
Tubuh ramping itu dibaringkan sepelan mungkin ke atas ranjang, diikuti tubuh kekar Raiden dengan tatapan yang berbeda.
Sekali tarikan kaos hitam itu terlepas dari tubuhnya, dilempar asal ke atas lantai tanpa melepaskan pandangan dari manik biru itu. Gadisnya seakan menantang, mengalungkan kedua lengannya dibelakang lehernya dengan senyuman merekah dibibirnya.
"Om, mau ngapain? serius banget,"
"Kiss me!"
"Balasannya apa?"
"Play with me," bisik Raiden sensual tepat di telinga gadisnya.
"Seru gak? kalo gak, gau usah deh."
"Nantangin."
Sontak Tasya tertawa kecil, mengecup lembut bibir tebal itu dengan tatapan beradu dengan manik hitam kelabu milik suaminya.
Tasya memang sengaja memakai bikini, dengan warna sesuai yang dia ucapkan semalam. Kebetulan di rumah hanya ada mereka berdua, selama ini juga malam pertama mereka tertunda. Jadi tidak masalah menurutnya.
Apalagi setiap tatapan yang tertuju kearahnya, selalu berbeda. Raiden selalu menatapnya dengan kagum dan mendamba.
Kecupan lembut itu perlahan berubah menjadi ciuman liar, hingga tubuh ramping itu tidak tertutupi apa-apa.
"Bentar–"
Tasya mendorong tubuh kekar itu, dengan napas yang tersengal-sengal. Napas hangat memburu terasa menerpa wajahnya.
"Kunci pintu!"
Sial, Raiden hampir lupa. Dengan tergesa-gesa turun dari ranjang, mengunci pintu kamar dan berlari terbirit-birit menutup kaca balkon hingga kamar temaram tanpa pencahayaan.
Dengan gemetar melepas penutup yang tersisa ditubuh kekarnya dan naik keatas ranjang kembali. Seulas senyuman manis terukir indah dibibirnya, hanya ditujukan kearah sang pujaan hati. Gadis SMA, yang sebentar lagi berubah menjadi wanita nya.
Mengecup lembut setiap inci wajah cantik itu, yang terlihat memerah menahan malu bercampur gairah.
"Jangan takut," bisik Raiden meyakinkan.
"Tapi om janji tanggung jawab, aku gak mau punya anak tapi gak punya orangtua."
Raiden mengerti akan hal itu, gadisnya belajar dari kehidupannya.
"Aku janji, kita mulai hidup yang baru. Aku pengen punya anak, kamu ibu dari anak-anakku nanti."
Tasya mengangguk, membelai lembut wajah tampan itu hingga setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Malam pertama yang tertunda, akhirnya terjadi.
Saling mencumbu satu sama lain, mengagumi keindahan tubuh satu sama lain dengan rona merah di kedua pipi gadisnya.
"Aku mencintaimu!" bisik Raiden lembut.
_______________
16:00 PM
Seulas senyuman manis terukir indah dibibir pink itu, membalas pelukan hangat sang suami, pria yang kini resmi menjadi suami sungguhan. Tasya tidak menyesal sama sekali, yang ada bahagia menjadi wanita pertama dikehidupan Raiden Dirgantara.
Selama kegiatan panas tadi, banyak pengakuan yang keluar dari bibir tebal itu. Mulai dari first kiss, Raiden belum pernah melakukan ciuman dengan siapa pun kecuali dengan istri sahnya. Berarti Tasya yang pertama.
Melakukan hubungan suami-istri, hal pertama yang baru saja Raiden lakukan dan tentunya Tasya wanita pertama.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Tasya saat ini, bercampur aduk. Apalagi tubuhnya terasa remuk, nyeri dan perih.
Tapi sayangnya pelaku nya masih setia memejamkan mata, tepar kehabisan tenaga. Memang tubuh kekar itu terlihat sempurna, nyatanya tak sesuai dengan tenaga.
__ADS_1
Kejadian beberapa tahun yang lalu, suaminya hampir kehabisan darah. Kehidupan nya yang sekarang, suatu mukjizat yang sangat Tasya syukuri.
"Om,"
Hening tidak ada sahutan. Hanya dengkuran kecil yang terdengar, siempunya masih enggan membuka mata.
"Sayang,"
"Hm,"
"Dasar om-om."
Tasya mencibik, mendorong kasar tubuh kekar itu. Dengan pergerakan sepelan mungkin turun dari ranjang. Melangkah tertatih kearah kamar mandi.
Sebentar lagi Oma nya pulang, minimal salah satu diantara mereka berdua yang terlihat keluar dari kamar. Tasya malu ada yang tahu kegiatan mereka berdua beberapa jam yang lalu, menurutnya memalukan.
Bayangan tubuh kekar itu, terekam jelas di otaknya. Tapi yang paling membekas, senyuman manis dan sentuhan lembut jemari kekar itu diwajahnya.
"Sayang,"
Raiden meraba ranjang disebelahnya,
kosong tidak ada siapa-siapa. Sontak tubuh kekar itu terbangun dari tidurnya, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 20:00. Sial, dia ketiduran.
"Sayang!" hening tidak ada sahutan sama sekali. Samar-samar terdengar tawa dari bawah, tawa gadisnya entah dengan siapa.
Dengan gerakan kilat Raiden bangkit dari tempatnya, berlari terbirit-birit masuk kedalam kamar mandi. Melakukan ritual mandi secepat mungkin.
Merasa area lehernya aman, kaki jenjang itu menuruni tangga satu persatu. Menatap dua wanita yang berbeda usia itu duduk di sofa, dengan manik menatap lurus kedepan tepat kearah layar televisi.
"Suami kamu udah bangun, gih temanin makan!" ujar Ratna, yang menyadari keberadaan Raiden pertama kalinya.
Sontak wajah cantik itu memerah sempurna, menelan salivanya kasar sembari menoleh kearah manusia yang sangat ingin Tasya hindari.
"Tasya!"
"Gih, temani suami kamu makan," tutur Ratna lembut.
Terpaksa Tasya bangkit dari tempatnya, melangkah kearah dapur diikuti tubuh kekar itu.
"Masih sakit?" tanya Raiden khawatir, ngilu melihat cara berjalan istrinya.
"Apanya?"
"Itu."
"Maksudnya?"
Terdengar decakan kecil, tubuh kekar itu duduk tepat disamping gadisnya hingga jemarinya diletakkan tepat di area yang ia maksud.
"Yah, om ngapain?"
"Masih sakit?"
"Ck, masih nanya. Jangan pegang-pegang, mesum banget sih."
Bukannya mengindahkan ucapannya, Raiden malah mengelus lembut bagian bawah istrinya dengan senyuman jahil dibibirnya.
"Lagi yah?"
"YAH? MAKAN OM, MAKAN BUKAN MESUM!"
Siempunya hanya tertawa kecil, mengambil alih piring dari genggaman gadisnya dan menyendokkan makanan kedalam mulutnya, tanpa melepaskan pandangan dari wajah cantik itu.
__ADS_1
"Astaga om, berdoa dulu ih."
"Malas,"
"Benar-benar orangtua yang satu ini,"
"Belum orangtua sayang, kita belum punya anak. Yang tadi belum tentu jadi, nanti kita lanjut biar langsung jadi."
"Enak aja. Om pikir gak sakit apa? mana mesum banget, dari siang sampai sore. Dasar om-om."
"Besok-besok kita coba dari pagi sampai ke pagi nya lagi."
"YAH?"
"Jangan teriak-teriak, nanti Oma dengar."
"Om, mesum banget sih?"
"Mesum begini, udah punya istri."
Tasya mencibik, memakan apa saja yang ada di atas meja asal mulutnya mengalah.
Pria yang satu ini tidak enak diajak bicara, selalu saja mengarah kearah yang sama. Ranjang.
"Sayang,"
"Apaan?"
"Ck, gak sopan ngomong sama suami."
"Iya-iya, maaf."
"Good girl,"
Tasya hanya bisa menghela napas panjang, menoleh kearah suaminya dengan menaikkan alis.
"Nambah," Raiden mengeser piringnya kearah gadisnya.
"Tumben, biasanya om makan dikit."
"Biar ada tenaga nanti malam."
"Astaga om, besok-besok otak sama mulutnya dicuci dulu yah,"
"Kenapa? orang istri Om suka. Malah bilang begini, Pelan-pelan om, iya disitu, jangan digigit gak enak, aku mau coba diatas–"
"Ngomong apaan sih?"
"Enak banget om, besok-besok kita coba lagi yah. Kamu tahu siapa yang ngomong gitu?"
"Gak tahu, aku gak peduli."
"Istri Om," sambungannya lagi.
"Pintar banget yah ngarang cerita, besok-besok om jadi penulis aja."
Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, berhasil mengerjai wanitanya. Yah, Tasya sudah resmi menjadi wanitanya nona muda Dirgantara seorang.
Ucapannya barusan hanya candaan semata, istrinya tidak mengatakan apa-apa saat mereka melakukan kegiatan diatas ranjang. Yang ada mengkhawatirkan kondisi tubuhnya, walau dia sendiri tersiksa dibawah tubuhnya.
Wanita yang satu ini membuatnya semakin terpesona, jatuh sedalam-dalamnya dengan semua
yang ada pada wanita nya tanpa terkecuali.
__ADS_1
______________
TERIMAKASIH;)