MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
SISI LAIN 1


__ADS_3

Demi istri dan anak yang ada didalam kandungan istrinya. Raiden rela dijadikan samsak. Tidak berani menghindar apalagi melawan. Karena pukulan sang istri tercinta katanya, kemauan anak yang ada dalam kandungannya.


Wajah yang semula sempurna tanpa celah sedikitpun, sekarang terlihat menyedihkan. Tasya benar-benar memukulnya dengan kekuatan penuh, hingga lebam dan memar muncul dibeberapa bagian wajahnya.


Namun setelah kejadian itu terjadi, muncul drama baru. Tasya meminta maaf dengan air mata yang membasahi pipinya, jemarinya telaten mengobati luka diwajah suaminya.


Awalnya Raiden pikir drama akan berakhir setelah wajahnya di obati. Sayangnya, berlanjut panjang. Malah lebih menyebalkan.


"Om, mau yah jadi guru privat?" bujuk Tasya entah keberapa kalinya.


Menarik-narik ujung kaos hitam Raiden kemanapun pria itu melangkah. Bahkan ke kamar mandi sekalipun.


"Ngapain?" Raiden mengehela napas panjang, menoleh kearah Tasya yang masih setia berdiri di belakangnya.


"Mau yah, jadi Guru privat. Cuman matematika doang kok, itu juga beberapa soal."


"Balasannya apa?"


Tasya memutar matanya jengah, detik berikutnya menganggukan kepala.


"Apa aja kemauan, om."


"Yasudah, sana siap-siap!"


"Mau kemana?" beo Tasya.


"Tempat tidur!"


"Mau ngapain?"


"Layani suami!" elak Raiden.


"Ajari matematika dulu,"


"Iya-iya, astaga. Aku mau kencing loh ini."


Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, memeluk tubuh kekar itu dari belakang semakin gencar menjahili suaminya.


Tasya juga tahu tujuan suaminya ke kamar mandi. Tapi menjahili pria ini, suatu hal yang menyenangkan.


"Keluar dulu sana! aku udah gak tahan," bujuk Raiden.


"Malu? padahal aku udah lihat juga."


"Sial." Raiden menyerah. Buru-buru menuntaskan tujuannya ke kamar mandi, dengan mengehela napas lega.


"Gede–"


"Jangan ngomong yang aneh-aneh!" sentak Raiden. Gerakan kilat membalikkan tubuhnya, dan mengangkat tubuh ramping itu keluar dari kamar mandi.


Mendudukkannya diatas sofa, diikuti tubuhnya, duduk disamping Tasya.


"Berapa soal?" tanya Raiden.


Spontan Tasya meraih ranselnya dari atas meja, bertepatan buku kecil bersampul hijau terjatuh keatas lantai.


Manik Raiden langsung membola sempurna, tubuh menegang.

__ADS_1


Tasya yang menyadari hal itu langsung turun dari sofa, namun kalah gesit dari Raiden. Meraih dan mengamatinya dengan saksama.


Berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Ini punya siapa?" tanya Raiden lembut. Tetap bersikap tenang, walau jantung sudah berdetak kencang.


Rencananya dengan bundanya berhasil, Tasya sudah hamil yang pastinya tidak akan pergi kemana-mana. Tapi kenyataannya salah. Bahkan Tasya sudah mengurus paspor diam-diam.


"Ini punya siapa?" ulang Raiden lagi.


Tasya mengehela napas sejenak, meyakinkan hati. Mungkin ini waktu yang tepat.


"Aku mau kuliah," ungkap Tasya.


"Kemana?"


"Jepang."


"Kenapa aku baru tahu?" Raiden berusaha setenang mungkin. Menatap paspor digenggamanya, dan wajah cantik itu secara bergantian.


"Rencananya mama sama papa yang ngomong langsung sama, om!"


"Yang mau berangkat siapa?"


"Aku."


"Kenapa mama sama papa yang ngomong sama aku? Emang udah minta izin sama suami?"


Tasya mengeleng, menunduk kepala dalam-dalam takut menatap manik hitam itu.


Awal pertemuannya dengan kedua orangtuanya di restoran waktu itu, banyak hal yang mereka bicarakan. Terutama impian Tasya, yang selama ini bermimpi melanjutkan studi ke Jepang, dengan kedua sahabatnya.


"Kamu masih ingat, aku siapa?" tanya Raiden dingin. Intonasi suaranya jauh berbeda, dari beberapa menit yang lalu.


"Maaf,"


"Kamu gak boleh kemana-mana!"


Tasya yang semula diam membisu langsung berapi-api. Tatapannya tajam, seakan menantang Raiden.


"Kenapa? aku cuman pengen sekolah. Lagian mama sama papa yang biayain. Om, tenang aja. Aku gak bakalan minta uang sepeser pun."


Raiden terkesiap, tidak habis pikir dengan ucapan istrinya. Dia tidak mempermasalahkan biaya atau apapun itu, dia hanya ingin Tasya tetap di sampingnya. Apalagi sekarang, ada darah dagingnya yang sedang bertumbuh di perut istrinya.


Raiden ingin melarang keras keinginan Tasya, namun lidahnya keluh sekedar mengucapkan sepatah kata. Emosi yang awalnya memuncak redup seketika. Dia harus sadar, wanita yang bersanding dengannya masih anak sekolah. Sepantasnya memikirkan hal itu.


"Terserah kamu, saya tidak melarang. Keluar!" Raiden tidak boleh emosi, tunggu hati dan pikirannya jernih baru mengambil keputusan.


"Keluar!"


"Om,"


"KELUAR!" bentak Raiden untuk pertama kalinya.


Wajah Tasya langsung berubah drastis, manik berkaca-kaca terkejut mendengar ucapan suaminya. Melangkah ragu keluar dari kamar, takut dengan tatapan tajam itu.


________________

__ADS_1


Pukul 20:00


Rumah yang biasanya ramai diisi tawa, mendadak hening. Tasya masih setia menangis, memeluk Zara erat.


"Mending temui om Raiden. Omongin baik-baik!" saran Zara.


Tasya hanya mengeleng, takut sekaligus kesal dengan ucapan suaminya.


"Lo udah jadi istri orang Sya, kehidupan Lo udah beda dari kita-kita. Kehidupan Lo memang sepatutnya sesuai ucapan suami, apalagi ini masalah besar bukan hal kecil," terang Zara. Berusaha membujuk sang sahabat.


"Gue pengen kuliah,"


"Tapi harus minta izin dulu sama om Raiden. Ini Jepang loh Sya, bukan luar kota."


"Gue pengen kuliah, Za."


"Iya, Lo tetap kuliah sama kita ke Jepang. Tapi gue mohon, minta izin dulu sama om Raiden."


"Gak, mau."


Zara hanya bisa menghela napas, melirik kearah Alex dan Rudi yang sedari tadi diam, fokus menatap layar televisi.


Menurut Rudi, drama pasangan suami-istri ini lumayan menarik, sudah lama Raiden tidak bertingkah seperti ini. Rudi mengenal Raiden dari kecil, jadi sudah hapal betul semua tingkah sang sahabat.


Jika sudah seperti ini, berarti itu benar-benar Raiden yang dulu. Setiap apa yang Raiden inginkan jika tidak terwujud atau tidak dituruti. Pria itu akan diam dan mengurung di kamar seharian, hingga apa yang dia mau terwujud.


Apalagi kedua orangtuanya sangat memanjakan Raiden mulai dari kecil. Walaupun Wisnu terlihat sedikit keras, tapi tetap saja memanjakan putra semata wayangnya.


Bahkan masalah ini sudah sampai ke telinga kedua orangtuanya, yang Rudi yakini Raiden sudah mengadu. Hanya saja Rudi melarang keras mereka masuk kedalam rumah klasik ini, dengan alasan semua baik-baik saja.


Alasan terbesar mental Raiden tidak sembuh sampai sekarang hanya satu, karena orangtuanya terlalu memanjakan pria itu. Padahal Raiden sudah dewasa, sudah sepatutnya menghadapi masalahnya sendiri tanpa campur tangan kedua orangtua.


Hidup itu ibarat pisau, semakin di asah makan semakin tajam. Semakin banyak masalah yang menghampiri, maka akan semakin kuat. Semua diawali dari hal kecil, semakin terbiasa menghadapi hal kecil maka akan semakin kuat menghadapi hal besar.


Jadi untuk masalah yang satu ini, Rudi ingin Raiden sendiri yang turun tangan. Tanpa campur tangan siapa pun. Karena ini menyangkut masa depan, rumah tangga Raiden sendiri.


"Lo udah biasa dibujuk om, Raiden. Jadi kali ini, Lo yang bujuk suami Lo sendiri. Om, Raiden kayaknya benar-benar marah. Dia juga belum makan malam. Bujuk sana!" ucap Zara akhirnya. Lama-lama kupingnya panas mendengar isak tangis Tasya.


"Bujuk, sana! Tasya."


"Gak, mau."


"Lo cengeng banget sih. Tasya yang gue kenal gak pernah cengeng, gak pernah nangis malah."


"Dia yang salah, gue dibentak," adu Tasya di sela-sela tangisnya.


"Yaelah, dulu juga kita sering di bentak kalo ketahuan bolos. Lo makan apaan sih? cengeng banget," ucap Zara kesal.


"GUE HAMIL, B*NGSAT! GUE JUGA GAK PENGEN KAYAK GINI. TAPI PENGEN NANGIS."


Ketiga manusia yang sedari tadi duduk disamping Tasya mengumpat keras. Tidak habis pikir dengan tingkah makhluk hidup yang satu itu.


"Emang ada ibu-ibu hamil kayak gini?" sergah Zara kesal.


"Ada, dia sendiri," tunjuk Alex kearah Tasya.


Tangis Tasya semakin pecah, Zara, Alex dan Rudi hanya mengelengkan kepala. Ingin melenyapkan Tasya, tapi takut pawangnya mengamuk.

__ADS_1


________________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2