MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
PSIKOPAT BERDARAH DINGIN


__ADS_3

Sontak Raiden dan Tasya bangkit dari tempatnya, berlari terbirit-birit kearah wastafel dan memuntahkan semua makanan yang sempat mereka masukan kedalam mulut.


"Kok manis," gerutu Tasya.


Melangkah kearah dapur, membuka tempat bumbu dapur yang baru saja ia gunakan.


"Pantasan, ngapain juga ada gula di sini. Om,"


"Apaan?"


"Tempat gula bukan di sini, gimana sih om,"


"Yah, kenapa nyalahin saya?" tukas Raiden, melangkah mendekat kearahnya sembari membalas tatapan tajam istrinya.


"Om yang duluan masak, Tasya juga lihat om bawa ini dekat kompor,"


"Lah kamu yang masak, masa gak tau bedain gula sama garam."


"Diam! om yang salah,"


"Yah,"


"APA? JADI AKU YANG SALAH GITU?"


Raiden menghela napas panjang, mengambil alih benda itu dari genggaman istrinya diletakkan pada tempatnya.


"Iya, saya yang salah. Puas kamu?"


"Pasti, emang om yang salah."


Dasar anak setan, batin Raiden.


Dengan kesal Tasya membuka kulkas, mengeluarkan dua butir telur dan merampas garam dari genggaman suaminya.


"Duduk sana," ujar Tasya, dengan kesal memasak telur dadar.


Padahal Tasya mati-matian menahan lapar sedari tadi, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur. Semur ayam, menjadi ayam manis.


Raiden memilih diam, membuang masakan Tasya yang pertama digantikan dengan telur dadar. Selama makan hening, yang terdengar hanya dentingan sendok.


Wajah cantik itu terlihat kesal, sesekali melirik kearahnya dengan tatapan tajam. Padahal ini murni kesalahan mereka berdua, tapi apa boleh buat. Wanita selalu benar, tidak boleh diganggu gugat.


"Tasya marah sama om,"


Perkataan Tasya terakhir kalinya, tubuh ramping itu berlalu menjauh masuk kedalam kamarnya. Bahkan Raiden bisa mendengar pintu di banting cukup kencang.


"Ck, seharusnya yang marah siapa? aneh." gumam Raiden.


_________________


Pagi ini Tasya bangun lebih awal seperti semalam, seragam putih abu-abu sudah melekat ditubuhnya, hanya tersisa satu tujuan jahat. Dengan pelan Tasya membuka pintu kamar suaminya, mengintip sedikit dan masuk dengan langkah sepelan mungkin.


Ranjang king size itu sudah rapi, terdengar percikan air dari kamar mandi. Dengan senyuman jahat Tasya meletakkan sesuatu diatas jas hitam suaminya yang sudah disediakan di atas ranjang, dan berlari terbirit-birit keluar dari kamar.


Tepat pintu tertutup, bertepatan Raiden keluar dari kamar mandi.


"Sya,"


Hening tidak ada sahutan, Raiden mengerutkan dahi merasa ada yang aneh. Dan benar dugaannya, amplop putih yang sama persis seperti semalam terletak di atas jas hitamnya, dengan grasa grusu Raiden membuka amplop putih itu, dan melototkan mata membaca isi kertas putih itu.


"TASYA!"


Siempunya yang mendengar teriakkan itu hanya tertawa terbahak-bahak, berlari terbirit-birit keluar dari rumah demi menyelamatkan nyawa.


"Astaga malu-maluin banget jadi istri," gumam Raiden.


Dengan secepat mungkin Raiden memakai setelan formal nya satu persatu, meraih ponsel dan kunci mobil dari atas nakas dan melangkah lebar keluar dari rumah. Siang ini ada meeting, jadi urusan yang satu ini terlebih dahulu Raiden selesaikan.


Kini di salah satu ruangan, tepatnya ruang BK. Raiden duduk dikursi berseberangan dengan guru BK,


dan Tasya berdiri dengan menundukkan kepala tepat disamping tubuh kekar itu.

__ADS_1


"Jadi begini pak, Tasya sudah ketahuan bolos–"


"Bolos?" sela Raiden syok.


"Iya pak,"


Sontak Raiden melototkan matanya, beralih kearah Tasya yang sedari tadi menundukkan kepala.


"Tasya sudah ketahuan bolos lima kali pak," terang Bu Citra guru BK.


"Astaga sebanyak itu? dia bolos sendiri Bu?"


"Tidak pak,"


"Jadi?"


"Tasya bolos dengan dua sahabatnya, kadang dengan anak nakal-nakal lainnya."


"Astaga, kenapa gak DO. Di lenyapkan sekalian," ucap Raiden kesal.


"Jahat banget sih om," rengek Tasya.


Wajah tampan itu terlihat memerah, kedua lengannya terkepal kuat. Jujur Raiden pusing menghadapi anak yang satu ini, kedua kalinya Raiden datang ke sekolah dengan alasan yang berbeda.


Bu Citra memilih diam, tidak berani mengucapkan sepatah katapun. Raiden terlihat marah, entah apa hubungannya dengan Tasya.


"Jadi mengatasi masalah ini gimana Bu?"


"Mungkin Bu Mariam sudah jelaskan semalam, nilai terutama absen penentu kelulusan. Kami harap Tasya tidak melakukan hal yang sama, dan absen tidak jelas mohon di kurangi." imbuh Bu Citra.


Raiden hanya mengangguk kan kepala, bangkit dari tempatnya berdiri menjulang tinggi tepat disamping Tasya.


"Saya perwakilan Tasya Jovanka minta maaf sebesar-besarnya Bu, saya pastikan itu tidak terulang kembali," tutur Raiden.


"Iya pak, terimakasih atas waktunya," ucap Bu Citra.


Raiden hanya mengangguk kecil, berlalu keluar dari ruangan BK sembari menarik lengan ramping itu.


"Diam!"


"Sakit om,"


Spontan Raiden mengehentikan langkahnya, melepas cengkraman tangannya dan menghela napas panjang.


"Jangan bolos, belajar yang benar. Saya stress lama-lama,"


"Maaf,"


"Yaudah sana," usir Raiden.


Tasya hanya mengerucutkan bibirnya, melangkah gontai melewati lorong sekolah satu persatu. Hingga pundaknya terasa dirangkul seseorang.


"Gimana?" tanya Alex, diikuti Zara mengandeng lengannya.


"Gue di marahi,"


"Selamat," balas Alex dengan santainya.


"Gara-gara Lo sih," tuduh Tasya kearah Alex.


"Lah kenapa jadi gue?"


"Lo yang ngajak gue bolos selama ini,"


"Kenapa Lo mau pea,"


Tasya hanya menghela napas panjang, beralih ke arah Zara yang tersenyum manis kearahnya.


Mereka berdua sahabat Tasya, tapi berbeda sifat. Tasya memang real bad girl, mereka berdua berbeda. Alex itu mantan ketua OSIS, pintar, ganteng, tapi kadang bolos. Zara, pendiam, baik, wajah polos nyatanya tidak.


"Itu suami Lo?" bisik Zara.

__ADS_1


"Iya, ganteng kan?"


"Lumayan,"


"Ck, gak seru."


Zara hanya tertawa kecil, duduk di kursinya di ikuti Tasya dan Alex duduk di atas meja. Kebetulan bel istirahat sudah berbunyi, mereka bertiga biasa duduk di kelas jika suasana hati salah satu dari mereka tidak baik seperti saat ini.


"Oh, iya. Kalian udah tau?" tanya Alex heboh, bangkit dari tempatnya duduk ditengah-tengah tanpa memperdulikan tatapan tajam yang tertuju kearahnya.


"Katanya ada psikopat berdarah dingin berkeliaran," bisiknya serius.


"Ck, darimana Lo tau dia berdarah dingin atau panas? emang Lo pernah lihat?" sergah Tasya.


"Gak sih,"


"Jadi kenapa Lo bilang berdarah dingin, bodoh."


Tasya memukul kecil kepala Alex, jarang-jarang Tasya bisa membuly Alex seperti saat ini. Yang ada ia yang jadi bahan bulyan karena nilainya selalu C.


"Orang-orang sering bilang gitu Sya, karena mereka gak punya hati," terang Alex.


Tapi Tasya tetaplah Tasya. Selagi ada waktu, lebih baik dibuly sepuas-puasnya.


"Gue gak percaya atau jangan-jangan Lo kali psikopat nya,"


"Lah kenapa jadi gue?"


"Jadi darimana Lo tau berdarah dingin atau panas? jawab!"


"Astaga, masa Lo gak tau sih Sya."


"Bilang aja Lo psikopat nya, jujur Lo!" tuduh Tasya, semakin memojokkan Alex.


Mampus Lo, siapa suruh ngebully gue selama ini, batin Tasya.


Zara hanya tertawa kecil, tanpa berniat melerai. Karena Zara berada di pihak Tasya. Jarang-jarang Alex kalah adu mulut, walau sebenarnya setiap Alex menang adu mulut wajah tampannya akan sasaran pukulan Tasya.


"Bodoh banget sih Lo, katanya mantan ketua OSIS, juara umum berturut-turut itu aja Lo ngarang," lanjut Tasya lagi.


"Astaga Sya, sebenarnya yang bodoh siapa sih?"


"Ya pasti Lo, Alex Budiman."


Alex Budiman, nama lengkap Alex. Kadang nama itu juga bahan bulyan Tasya, lagian namannya aneh menurut Tasya. Apaan coba Budiman, yang benar saja.


"Terserah,"


Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, diikuti Zara tertawa kecil merasa senang melihat Alex tersiksa.


"ALEX BODOH!" teriak Tasya.


Siempunya hanya diam, berusaha menutup mulut kedua sahabatnya. Walau tetap saja hasilnya sama.


"Vanka!"


Spontan tawa mereka berdua reda, tatapan mereka bertiga teralih keasal suara dan menghela napas panjang bersamaan.


"LO LAGI!"


_______________


TERIMAKASIH:)


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK!


Satu kata dari saya, Sabar dan pasti ada.



__ADS_1


__ADS_2