunggu di mobil," ucap Rudi.


Zara dan Alex hanya mengangguk patuh, memakan sarapannya secepat kilat baru tergesa-gesa meninggalkan meja makan.


Mereka berdua memang diantar Rudi selama ini, walau sebenarnya arah kantor dan SMA GALAXY berbeda arah. Entah sejak kapan mereka kompak, yang pastinya Rudi selalu memperlakukan kedua sahabat Tasya dengan baik. Layaknya Raiden memperlakukan mereka bertiga.


"Pengen muntah," keluh Tasya entah keberapa kalinya.


Raiden yang duduk dibelakangnya hanya diam, sibuk merapikan rambut panjang itu dan diikat rapi.


Mereka berdua masih didalam kamar, duduk ditepi ranjang menyelesaikan kegiatan istrinya yang belum selesai. Mulai dari memakai sepatu, mengikat rambut, hingga mengoleskan minyak kayu putih di tengkuk dan perut rata istrinya.

__ADS_1


"Hadap sini!" titah Raiden.


Tasya hanya menurut, memutar tubuhnya mengahadap kearah Raiden dan memakai jaket dengan bantuan suaminya.


"Yakin bisa sekolah?" tanya Raiden lembut. Merapikan rambut istrinya kembali, yang sedikit berantakan.


"Minggu depan udah ujian, mumpung ada waktu aku gunain buat belajar aja," ucap Tasya seadanya.


Raiden mengehela napas sejenak, meraih jas hitamnya dari pangkuan Tasya lalu dipasangkan ke tubuhnya.


"Jangan terlalu dipaksa, kalo ada apa-apa langsung hubungi aku!"


Tasya hanya mengangguk, seraya mengancing jas hitam suaminya.


"Kamu kerja aja, aku baik-baik aja kok. Pulangnya jangan kemalaman, kalo ada apa-apa langsung hubungi bang Nathan atau aku!" Peringat Tasya.


"Iya,"


"Jangan cuman iya, kamu gak boleh lukai diri sendiri apalagi orang lain. Kalo emosi kamu udah gak bisa dikontrol lagi, datang sama aku. Kita hadapi sama-sama, dengar gak?"


Sontak Raiden tertawa kecil, mengangguk patuh dengan ucapan istrinya.


Padahal semalam dia sendiri pingsan akibat ulahnya, tapi bisa-bisanya menawarkan diri untuk menjadi korban seperti semalam. Wanita yang satu ini benar-benar sempurna. Walau terkadang menyebalkan.


"Ada lagi?" tanya Raiden lembut.


Sontak Tasya bangkit dari tempatnya, naik keatas paha kekar itu memeluk erat leher suaminya.


"Ayo!"


"Aku malas jalan, apalagi ngeliat muka kamu."


"Dasar bocil." Raiden bangkit dari tempatnya, melilitkan kedua kaki ramping itu dipinggangnya. Baru meraih ransel istrinya.


"Serius, muka kamu itu ngeselin banget. Tapi bau badan ini nih." Tasya memukul punggung suaminya. "Wangi banget."


"Padahal aku belum mandi loh," goda Raiden.


"Jadi yang tadi pagi mandiin aku dikamar mandi itu siapa, coba?" tanya Tasya berapi-api.


"Kembaran aku mungkin,"


"Terserah, aku gak peduli."


Sontak Raiden tertawa kecil, menutup pintu kamar baru menuruni tangga satu persatu.


"Jadi sekarang ceritanya, gak panggil om lagi nih?" tanya Raiden, semakin gencar menggoda istrinya.


"Hm, mama marah-marah semalam. Malah sampai pukul aku lagi, untung ada papa." Tasya mengendus-endus leher suaminya, tanpa memperdulikan bulu kuduk siempunya yang sudah berdiri karena ulahnya.


"Emang papa ngapain?"

__ADS_1


"Belain aku dong,"


"Enak yah punya papa,"


"Enak banget tahu."


Raiden hanya tersenyum, senyuman pertama kalinya yang terlihat langsung didepan mata beberapa bodyguard. Pemandangan langka, setelah bertahun-tahun mereka bekerja dengan pria itu


"Turun, nanti keburu terlambat," ucap Raiden. Tepat pintu mobil terbuka.


"Gak bisa yah gendong aku sambil nyetir?"


"Gak boleh. Bukannya jalan, malah khilaf."


"Mesum. Yaudah kita jalan kaki aja, gendong aku tapi."


"Masalahnya SMA GALAXY jauh dari sini, aku keburu pingsan. Mana kamu berat banget."


Tasya hanya tertawa kecil, berat hati turun dari gendongan suaminya duduk dengan enteng di kursi samping kemudi.


"Padahal aku kecil banget,"


"Kecil darimana nya?" tanya Raiden. Sembari memasang sealtbet istrinya.


"Kecil tahu, lihat nih!" tunjuk Tasya. Spontan Raiden mengikuti arah tunjuk jemari lentik itu, tepat kearah dada istrinya.


"Favorit aku itu." Raiden memajukan wajahnya, mengecup kedua gundukan itu.


"Ada lagi?" goda Raiden, tepat didepan wajah istrinya.


"Mesum, jauh-jauh sana! Muka kamu ngeselin banget."


Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, mengecup sekilas bibir istrinya baru menutup pintu.


Detik itu juga wajah Tasya langsung memerah sempurna, menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari tertawa dalam diam.


Bahkan Raiden yang baru saja duduk di kursi kemudi, mengelengkan kepala heran dengan tingkah istrinya. Tumben-tumbenan wanitanya melakukan hal sekonyol itu.


"Kenapa?" tanya Raiden. Sembari memutar setir. Perlahan melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah, dengan tatapan fokus lurus kedepan.


"Kamu ngeselin banget," elak Tasya. Tetap setia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menutupi wajahnya yang kian memerah.


"Iya, aku ngeselin," ucap Raiden seakan mengalah.


Takut masalah semalam terulang kembali. Apalagi diperut istrinya ada darah dagingnya yang sedang bertumbuh.


"Di sekolah jangan banyak gerak, ingat makan bekal yang dari rumah!" peringat Raiden.


Tasya hanya mengangguk, walau dilubuk hatinya yang paling dalam senang mendengar ucapan suaminya. Kapan lagi mereka berdua akur, terlihat seperti pasangan normal seperti biasanya.


___________________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


__ADS_2