MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
HAMIL


__ADS_3

~Masa lalu tidak bisa diputar dan tidak bisa diperbaiki kembali.


Rumah yang semula diisi tawa, kini berubah mencengkam. Raiden tiba-tiba muncul dari balik pintu, dengan membawa Tasya dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Entah apa yang terjadi, Alex, Zara dan Rudi tidak tahu. Raiden bungkam seribu bahasa, tanpa berniat membalas ucapan mereka bertiga satu persatu. Bahkan mengunci pintu kamar dari dalam, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Beribu-ribu umpatan Rudi lontarkan dari luar, kesal, emosi bercampur aduk. Bisa dia pastikan, masa lalu itu kembali menghantui sang sahabat. Andai dulu Rudi tidak lalai, mungkin Raiden tidak akan terjebak dalam lingkaran hitam yang diciptakan Jihan.


Alex dan Zara memilih diam, menarik paksa Rudi turun kebawah takut mengangu pasangan suami-istri itu.


"B*NGSAT, TEMAN LO PINGSAN. GIMANA SIH LO BERDUA?" bentak Rudi. Berusaha melepas cekalan tangannya, walau tetap saja hasilnya sama.


Malah cengkraman lengan Zara semakin kuat, wajahnya memerah menahan emosi.


"Om, jangan bodoh. Mereka berdua suami-istri, kita gak ada hak ikut campur," desis Zara.


"Sebaiknya om pulang kalo mau ribut. Kita gak butuh manusia gegabah kayak, om!" ucap Zara to the point.


Alex hanya mengulum senyum, bangga terhadap sang sahabat. Dalam kondisi mencengkam seperti saat ini mulut cabe Zara akan bertambah pedas. Tidak peduli lawan bicara, asal suasana tidak menegang.


"Kita juga khawatir tapi gak lebay kayak, om. Udah tua tapi gak tau mengatasi masalah. Belajar dari masa lalu om, aku tahu masa lalu om juga pahit."


"Sama kayak aku, om Raiden sama Tasya. Kita sama-sama memiliki masa lalu yang pahit, tapi gak gini juga caranya menghadapi masalah."


"Kedewasaan bukan diukur dari umur, tapi cara om menghadapi masalah. Dasar tua b*ngka," umpat Zara diakhir ucapannya.


Melepas cekalan nya dari leher Rudi, dan menghempaskan tubuh ke atas sofa.


Wajah Rudi langsung pucat pasi, entah darimana anak yang satu ini tahu masa lalunya, yang pastinya terdengar menyeramkan.


"Calon bini gue tuh, om. Keren gak?" Alex tertawa terbahak-bahak, seraya merangkul pundak Rudi, layaknya teman.


"Maaf yah om, dia memang galak. Aslinya dia baik kok, asal jangan g*blok kayak tadi," bisik Alex.


"Mati aja Lo, BOCIL," geram Rudi.


_________________


Hampir semalaman Raiden tidak bisa tidur, maniknya tetap terjaga dengan tatapan tidak lepas dari wajah cantik itu.


Aksinya memang sudah terlalu kasar beberapa jam yang lalu, tidak sepantasnya dilakukan dengan wanita berumur belasan tahun.


Namun dia juga tidak ingin seperti ini, dia juga ingin menjadi manusia normal pada umumnya. Hidup sederhana, tanpa dihantui masa lalu yang pahit.


"Sayang," bisik Raiden tepat ditelinga Tasya. Membelai lembut wajah cantik itu, dengan manik berkaca-kaca.


"Maaf."


Air mata s*alan itu benar-benar menetes, jatuh dari pelupuk matanya membasahi pipi, hingga jatuh ke wajah cantik itu.

__ADS_1


Raiden terisak kecil, memeluk erat tubuh ramping itu dengan menyembunyikan wajahnya diceruk leher putih istrinya.


Malu dengan diri sendiri, terutama manusia yang tidur di sampingnya. Andai bisa memilih, Raiden memilih mati terbunuh ditangan Andri dimasa lalu. Daripada hidup menderita serba kekurangan seperti saat ini.


Raiden tidak menginginkan apa-apa, hanya hidup normal layaknya manusia lainnya.


"Maaf," lirih Raiden disela-sela tangisnya. Memejamkan mata rapat-rapat, berharap saat dia membuka matanya nanti. Istrinya sudah terbangun.


Namun belum genap dua menit, terdengar kekehan geli. Bersahutan elusan lembut di rambutnya.


"Hei, kok nangis. Kamu, gak malu?"


Spontan Raiden menarik wajahnya dari ceruk leher putih itu, dengan wajah syok bercampur aduk.


"Ada yang sakit, sayang?" tanya Raiden lembut.


Melepas ragu pelukannya, seraya membantu tubuh ramping itu bangun dari tidurnya dan disandarkan didada bidangnya.


"Minum dulu!" Raiden menyondorkan segelas air hangat, menuntut jemari lentik itu memegang gelas putih itu.


"Pahit," adu Tasya. Menjulurkan lidahnya, dengan wajah cemberut.


Raiden hanya tertawa kecil, meletakkan gelas putih itu kembali keatas nakas. Baru menatap wajah cantik itu.


"Ada yang sakit?" tanya Raiden lembut.


"Gak, kamu gak papa 'kan?" tanya Tasya khawatir. Mendongak kepalanya keatas, menatap wajah suaminya yang terlihat sembab habis menangis. Bahkan manik hitam itu masih berkaca-kaca, terlihat jelas walau kamar minim pencahayaan. Berasal dari lampu yang ada dibawah televisi


Hendak mengubah posisinya, namun Raiden lebih dulu menahan pergerakannya. Memeluk tubuhnya dari belakang, dibiarkan bersandar di dada bidangnya.


"Maaf," bisik Raiden lembut tepat di telinga Tasya.


Mengecup pelipis istrinya berulang kali, dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Aku udah berusaha sebaik mungkin, tapi tetap aja gak bisa," ungkap Raiden disela-sela tangisnya.


Hampir bertahun-tahun dia berobat, tapi hasilnya tetap sama. Berbagai cara dia lakukan demi menyembuhkan mental nya, tapi tetap saja tidak ada yang berubah.


Malah semakin menjadi-jadi, membuatnya kian tersiksa.


"Hei, jangan nangis," bujuk Tasya.


Membalikkan tubuh menghadap kearah suaminya, dengan senyuman lebar tercetak jelas di bibirnya. Menarik lembut tubuh tubuh kekar itu kedalam dekapannya, memeluk erat seakan tak ingin melepaskannya.


"Kamu gak sendiri," bisik Tasya. Dengan senyuman mengembang dibibirnya.


"Ada aku sama anak kita. Dia udah satu bulan diperut aku, kata dokter dia baik-baik aja. Dia kuat kayak papanya," bisik Tasya tepat di telinga Raiden.


Tangis Raiden langsung reda, tidak percaya dengan ucapan istrinya.

__ADS_1


"Aku hamil satu bulan. Tapi anak kamu bandel, dia gak suka sama papanya. Ngeliat kamu aja aku kesal, pengen pukul kamu saking kesalnya," ungkap Tasya. Sembari terkekeh geli.


Sontak Raiden melepas pelukannya, menatap wajah cantik itu dengan tatapan syok.


"Coba ulangi!" pinta Raiden, dengan suara serak.


"Aku hamil satu bulan," ucap Tasya lantang.


Manik hitam itu langsung melotot sempurna, dengan jantung kian berdetak kencang. Jujur Raiden bahagia, namun disatu sisi umur istrinya masih belasan tahun. Hamil muda sangat rentan terhadap apapun.


Rasa takut mendominasi seperti biasanya, kelemahan terbesar Raiden sepanjang perjalanan hidupnya.


"Jangan mikir yang aneh-aneh, ih. Kamu bikin kesal mulu, aku gak suka tahu," sentak Tasya. Menyadarkan lamunan Raiden.


"Kata dokter memang gitu, tapi apa boleh buat. Kamu mesumnya gak ketulungan, gak sabar banget nunggu aku lulus dulu. Harus banget gitu buka segel gak waktunya, dasar mesum," omel Tasya. Seakan tahu isi kepalanya.


"Maaf. Aku juga terpaksa lakuin itu. Takutnya, ada pria lain menarik perhatian kamu diluar sana," ungkap Raiden jujur.


Apalagi istrinya cantik. Banyak pria yang selama ini berusaha menarik perhatiannya.


Raiden memang sengaja memeriksa ponsel istrinya, dan diluar dugaannya banyak pria seumuran anak SMA setiap saat mengirim pesan. Walau tak satu pun yang dibalas.


Hanya pesannya yang terbalas, dari banyaknya deretan nomor baru yang bermunculan.


"Emang kamu pikir aku apaan coba? amit-amit punya suami dua, satu aja udah kerepotan. Mana mesumnya gak ketulungan lagi," omel Tasya.


Wajahnya ditekuk lucu, bibir mengerucut kedepan.


"Iya, maaf."


"jangan minta maaf mulu. Kenapa sih kamu bikin kesal mulu?" sergah Tasya.


Sontak Raiden tertawa kecil, mengelus lembut perut rata istrinya. Dengan senyuman mengembang dibibirnya.


"Bentar lagi kita jadi orangtua. Maaf, sampai sekarang aku gak bisa lepas dari masa lalu. Aku udah berusaha, walau tetap saja hasilnya sama. Maaf yah, sayang," ucap Raiden lembut.


"Aku juga pengen sembuh. Andai waktu bisa diputar kembali–"


"Waktu gak bisa diputar. Masa lalu gak bisa diperbaiki. Perbaiki yang ada didepan mata aja," sela Tasya memotong ucapan suaminya.


"Aku benar-benar sayang sama kamu, tanpa kamu tanya sekalipun. Usia kita berdua memang jauh banget perbandingannya tapi jodoh kita gak ada yang tahu," ungkap Tasya akhirnya.


Raiden terpaku sejenak, detik berikutnya mengangguk. Menundukkan sedikit demi sedikit kepalanya, hingga sejajar dengan perut rata istrinya.


Bibirnya kian mengembang, membentuk sebuah senyuman lebar.


"Anak papa jangan nakal didalam, kasihan mama. Kalo mau pukul papa, boleh. Asal jangan repotin mama. Cukup papa aja yang ngerepotin mama, kamu jangan. Oke," bisik Raiden lembut tepat di depan perut rata istrinya.


________________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


__ADS_2