
"Kenapa Lo?" tanya Alex, tepat Tasya duduk di jok belakang mobil.
"Suami gue lucu,"
"Suami Lo yang lucu atau Lo yang kayak d*jjal?"
"Dua-duanya,"
"Hati-hati Sya, surga di telapak kaki suami."
"Ha? sejak kapan di ganti?"
"Tahun lalu,"
"Biasanya yang ngomong gitu kuburannya pendek, yang jemput malaikat kegelapan."
"Sejak kapan coba ada yang ngomong gitu?" tanya Alex, seakan tak mau kalah.
"Gue barusan,"
"Terserah."
Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, beralih ke arah Zara yang sedari tadi diam membisu di samping kursi kemudi.
"Kenapa bini Lo?" tanya Tasya kearah Alex.
"Sejak kapan Zara banyak omong?"
"Iya juga sih,"
Tasya mengaruk tengkuknya, tertawa kecil sembari menatap keluar kaca mobil.
Zara memang orangnya pendiam, tapi sekali ngomong ibarat cabe rawit dimakan dari batangnya, pedas.
Tapi diamnya juga dipertanyakan, biasanya Zara punya masalah makanya diam berlarut-larut dan selalu menyimpannya sendiri tanpa berniat menceritakannya, sebelum puas menahannya sendiri.
Mereka mengerti akan hal itu, karena setiap orang punya cara tersendiri menghadapi masalah.
Tak menunggu lama mobil sudah terparkir di parkiran sekolah, seperti biasa mereka bertiga berjalan beriringan melewati lorong sekolah satu persatu, dengan Alex ditengah-tengah merangkul pundak mereka berdua.
Pagi ini ada yang aneh, semua pasang mata tertuju kearah mereka bertiga dengan bisik-bisikkan tidak jelas.
"Oh, iya. Si Bima sama si itu siapa sih namanya–"
"Kejora," sahut Zara.
"Iya, udah gimana?" tanya Tasya, seakan tau bisikan seluruh warga sekolah.
"Masih di rumah sakit, si Bima juga belum sadar tapi udah di bawah pengawasan polisi," jelas Alex.
Tasya hanya menggangguk, duduk di samping Zara sembari menatap teman sekelasnya yang sedari tadi berbisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan aneh.
"KENAPA LO SEMUA? BOSAN HIDUP? GUE GAK BAWA SENJATA, MENDING LO SEMUA DIAM SEBELUM GUE TUTUP MULUT LO SATU PERSATU!" teriak Tasya, memenuhi ruangan.
Spontan semua gegalapan, mencari kesibukan masing-masing takut berurusan dengan manusia yang satu itu.
"Bikin kesal aja Lo semua," geram Tasya.
Dengan kesal membuka ranselnya, meletakkan semua bukunya ke atas meja dengan sedikit membanting nya hingga menimbulkan suara nyaring.
Zara dan Alex hanya tertawa kecil, merasa terhibur melihat wajah kesal Tasya. Hanya mereka berdua yang berani tertawa saat Tasya marah seperti saat ini, karena Tasya tidak akan marah, malah ikut tertawa.
Pagi ini meeting penting, di pimpin pemilik perusahaan sekaligus ayah Raiden. Jujur sebenarnya Raiden malas menghadiri rapat seperti saat ini, rasanya membosankan.
Lebih baik berkutat dengan keyboard dan layar komputer, tidak peduli berapa lama pun itu asal tidak berkumpul dengan orang lain atau lebih tepatnya benci dengan keramaian.
Kebetulan Raiden hanya CEO, bukan pemilik. Pemegang perusahaan sepenuhnya masih ayah nya dan Raiden mendukung penuh akan hal itu. Rasanya malas mengikuti rapat penting seperti saat ini, rasanya membosankan dan pusing.
"Terimakasih atas waktunya, rapat berakhir," ucap Wisnu mengakhiri rapat.
Sontak Raiden bangkit dari tempatnya, hendak berlalu keluar dari ruangan sebelum namanya terdengar menggelar sesi ruangan.
"RAIDEN!"
__ADS_1
Ck, sidang lagi. Batin Raiden.
Satu persatu berlalu keluar dari ruangan rapat, hingga tersisa Raiden dan Wisnu.
"Mau kemana kamu?" tanya Wisnu, bangkit dari tempatnya menatap kota dari balik kaca gedung.
"Kamar mandi,"
"Banyak alasan kamu, duduk!"
Terdengar decakan kecil, dengan malas Raiden kembali duduk ke tempat semula. Menebalkan telinga mendengar ceramah ayah nya sebentar lagi.
"Kemana aja kamu? kenapa Rudi yang selalu menangani rapat?"
"Bulan madu," kilah Raiden.
"Bulan madu sama komputer maksud kamu?"
"Iya yah,"
"Ck, kamu ingat umur Den. Sampai kapan kamu di zona nyaman terus?"
"Sampai mati yah,"
Wisnu menghela napas panjang, meraih lembaran kertas yang tidak terpakai dari atas meja dan melemparnya ke arah Raiden.
"Punya anak satu tidak bisa diandalkan."
Raiden hanya manggut-manggut, tanpa berniat membalas ucapan ayah nya. Mereka biasa seperti saat ini, hanya karena rasa malas Raiden selalu menghindari pertemuan apapun itu. Yang penting ada Rudi dan ayah nya.
Bahkan terkadang Raiden yang menyusun jadwal dan Rudi yang menangani itu semua tanpa terkecuali.
"Lupakan masa lalu, dia gak bakalan hidup lagi Raiden!" bentak Wisnu.
_____________
Rasa bosan, ngantuk datang di waktu yang bersamaan. Bel istirahat akan berbunyi sebentar lagi, tapi rasa ngantuk tidak bisa dibendung lagi.
Tepat manik Tasya tertutup, bel istirahat berbunyi.
"Lo berdua aja, gue mager."
"Gak seru,"
Zara kembali duduk ke tempat semula, diikuti Alex naik keatas meja dengan santainya duduk menyelip ke tengah-tengah mereka berdua.
"Ada berita terbaru," ujarnya heboh, seraya mengotak ngatik ponselnya.
"Katanya di punggung tangan Kejora ada bentuk segitiga,"
Spontan Tasya mengangkat kepalanya, menatap layar ponsel Alex dan mengerutkan dahi.
"Katanya, pembunuh selama ini selalu meninggalkan jejak seperti ini," terang Alex.
"Serius Lo?" tanya Tasya serius.
"Iya, psikopat itu benar-benar ada. Katanya berbaju hitam, pakai masker hitam, sama topi hitam. Teman si Bima sempat lihat, katanya bukan si Bima yang buat Kejora seperti itu,"
"Gue juga kurang yakin si Bima ngelakuin itu," ujar Zara membuka suara.
"Darimana Lo tau?" tanya Alex kesal.
"Pokoknya itu bukan si Bima,"
Tasya dan Alex saling melemparkan tatapan, detik berikutnya mengangguk-angguk kepala. Mereka percaya dengan ucapan Zara, karena anak yang satu ini bisa menerawang suatu kejadian yang pastinya itu akan terjadi.
Zara sering mengalami hal mistis, ujungnya berakhir seperti itu. Kadang ia kesal dengan diri sendiri, karena bisa mengetahui hal semacam itu. Tapi berkat dukungan kedua sahabatnya, Zara nikmat saja apa yang ada.
"Korban udah 10 orang, gila gak tuh?" ungkap Alex.
"Mati semua Lex?" tanya Tasya, jiwa penasarannya timbul di permukaan.
"Iya, cuman Kejora yang selamat. Itu juga kritis di rumah sakit,"
__ADS_1
"Gila, gue jadi penasaran sama psikopat itu," ucap Tasya serius.
"Buat apaan?"
"Minta foto sama tanda tangan,"
"Br*ngsek," umpat Alex dan Zara bersamaan.
"Gak guna sumpah, mending Lo aja yang dibunuh psikopat itu," ucap Alex saking kesalnya.
"Yah gak papa, gue mau lihat siapa aja yang nangis kalo gue mati,"
"Astaga, pikiran Lo sampah banget isinya."
"Sampah? caranya masuk gimana coba?"
Tasya meraih kepala Alex, mencari letak tempat sampah sesuai ucapan siempunya.
"Gak ada tempat sampah, tapi kutu banyak,"
"Za, gue nyerah sumpah," ucap Alex dramatis, beralih memeluk Zara.
"Drama," cibir Tasya.
Di tempat yang berbeda, di waktu yang sama Rudi masuk kedalam ruangan Raiden. Tanpa mengetuk, dan tanpa memperdulikan tatapan tajam siempunya.
"Ngapain Lo?" sergah Raiden.
"Numpang duduk,"
Dengan santainya Rudi duduk dikursi tepat dihadapan Raiden, sembari tersenyum mengoda kearahnya.
"Sepertinya tidur anda nyenyak sir, tidak ada lingkaran hitam dibawah mata anda seperti biasa," tutur Rudi.
Raiden memilih diam, fokus menatap layar komputer sesekali mengetik diatas keyboard.
"Apa servis nona muda memuaskan sir? kelihatannya sih, yes."
"Keluar!"
"Jangan marah-marah terus sir, nanti anda cepat tua. Ingat nona muda masih SMA, bisa-bisa dia malu memiliki suami tua seperti anda."
"Sok tau,"
"Oh, iya sir. Apa anda sudah tau berita terbaru dan terhot sepanjang jalan kegelapan?"
"Langsung to the point,"
"PSIKOPAT!"
"Hoax,"
"Tidak sir, dia nyata dan selalu hilang ditelan bumi tanpa jejak. Sudah ada korban selama ini, dan selalu ada tanda di setiap tubuh korban. Mangsanya anak SMA,"
Sontak Raiden menghentikan kegiatannya, tubuhnya menegang dengan pikiran berkeliaran kemana-kemana.
"Sebaiknya jemput nona muda sir, sebelum saya yang menjemput. Bisa-bisa saya larikan nanti ke negeri orang, punya istri muda kayaknya seru," ucap Rudi dengan santainya, tanpa memperdulikan tatapan tajam yang tertuju kearahnya.
"ULANGI!"
"Saya berniat melarikan nona muda ke negeri orang, biar gak repot-repot cari istri,"
"Br*ngsek,"
Raiden bangkit dari tempatnya, melangkah mendekat kearah Rudi hendak melayangkan pukulan.
"Kayaknya kamu udah jatuh cinta beb dengan nona muda."
________________
TERIMAKASIH:)
VISUAL? SAYA CARI DULU, OKE.
__ADS_1
UNTUK YANG SATU INI SAYA MINTA MAAF, KEBETULAN SAYA SIBUK MOHON BERSABAR YAH. TAPI SAYA USAHAKAN UPDATE SETIAP HARI MINIMAL DOUBLE UP.