
Bel istirahat berbunyi, Axel langsung menarik Tasya keluar dari ruangan. Kebetulan proses belajar mengajar tetap berlangsung, walau guru sedang rapat. SMA GALAXY salah satu SMA unggul di kota ini, badai apapun menghampiri belajar tetap diutamakan.
Murid-muridnya juga disiplin, walau sebagian ada yang menyimpang. Contohnya Tasya.
"Ck, mau kemana sih? sakit tangan gue setan," gerutu Tasya.
Axel tetap diam, menyelesuri lorong sekolah satu persatu hingga berhenti tepat di atap sekolah. Biasanya tempat ini digunakan anak-anak seni, entah mencari referensi atau melamun.
Tujuan Axel ke sini sekedar mencari angin dan mengungkit sesuatu yang harus Tasya tahu. Axel yakin, Raiden tidak akan pernah menceritakan itu semua.
"Lo pernah ke sini?" tanya Axel dengan santainya, memilih duduk dengan melipat kedua kaki tanpa memperdulikan wajah cantik itu ditekuk kesal.
"Gak,"
"Bodoh."
Siempunya hanya mendengus kesal, duduk tepat disamping Axel dengan jarak yang lumayan jauh. Takutnya suaminya tiba-tiba datang, malah mengamuk seperti semalam.
Entah cemburu atau tidak Tasya juga bingung. Pria yang satu itu tidak pernah mengungkapkan perasaannya, jadi Tasya tidak tau Raiden mencintainya atau tidak.
"Waktu itu Zara kambuh, Lo di situ gak?" tanya Tasya penasaran.
"Kenapa emangnya?"
"Biasanya itu bakalan ada korban pembunuhan, Lo tau dari ruangan mana yang jadi korban?"
"Tingkat tiga juga, katanya si centil," ungkap Axel.
Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, heran sekaligus bingung. Orang-orang menyadarinya atau tidak tapi menurut Tasya ini cukup lucu.
"Lo tau gak? korban pertama sampai terakhir ini, tante-tante girang semua," ucap Tasya semakin tertawa terbahak-bahak.
"Kayaknya Psikopat itu pencinta tante-tante girang, mungkin dia buaya darat juga," lanjut Tasya lagi.
Axel hanya diam, karena menurutnya tidak ada yang lucu. Malah aneh.
"Lo sadar gak, semua korban pembunuhan itu musuh bebuyutan Lo selama ini?"
Sekejap hening, Tasya diam mematung dengan manik melotot. Kenapa dia baru sadar?
Kebetulan selama ini, Tasya memiliki sekumpulan pembenci karena banyak pria yang berdekatan dengannya. Manusia iri akan selalu ada, padahal Tasya tidak pernah mengubris keberadaan mereka satu persatu.
Untung ada Alex yang jadi pawangnya selama ini, makanya hidup Tasya tenang dari gangguan para buaya sekolah. Tapi sekarang Alex pergi menjauh dari kehidupannya. Entah apa yang akan terjadi dengan kehidupannya mulai hari ini.
Axel bukan manusia yang harus dipercayai, yang ada kehidupan Tasya hancur berantakan.
"Coba Lo hitung, berapa manusia berpakaian hitam di bawah!"
Tasya menurut, menghitung satu persatu pria berbadan besar yang selama ini bertugas menjaga lingkungan sekolah.
Mulai dari pagi hingga sore, mereka selalu stand by di sana. Entah di bayar berapa tapi menurut Tasya pasti dibayar mahal. Orang mereka mempertaruhkan nyawa, demi menjaga nyawa.
"Lima puluh lebih kalo gak salah," ucap Tasya.
"Ck, hitung yang benar bodoh!"
__ADS_1
"Malas, lagian Lo siapa nyuruh-nyuruh gue?"
"Setan,"
"Lo."
Sontak Axel menoleh kearahnya, menatapnya tajam seakan siap menerkamnya. Untung cantik, jika tidak Axel sudah melemparnya sedari tadi.
"Apa?" ancam Tasya, dengan tatapan mengejek.
Terdengar decakan kecil, Axel memilih mengalah hanya untuk beberapa menit kedepan. Dia tidak bisa sekedar menjewer telinga Tasya, posisi mereka saat ini tidak mendukung.
"Lo tau mereka jagain siapa?"
"Lo bodoh atau gimana sih? katanya detektif itu aja gak tau," sergah Tasya tak habis pikir.
"Kalo gue bilang mereka cuman jagain satu orang, Lo bakalan percaya gak?"
"Oh, tentu. Gak."
"Ck, percaya atau gak percaya.
Mereka semua cuman jagain satu orang."
"Ngawur,"
"Mungkin dia berharga, makanya sampai segitunya."
"Ngomong apaan sih Lo?"
"Sebelum Psikopat itu pindah ke kota ini, seseorang lebih dulu
melapor ke kantor polisi merekrut semua kepolisian dan detektif dengan bayaran mahal," ungkap Axel.
Tasya memilih diam, mencerna baik-baik ucapan Axel.
"Cumam gue doang yang nolak tawaran itu, karena gue pengen menikmati masa-masa pekerjaan gue sebagai detektif untuk terakhir kalinya."
"Serius?"
"Sibotak ngancam, gue gak bisa lawan kayak dulu. Gue tobat,"
"Sadar sendiri maksudnya?"
"Rese Lo,"
Sontak Tasya tertawa kecil, tanpa memperdulikan tatapan tajam pria yang duduk disampingnya. Ayah Axel memang melarang keras impian putranya dari dulu, apalagi Axel putra satu-satunya.
"Lo percaya gak? Psikopat itu di siksa pelan-pelan selama ini," ungkap Axel.
"Why?"
"Dendam pribadi seseorang,"
"Siapa?"
__ADS_1
"Raiden Dirgantara."
"Bohong,"
Tasya mengeleng-gelengkan kepala, menunjuk kearah Axel dengan tatapan mengejek. Cerita pria ini pasti karangan semata, tidak mungkin suaminya melakukan itu semua.
Waktunya saja lebih banyak dihabiskan bekerja dan bermalas-malasan diatas ranjang. Jadi sejak kapan suaminya melakukan itu semua?
"Mungkin menurut Lo ini semua rumit, nyatanya gak. Andai suami Lo terbuka orangnya, Lo bakalan tau apa yang sebenarnya terjadi."
"Cerita!"
Tasya penasaran apa yang terjadi sebenarnya, percaya urusan belakang. Walau kenyataannya Tasya lumayan percaya dengan pria yang satu ini.
Axel itu orangnya blak-blakan, biasanya orang modelan seperti ini jarang berbohong. Axel juga selalu mengatakan fakta, apalagi dia seorang detektif. Pastinya sudah di selidiki terlebih dahulu.
"Kasus pembunuhan ini, udah direncanakan matang-matang. Entah mereka dulu punya perjanjian atau gimana, gue gak tau. Memang awalnya dia berencana membunuh banyak orang, sekalian meneror suami Lo. Tapi sayangnya yang diteror lebih licik, mungkin belajar dari masa lalu."
"Darimana Lo tau? waktu kejadian itu juga Lo udah diluar negeri."
"Gue pulang tapi cuman di bolehin tiga hari."
"Pantasan,"
"Lo tau, semua korban dari SMA GALAXY ada hubungannya sama Lo.
Tasya mengerutkan dahi, masih bingung arah pembicaraan mereka. Lagian hubungannya apaan? pembunuh itu saja tidak Tasya kenal.
"Kayaknya suami Lo punya dendam pribadi sama setan itu, sebelum musuh bergerak dia lebih dulu bergerak. Semua data pribadi dia palsukan, ujungnya yang kena musuh Lo semua."
Untuk masalah kehidupan Tasya, Axel cukup tahu. Soalnya si botak sering bercerita tentang kehidupan Tasya. Baik buruk, bahkan orang-orang yang terkadang menjahilinya.
Mulai dari SMP kumpulan perempuan centil itu juga yang membuat kehidupan Tasya semakin pahit, cuman karena iri. Walau kenyataannya memang, wajah mereka semua di bawah standar.
"Tapi kata Zara, incaran dia cuman suami gue doang."
"Memang, tapi jangan Lo pikir Raiden Dirgantara bodoh cuman karena mental nya hancur. Dia malah lebih seram, setan itu dia bunuh pelan-pelan. Sekaligus musuh bebuyutan Lo selama ini."
"Cara main dia keren banget, sekali bertempur langsung dua tujuan tercapai. Balas dendam dia terbalas, sekaligus istri setan nya aman dari kuman. Biar Lo tau, mereka semua cuman jagain Lo doang." tunjuk Axel kearah bodyguard yang berjaga hampir di sekeliling sekolah.
Hampir 100 orang Raiden perintahkan, hanya menjaga istri kecilnya agar rencananya berjalan mulus.
Tasya melongo tidak percaya, mana mungkin sebanyak itu diperintahkan cuman menjaga satu orang. Lagian mereka ditugaskan pemerintah yang dia tau.
"Gue tau Lo gak bakalan percaya, jadi tanya sendiri sama yang bersangkutan. Lain kali jangan nilai orang dari tampangnya, jangan Lo pikir suami Lo pendiam dia gak bisa selicik itu."
"Dibalik diam nya suami Lo ada rencana jahat yang dia susun, dibalik senyumannya pasti minta jatah."
"Br*ngsek."
"Tenang aja, Psikopat itu cuman akal-akalan suami Lo doang. Asal istri setannya aman," ungkap Axel.
______________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1
KUOTA SEKARAT, JADI GAK BISA DOUBLE UPDATE SEPERTI BIASA BHUHAHA