
1 Minggu berlalu
Lelah
Satu kata yang mendeskripsikan keadaan Raiden saat ini. Penampilan dihari pertama dan hari ini jauh berbeda perbandingannya.
Lingkaran hitam terlihat jelas dibawah mata, tenaga terkuras habis, rambut acak-acakan dan penampilan berantakan.
Dalam jangka satu Minggu, semua jadwal yang Rudi susun kelar satu persatu. Mulai dari pertemuan rekan bisnis, peninjuan proyek kelapangan, perjalanan bisnis ke luar kota, hingga membatalkan perceraian kedua mertuanya yang keras kepala.
Raiden baru tahu sifat kedua manusia itu, ternyata lebih sulit diajak kompromi daripada anak dibawah umur saking keras kepalanya.
"Bro,"
"Hm,"
"Yaelah, Lo masih aja dingin sama gue. Udah berapa kali gue minta maaf masih aja kayak kulkas," decak Rudi yang duduk disampingnya.
Mereka berdua duduk lesehan di atas lantai kantor menghadap kearah kaca, menampakkan pemandangan kota dimalam hari. Dengan botol alkohol berserakan dimana-mana, kebiasaan mereka mulai dari dulu hingga sekarang.
"Gue pusing."
"Segitu aja Lo udah mabuk."
Raiden memilih diam, meladeni manusia mabuk bukan ide yang bagus. Rudi menyindirnya padahal dia sendiri yang mabuk.
Karena pusing yang ia katakan, bukan pusing karena alkohol.
"Mama kadang masih gak sadar Ruby gak ada, apa gue harus mati biar mama sadar?"
"Boleh,"
"Jadi Lo dukung gue mati b*ngsat?"
"Gak juga,"
"Ck."
"Itu semua ada ditangan Lo, kalo keputusan Lo mau mati yaudah gue setuju-setuju aja. Kalo Lo gak mau mati, Lo harus tetap mati."
Sontak Rudi tertawa menanggapi ucapannya, mulai dari dulu sampai sekarang sahabatnya yang satu ini memang tidak ada bedanya. Setiap apa yang ia ucapkan, Raiden selalu menganggapnya suatu candaaan.
__ADS_1
Karena dari sisi manapun, Raiden juga takut kehilangannya sebaliknya juga Rudi begitu. Apalagi hubungan mereka kian membaik belakangan ini,
berkat Wisnu yang sedang dirawat di rumah sakit, penyakit jantungnya kambuh akibat ulah anak lucknut nya.
Raiden pergi diam-diam setelah urusan mereka kelar dengan Andro, Wisnu pikir Raiden marah dan lari sejauh-jauhnya dari kehidupannya. Nyatanya, dia dan Tasya hanya liburan saja.
"Pulang sana! nanti Lo dicariin," usir Raiden seraya mengimbaskan tangannya.
"Malas,"
"Ck, nanti nyokap Lo nangis."
"Gue juga manusia Den, gue capek jadi Ruby mulu. Gue Rudi, bukan Ruby. Bukannya iri, bukannya gila kasih sayang tapi masalahnya gue juga pengen bebas. Masih banyak yang belum gue nikmatin. Masa muda gue lebih banyak jadi Ruby daripada Rudi."
"Gue juga pengen punya bini kayak Lo, pengen punya anak kayak Gavin Megantara. Gue iri Den, gue juga pengen."
Raiden tertawa kecil seraya merangkul pundak sahabatnya, menguatkan Rudi seperti apa yang pria itu lakukan setiap ia dikendalikan alam bawah sadarnya.
Memang sosok Rudi manusia langka. Rela melakukan apa saja demi wanita yang ia cintai.
Padahal dari dulu sampai Ruby tidak ada, perempuan itu tetap menjadi anak yang paling dibanggakan. Memandang Rudi sebelah mata, padahal mereka sama. Memang benar, Rudi tidak gila kasih sayang karena mereka berdua hanya gila kerja dan uang.
"Ada waktunya bre,"
"Besok, gue cariin janda muda beranak satu. Paket lengkap. Lo punya bini, plus punya anak."
"B*ngsat,"
"Pulang sana! nanti Lo dicariin."
"Dicariin bini masih enak, lah ini dicariin emak. Mana yang tanya Ruby mulu, lama-lama gue jadi Andro. Psikolog dadakan,"
"Psikopat, bukan psikolog."
Rudi hanya tertawa renyah, melangkah sempoyongan keluar dari ruangan. Langsung disambut beberapa bodyguard, mengantarnya pulang selamat sampai tujuan.
Karena tidak memungkinkan pria ini pulang dalam keadaan mabuk. Yang ada tinggal nama.
Kini hening, manik Raiden beralih ke layar ponselnya berharap satu pesan atau panggilan masuk dari wanitanya.
Satu Minggu mereka tidak bertemu, satu Minggu itu juga komunikasi mereka terputus. Entah kemana wanitanya, tak satu pun pesan dan panggilan yang diterima.
__ADS_1
Padahal bodyguard melapor, Tasya di rumah tidak pernah kemana-mana. Malah tiap hari bersih-bersih tapi tak satupun balasan yang ia terima.
"Ngambek?" Raiden menghela napas sejenak dan menguap.
"Ck, anak yang satu itu lama-lama bikin pusing. Tiap hari jadi hantu."
Hantu yang selalu menghantui hati dan pikirannya.
______________
Satu Minggu tidak bertukar sapa, satu Minggu tidak bertemu, satu Minggu itu juga suaminya tidak menampakkan batang hidungnya. Satu Minggu bukan waktu yang singkat. Satu Minggu bahkan terasa satu ribu tahun untuk manusia bucin seperti Tasya.
Ingin rasanya menangis, mencabik-cabik wajah tampan itu melepaskan kekesalannya. Entah kemana perginya pria yang satu itu, bertukar sapa pun mereka tidak bisa. Ponselnya tidak bisa digunakan lagi, tidak ada alat yang bisa Tasya gunakan sekedar mengirim pesan.
Ratna memang menawarkan ponselnya tapi Tasya segan, itu bukan hak miliknya takut rusak seperti apa yang Keano lakukan. Tasya trauma dadakan.
"Om, kemana sih? gak ingat istri banget. Orang khawatir juga. Dia sakit atau gimana sih?"
Tasya mondar mandir di balik pintu kamar, berharap pintu terbuka menampakkan tubuh kekar itu.
Tiap malam itu saja yang perempuan itu lakukan, bahkan enggan menutup mata saking khawatirnya.
"Kalo aku pulang ke rumah takutnya dimarahi. Tapi salah dia sendiri juga, udah seminggu gak pulang-pulang. Ck, mana kadang sakit kalo kecapean. Om Raiden ini gimana sih?"
Tasya melepas sandal jepit nya, dilempar asal ke sembarang arah melepaskan kekesalannya.
Jiwa bar bar nya kembali berkobar, Tasya tidak tahan lagi. Seminggu pria itu tidak menampakkan batang hidungnya, seminggu itu juga Tasya uring-uringan mengkhawatirkan kondisi suaminya.
Pria itu hanya sempurna di depan, hancur dibelakang.
Dia tidak sekuat yang dia bayangkan tapi pria itu selalu keras kepala, melakukan apapun selama kondisi tubuhnya mendukung.
"Lama-lama gue b*ntungi juga Om Raiden, biar gak bisa kemana-mana."
_______________
TERIMAKASIH:)
UNTUK YANG TIDAK KENAL SIAPA GAVIN MEGANTARA, JADI SINGKAT PERKENALAN.
GAVIN MEGANTARA ITU ANAK KEDUA SAYA SETELAH ALTERIO MAHENDRA.
__ADS_1
MARI MAMPIR KE NOVEL GAVIN (PERJODOHAN)